Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Malam Pertama Dalam Kepungan
Jam beker ayam jago di atas nakas menunjukkan tepat pukul 00.00 tengah malam. Waktu pergantian hari. Dan bersamaan dengan jarum jam yang berdetak ke angka dua belas, suhu di dalam kamar mendadak anjlok drastis. Napas Luna mulai mengeluarkan uap putih tipis setiap kali ia menghembuskan udara.
Lampu neon putih di langit-langit berkedip-kedip hebat, mengeluarkan suara bzzzt... bzzzt... sebelum akhirnya mati total, meninggalkan kamar itu dalam kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh pendar biru dari tubuh Nando dan cahaya samar dari lampu jalanan yang menembus celah jendela.
Tuk... Tuk... Tuk...
Terdengar suara ketukan pelan dari arah jendela kaca. Bukan ketukan tangan manusia, melainkan suara kuku-kuku panjang yang mengetuk kaca dengan ritme yang memuakkan.
Luna langsung merapat ke dinding, matanya terbelalak menatap ke arah jendela yang tertutup gorden tipis. Di balik gorden itu, terlihat siluet beberapa bayangan yang berkerumun. Mereka menempel di kaca seperti lalat yang mengerubungi bangkai.
"Mereka datang," desis Nando. Pria itu seketika berdiri, mengambil posisi tepat di depan Luna, menjadi tameng hidup—atau tameng roh—antara gadis itu dan sumber ancaman. Pendar birunya meledak lebih terang, menerangi seisi ruangan bagaikan suar di tengah lautan gelap.
Garam krosok yang ditaburkan Luna di ambang pintu dan jendela mulai mengeluarkan suara mendesis pelan, seperti air yang menetes di atas wajan panas. Garam-garam putih itu perlahan berubah warna menjadi abu-abu, lalu menghitam. Energi negatif di luar sana sedang berusaha mendobrak masuk, merusak pertahanan alami yang dibuat Luna.
Bau amis darah dan bangkai seketika menembus masuk, mengalahkan bau citrus milik Nando.
“Kembalikaaaann....” Suara bisikan serak, seolah berasal dari tenggorokan yang dipenuhi kerikil dan darah, bergema dari berbagai sudut kamar. Suara itu tidak berasal dari satu sumber, melainkan bersahutan, mengelilingi mereka.
Bayangan hitam berbentuk asap mulai menyusup masuk melalui celah bawah pintu, menghindari garis garam yang sudah mulai menghitam. Asap itu merayap di lantai keramik, membentuk lengan-lengan kurus dengan kuku panjang yang bergerak menggapai-gapai ke arah mangkuk keramik tempat buhul itu dikubur.
"Oh, tidak, kau tidak akan menyentuh benda itu, makhluk kotor!" geram Nando.
Ia mengangkat tangannya dan menghentakkan kakinya ke lantai, melepaskan gelombang kejut energi biru yang berbentuk seperti riak air. Saat gelombang biru itu menghantam lengan-lengan asap hitam tersebut, suara pekikan melengking yang memekakkan telinga meledak di dalam kamar. Lengan-lengan asap itu terbakar oleh aura Nando, melepuh dan menyusut mundur hingga ke luar pintu.
Namun serangan belum berakhir.
Kaca jendela tiba-tiba retak. KRAK! Retakannya menjalar seperti jaring laba-laba. Siluet bayangan di luar jendela semakin membesar, salah satunya menempelkan wajahnya yang rata dan mengerikan ke kaca yang retak.
"Luna, benda itu memanggil kawanannya!" seru Nando, tubuhnya terlihat sedikit bergetar menahan tekanan energi gelap yang menyerang dari berbagai sisi. Ia sedang memaksakan batas energinya. Pendar birunya mulai terlihat beriak tidak stabil.
"Bertahanlah, Nando!" Luna berlari ke arah mangkuk berisi buhul itu, meskipun kakinya gemetar melihat sisa asap hitam di dekatnya. Ia mengambil mangkuk itu. "Aku tahu mantra segel sementara, nenekku pernah mengajarinya, tapi aku butuh waktu untuk fokus!"
"Fokuslah! Biar aku yang mengurus kecoak-kecoak bayangan ini!" teriak Nando, matanya menyala dengan kemarahan.
Luna duduk bersila, memeluk mangkuk keramik itu di depan dadanya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengabaikan bau busuk dan suara jeritan mengerikan di sekelilingnya. Ia mulai merapalkan doa-doa kuno yang sudah lama ia lupakan, doa yang dulu selalu ia rapalkan setiap kali ia diganggu sewaktu kecil. Bibirnya berkomat-kamit cepat.
Sementara itu, Nando benar-benar bertarung layaknya ksatria pelindung. Setiap kali ada asap hitam atau lengan bayangan yang mencoba mendekati Luna, ia akan menerjangnya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk membakar entitas tersebut dengan pendar birunya. Nando menyadari satu hal yang mengejutkan: semakin kuat keinginannya untuk melindungi gadis manusia ini, semakin panas dan kuat energi biru yang ia pancarkan.
Ini bukan sekadar ego CEO lagi. Ini adalah naluri pria yang ingin memastikan gadis di belakangnya tetap bernapas.
“Kalian... tidak akan... bisa... lariii...” Suara utama, yang terdengar sangat berat dan dalam, menggema dari arah luar pintu. Suara itu membawa getaran yang membuat tulang rusuk Luna ngilu. “Darah... untuk... darah...”
"Berisik kau, bajingan tanpa wajah!" Nando membalas teriakan itu, meninju dinding udara di dekat pintu hingga menciptakan percikan cahaya biru yang membakar sisa energi gelap yang menyusup masuk.
Tiba-tiba, Luna menyelesaikan mantranya dengan sebuah hembusan napas tajam ke arah mangkuk keramik. Garam hitam di dalam mangkuk seketika mengeras menjadi kristal padat, menyegel buhul di dalamnya dengan sempurna.
Dalam sepersekian detik, tekanan udara di dalam kamar menghilang. Suara ketukan di jendela berhenti. Bau busuk sirna, digantikan sepenuhnya oleh aroma citrus yang menenangkan. Lampu neon di langit-langit mendadak menyala kembali, menyilaukan mata Luna yang sudah terbiasa dengan kegelapan.
Semuanya mendadak hening. Pagi masih jauh, tapi pertarungan malam itu telah berakhir. Serangan pertama berhasil digagalkan.
Nando terhuyung mundur, tubuh astralnya tiba-tiba jatuh berlutut di lantai. Pendar birunya sangat redup, nyaris menyerupai uap tipis. Ia bernapas terengah-engah, wajahnya terlihat luar biasa kelelahan. Menggunakan energi jiwa secara berlebihan nyatanya sangat menguras kekuatannya.
"Nando!" Luna melempar mangkuk itu ke atas kasur dan berlari menghampiri sang roh. Tanpa sadar, insting kemanusiaannya mengambil alih. Ia mencoba menopang bahu Nando, dan untuk sesaat... hanya sepersekian detik yang tak masuk akal... Luna merasa tangannya menyentuh sesuatu yang padat. Sangat dingin, tapi padat.
Mata Nando melebar kaget, ia menatap bahunya sendiri yang disentuh oleh tangan mungil Luna. Sentuhan itu tidak menembus. Selama satu detak jantung, mereka berdua terhubung oleh keajaiban fisik yang mustahil.
Namun sensasi itu hanya berlangsung sekilas sebelum tangan Luna kembali menembus bahu Nando, jatuh ke lantai.
Mereka saling bertatapan, terengah-engah dalam keheningan kamar. Ada kebingungan yang membara, dicampur dengan debaran jantung yang tak bisa ditutupi.
"Kau... baru saja menyentuhku," bisik Nando tak percaya, menatap tangannya sendiri yang kini kembali tembus pandang.
Luna menarik tangannya, wajahnya bersemu merah, bingung sekaligus takjub. "Aku tidak tahu bagaimana... energi kita mungkin berbenturan karena kau melindungiku habis-habisan."
Nando tersenyum lemah, namun senyum itu adalah senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Jika ini upah karena menyelamatkan nyawamu, maka aku rela bertarung melawan seratus bayangan lagi besok malam."
Luna memutar bola matanya, meski hatinya menghangat. "Sombongmu cepat sekali kembalinya. Malam ini kita aman. Tapi esok pagi, kita tidak bisa tinggal diam. Kita butuh bantuan. Aku punya teman lama—seorang kuncen di daerah Bogor yang berutang budi padaku. Kita akan pergi ke sana besok."
Nando mengangguk pelan. Malam itu, untuk pertama kalinya, Nando tidak mengeluh tentang kamar yang sempit atau lantai yang kotor. Pria itu memilih duduk di lantai, bersandar di sisi tempat tidur, berjaga sepanjang sisa malam, sementara Luna tertidur dengan kepala yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari bahu Nando. Di tengah ancaman kematian yang mengintai, mereka menemukan teman sekamar yang sesungguhnya. Titik balik baru saja dimulai.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
Semangat Thor. 😃