Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 2 Tukang Yang Memperbaiki Listrik
Hatiku, yang tadi dipenuhi harapan, perlahan mulai dihantui rasa was-was. Kenapa dia tak juga muncul? Apakah kata-kataku kemarin di telepon tidak sampai padanya? Atau mungkin ada halangan yang tak kuketahui… atau jangan-jangan…
Pikiran-pikiran gelisah mulai merayap. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak mencurigai kemungkinan terburuk: jangan-jangan Zea Helia telah disuap oleh Dean Junxian?
Rasa takut itu bukan tanpa alasan. Hubunganku dengan Zea Helia memang dekat, tetapi ia juga memiliki ikatan yang cukup erat dengan Dean Junxian. Ditambah lagi, sepanjang hari ini aku sama sekali tidak melihat batang hidung Dean Junxian, membuat kecurigaanku makin memuncak.
Malam itu terasa begitu panjang. Aku terus berguling di tempat tidur, tak mampu memejamkan mata, pikiranku berputar liar. Jika Zea Helia pun tak dapat membantuku, siapa lagi yang bisa kupercaya? Semakin lama kutekuni pikiran itu, semakin kurasa diri ini tak berdaya, hingga fajar perlahan menyingkap cahaya di ufuk timur.
Tepat saat kantuk mulai menyapa, tiba-tiba aku tersentak kaget oleh suara gaduh dari luar rumah.
Sepertinya ada tamu yang datang. Hatiku melonjak, diiringi adrenalin yang tak terkendali mungkinkah itu Zea Helia?
Aku menegang, memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar dengan seksama. Ternyata itu suara laki-laki dan sepertinya bukan hanya satu orang.
Suara-suara itu terdengar samar, bergemuruh di lantai bawah selama beberapa saat sebelum perlahan naik ke atas. Mereka terus bercakap-cakap sambil melangkah, tapi kata-kata yang keluar tak satu pun bisa kutangkap. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat, perasaan was-was mulai merayap di hatiku.
Tiba-tiba, pintu kamarku terdorong terbuka dengan pelan namun cukup mengejutkan. Aku tersentak dan langsung terduduk di tempat tidur, nyaris kehilangan keseimbangan.
Di ambang pintu, aku melihat Zhiyi Pingkan masuk bersama seorang pria berpakaian seragam kerja yang menggendong kotak peralatan. Mereka tampak sedang asyik berbicara saat melangkah masuk, namun begitu mata mereka bertemu denganku, percakapan itu langsung terhenti. Tatapan pria itu terpaku, seakan terkejut melihatku di sana.
Pikiranku berputar liar. Mungkin dia tidak menyangka ada orang di dalam kamar ini… atau mungkin penampilanku yang acak-acakan membuatnya syok.
Zhiyi Pingkan segera membuka suara, "Nyonya rumah sedang sakit, sebaiknya jangan mengganggunya. Apa… semuanya harus diperiksa?"
Pria itu menoleh sejenak, lalu mengangguk mantap. Suaranya tegas ketika menjawab, "Benar, semuanya harus diperiksa."
Tak lama kemudian, pria itu melangkah mundur ke luar kamar.
Segera aku bertanya dengan cemas, "Ada apa sebenarnya? Siapa mereka, dan sedang apa?"
Zhiyi Pingkan menoleh sekilas, matanya memandangku datar. "Pengecekan rutin instalasi listrik dari pengelola perumahan. Sudah, berbaringlah kembali," ujarnya singkat.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, kembali merebahkan diri dengan rasa kecewa yang bercampur lega. Dalam hati, aku menghela napas panjang. Memang benar, kemarin sempat mati lampu, jadi wajar jika hari ini ada perbaikan.
Sambil menutup pintu, Zhiyi Pingkan ikut keluar dan kudengar suaranya berkata kepada orang itu, "Kalian hati-hati ya, jangan sampai menabrak barang-barang! Kenapa repot sekali sih, sampai harus memeriksa satu per satu ruangan? Padahal kan kerusakannya bukan dari rumahku!"
Pria itu membalas dengan tenang, "Tentu saja harus diperiksa satu per satu. Kami perlu memastikan tidak ada kabel yang tua atau sambungan yang salah untuk menghindari risiko bahaya. Jadi, memang harus disisir setiap ruangan. Tenang saja, ini tidak akan lama."
Tiba-tiba, suara tangisan Sonika terdengar dari lantai bawah. Wajah Zhiyi Pingkan berubah panik…
Wanita itu berteriak tegas kepada para pria, nadanya setengah panik namun penuh kewaspadaan, "Cepat sedikit! Jangan sampai menyentuh barang apa pun di sini! Ah… kamar itu ruang kerjaku, kalian hanya lihat sebentar saja! Aku akan turun sebentar… Cepat selesaikan tugas kalian!"
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Zhiyi Pingkan berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Aku harus mengakui, dedikasi dan ketulusannya dalam merawat Sonika benar-benar mengagumkan.
Namun, sebelum aku sempat menenangkan diri, pintu kamarku terdorong terbuka dengan keras. Aku tersentak, hampir melompat dari tempat tidur, dan menoleh ke arah pintu dengan kaget. Pria yang tadi muncul itu melangkah cepat, mendekatiku dengan gerakan yang lincah dan tegas.
Ia membuka pintu dengan kasar, melangkah lebar ke arah ranjangku. Jantungku berdegup kencang, aku hampir saja menjerit karena ketakutan, tapi suaranya yang rendah dan berbisik membuatku terhenti, "Ssst! Jangan bersuara!"
Tanpa menunggu lama, ia membuka kotak peralatan yang dibawanya, mengeluarkan sebuah ponsel, dan dengan hati-hati menyelipkannya ke tanganku. Suaranya tetap pelan, tapi jelas, "Ini dari Zea Helia untukmu."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan pergi secepat angin, meninggalkan aku terpaku menatap punggungnya yang segera menghilang.
Tanganku menggenggam erat ponsel itu, menyembunyikannya di balik selimut. Mataku menatap ke arah pintu, masih dipenuhi rasa was was. kejadian tadi meninggalkan bekas ketegangan yang membuat jantungku berdegup kencang hingga terasa nyeri.
Helia… Zea Helia!
Perasaan campur aduk menyerbu hatiku: gembira, lega, dan hampir membuatku menangis. Akhirnya ada yang menolongku, akhirnya aku bisa merasakan dunia luar kembali menyentuh hidupku.
Sambil berbaring kembali di tempat tidur, aku berusaha menahan air mataku yang mulai menetes. Tapi begitu ponsel itu berada di tanganku, seolah sebuah kekuatan baru menyala dalam diriku. Semangatku kembali berkobar, seakan baru saja menerima suntikan energi yang luar biasa, memberiku keberanian dan harapan yang selama ini hilang.