NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Di Balik Meja Jati

Suasana di lantai 45 Gedung Pramoedya Tower pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, dan itu bukan karena pendingin ruangan yang disetel maksimal. Arumi duduk di lobi eksekutif, meremas pelan tas tangannya. Di balik pintu jati ganda yang tertutup rapat di depannya, sebuah rapat darurat Dewan Komisaris sedang berlangsung.

Adrian bersikeras agar Arumi ikut datang. "Aku ingin mereka melihat wajah wanita yang membuatku membakar kertas sampah itu," ujarnya tadi pagi sambil merapikan dasi sutranya.

Arumi tahu ini bukan sekadar rapat bisnis biasa. Ini adalah penghakiman moral dari keluarga besar Pramoedya—paman-paman Adrian yang kolot—yang menganggap pernikahan adalah instrumen bisnis, bukan urusan hati.

Pintu terbuka. Seorang asisten dengan wajah pucat mempersilakan Arumi masuk.

Di dalam, ruangan itu dipenuhi aroma cerutu mahal dan kayu tua. Tujuh pria paruh baya duduk melingkari meja oval. Di ujung meja, Adrian berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas permukaan kayu, tampak seperti singa yang sedang dipojokkan namun tetap dominan.

"Ah, ini dia 'gangguan' yang kita bicarakan," suara berat Om Bram, paman tertua Adrian, memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatap Arumi dari atas ke bawah.

Adrian menarik kursi di sampingnya untuk Arumi. "Namanya Arumi, Om Bram. Dan dia bukan gangguan. Dia istriku."

"Istri yang menggantikan kakaknya karena sebuah skandal, Adrian!" sahut Om Tirta, komisaris lainnya. "Kita setuju membiarkan sandiwara ini karena ada kontrak satu tahun yang menjamin stabilitas saham. Tapi sekarang? Kudengar kalian menghancurkan dokumen itu? Kamu mempertaruhkan kredibilitas keluarga demi... romantisme?"

Adrian tertawa kecil, suara yang terdengar meremehkan di ruangan formal itu. "Kredibilitas keluarga? Kalian bicara soal itu seolah-olah pernikahan tanpa cinta adalah prestasi. Aku membakar kontrak itu karena aku tidak butuh hukum untuk membuatku tetap berada di samping Arumi."

"Saham kita turun dua poin pagi ini karena rumor ketidakharmonisan keluarga inti," Om Bram memukul meja. "Publik mengendus ada yang tidak beres. Jika kontrak itu tidak ada, apa jaminannya dia tidak akan pergi membawa setengah hartamu jika kalian bertengkar?"

Arumi merasa darahnya mendidih. Ia bukan wanita yang haus harta, dan dituduh seperti itu di depan suaminya sendiri membuatnya merasa terhina. Namun, sebelum ia sempat bicara, Adrian sudah mendahuluinya.

"Jaminannya?" Adrian mencondongkan tubuh ke arah pamannya. "Jaminannya adalah Arumi memiliki apa yang tidak kalian miliki: integritas. Dia berada di sini saat aku sedang di titik terendah karena pengkhianatan Siska. Dia menyelamatkan muka perusahaan ini dengan kepintarannya menulis pidato yang kalian puji-puji bulan lalu. Jika ada yang seharusnya merasa terancam kehilangan harta, itu adalah Arumi, karena dia memberikan hatinya pada pria yang dikelilingi kerabat seperti kalian."

Arumi menyentuh lengan Adrian, mencoba menenangkannya. Ia kemudian menatap para pria tua itu satu per satu dengan tatapan tenang yang ia pelajari dari karakter-karakter kuat di novelnya.

"Mohon maaf, Om dan Bapak-bapak sekalian," suara Arumi terdengar lembut namun tegas.

"Saya mengerti kekhawatiran Anda soal angka dan saham. Tapi mungkin Anda lupa, masyarakat sekarang tidak lagi membeli produk karena nama besar saja. Mereka membeli karena cerita. Mereka membeli karena emosi."

Arumi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan statistik media sosial terbaru.

"Novel saya, yang terinspirasi dari kejujuran hubungan kami, baru saja masuk daftar best-seller. Tagar #PramoedyaLoveStory menjadi tren positif. Orang-orang tidak ingin melihat kontrak yang kaku. Mereka ingin melihat pasangan yang nyata. Jika Anda ingin saham naik, berhentilah memaksa kami bersembunyi di balik kertas, dan biarkan kami menjadi wajah baru Pramoedya yang lebih manusiawi."

Ruangan itu mendadak sunyi. Para komisaris saling pandang. Mereka tidak menyangka "istri pengganti" yang selama ini mereka anggap pemalu dan penurut bisa bicara setajam itu.

"Dia benar," gumam salah satu komisaris muda yang selama ini diam. "Citra 'keluarga sempurna' yang kaku sudah kuno. Publik lebih suka narasi underdog yang menang. Kisah Arumi yang menggantikan kakaknya dan akhirnya benar-benar dicintai adalah emas bagi divisi pemasaran kita."

Om Bram mendengus, namun ia tidak lagi memukul meja. "Tetap saja, ini sangat berisiko, Adrian."

"Hidup adalah risiko, Om," balas Adrian sambil merangkul pundak Arumi. "Rapat selesai. Jika ada yang ingin menggugat posisiku sebagai CEO karena urusan pribadiku, silakan coba di Rapat Umum Pemegang Saham bulan depan. Tapi ingat, aku punya dukungan penuh dari divisi kreatif dan pemasaran yang melihat masa depan di tangan istriku."

Mereka keluar dari ruang rapat dengan langkah mantap. Begitu pintu lift tertutup, Adrian menyandarkan kepalanya di dinding lift dan menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan meluruh.

"Kamu luar biasa tadi, Arumi," bisik Adrian. "Aku tidak pernah melihat Om Bram terbungkam seperti itu."

Arumi tersenyum kecil, menyeka keringat dingin di telapak tangannya. "Aku hanya melakukan apa yang dilakukan tokoh utamaku saat dipojokkan, Mas. Ternyata riset novel itu berguna di dunia nyata."

Adrian tertawa lepas, merengkuh Arumi ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah berdiri di sampingku. Aku tahu ini melelahkan."

"Selama aku bersamamu, aku tidak keberatan, Mas."

Baru saja mereka sampai di lobi bawah, Pandu sudah menunggu dengan wajah sumringah dan sebuah amplop besar di tangannya.

"Arumi! Adrian! Kebetulan sekali kalian bersama!" Pandu setengah berlari mendekati mereka.

"Ada apa, Ndu? Kamu tampak seperti baru memenangkan lotre," tanya Arumi heran.

Pandu menyerahkan amplop itu. "Lebih baik dari lotre. Ini surat penawaran dari Ganesha Pictures. Mereka ingin membeli hak adaptasi novelmu, 'Bayangan di Balik Pelaminan', untuk dijadikan film layar lebar!"

Arumi tertegun. Matanya membulat menatap surat resmi tersebut. "Film? Layar lebar?"

"Iya! Dan mereka ingin kamu sendiri yang menjadi penulis skenarionya, atau setidaknya konsultan utama. Mereka bilang ceritanya sangat orisinal dan punya kekuatan emosional yang kuat," lanjut Pandu dengan nada bersemangat.

Adrian mengambil surat itu, membacanya cepat, lalu tersenyum bangga. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang seolah berkata, Lihat, kan? Kamu memang sehebat itu.

"Bagaimana, Mas? Apakah ini akan mengganggu citra perusahaan lagi?" goda Arumi.

Adrian merangkul pinggang Arumi erat. "Biarkan mereka bicara apa saja. Jika mereka ingin filmnya sukses, mungkin mereka harus meminta izin pada CEO-nya dulu untuk menggunakan nama Pramoedya. Tapi secara pribadi? Aku ingin seluruh dunia melihat betapa indahnya cerita yang kamu buat."

Namun, di tengah kegembiraan itu, Arumi melihat sosok yang familiar di seberang jalan, sedang menatap ke arah mereka dari dalam sebuah kafe. Siska.

Siska tampak mengenakan kacamata hitam besar, namun Arumi tahu kakaknya sedang memperhatikan mereka. Tidak ada ekspresi marah di wajah Siska, hanya sebuah tatapan sayu yang sulit diartikan.

Arumi tersadar bahwa kesuksesannya ini akan selalu menjadi bayang-bayang bagi Siska. Ia merasa ada beban moral yang kembali muncul.

"Mas, lihat itu," bisik Arumi.

Adrian melihat ke arah yang ditunjuk Arumi. Ia terdiam sejenak. "Jangan biarkan itu merusak momenmu, Arumi. Siska harus belajar bahwa hidup terus berjalan."

"Aku tahu, Mas. Tapi aku punya ide," ujar Arumi tiba-tiba.

"Ide apa?"

"Jika novel ini dijadikan film, ada satu karakter yang sangat penting selain tokoh utama. Karakter kakak perempuan yang kompleks. Aku ingin mengajak Siska menjadi konsultan untuk karakter itu. Aku ingin dia merasa terlibat, bukan hanya sebagai penonton kegagalannya sendiri."

Adrian menatap Arumi dengan takjub. "Kamu benar-benar punya hati yang terlalu baik, Arumi. Tapi jika itu bisa membantunya sembuh, dan membuatmu tenang... aku setuju."

Malam itu, Arumi tidak langsung pulang. Ia mampir ke kafe tempat Siska berada. Saat ia duduk di depan kakaknya, Arumi tidak memamerkan kontrak filmnya. Ia hanya memesankan secangkir cokelat panas untuk Siska.

"Kak, aku butuh bantuanmu untuk proyek baruku," ujar Arumi lembut.

Siska menatap adiknya dari balik kacamata hitam. "Bantuan apa? Aku bukan penulis sepertimu, Rum."

"Tapi Kakak adalah orang yang paling mengerti bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian yang kemudian kehilangan arah. Aku ingin karakter dalam filmku nanti punya kedalaman emosi seperti itu. Maukah Kakak membantuku membangun karakter itu?"

Siska terdiam lama. Perlahan, ia melepas kacamata hitamnya. Matanya tampak berkaca-kaca. "Kamu... kamu benar-benar ingin aku membantumu? Setelah semua yang kulakukan?"

Arumi menggenggam tangan Siska. "Kita adalah saudara, Kak. Selamanya."

Malam itu, sebuah ikatan yang sempat hancur mulai terjalin kembali dengan cara yang paling tidak terduga. Arumi menyadari bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukan saat ia berada di puncak sendirian, tapi saat ia bisa membawa orang-orang yang ia cintai ikut bangkit bersamanya.

Perjalanan menuju layar lebar baru saja dimulai, dan kali ini, Arumi siap menuliskan bab yang paling emosional dalam hidupnya—bab tentang pengampunan dan harapan baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!