Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Kehilangan
Tubuh Jeevan pagi ini baru terasa begitu sakit karena kemarin berkelahi dengan Nathan. Wajah tampannya masih terlihat banyak luka pukul dibagian pelipis dan samping bibirnya, meski sudah diobati tapi masih saja terlihat sangat jelas. Kenapa juga Jeevan harus melakukan sejauh ini lagi sama seperti saat SMP dulu. Harusnya biarkan Valerie menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus ikut campur tangannya. Sudah beberapa menit pemilik mata monolid terlihat seharian ini tak tenang khawatirkan keadaan Valerie. Semalam Jeevan mengirim pesan kepadanya, namun sampai saat ini Valerie belum juga membalasnya.
"Sial. Muka ganteng gue jadi kayak gini," celetuk Jeevan yang masih terlihat kesal saat duduk di meja kerjanya sambil sesekali memperhatikan ponsel yang dipegangnya.
Kenzie yang sedang duduk di sofa panjang memeriksa beberapa berkas seketika menoleh ke arah Jeevan yang terlihat lesu tidak bergairah sama sekali, padahal masih pagi untuk malas-malasan.
"Lo nggak ada niat ke dokter gitu buat ngobatin lukanya?" tanya Kenzie menatap Jeevan dengan tatapan sedikit khawatir.
"Nggak usah, nanti juga sembuh," jawab Jeevan berjalan menghampiri Kenzie.
"Terus keadaan dia gimana? Lo belum cerita sama gue?" Kenzie mulai penasaran tentang keadaan Nathan karena sejak semalam Jeevan belum menceritakan keadaan Nathan.
"Dia belum chat gue. Rasanya gue jadi khawatir sama dia," jawab Jeevan yang sepertinya sudah salah paham tentang pertanyaan Kenzie.
Kenzie menatap Jeevan keheranan sambil mengerutkan keningnya saat Jeevan menyangka jika pertanyaan Kenzie tertuju untuk Valerie, padahal Kenzie bertanya bagaimana keadaan Nathan setelah mereka berdua berkelahi dengan brutalnya. Siapa yang melerai mereka? Dan apakah keadaan Nathan sama parahnya dengan Jeevan.
"Em,...kayaknya gue bukan ngebahas soal Valerie deh. Gue tanya keadaan Nathan," jelas Kenzie membuat Jeevan merasa malu.
Ekspresi wajah Jeevan berubah menjadi sedikit gugup dan tegang, apalagi wajah tampannya mendadak memerah karena malu. Kenapa juga Jeevan harus berpikir tentang Valerie, padahal sejak semalam sahabatnya terus bertanya soal Nathan.
"Nggak tahu gue," jawabnya mencoba menghindar dari Kenzie yang sudah mulai curiga kepadanya jika saat ini sepertinya Jeevan sedang memikirkan Valerie.
Melihat reaksi Jeevan yang mulai malas membahas soal semalam membuat Kenzie menyerah, sepertinya Jeevan sedang malas untuk membahas soal Nathan sekarang. Tatapan Kenzie begitu lekat menatap Jeevan yang terlihat sangat bingung dan gundah saat ini, Kenzie tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya. Pasti dia ingin tahu siapa sosok Nathan sebenarnya. Tanpa banyak bicara Kenzie memberikan sesuatu kepada Jeevan yang duduk di hadapannya. Seketika Jeevan kaget ketika Kenzie memberikan sebuah map berwarna hitam.
"Apa ini?" tanya Jeevan penasaran menatap Kenzie.
"Lo baca aja. Semua ada di sana tentang dia," jawab Kenzie membuat Jeevan penasaran.
Dibukanya map berwarna hitam dengan rasa penuh penasaran. Pertama kali yang dilihat oleh Jeevan adalah foto Nathan. Sontak Jeevan yang awalnya terlihat biasa saja kini menatap Kenzie dengan tajam dan tatapan penuh penasaran.
"Lo pasti penasaran siapa dia, kan?"
Nathaniel Javas Nararyan lelaki tampan kelahiran Australia 26 tahun memiliki tinggi l87 cm dengan berat 70 kg adalah putra tunggal dari pasangan Rayan Nararyan dan Leticia Aurora Nararyan, pemilik perusahaan penerbangan ternama di Indonesia dan juga di Belanda. Kedua orang tuanya menetap di Belanda, sejak kecil lelaki yang memiliki gaya rambut curtain haircut lahir di Australia dan besar di Belanda sampai menyelesaikan kuliahnya jurusan bisnis manajemen.
Nathan mengenal Valerie saat datang ke Indonesia untuk membantu perusahaan papannya karena sudah waktunya bagi Nathan mengambil alih. Memiliki perawakan atletis, wajah menawan, maskulin, wajah tajam dan rahang tegas membuat Nathan pernah ditawari menjadi model oleh salah satu sahabatnya.
Ketika itu model yang seharusnya menjadi icon brand baru mendadak membatalkan kontraknya karena tersandung kasus. Merasa tidak ada waktu membuat sahabatnya meminta Nathan untuk menggantikannya. Pemilik gumy smile itu sempat menolak dengan alasan tidak terbiasa ada di depan sorot lensa kamera dan lampu studio.
Tapi Nathan berubah pikiran ketika tahu jika dia akan dipasangkan dengan seorang model perempuan yang tengah naik daun, dia adalah Valerie. Sejak pertama bertemu dengan Valerie, sudah ada benih-benih perasaan suka dan sejak saat itu juga Nathan mulai dekat dengan Valerie. Pembawaan yang kharismatik mempunyai dan tegas yang membuat Valerie lama kelamaan juga menyukainya dan memutuskan untuk menjalin hubungan.
Sejak saat itu Nathan selalu menjadi model dadakan untuk temannya saja, dia tidak mau sepenuhnya menjadi model seperti Valerie. Selain menjadi model, Nathan juga sangat pintar dan jenius, kadang menjadi asisten dosen di salah satu Universitas di Belanda. Nathan sudah lama ingin mengajak Valerie menikah namun sudah berapa kali Valerie menolak dengan alasan selalu menundanya.
"Menurut lo, apa yang bikin Valerie menolak lamaran Nathan?" tanya Jeevan saat membaca semua informasi tentang Nathan yang Kenzie dapatkan.
"Mana gue tahu. Nggak ada yang tahu apa alasan dia nolak Nathan. Tapi ada yang bilang kalau dia sebenarnya sudah mencintai lelaki lain sejak lama, tapi itu bukan Nathan," jawab mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu.
Hal ini mulai mengganggu pikiran Jeevan yang awalnya sangat tidak peduli dengan sosok Valerie, namun sejak kejadian semalam membuat Jeevan menjadi selalu memikirkan tentang Valerie. Siapa lelaki itu, siapa yang Valerie cintai sampai saat ini? Jujur Jeevan merasa kaget dan terpukul sekali mendengarnya, dadanya mendadak terasa sakit.
"Apa lo nggak mau kasih tahu dia siapa lo?" tanya Kenzie bertanya tentang hal lain.
"Nggak. Gue rasa dia nggak inget siapa gue," jawab Jeevan sedih dan putus asa.
Meski sudah menjelang siang tapi Valerie masih terbaring di atas tempat tidurnya. Hari ini dia melewatkan sarapan paginya, dan memasuki jam makan siang perempuan penyuka hujan itu belum juga keluar dari kamarnya dan turun untuk makan siang. Keadaan Valerie yang sejak pagi tidak terlihat di meja makan membuat pembantu pribadinya khawatir akan keadaannya, apakah majikannya sedang sakit lagi?
"Maaf. Nona Vale nya lagi nggak bisa diganggu karena sedang sakit," kata pembantu pribadinya Valerie bernama Bi Rara yang sudah lama bekerja sejak Valerie memutuskan menetap di Indonesia.
Bi Rara mendapatkan telepon dari Jeevan yang merasa sangat menghawatirkan keadaannya, entah kenapa Jeevan segera menelepon Valerie namun sayang ponselnya tidak aktif, dan Jeevan menelepon rumahnya. Berapa kagetnya Jeevan ketika tahu saat ini Valerie sedang sakit.
"Sakit apa? Bagaimana keadaannya?" suara Jeevan terdengar begitu sangat khawatir dari ujung telepon sana.
Rasa kesal dan amarah masih berada di hati Nathan karena kejadian kemarin, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Wajah tampannya yang terlihat kharismatik dan rahang kuatnya harus banyak menerima pukulan dari Jeevan. Ya, semalam Jeevan berhasil mengalahkan Nathan dan memberikannya kesempatan tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum dengan syarat menjauhi Valerie selamanya.
Permintaan Jeevan tentunya tidak akan digubris oleh Nathan, mengingat pemilik kulit cool under tone itu sangat keras kepala dan tidak mudah untuk menyerah. Apalagi menyangkut tentang Valerie. Lengan kanannya masih terluka dan dibalut perban putih, tangan kirinya memegang segelas yang berisi alkohol. Nathan memutuskan untuk meminum minuman keras di bar milik sahabatnya dan terlihat sedikit mabuk.
"Lo telepon gue ke sini cuma buat nemenin minum aja? Trus kenapa muka lo berantakan begini?" tanya Mark duduk di sambil Nathan begitu kaget melihat wajah Nathan yang sedikit mabuk dengan tatapan tajam menatap ke satu arah di depan matanya.
"Terus gue harus kemana lagi? Jam segini apa ada bar yang buka?" tanya Nathan tanpa menatap Mark dan terus meneguk segelas alkohol.
Hanya senyum simpul dan menggelengkan kepalanya ketika Mark mendengar ucapan Nathan, sepertinya sahabatnya sedang mempunyai masalah yang sangat serius. Dan Mark bisa menebaknya dengan siapa lagi Nathan mempunyai masalah hingga berakhir seperti ini pasti karena Valerie.
"Kenapa muka lo sama begitu?" Mark masih penasaran apa yang telah terjadi kepada Nathan.
"Gue habis berantem semalem," jawab Nathan singkat namun kembali membuat Mark terkejut.
"Sama siapa?"
"Calon suaminya Valerie," jawab Nathan dengan mata sayu.
Mark yang tadinya terlihat sangat biasa saja tidak begitu tertarik dengan cerita Nathan, kini berubah menjadi kaget menatap sahabatnya begitu lekat. Apa Mark tidak salah dengar yang diucapkan oleh Nathan barusan, apa karena efek alkohol sehingga membuat Nathan berbicara melantur.
"Calon suami? Bukannya lo mau melamar dia?"
"Nggak jadi. Semua kacau, yang ada dia mau nikah sama orang lain," jawab Nathan singkat yang masih sadar sambil kembali menuangkan sebotol alkohol ke gelas kecilnya.
"What! Serius lo? Sekarang lo lagi ngga bercanda, kan?" tanya Mark tidak percaya sedikit berteriak.
"Muka gue emang keliatan lagi becanda?" Nathan saking kesalnya menoleh ke arah Mark yang duduk di sampingnya. Namun reaksi Mark hanya terdiam karena tahu suasana sahabatnya sedang tidak baik saat ini.
"Sialan memang. Gue yang udah pacaran lama sama dia, tapi malah orang lain yang mau nikahin dia?" Nathan dengan perasaan marah dan berapi-api ketika mengingatnya.
"Siapa dia?" tanya Mark penasaran akan calon suami Valerie.
"Anak bungsu dari Sailendra grup."
Mendengar nama Sailendra grup terdengar tidak asing di telinga Mark. Siapa yang tidak kenal keluarga mereka yang begitu sukses dan sangat harmonis. Mark juga mengenal dan mengetahui beberapa putra pemilik Sailendra grup, sepertinya semua sudah memiliki pasangan meskipun putra bungsunya belum menikah tapi menurut pengetahuan Mark, dia sudah mempunyai kekasih yang sudah menjalin hubungan 2 tahun lamanya.
"Bukannya mereka udah punya pasangan?"
Ucapan Mark menarik perhatian Nathan dan segera menoleh menatap sahabatnya, karena begitu tertarik dengan apa yang baru saja Mark ucapkan.
"Lo kenal mereka?"
"Kenal tapi nggak deket. Mereka orang yang terkenal pekerja keras, ambisius dalam hal positif. Setahu gue anak pertama dan kedua udah menikah, tinggal yang terakhir yang belum. Tapi katanya lagi menjalani hubungan sama seseorang sudah dua tahun," jawab Mark begitu serius menjelaskan kepada Nathan.
Deg, tangan Nathan terhenti sejenak saat hendak meneguk segelas alkohol ke mulutnya. Ucapan Mark membuat Nathan penasaran. Apa cerita yang baru saja diceritakan oleh Mark benar atau hanya gosip belaka? Tapi sungguh membuat Nathan sangat penasaran.
"Udah punya pacar kata lo?" Nathan mengulang ucapan Mark menatapnya begitu lekat.
"Iya. Jadi yang mau nikah sama Valerie yang mana?"
Sepertinya ada yang tidak beres di sini, jika memang Jeevan sudah mempunyai kekasih kenapa dia harus menikah dengan Valerie? Apa mungkin hubungan mereka sudah berakhir?
"Lo yakin kalau mereka udah punya pasangan masing-masing?" Nathan masih tidak percaya sambil menyimpan gelas yang tadi hendak diminumnya ke atas meja.
"Yakin, gue. Tapi setahu gue, Sulthan nggak setuju sama hubungan anak terakhirnya karena dia dari keluarga biasa aja," jelas Mark yang kini mengerti alasan Jeevan harus menikah dengan Valerie.
Setelah membatalkan semua jadwal rapatnya hari ini, Jeevan segera pergi ke rumah Valerie karena tahu jika perempuan cantik bermata coklat itu sedang sendirian meskipun memiliki banyak pembantu di sana. Langkah kaki Jeevan begitu cepat usai turun dari mobilnya, dengan membawa bubur yang masih hangat baru saja dibelinya.
"Nona ada di dalam kamarnya, Tuan. Tapi maaf, Nona nggak mau diganggu," ucap salah seorang pembantu kepada Jeevan.
Ada perasaan kecewa di hati Jeevan saat mendengar Valerie tidak ingin diganggu. Meski Valerie tidak mau diganggu dan menemuinya tapi Jeevan harus bertemu dengannya, dia takut terjadi apa-apa kepada Valerie karena sejak semalam pesannya belum dibalas juga.
"Maaf, tapi aku harus menemuinya. Dan jangan melarang ku!" Titah Jeevan yang saat itu juga tanpa pamit pergi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar Valerie.
Melihat Jeevan yang bersikeras untuk menemui Valerie membuat pembantu rumahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Baru saja Jeevan menaiki tiga anak tangga tapi langkah kakinya terhenti dan kembali menoleh ke arah pembantu tadi, padahal tidak ada yang memanggilnya.
"Kamarnya sebelah mana?" tanya Jeevan karena tidak tahu di mana kamar Vale.
Ternyata lelaki tampan yang mempunyai eye smile tidak tahu di mana letak kamar Valerie.
"Di sebelah kanan, Tuan," jawab pembantu itu cepat terdengar sedikit gugup.
"Terimakasih," kata terakhir Jeevan sambil kembali menaiki anak tangga menuju kamar Valerie.
Setelah berada di depan kamarnya, Jeevan kembali terdiam sesaat seolah sadar apa yang sedang dilakukannya di sini. Mengapa Jeevan melakukannya sampai sejauh ini. Sekuat apapun Jeevan menolak tetap saja tidak bisa melawan keinginannya untuk terus bertemu dengan Valerie. Dibukanya pintu kamar berwarna putih dan tidak lama terbuka sangat lebar. Langkah kaki Jeevan sedikit ragu memasuki kamar yang terlihat begitu sangat luat dengan nuansa putih.
Kedua bola matanya terus memperhatikan seisi kamar sambil mencari sosok Valerie di sana. Ternyata calon istrinya begitu menyukai warna putih, terlihat di sana kebanyakan berwarna putih dari gorden, sofa, karpet serta tempat tidur yang juga dipakaikan seprai berwarna putih. Tatapan Jeevan tertuju kepada Valerie yang sedang duduk di ujung tempat tidur.
Keadaannya sedang tidak baik-baik saja, Jeevan melihat Valerie sedang menunduk seperti menahan kesakitan, dan tangannya memegang hidung yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Cairan sedikit kental terus keluar dari hidungnya dan Valerie terus menahannya agar tidak semakin banyak jatuh berceceran. Melihatnya Jeevan kaget bukan main, apa yang sedang terjadi kepada Valerie. Wajahnya tampak begitu pucat dan lemas, serta darah yang terus menerus keluar dari hidungnya membuat Jeevan panik dan ketakutan.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪