"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alibi di balik berkas
Baskara yang biasanya selalu efisien dan tidak suka membuang waktu, mendadak kehilangan fokusnya. Saat Lara berdiri di dekat mejanya, cahaya sore yang masuk lewat jendela ruang transit seolah menciptakan siluet yang membuat wajah polos Lara terlihat berkali-kali lipat lebih manis.
Baskara terpaku. Ia yang biasanya menghadapi ribuan orang dengan tenang, kini harus berdehem berkali-kali untuk menetralkan debar jantungnya.
"Kak? Jadi ditanda tangan nggak?" tanya Lara bingung karena Baskara hanya diam menatapnya.
Baskara tersadar. Otak cerdasnya langsung mencari cara agar gadis ini tidak cepat-cepat pergi. Ia menarik kembali map yang sudah ia buka.
"Tunggu dulu," ujar Baskara, suaranya dibuat seformal mungkin. "Saya harus cek laporan kelompokmu satu per satu. Ada beberapa poin yang sepertinya... meragukan."
Lara membulatkan matanya. "Hah? Meragukan gimana, Kak? Saya sudah cek tiga kali tadi."
"Duduk dulu, Lara. Ini akan memakan waktu lama," Baskara menunjuk kursi di hadapannya dengan gerakan dagu yang tegas, padahal hatinya sedang bersorak karena Lara menurut dan duduk dengan wajah cemberutnya yang khas.
Randy, yang masih ada di sana, menatap Baskara dengan dahi berkerut. "Laporan kelompok tiga? Bukannya tadi kamu bilang sudah oke waktu lewat di meja sekre, Bas?"
Baskara memberikan tatapan "diam-atau-kubuang-ponselmu" kepada Randy. Randy yang langsung paham hanya bisa menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.
"Duduk yang tenang, Lara. Mau minum? Biar Randy yang ambilkan," perintah Baskara telak.
"Lho, kok jadi aku yang jadi babu?" protes Randy, tapi kemudian ia melirik Lara yang tampak pasrah. "Ya sudahlah, demi kelancaran 'urusan negara' Pak Ketua, Abang Randy ambilkan air mineral paling dingin buat bidadari."
Lara hanya bisa duduk diam, meremas ujung kemeja putihnya. Ia tidak tahu bahwa berkas di depan Baskara sebenarnya sudah sempurna. Baskara hanya sengaja membaca satu paragraf berkali-kali hanya agar ia bisa mencuri pandang ke arah Lara lebih lama lagi.
"Lama banget ya, Kak?" tanya Lara pelan.
"Sangat lama," jawab Baskara singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas—padahal ia sedang berusaha menyembunyikan senyum tipis yang hampir lolos dari bibirnya.
Baskara akhirnya meletakkan pulpennya setelah membubuhkan tanda tangan yang tampak sangat berwibawa di lembar terakhir berkas Lara. Namun, sebelum menyerahkan map itu kembali, ia menatap Lara dengan ekspresi yang sangat serius, seolah-olah ada prosedur keamanan negara yang terlewati.
"Satu lagi, Lara," ucap Baskara datar, berusaha menyembunyikan rencana di balik suaranya. "Sebagai ketua kelompok 3, saya butuh nomor WhatsApp kamu. Kalau ada revisi mendadak atau informasi penting dari panitia pusat, saya harus bisa menghubungi kamu langsung tanpa lewat perantara."
Lara, yang memang polos dan sangat bertanggung jawab atas tugas kelompoknya, tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia mengangguk mantap. "Oh, iya benar, Kak. Supaya lebih cepat koordinasinya ya?"
"Tepat sekali," jawab Baskara singkat, sambil menyodorkan ponselnya yang sudah terbuka di menu 'New Contact'.
Randy yang melihat pemandangan itu dari pojok ruangan hampir saja tersedak air mineralnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa halusnya cara Baskara mendapatkan nomor gadis incarannya dengan dalih "urusan organisasi".
"Tulis di sini," perintah Baskara lagi.
Lara pun menuliskan deretan angka nomornya dengan telaten. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu. "Sudah, Kak. Saya boleh pulang sekarang?"
Baskara menerima ponselnya, jarinya dengan cepat menekan tombol save dengan nama 'Lara W. (Kelompok 3)', meski dalam hatinya ia ingin menamainya dengan sesuatu yang lebih manis.
"Boleh. Terima kasih kerjasamanya, Lara. Hati-hati di jalan," ucap Baskara.
Begitu pintu ruang transit tertutup dan Lara menghilang di balik koridor, Randy langsung meledak dalam tawa. "Gila lu, Bas! 'Informasi penting dari panitia pusat'? Sejak kapan kita punya struktur kayak gitu? Bilang aja mau PDKT!"
Baskara hanya memasukkan ponselnya ke saku dengan senyum kemenangan yang sangat tipis. "Diam, Ran. Lanjutin kerjaanmu."