ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10--Inisialisasi Dinasti Galeria
BAB 10
Rahmat merasakan desiran aneh di tulang belakangnya. Begitu notifikasi Empire Aura aktif, udara di dalam galeri seolah menjadi lebih padat namun nyaman. Ia menatap dua gadis di depannya, dan entah kenapa, tatapan matanya kini memiliki ketegasan yang membuat Maya dan Bella serentak berdiri lebih tegak tanpa mereka sadari.
Tanpa mereka berdua Sadari kemampuan kecerdasan, keberuntungan mereka sudah meningkat hingga membuat aura mereka berubah.
"Dua ratus lima puluh juta untuk infrastruktur..." gumam Rahmat. "Dan kemampuan negosiasi yang meningkat. Sistem ini benar-benar ingin aku menguasai pasar barang antik di kota ini, tidak bahkan senegara kalau bisa."
Rahmat menatap kartu hitamnya, lalu beralih ke Bella yang masih asyik membetulkan topi telinga kucingnya.
"Bella, Maya," panggil Rahmat. Suaranya kini terdengar lebih berwibawa, efek dari skill barunya. "Karena hari ini kita untung besar dan tim ini resmi terbentuk, aku mau kalian melakukan satu tugas pertama sebagai tim."
Bella langsung memasang posisi siap. "Apa itu, Pak Bos? Merayu kolektor lain? Atau promosi di TikTok?"
Rahmat terkekeh. "Belum. Kita butuh markas yang layak. Dana 250 juta ini khusus untuk merenovasi Galeria. Maya, aku mau kamu buat daftar perangkat keras paling canggih—server, sistem keamanan laser, sampai firewall fisik. Jangan pedulikan harga. Dan untuk permintaan device barumu, kamu boleh ambil request spek apapun akan kubeli."
Maya yang mendengar kata 'Server' dan device baru langsung bangkit dari kelesuannya. Matanya yang tadi sayu mendadak menyala-nyala. "S-server? Komputer baru benerannm Kak... aku bisa beli Liquid Cooling System? Dan Storage berkapasitas Petabyte?"
"Beli sesukamu," jawab Rahmat santai.
"Dan Bella," Rahmat menoleh ke si gadis kembang api. "Tugasmu adalah mencari desainer interior terbaik. Aku mau Galeria ini punya aura mewah yang bikin orang masuk saja sudah merasa miskin, tapi tetap nyaman. Gunakan kemampuan 'nyerocos'-mu itu untuk dapat harga vendor terbaik."
"Siap, Bos! Bella laksanakan!" Bella memberi hormat imut lagi.
[ Ding! ]
[ Karisma anda menigkat!]
[ Loyalitas Maya: +10% (Terpesona oleh anggaran IT) ]
[ Loyalitas Bella: +15% (Senang diberi tanggung jawab besar) ]
Rahmat tersenyum melihat notifikasi itu. Ternyata menjadi bos itu menyenangkan kalau punya sistem yang membantu.
"Oh ya, satu lagi," Rahmat merogoh saku, lalu teringat sesuatu. "Malam ini, tidak ada yang boleh makan di rumah. Kita rayakan di hotel bintang lima, hotel al-faris yang terkenal itu. Aku yang traktir. Kalian berdua harus tampil cantik, karena setelah ini, nama Galeria Spesial Rahmat akan terdengar sampai ke telinga para petinggi kota."
Hotel al-faris tentu dia tidak mengatakan bahwa itu juga miliknya, kedua orang itu bisa pingsan kalau tahu dia punya dua kepemilikan usaha
Cuma hotel itu sudah punya banyak karyawan serta sistem manajemen yang apik, jadi dia bisa fokus ke usaha barunya.
Maya tersipu malu, sementara Bella sudah mulai membayangkan menu makanan mahal yang akan ia pesan.
"Tapi Kak..." Maya mengangkat tangannya pelan. "Aku... aku nggak punya baju bagus buat ke hotel bintang lima. Bajuku cuma hoodie kebesaran semua..."
Bella langsung merangkul bahu Maya dengan akrab. "Tenang aja, Maya! Tadi kan Kak Rahmat habis belanjain aku banyak banget. Kita ke rumahku dulu, kita make-over kamu jadi asisten sultan yang paling keren!"
Maya merasa malu dan merona ini pertama kalinya dia dirangkul sesama gadis seumuran pula, terlebih dia sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan maya.
Itu buat dia sedikit grogi.
"M-make over?"
"Iya, kamu pasti bakal kelihatan cantik banget!"
Rahmat melihat dua gadis itu mulai akrab dan merasa rencana "Harem"—maksudnya, rencana bisnisnya—berjalan mulus.
Malam harinya, di depan Hotel al-faris.
Sebuah mobil McLaren hitam berhenti tepat di depan lobi. Satpam hotel segera berlari membukakan pintu dengan hormat, mereka sudah tahu bahwa pemilik sudah kembali pulang.
"Selamat datang lagi, tuan Rahmat."
Rahmat menganggukkan kepala dan tersenyum.
Rahmat turun dengan setelan jas slim-fit yang ia beli tadi sore. Di belakangnya, dua sosok gadis menyusul keluar.
Mereka sedikit terkejut. "Kenapa dia memanggilmu tuan kak?" Tanya mereka bersamaan.
"Cuma formalitas hotel bintang lima " dustanya.
"Ow gitu." Dan begonya mereka percaya.
Bella tampil sangat modis dengan jaket bomber metalik dan rok asimetrisnya, tetap tidak melepas topi telinga kucing kesayangannya (yang katanya adalah 'brand image'-nya). Sementara Maya... Rahmat nyaris tidak mengenali gadis itu
Maya memakai gaun simpel berwarna biru gelap yang dipadukan dengan kacamata bingkai tipis baru. Rambutnya yang biasa berantakan kini disisir rapi oleh Bella. Meskipun wajahnya masih menunduk karena canggung, aura kecerdasan yang meningkat 20% dari sistem membuatnya terlihat sangat elegan.
Malah terlihat seperti gambaran wanita karir, lekukan asetnya yang mengatakan bahwa 34D bukan sembarangan data omong kosong.
Sebagai lelaki remaja tulen, dia gak munafik. Matanya sempat memperhatikan sekilas. Dia jelas terlihat lebih cantik dan dewasa berbeda dengan sebelumnya.
Saat mereka melangkah masuk, semua mata pengunjung hotel tertuju pada mereka.
"Wah, lihat itu... Bos muda sama dua asistennya?" bisik salah satu sosialita di lobi.
"Auranya gila banget, kayak anak konglomerat Sultan."
Rahmat hanya tersenyum tipis. Kemampuan Super Social Skill membuatnya tidak merasa risih lagi. Ia justru menikmati tatapan kagum orang-orang. Padahal dia tipe orang yang dulu tidak terlalu suka menarik perhatian.
"Meja nomor 12, atas nama Rahmat," ucap Rahmat tenang. Super Social Skill level 1 membuatnya bicara dengan nada yang begitu magnetis.
Baru saja mereka hendak duduk, seorang pria tua dengan rambut putih klimis dan tongkat kayu berkepala perak berdiri dari meja sebelah.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SYSTEM ANALYSIS: KEY PERSON]
Nama: Tuan Baskoro.
Status: Raja Lelang Jawa Tengah / Pemilik Jaringan mesum barang antik nasional. Atasan dari Hendra yang barusan membeli barang tuan.
Reputasi: Dingin, Legendaris, dan Sulit Ditembus.
Potensi: Partner Distribusi Utama untuk Galeria Rahmat.
━━━━━━━━━━━━━━━
"Sungguh kebetulan yang luar biasa" suara Tuan Baskoro berat namun jernih. "Anak muda ... Kamu pemilik Keris Nogo Siluman yang tadi dibeli Hendra dengan harga gila itu, kan?"
Rahmat menoleh, tersenyum tipis. Siapa sangka dia bertemu atasan langsung dari hendra di tempat kaya gini. Seorang yang berhubungan dengan galeria Nasional, museum nasiona barang antik, dia jelas rekan kerja di masa depan yang wajib di baiki.
"Kabar burung cepat sekali terbang, Tuan Baskoro. Perkenalkan Saya Rahmat Pratama."
"Hendra tidak bisa berhenti bicara soal 'pemuda misterius dari ruko pojokan'. Dia bilang kamu punya insting iblis dalam menentukan harga," Tuan Baskoro menatap Rahmat tajam. "Menarik. Kapan-kapan mampirlah ke tempatku. Kita bicara soal barang-barang yang lebih... 'langit'."
Rahmat terkekeh itu adalah sebuah kehormatan. "Terima kasih, senang sekali mendapatkan tawaran seperti itu."
Namun, suasana hangat itu mendadak retak saat seorang pria asing bertubuh tegap dengan jas hitam mahal menghalangi jalan Rahmat. Pria itu tidak dikenal, wajahnya kaku, dan matanya memancarkan rasa iri yang dibalut kesombongan.
"Jadi ini 'anak ajaib' yang merusak harga pasar hari ini?" Pria asing itu berbicara dengan nada menghina, cukup keras untuk didengar meja-meja VIP lainnya. "Rumornya menyebar kesana kesini di dunia kolektor. Seorang pemuda dengan hati negoisasi selicik iblis."
Rahmat menyipitkan mata. Ia tidak mengenal orang ini, tapi sistem langsung bereaksi.
[WARNING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[TARGET DETECTED: ENEMY]
Nama : Deni Mulyono
Status: Unknown High-Level Collector.
Emosi: Iri Hati (Extreme).
Motif: Merasa terhina karena koleksi pribadinya kalah prestise dibanding Keris Nogo Siluman milik Tuan.
━━━━━━━━━━━━━━━
"Maaf, siapa Anda?" tanya Rahmat dingin.
Deni mendengus sinis. "Siapa aku tidak penting. Yang penting adalah, anak ingusan sepertimu tidak seharusnya memegang barang legendaris. Kamu hanya beruntung menemukan sampah yang dianggap berlian oleh Hendra dan tuan Baskoro yang sudah pikun. Bisa bisanya ditipu pemuda licik gini."
Pria itu melirik ke arah Bella dan Maya dengan tatapan merendahkan. "Dan membawa gadis-gadis aneh seperti ini ke hotel bintang lima? Ini hotel al-faris. Hotel paling terkenal disini! Kamu benar-benar tidak punya selera, hanya punya uang kaget. Dasar bocah!"
Maya langsung menciut, menunduk dalam. Namun Bella? Topi telinga kucingnya seolah-olah berdiri tegak karena marah.
Dia marah karena orang yang dia hormati diejek begitu saja.
"Heh, Om-om Jas Kegelapan!" Bella maju selangkah, menaruh tangan di pinggang.
"Kalau Om iri bilang bos! Jangan bawa-bawa selera. Kak Rahmat ini orang berpotensi! Kalau Om merasa hebat, kenapa Om nggak beli aja keris itu tadi siang? Oh, atau jangan-jangan... saldo Om nggak cukup ya buat saingan sama Kak Rahmat?"
"Apa kamu bilang?!" Pria itu naik pitam, wajahnya memerah. "Anak Kecil seperti kalian belagu banget! Belajar dulu yang benar di sekolah sana baru mulai bisnis!"
Rahmat maju, menghalangi pandangan pria itu dari Bella.
"Udah-udah tenang," ucapnya. Kali ini skill leadershipnya aktif, membuat bella jadi tunduk dan tenang.
Tekanan udara di sekitar mereka seolah turun drastis. Pria asing itu mendadak merasa sesak napas, seolah ada beban ribuan ton menekan pundaknya.
"Tuan," suara Rahmat rendah namun berwibawa, berkat Super Social Skill cara bicara dia menjadi elegan ala pembisnis kelas atas.
"Di tempat ini, kita bicara soal kelas. Dan menghina asisten saya di depan umum... adalah tindakan yang sangat tidak berkelas."
pria itu emosi, mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol. "Pelayan! Ada tamu yang mengganggu kenyamanan. Tolong tangani, atau saya akan pertimbangkan kembali untuk memesan seluruh lantai ini bulan depan."
Mendengar ancaman "memesan seluruh lantai", pelayanan hotel itu cuma terkekeh, menghampiri kegaduhan itu
Sungguh bodoh, mau mengusir pemuda itu? Apa orang ini bahkan tahu bahwa pemuda itu selain punya galeria dia juga owner hotel ini? Cari mati namanya!
"Mohon maaf, Tuan," ucap sang pelayan kepada pria asing itu. "Kami terpaksa meminta Anda untuk berpindah meja atau meninggalkan restoran demi kenyamanan tamu VIP kami."
Pria asing itu gemetar karena marah dan malu. "Lah kok malah saya yang diusir! Jangan sembarangan ya, aku VIP disini!"
"Mohon maaf tuan, itu kebijakan dari kami. Karena anda yang memulai kegaduhan maka, mohon keluar."
Tentu dia sudah mendengar kabar bahwa Rahmat tidak suka kalau dia diumbar bahwa dia pemilik hotel ini, maka dia berkata demikian.
Di bawah tatapan dingin Tuan Baskoro dan aura menekan dari Rahmat, dia tidak punya pilihan selain pergi dengan langkah kasar.
"Bajingan, its fine. Awas aja kau bocah sialan!" Ucap Deni beringas.
[ Ding! ]
[ Loyalitas Bella: +20% (Terpesona dengan ketegasan Kak Rahmat) ]
[ Loyalitas Maya: +15% (Merasa aman di bawah perlindungan Kak Rahmat) ]
[ Reputasi Bisnis Meningkat di mata Tuan Baskoro! ]
.
Tuan Baskoro mengangguk puas. "Tegas. Aku suka caramu menangani lalat, Rahmat. Anak muda sekarang memang harus punya taring."
Rahmat kembali duduk, tersenyum ke arah dua gadisnya. "Maaf ya, ada pengganggu. Sekarang, ayo kita pesan lobster paling mahal di sini."
Maya tertawa kecil, ketakutannya hilang. Sementara Bella sudah sibuk memotret menu makanan untuk pamer ke teman-temannya di grup chat.
Di kegelapan luar hotel, Deni menatap ke arah restoran di puncak gedung. Ia mengeluarkan ponselnya. "Cari tahu siapa pemuda itu. Aku mau tahu setiap rincian tentang Galeria Spesial Rahmat. Jika dia ingin main-main dengan pasar barang antik, aku akan tunjukkan padanya siapa penguasa sebenarnya.”