Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
“Jaga mulutmu sebelum aku potong lidahmu,” kata Dev dingin. Sorot matanya tajam, penuh ancaman.
Eric mengusap sudut bibirnya yang berdarah, napasnya memburu karena menahan emosi dan rasa sakit.
“Untuk apa kau datang lagi?” ucap Lolitta datar tanpa sedikit pun ekspresi iba. “Kalau kau takut pacarmu kehilangan semuanya, pergilah dan bantu dia.”
Eric bangkit perlahan, berdiri sambil menatap Lolitta dengan tatapan campur aduk antara marah dan tidak terima.
“Lolitta, hanya karena kau akan menikah dengannya, kau sampai tidak peduli dengan keluargamu sendiri? Paman itu ayah kandungmu, dan Yunny adalah adikmu!” suaranya meninggi, seolah mencoba menggugah perasaan yang ia kira masih dimiliki Lolitta.
Lolitta menatapnya lurus, tatapannya dingin dan kosong.
“Kau sudah salah,” jawabnya pelan namun tegas. “Mereka tidak ada hubungan apa pun denganku. Justru kau yang takut kehilangan tempat bergantung. Apa kau tidak tahu malu, hidup nyaman dari bantuan mereka?”
Ucapan itu membuat wajah Eric memerah.
“Aku tahu kau masih mencintaiku dan tidak bisa melupakanku,” ujar Eric dengan nada percaya diri yang dipaksakan. “Karena itu kau berusaha menjebloskan Yunny ke penjara!”
Lolitta tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
“Jangan terlalu percaya diri,” katanya tajam. “Kau bukan barang berharga bagiku. Pacarmu menabrak orang lalu kabur. Alex Fang memintaku menggantikan anak kesayangannya menerima hukuman itu.”
“Yunny harus menerima hukuman sesuai perbuatannya. Ini balasannya,” ujar Lolitta dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Kesalahan yang tidak pernah aku lakukan, kenapa harus aku yang menanggungnya? Biar dia merasakan hidup di dalam penjara itu seperti apa. Tentu saja, kalau kau tidak keberatan, kau juga bisa mencobanya.”
Eric menatapnya lama, seolah tak mengenali perempuan di hadapannya. “Kau benar-benar berubah… tidak seperti dulu lagi,” ucapnya pelan.
Lolitta tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Iya, aku memang sudah berubah. Bukan lagi gadis bodoh yang lemah dan mudah ditindas. Sekarang aku lebih pemarah… dan pendendam. Semua yang menyakitiku akan aku balas satu per satu. Kalau kau tidak takut mati, coba saja.”
Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Tatapannya tajam, membuat Eric tanpa sadar mundur setengah langkah.
Dev yang melihat itu langsung bersuara, nadanya tegas namun terkendali. “Lolitta, serahkan saja pada Shane. Jangan buang tenagamu untuk orang seperti dia.”
Lalu Dev menoleh ke samping. “Shane, seret dia keluar dan beri pelajaran padanya!”
“Baik, Tuan,” jawab Shane sigap. Ia langsung menarik kerah baju Eric dengan kasar.
“Lepaskan tanganku! Jangan menyentuhku!” teriak Eric memberontak, namun cengkeraman Shane terlalu kuat untuk ia lawan.
***
Di sisi lain, di kediaman keluarga Fang, suasana yang biasanya mewah dan tenang berubah menjadi kacau. Beberapa petugas kepolisian berdiri di ruang tamu, sementara Alex, Lolla, dan Yunny telah diborgol di hadapan mereka.
Wajah Yunny pucat pasi, napasnya memburu. “Kalian sudah salah tangkap orang! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Rekaman itu palsu. Itu hasil rekayasa Lolitta!” teriaknya panik, mencoba melepaskan diri dari pegangan petugas.
Lolla yang berdiri di sampingnya ikut bersuara dengan nada gemetar. “Kalian harus percaya pada kami. Gadis itu sengaja memfitnah kami. Kami tidak melakukan kesalahan!”
Alex hanya bisa menatap dengan wajah tegang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat benar-benar kehilangan kendali.
Salah satu polisi menatap mereka dengan ekspresi datar. “Bukti sudah lengkap dan sangat jelas. Kalian bisa mencari pengacara dan membela diri di persidangan nanti.”
Alex yang sudah diborgol berusaha meronta, wajahnya merah padam karena emosi. “Aku ingin bertemu dengan anak durhaka itu! Kalau aku tahu dia sengaja menjebak kami, dulu seharusnya aku serahkan saja dia ke panti asuhan!” jeritnya kasar.
Belum sempat polisi menenangkannya, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan pelan dari arah pintu masuk.
Semua kepala menoleh.
Lolitta berdiri di sana dengan wajah tenang, ditemani Dev di sampingnya. Tatapannya lurus, dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.
“Kalian benar-benar keluarga yang kompak,” ucap Lolitta pelan. “Bahkan mau masuk penjara pun masih bisa bersama. Luar biasa sekali.”
“Lolitta! Kau jangan keterlaluan!” bentak Alex, mencoba melangkah maju meski kedua tangannya terborgol.
Lolitta menatapnya tanpa ekspresi. “Aku hanya membalas semua perbuatanmu terhadapku. Melihat kalian di penjara adalah impianku sejak lama.” Pandangannya beralih pada Yunny. “Dan anak kesayanganmu itu… akan menjadi bahan lelucon publik.”
“Lolitta, kau tega menghancurkan hidup Yunny. Di mana hatimu?” ujar Lolla dengan suara gemetar.
Lolitta tertawa kecil, hambar. “Saat aku di penjara dan diusir dari rumah ini, di mana hati kalian? Lolla, merebut suami orang dan harta orang jauh lebih memalukan daripada yang aku lakukan.” Ia menatap sekeliling rumah itu. “Dan rumah ini… sudah kembali menjadi milikku.”
Alex mendengus kasar. “Kau tidak perlu berbohong! Rumah ini akan diambil alih bank. Aku sudah menggadaikannya tahun lalu!”
Dev yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, tetapi tegas dan berwibawa. “Mengenai penggadaian itu sudah kami tebus. Rumah ini kembali atas nama Lolitta.” Ia menatap Alex tajam. “Dan tuntutan yang akan kau terima bukan hanya satu. Selain perebutan hak waris secara ilegal, kau juga menggadaikan properti ini untuk kepentingan pribadi.”
Wajah Alex memucat.
Lolitta melangkah lebih dekat, berdiri tepat di hadapan ayah kandungnya. Tatapannya tajam, menusuk. “Satu per satu akan aku ambil kembali. Bukan karena aku menginginkannya…” suaranya merendah, “…tapi karena kalian tidak pantas memilikinya.”
Petugas polisi mulai menggiring mereka keluar.
Lolitta menoleh menatap Dev dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Dev, sejak kapan kau menebus rumah ini? Dan bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya pelan.
Dev membalas tatapannya dengan tenang. “Sejak aku mendengar berita itu, aku mulai mencari tahu semuanya. Rumah itu adalah peninggalan ibumu,” ujarnya mantap."Karena itu, aku merasa harus menebusnya dan mengembalikannya padamu.”
Lolitta terdiam. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tak mampu ia uraikan.
Dev melangkah lebih dekat. “Sudah kukatakan, aku akan membantumu. Jangan menanggung semuanya sendiri.” Suaranya melembut. “Kau tidak sendiri, Lolitta. Masih ada aku… dan kakek. Keluarga Zhang akan selalu menjadi rumahmu.”
Ia lalu memeluk Lolitta dengan erat.
Untuk sesaat, Lolitta tidak bergerak. Tubuhnya kaku, seolah lupa bagaimana caranya menerima kehangatan.
Lolitta memejamkan mata di dalam pelukan Dev.
"Andaikan suatu saat dia kembali… apakah kau masih akan peduli padaku? "batinnya lirih. "Dulu aku memilih menjauh… bukan karena aku tidak peduli, tapi karena hubunganmu dengan dia."
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰