NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Robot AI / Spiritual / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:

Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain

Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertama part 5

Namun, alih-alih mengucapkan terima kasih atau menanyakan situasi, perempuan itu langsung mengarahkan senjatanya ke arah Sany.

Alih-alih menunjukkan ketakutan, Sany justru tersenyum kecil. Baginya, ancaman senjata itu seperti angin lalu yang tak berarti apa-apa.

"Tenanglah," kata Sany dengan suara menenangkan.

"Akulah yang menyelamatkan dan menyembuhkan lukamu," lanjut Sany menjelaskannya.

Meski begitu, perempuan itu masih tidak percaya. Matanya tetap waspada, jarinya masih berada dekat pelatuk senjata.

"Aku yakin kau tidak percaya dengan ucapanku, tapi kau harus ingat satu hal," ucap Sany dengan tenang.

"Akulah yang berhasil menghentikan tembakan meriam kolosal itu," lanjut Sany memberitahu sesuatu.

Perempuan itu terkejut, ingatannya kembali kepada momen saat ia berusaha menghentikan meriam kolosal itu.

Perlahan, ia menurunkan senjatanya.

"Kenapa kau membantuku?" tanya perempuan itu dengan penuh rasa penasaran.

Sany berjalan mendekati jendela, memandang keluar.

"Kenapa? Lebih baik kau tidak menanyakan niat seseorang yang menolongmu," jawab Sany dengan bijak.

Perempuan itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Ia masih bingung dengan segala hal yang terjadi.

Sampai ia memutuskan untuk turun dari meja altar. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, Sany dengan sigap memegang lengan kanannya.

"Tunggu sebentar, kau jangan keluar dulu," kata Sany dengan suara tegas namun tidak kasar.

"Kenapa?" tanya perempuan itu yang masih tampak bingung.

Sany melepaskan pegangannya, lalu mendekati pintu untuk memeriksa keadaan luar. Setelah memastikan sesuatu, ia kembali menghadap perempuan itu.

"Kau berada di wilayah musuh," jawab Sany memberitahu hal penting.

Perempuan itu terkejut, matanya langsung menyapu sekeliling ruangan. Sekarang, ia baru menyadari di mana dirinya berada.

"Ini kan tempat ibadah mereka! Kenapa kau membawaku ke sini?" tanyanya dengan nada tidak senang.

Dari reaksinya, jelas perempuan ini mengetahui sesuatu tentang tempat ini yang tidak diketahui Sany.

"Karena tempat ini yang paling aman," jawab Sany dengan polos, tanpa menyadari masalahnya.

Raut wajah perempuan itu berkerut tidak senang, tapi ia memahami bahwa Sany memang tidak tahu apa-apa.

"Bukan itu masalahnya!" bantah perempuan itu dengan suara pelan khawatir.

"Kalau para pendeta tahu, aku berada di sini, aku bisa dihukum berat!" lanjut perempuan itu sambil memberitahu sesuatu.

"Kalau begitu, kita akan segera pindah ke tempat lain," ucap Sany dengan tenang, langsung menggenggam tangan kanan perempuan itu.

Sebelum perempuan itu sempat bertanya atau membantah, Sany sudah menggunakan sihir perpindahan tempat. Dalam sekejap, lingkungan sekitar berubah.

Begitu tiba di lokasi baru, perempuan itu langsung melepaskan genggaman tangan Sany dengan gerakan refleks, matanya masih berbinar karena pengalaman berpindah tempat yang tiba-tiba.

"Percuma saja kau memindahkanku," kata perempuan itu dengan putus asa sambil menatap kosong ke kejauhan.

"Pendeta pasti akan mengetahuinya," lanjut perempuan itu.

Sany hanya diam, perasaan bersalah mulai menyelimutinya. Tiba-tiba, pandangan perempuan itu tertuju pada setumpuk dokumen yang tergeletak di dekat kaki mereka.

Dokumen yang susah payah dikumpulkan Sany selama pencariannya.

Perempuan itu mengambil salah satu dokumen dan mulai membacanya. Setelah beberapa saat, ia menoleh ke arah Sany dengan ekspresi berubah.

"Dari mana kau mendapatkan dokumen ini?" tanya perempuan itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Sany langsung menoleh, terkejut dengan pertanyaan itu.

"Aku mendapatkannya dari memeriksa setiap bangunan yang ada," jawab Sany dengan jujur.

"Untuk apa kau melakukan hal semacam itu?" tanya perempuan itu dengan tatapan yang masih penuh kecurigaan.

"Aku hanya penasaran dengan peperangan ini, sekaligus mencari petunjuk di berbagai tempat," jelas Sany terus terang.

"Mencari petunjuk? Apa kau tidak ketahuan?" tanyanya lagi yang semakin penasaran.

"Ya... ketahuan sih," jawab Sany dengan polos.

"Lalu, bagaimana caramu bisa selamat dari semua itu?" tanya perempuan itu yang menyipitkan matanya.

"Ya... begitulah," jawab Sany terbata-bata, tampak bingung menjelaskannya.

Perempuan itu semakin curiga dengannya. Dia tidak menyangka ada manusia lain yang memiliki kekuatan sehebat ini.

Di tempat para pendeta robot.

Seorang saksi robot baru saja melaporkan keberadaan manusia yang berani memasuki tempat ibadah mereka.

"Baiklah, kami yang akan mengurusnya," kata salah satu pendeta robot siap melangkah keluar.

Namun, sebelum mereka mencapai pintu, SIA muncul dari balik pintu. Semua pendeta robot langsung berhenti dan menunduk dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan.

"Biar aku saja yang mengurus mereka. Kalian tetap di sini," perintah SIA dengan suara yang jelas.

"Sesuai perintahmu," jawab mereka serentak, patuh tanpa bertanya atau membantah.

Lalu SIA berbalik dan keluar melalui pintu yang sama, meninggalkan para pendeta robot yang masih terdiam dalam penghormatan.

Di tempat persembunyian mereka.

Sany akhirnya mengajukan pertanyaan yang telah lama ia simpan.

"Apa kau tahu penyebab peperangan ini? Dari yang kulihat, semua wilayah saling berperang tanpa henti," tanya Sany yang penuh rasa ingin tahu.

"Aku tidak tahu, kami sebagai prajurit hanya mematuhi perintah atasan," jawab perempuan itu dengan jujur.

Sany menggelengkan kepala pelan. Ia sudah menduga akan mendapat jawaban seperti itu.

"Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu?" balas perempuan itu, kini gilirannya yang penasaran.

"Sebagai prajurit, apa kau tidak pernah ingin tahu alasan sebenarnya di balik penyerangan tempat tinggalmu?" kata Sany dengan suara lembut, namun menusuk.

Perempuan itu terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata Sany yang terdengar masuk akal baginya.

"Sebenarnya... aku juga penasaran sih, Tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya seorang prajurit," akhirnya perempuan itu mengakui sesuatu.

Mendengar pengakuannya, Sany tersenyum dan mendekatinya dengan langkah tenang.

"Daripada tidak melakukan apa-apa, kenapa tidak membantuku?" tawarnya dengan suara lembut dan penuh keyakinan.

"Membantumu?" perempuan itu mengerutkan kening, masih belum sepenuhnya paham maksud Sany.

"Iya, bantu aku mencari lokasi tempat dokumen yang berharga disimpan. Nanti aku yang akan mengambilnya," jawab Sany dengan penuh keyakinan.

"Tapi... rata-rata dokumen penting disimpan di markas musuh. Masuk ke sana sama saja bunuh diri!" bantah perempuan itu yang wajahnya menunjukkan kecemasan.

"Tenang saja, tugasmu hanya memberitahuku lokasinya. Sisanya, aku yang akan menanganinya," ucap Sany yang berusaha meyakinkannya.

Mendengar penawaran itu, perempuan itu terdiam sejenak, mempertimbangkan risikonya.

Beberapa menit kemudian...

"Baiklah, aku setuju," kata perempuan itu yang akhirnya mengungkapkannya.

Senyum mengembang di wajah Sany. Dengan cepat ia mengeluarkan banyak peta dari balik bajunya dan membentangkannya di antara mereka.

"Ini peta untukmu, biar lebih mudah mencari lokasinya," kata Sany dengan wajah berseri-seri.

Perempuan itu terkejut melihat banyaknya peta yang menunjukkan berbagai wilayah yang berbeda-beda. Ia mulai memeriksa masing-masing peta dengan cermat.

"Kalau boleh tahu, kita sedang berada di mana sekarang?" tanya perempuan itu, karena tidak tahu lokasi persembunyian mereka.

"Kita ada di sini," jawab Sany sambil menunjuk sebuah titik di salah satu peta.

Perempuan itu mulai mempelajari peta tersebut dengan serius. Matanya meneliti setiap detail dengan hati-hati, sementara suara pertempuran masih terus terdengar dari kejauhan.

Mereka memang berada di tengah wilayah perang, namun tersembunyi dengan baik dari pertempuran.

Meski suara ledakan dan tembakan kadang menggelegar, mereka masih bisa berkomunikasi dengan lancar berkat perlindungan yang diciptakan Sany melalui keinginannya.

Bersambung...

1
T28J
baiklah saya baca novel pertamanya dulu kak 👍
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!