NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

> Arnold: “Ayo kita ke kelas\, walaupun udah telat sih. Menurut kamu\, kita ke kelas saja atau kita pergi aja?”

Alia: “Ayo kita pergi aja. Ngapain kita sekolah? Lagi pula, sekali ini kok, nggak bakal ketahuan lah.”

---

Keesokan harinya

Alia dan Arnold bersama kedua orang tua mereka dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Mereka berdua hanya menunduk, tidak berani menatap siapa pun.

Kedua orang tua mereka melihat dengan tatapan yang sangat sinis, bahkan ingin memarahi mereka di tempat. Namun karena ada kepala sekolah, mereka menahan diri.

> Orang tua Arnold: “Ada apa\, Pak\, dengan anak-anak kami sampai dipanggil?”

Kepala sekolah: “Jadi, kedua anak ini sudah bolos pelajaran dalam satu hari penuh. Saya ingin bertanya, Bu dan Pak, apakah ini terjadi karena orang tuanya yang menyuruh, atau memang mereka sendiri yang ingin bolos?”

Alia dan Arnold hanya tersenyum kecut, tidak berani menatap orang tua mereka, tapi saling melirik satu sama lain. Orang tua mereka tetap menatap dengan sinis.

> Orang tua Alia: “Maaf\, Pak\, kami tidak pernah merencanakan mereka untuk bolos seharian.”

Nada bicaranya terdengar menekan dan menyindir, namun tetap ditahan agar tidak meledak di hadapan kepala sekolah.

> Kepala sekolah: “Baik. Jadi mungkin ini murni kemauan mereka berdua\, ya. Saya hanya ingin memastikan agar tidak ada kesalahpahaman. Kalau saya boleh tahu\, kenapa ya kedua anak ini kelihatannya sangat dekat\, padahal tingkatannya berbeda?”

Orang tua Arnold: “Saya sendiri nggak tahu, Pak. Mungkin Bapak bisa tanyakan langsung ke kedua anak itu, karena saya juga nggak paham apa yang mereka inginkan.”

Mama dan papa mereka saling melempar sindiran, tapi tetap merasa tidak perlu membahas terlalu jauh urusan pribadi anak-anak di hadapan orang lain.

> Kepala sekolah: “Baik. Untuk Alia dan Arnold\, apakah kalian punya suatu hubungan yang tidak bisa kalian jelaskan kepada orang tua atau kepada saya?”

Keduanya saling menatap, lalu menoleh ke arah kepala sekolah sambil menggelengkan kepala. Mereka berbohong, tapi itu demi kebaikan bersama.

> Kepala sekolah: “Baiklah kalau begitu. Tapi kenapa ya\, kalau saya lihat\, kalian ini kedekatannya intens sekali? Saya sih nggak masalah kalau kalian pacaran\, tapi jangan sampai hubungan itu mengarah ke hal yang tidak baik. Maksud saya\, amit-amit\, seperti hamil duluan atau pergaulan bebas.”

Mereka kembali saling tatap. Hal seperti yang dikhawatirkan kepala sekolah terasa jauh sekali dari kehidupan mereka, apalagi mereka saja takut dimarahi orang tua hanya karena pergi bersama.

> Arnold: “Kami nggak seperti itu kok\, Pak. Kami memang dekat saja\, kebetulan ada tugas yang cocok dikerjakan bareng\, jadi akhirnya kami akrab.”

Kepala sekolah: “Baguslah kalau begitu. Walaupun kalian kakak kelas dan adik kelas, saya suka melihat kedekatan kalian. Tapi tolong, jaga batasnya, ya. Karena dari luar, kedekatan kalian ini bisa terlihat agak berlebihan.”

Alia merasa ucapan kepala sekolah cukup aneh. Setelah percakapan selesai, orang tua diminta bicara secara bergantian.

Orang tua Arnold masuk lebih dulu, karena Arnold adalah siswa kelas 12 yang harus diprioritaskan untuk lulus tahun ini.

---

Di luar ruangan

Mama menatap Alia dengan tatapan sinis yang jarang sekali ia lihat.

> Mama: “Al\, Mama tahu kamu lagi ada masalah\, tapi Mama nggak nyangka kamu sebandel ini. Mama kayaknya nggak pernah ngajarin kamu hal seperti ini. Kenapa kamu nekat begitu?”

Alia: “Kemarin Alia bolos, Ma, sama Arnold. Aku tahu sih Mama pasti marah. Tapi… hehe… aku mau coba bandel sekali-sekali di masa SMA aku. Boleh kan, ya?”

Papa menatap mama dengan raut kesal, ingin marah, tapi menahan diri karena masih di sekolah.

> Papa: “Mama\, Papa cari udara segar dulu. Kalau urusannya sudah selesai\, panggil Papa. Soalnya kalau lama-lama di sini\, Papa makin kecewa dan emosi melihat tingkah Alia.”

Papa pergi. Alia tahu papanya kecewa, tapi ia tetap merasa sekali-kali bandel tidak masalah.

> Alia: “Mah\, kayaknya Papa marah banget sama aku. Sampai nggak mau lihat aku.”

Mama: “Menurut kamu, Papa senang nggak sama kelakuan kamu? Kalau kamu tahu itu bikin marah, kenapa tetap kamu lakukan? Harusnya kamu pikirkan konsekuensinya dulu.”

Alia: “Aku cuma mau coba bandel doang, Ma. Kenapa sih nggak boleh? Lagian umur aku masih muda. Wajar dong kalau sesekali bandel.”

Mama menggeleng, lelah menasihati, tapi bagaimanapun Alia tetap anaknya.

> Mama: “Mama kasih tahu ya\, Nak. Jangan sampai kamu ulangi lagi hal yang sama. Kalau pun mau bandel\, bilang Mama dulu sebelum melakukannya. Paham nggak?”

Alia: “Berarti Alia ada kesempatan bandel lagi dong, Ma? Untuk kedua kalinya?”

Mama langsung menjentik jidat Alia.

> Alia: “Aduh\, sakit! Mama kenapa sih kasar banget? Padahal aku nggak merasa salah loh.”

Mama: “Menurut kamu nggak salah, tapi menurut Mama salah. Jangan ulangi lagi, ya. Awas kalau sampai terulang, Mama nggak mau lagi sayang kamu. Mau makan? Cari anak lain buat Mama sayang. Mau terlantar kamu?”

Alia: “Kok Mama jahat sih? Masa cuma gara-gara bandel sekali langsung dilantarin? Aku sebenarnya takut, tapi karena sama Arnold, jadi nggak takut.”

Mama: “Dasar bucin. Boleh sayang sama orang, tapi jangan sampai kelewatan. Kalau kamu bucin tanpa mikir konsekuensi, berani nggak kalau Mama sama Papa benar-benar ngusir kamu? Mau tinggal di rumah Arnold? Emang orang tuanya Arnold mau nampung kamu?”

Tak lama, kedua orang tua Arnold keluar dari ruangan kepala sekolah sambil tersenyum kepada mama Alia.

> Mama Arnold: “Maaf ya\, Jeng. Gara-gara anak saya\, anak Jeng sampai dihukum kepala sekolah. Saya jadi nggak enak.”

Mama Alia: “Ah, nggak apa-apa, Jeng. Lagian kita juga nanti bakal jadi besanan. Nggak masalah. Saya juga minta maaf, anak saya mungkin bandel juga. Namanya juga anak-anak, masa puber, ya begini.”

Arnold dan juga Alia bingung, kenapa kedua orang tua mereka saling kenal. Padahal yang mereka tahu, sepertinya mereka tidak saling mengenal. Kok tiba-tiba jadi akrab, ya?

Lalu, tiba-tiba kedua orang tua itu melihat ke arah anaknya sambil tetap dengan pandangan yang sinis. Tak lama kemudian, Mama Arnold menoleh ke arah Mama Alia.

“Ya sudah, Jeng. Saya pulang dulu, ya. Kan, Jang lagi dipanggil sama kepala sekolah.”

“Iya, Jeng. Ini saya juga mau masuk. Kalau begitu, saya masuk duluan ya. Hati-hati, loh, Jeng, pulangnya. Nanti kita kabar-kabaran lagi kalau misalkan ada arisan atau apa gitu.”

“Iya, boleh, Jeng. Nanti saya kabari. Tenang saja, lah, Jeng. Orang kita sudah jadi besanan, ini. Ngapain juga pusing, Jeng.”

“Memang, ya. Kalau satu besanan itu enak, bisa sama-sama ikutan kegiatan yang sama. Jadi kita cocok, gitu, ngomongnya, ya, Jeng.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!