Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian
Juno menghela napas panjang ketika sampai di kantor, semua karyawan menatapnya, entah kali ini apa lagi kesalahannya.
Juno membuka pintu ruangan Devan, dan melihat sahabatnya itu tengah memijat pelipis matanya, Juno menautkan alis dan berjalan menghampiri.
"Ada apa lagi kali ini?" tanya Juno, membuat Devan menoleh dan menatap tajam ke arah sahabatnya.
"Juno, apa lo tahu apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Tuan Max sudah kembali ke Spanyol, dan meeting kita bersama beliau sudah di batalkan," kata Devan.
"Bukannya kata lo tadi, kita akan ke lokasi proyek?"
"Tadinya, tapi gua udah dapat kabar dari sekretaris Tuan Max, beliau sudah kembali sejak pagi," jawab Devan mendengkus. "Bukannya gua udah bilang lo hadirin?"
"Lo nggak bilang waktunya kapan, jadi ya gua pikir emang belum," jawab Juno.
"Kita sudah kehilangan proyek yang bernilai milyaran, dan lo seenteng itu ngomongnya?" tanya Devan, setengah berteriak.
"Lo nyalahin gua? Kok jadi nyalahin gua sih?"
"Ya kan gua udah percayain lo buat ngehadirin meeting bersama mereka. Kita kehilangan proyek itu, dan itu proyek berharga kita."
"Gua udah tanya lo kapan waktunya, tapi lo buru-buru pas dapat telpon, jadi jangan pernah nyalahin gua, lo yang harusnya lebih bertanggung jawab, itu kan kerjaan lo."
"Lah kok gua? Lalu gunanya mempercayakan proyek ini ke lo, apaan?"
"Gua udah bilang ya, gua udah tanyain waktunya, tapi lo dapat telpon, entah deh dapat telpon dari siapa, yang penting gua udah nanya, dan lo nggak dengerin," kata Juno menunjuk Devan. "Jangan pernah salahin gua karena masalah kerjaan lo, harusnya intropeksi diri, kenapa lo kehilangan proyek bernilai milyaran itu."
Devan memutari meja kerjanya, dan menatap tajam ke arah Juno.
"Lo nyalahin gua kayak lo sempurna aja. Lo darimana? Bukannya kerja malah keluyuran, udah sering gua ngedapetin lo kayak gitu."
"Lo yang harusnya nanya diri lo sendiri, gua di sini tiap pagi, dan lo nanya gua darimana? Please, Dev, pikirin itu sendiri, jangan salahin gua," kata Juno, membuat Devan memukul wajahnya.
"Lo—" Juno pun membalas tonjokan Devan, membuat keduanya bergulat.
Sesaat kemudian, sekretaris Devan masuk hendak membawa dokumen yang harus ia tanda tangani, namun yang ia lihat malah perkelahian. Vana—sekretaris Devan—memanggil staf laki-laki untuk memisahkan keduanya.
Semua staf Devan pun berdiri didepan pintu ruangan dan melihat aksi kedua atasan mereka itu sedang bergulat.
Meski staf pria sulit untuk memisahkan, namun mereka terus berusaha dan tak menyerah, dan akhirnya berhasil.
Devan menyentuh ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah, dan wajahnya yang tergores karena cincin yang dikenakan Juno.
***
Nesa sampai di rumah, ia merenggangkan ototnya karena seharian harus mengurus semua dokumen izin untuk cafe yang akan ia buka bulan depan.
Untung saja Juno membantunya, jika tidak, itu akan menghambat perjalanannya, apalagi Juno banyak mengenal orang-orang didalam yang bisa membuat proses pembuatan izin selesai dengan cepat.
"Assalamu'alaikum," ucap Nesa.
"Wa'alaikumssalam," jawab Manda dan Gani.
"Kak Manda? Kak Gani?" Nesa langsung menghampiri pasangan suami istri itu dan duduk dihadapannya.
"Maaf, Kak, saya baru dari—"
"Nggak apa-apa, Nes, kami hanya mampir mau melihat keadaanmu," jawab Manda, yang menyayangi adik iparnya.
Nesa menganggukkan kepala, dan berkata, "Aku baik-baik saja, Kak."
"Bagaimana kandunganmu?"
"Kandunganku juga baik, saya juga rajin cek up."
"Nggak ngidam kamu, Nes?" tanya Manda lagi.
"Kak Devan yang ngidam, Kak, jadi saya nggak ngerasa ngidam sama sekali."
Sesaat kemudian suara ponsel Gani terdengar, ia pun langsung beranjak dari duduknya, dan bergeser sedikit agar tak mengganggu percakapan kedua wanita yang duduk didepannya.
"Nes, aku tuh tadi lihat Devan bersama mantan kekasihnya di resto, mereka sepertinya akan sarapan sama-sama," kata Manda. "Aku bukannya mau ngadu, tapi aku tuh nggak mau lihat dia yang sudah nikah dan bentar lagi punya anak malah jalan sama wanita lain."
"Mantan kekasih?"
"Sebenarnya bukan mantan kekasih, dia itu kekasih Devan, yang memang udah lama jalin hubungan sama Devan, tapi Tante Ningrum nggak suka sama dia."
Nesa menghela napas panjang, dan berkata, "Saya tahu, Kak, Kak Devan sempat bilang ke saya kalau dia itu punya pacar, dan saya nggak marah kok, Kak, saya mengerti, dia kan nikahin saya karena saya hamil anaknya, dia nggak cinta sama saya, Kak, jadi saya memahami dia."
"Jadi, maksudmu ... kamu mau biarin gitu aja? Nggak sayang sama bayimu?"
"Bukan nggak sayang, Kak, saya hanya nggak bisa melarang Kak Devan buat tetep deket sama pacarnya, karena posisi saya nggak kuat, saya memang istrinya, namun saya nggak di anggap seperti istri." Nesa menghela napas panjang dan menundukkan kepala.
"Sayang, aku harus ke kantor," kata Gani, membuat percakapan Nesa dan Manda terhenti. "Ada masalah di kantor."
"Masalah apa, Mas?" tanya Manda.
"Aku nggak bisa jelasin sekarang, Sayang, aku harus pergi, kamu tetap di sini, aku akan menjemputmu setelah dari kantor."
"Baiklah. Kamu hati-hati," kata Manda.
Gani menganggukkan kepala, dan membungkuk mencium puncak kepala istrinya.
Nesa tersenyum melihatnya, andai saja Devan memperlakukannya sama, pasti akan sangat membahagiakan baginya.
Sepeninggalan Gani, Manda kembali menatap Nesa yang polos.
"Nes, jaga suamimu, meski kalian nggak saling cinta, tapi mengetahui suamimu dengan wanita lain, bukan perlakuan yang benar, itu akan menjadi dosa kamu juga karena membiarkan suamimu bersama wanita lain ketika dia sudah menikah."
"Saya memang ingin melakukan itu, Kak, tapi—"
"Kalau memang kamu ingin melakukan itu, ya lakukan, jangan dibiarin, nanti Devan kebiasaan dan menganggap kamu biasa aja dan mengizinkan dia. Aku nggak ngomong di sini, siapa salah siapa benar, aku hanya ingin yang terbaik buat kalian, apalagi kamu sedang mengandung, kasihan bayimu jika papanya itu malah selingkuh diluar," sergah Manda membuat Nesa terdiam. "Omongin ke Devan, tentang hubungan kalian. Dan, tentang anak kalian, aku yakin kalian akan saling menyayangi nantinya."
"Iya, Kak, saya—"
"Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi, yang aku inginkan, kamu dan anakmu bisa baik-baik saja, tanpa adanya gangguan lain," kata Manda. "Aku tuh nggak bisa tenang ketika melihat lelaki beristri yang masih jalan dengan perempuan lain, bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali."
Nesa menganggukkan kepala, ia tak bisa mengatakan apa pun, memang wajar jika Manda merasakan hal itu, karena ia tak ingin terjadi kepadanya.
Nesa tersenyum, dan obrolan diluar pembahasan pun terasa menyenangkan kelihatannya, Manda dan Nesa begitu akrab meski usia mereka terbilang cukup jauh, namun keakraban itu tak membuat keduanya merasa canggung.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻