Sekuel Novel Cincin yang Tertinggal
Kisah seorang laki-laki yang mengejar cinta wanita berhijab namun tak pernah berbalas. Hanya karena sesuatu yang terjadi akhirnya laki-laki itu mau menikahi wanita tersebut walaupun terpaksa.
Menikah dengan orang yang sangat dicintai adalah
impiannya namun menjadi pengantin pengganti bukanlah keinginannya.
Akankah rumah tangganya langgeng?
Yuk ikuti kisah mereka yang seru, menarik dan inspiratif hanya di Bukan Aku yang Kau Cinta.
Like, komeng and subcribe Terima kasih💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Awal Hidup Bersama
Resepsi pernikahan yang cukup meriah, banyak tamu undangan yang datang. Namun mereka bingung manakala melihat pengantin laki-laki yang berbeda. Khususnya teman Blu dari kantor bahasa merasa mereka salah masuk tenda biru. Masalahnya bukan Blu yang duduk di pelaminan namun orang lain yang tak kalah gantengnya, hal ini menimbulkan banyak pertanyaan para tamu. Kemanakah Blu? Kenapa pengantin laki-lakinya harus diganti? Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa diperbincangkan setelah mereka keluar dari gedung tersebut. Tanpa ada jawaban dari siapa pun. Mereka hanya menduga dan berprasangka saja.
Kasdun tersenyum setiap kali menyalami para tamu. Sementara Tiara menatap tidak suka pada suaminya. Suami? Ah rasanya terlalu cepat panggilan itu disandang oleh orang yang sangat ia benci. Ia bergidik ngeri menerima kenyataan kalau ternyata ia istri sahnya Kasdun.
"Kenapa? Sudah jangan memperlihatkan ketidaksukaan kamu padaku. Kita pasangan pengantin tunjukan kepada semua orang kalau kita bahagia dengan pernikahan ini!" Ucap Kasdun datar.
"Jangan harap kamu mendapatkan kebahagiaan hidup denganku. Ingat aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai suamiku." Bisik Tiara pelan.
"Jangan khawatir aku tidak berharap lebih menikahimu. Yang perlu kau ingat aku mendampingimu di pelaminan hanya menolong keluargamu saja tidak lebih." Balas Kasdun. Walaupun jelas hal itu tidak dibenarkan namun dengan kekecewaannya pada Tiara yang tidak pernah berubah terhadapnya, Kasdun harus mempertegas agar Tiara jera.
Kasdun yang begitu santai, kocak, lembut sebelum menikah dengannya serasa berbanding balik dengan keadaan hari ini, yang berbicara selalu datar.
Sesi foto-foto berlangsung di sela-sela acara saat keadaan sedang sepi. Begitu ada tamu yang datang, sesi foto pun dihentikan sementara. Mereka menyalami tamu dengan sabar.
"Sekarang istrinya dipeluk dari belakang ya mas, kemudian wajah kalian tersenyum bahagia!" Titah juru foto.
"Kamu jangan macam-macam ya Dun. Jangan menyentuhku!" Bisik Tiara pelan sambil tetap tersenyum ke juru foto walaupun itu terpaksa.
"Jangan geer kamu. Aku melakukan ini sesuai perintah mereka saja agar aku tidak mempermalukan keluargamu. Ikuti mereka atau keluargamu akan malu!" Balas Kasdun tegas dengan berbisik. Tiara seolah mati kutu ketika melihat keluarganya sedang menyorot tajam ke arahnya, seolah mereka terus memantau gerak-gerik kedua mempelai.
"Oke siap ya! Suami memeluk istri dari belakang. Pose menyamping wajah menoleh ke sini, tersenyum. Istri tersenyum yang manis ya!" Titah juru foto kali ini begitu konyol menurut Tiara. Lebih konyol lagi ketika Kasdun diminta untuk mencium keningnya dan diminta untuk saling tatap mata.
Deg
Baru kali ini Tiara menatap mata Kasdun ternyata begitu indah. Cukup lama mereka saling tatap.
"Sudah ya mas mbak dilanjut nanti malam saja. Itu banyak tamu pada mau pulang." Suara juru foto menyentakkan Tiara yang membuatnya salah tingkah. Mukanya merah padam. Para tamu undangan tersenyum melihat tingkah kedua pengantin tersebut.
Pukul 14.00 WIB resepsi pernikahan telah usai. Danu dan keluarga menitipkan putrinya pada Kasdun sebagai suaminya.
"Ayah serahkan Tiara padamu, nak. Didik dia agar menjadi istri sholehah. Jika kau tidak bisa mendidiknya lagi kembalikan ia padaku secara baik-baik. Ayah percaya padamu, nak!" Ucapan ayah Danu begitu menyentuh hati Kasdun. Berat rasanya diberikan tanggung jawab untuk mendidik Tiara dengan karakter Tiara yang keras kepala.
"Insyaa Allah ayah semoga saya mampu dan kuat." Kasdun tersenyum hambar. Keluarga besar Tiara pergi meninggalkan Tiara yang berdiri mematung.
"Terus kamu mau di sini saja? Ikut aku atau aku tinggal kamu di sini!" Tanya Kasdun datar.
Dengan berat hati Tiara mengikuti Kasdun ke parkiran.
"Hah yang benar saja, kita pulang pake motor butut ini?"
"Kenapa, kamu ga suka? Ya sudah pulang sendiri jalan kaki sana!"
"Hei kamu kok sekarang jutek gitu?"
"Aku jutek?" Kasdun menunjuk dirinya. Ia menyeringai.
"Bukankah kamu yang mengajariku untuk berbicara tidak sopan, bukankah kamu yang mengajariku bersikap jutek pada orang lain, kenapa kamu protes sekarang? Ternyata tidak enakkan rasanya?"
Tiara menatap geram suaminya yang sudah mulai berani berbicara datar padanya. Suka tidak suka akhirnya Tiara ikut pulang bersama Kasdun dengan menggunakan motor bututnya. Ini sejarah sepanjang perjalanan Kasdun memiliki motor butut ini akhirnya bisa kesampaian juga untuk jalan berdua dengan Tiara.
30 menit kemudian Kasdun memarkirkan motornya ke sebuah rumah type 21 di kawasan perumahan dekat dengan terminal kota.
"Ini rumah siapa?" Tanya Tiara begitu sampai di depan sebuah rumah sangat sederhana. Kasdun hanya diam, ia membuka pintu rumah tersebut dalam diam.
" Masuklah, kita akan tinggal di sini!"
"Tinggal di sini? Kenapa kau tidak membawaku ke rumah ibumu?"
"Selagi sikapmu tidak berubah aku tidak akan membawamu menemui ibuku. Aku tidak ingin ibuku kecewa melihat menantunya model seperti kamu!" Cukup menohok ucapan Kasdun. Ternyata Kasdun sudah banyak berubah.
"Oh oke aku juga tidak berharap untuk bisa bertemu dengan ibumu. Karena pernikahan kita hanya sementara." Tiara berlalu menuju sebuah kamar.
Deg
Kasdun hanya menghela nafasnya dalam. Begitu mudahnya Tiara mengucapkan kata-kata seperti itu. Kasdun sangat menginginkan pernikahan sekali seumur hidupnya. Apakah kalimat sakral yang ia lantunkan saat ijab kabul tidak diresapi oleh Tiara sehingga dengan mudahnya ia mengucapkan kata sementara dalam pernikahan?
Huft
Bukan pernikahan seperti ini yang Kasdun inginkan. Ia melangkah pergi keluar dari rumah yang sengaja ia ambil dari KPR untuk masa depannya. Rumah yang baru ia cicil selama 2 bulan untuk keluarga kecilnya nanti. Ternyata jodohnya dekat dan bisa langsung ditempati bersama istrinya walaupun rumah tersebut masih permanen, tapi cukup buat tempat bernaung bersama.
Kasdun meninggalkan Tiara sendiri tanpa makanan dan minuman di rumahnya, sungguh tega.
"Sialan dasar cowok engga berperikemanusiaan! Masa dia meninggalkanku sendiri tanpa persediaan apa-apa di sini. Dia pikir aku kucing apa? Aaargh suami macam apa dia yang membiarkan istrinya terlantar di hari pertamanya? Awas aja kalau pulang!" Tiara sangat emosi, perutnya begitu lapar, namun ia tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli makanan di luar.
Malam hari Kasdun baru pulang menemui Tiara yang matanya sembab. Ia menenteng kresek yang berisi makanan dan minuman yang cukup banyak.
"Kamu habis nangis? Ternyata kamu bisa nangis juga Tiara?" Ledek Kasdun.
"Tuh makan kamu pasti lapar!" sambungnya, dagunya menunjuk ke makanan yang ada di lantai. Karena memang belum ada meja di rumah itu.
Tiara langsung menghampiri kresek yang tersimpan di lantai ruang tamu.
Ia membuka sebungkus nasi padang, langsung menyantapnya hingga tandas.
"Maaf aku sudah membiarkanmu kelaparan, Ra..." Gumam Kasdun dalam hati, ia memperhatikan istrinya yang begitu lahap menyantap makanannya. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkan Tiara. Ia beranjak dari tempat itu kemudian masuk ke kamarnya hanya mengambil sesuatu.
Kini ia duduk berhadapan bersama Kasdun. Ia menyodorkan sebuah kertas yang sudah ia tulis tadi saat ditinggal Kasdun cukup lama.
"Apa ini?" Kasdun mengerutkan dahinya.
hadeuhh gmn nnti saat si tiara tau blu akhir nya meminang meira yng si tiara tau meira dulu perawat nya blu saat sakit, jg si tiara saat itu udah ada cembokur kan?