Berawal dari patah hati karena dikhianati oleh sang kekasih, wanita bernama Floella Kayshila menghabiskan waktu di sebuah Club malam dan berakhir mabuk.
Hingga saat ia terbangun di pagi hari, mendapati dirinya sudah berada dalam pelukan seorang pria tidak dikenal. Namun, langsung pergi meninggalkan pria yang tidak ia ketahui asal-usulnya dengan memberikan uang.
Petaka cinta satu malam yang membuatnya berakhir hamil, membuatnya harus menerima perjodohan demi menjaga nama baik keluarga.
Akankah Floella menerima perjodohan? Ataukah ia akan mencari pria yang merupakan ayah dari janin di rahimnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Floe
Sementara di sisi lain kota. Erland menepikan mobilnya di sebuah taman. Ia bingung harus membawa wanita dengan gaun pengantin itu ke mana.
Bicara di ruang terbuka bukanlah pilihan terbaik untuk Erland. Ia bisa sedikit memahami jika wanita itu sulit untuk mengendalikan diri dan lebih suka bertindak sesuai dengan apa yang ia lihat tanpa mau bertanya lebih dulu.
Erland melepas seat belt di tubuhnya. Ia memiringkan badan agar bisa melihat dengan jelas. Lalu menatap tajam wanita itu.
“Apa?” Floe terlihat menantang Erland. Ia balas menatap dengan tatapan tak kalah tajam.
“Apa maksudmu mengatakan jika aku adalah bajingan yang tidak bertanggungjawab?” tanya Erland. Giginya mengerat.
Floe ingin mengatakan yang sebenarnya pada pria itu, tetapi lidahnya terasa kelu. Semangat yang berkobar sebelumnya, kini menguar begitu saja. Keraguan kembali menghinggapi.
“Kenapa kau hanya diam? Bukankah saat di butik tadi kau terlihat begitu berani?” Erland tersenyum miring. “Ck! Kau bahkan berani memaki pria lain di depan calon suamimu,” lanjut pria itu.
“Kau ….”
Floe tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ingin tahu lebih dulu apa yang akan dikatakan oleh pria itu selanjutnya. Walaupun Floe sebenarnya penasaran apakah pria itu sudah melihatnya lebih dulu atau pria itu memang sudah mencari tahu tentangnya lebih dulu.
“Ya. Pikiranmu tepat sekali, Nona. Aku sudah melihatmu lebih dulu di sana. Seharusnya aku menemuimu lebih dulu dan mengatakan pada calon suamimu apa yang terjadi antara kita malam itu."
"Seharusnya aku mengatakan jika wanita yang akan dia nikahi hanyalah seorang wanita pencari kenikmatan yang rela mengeluarkan uang hanya untuk sebuah kepuasan.”
Erland solah-olah tahu apa yang sedang wanita itu pikirkan dan membuat wajah wanita di sebelahnya memerah.
“Kau tidak akan bisa melakukan itu padaku,” geram Floe. Matanya memerah karena mendengar pria yang merendahkan harga dirinya. Floe tidak terima jika pria itu menyamakan ia seperti wanita murahan.
“Kenapa? Apa kau tidak terima dengan apa yang aku katakan? Apa ada gelar lain yang lebih pantas aku sematkan padamu? Kau bahkan sudah menghina harga diriku!”
Erland mencondongkan tubuhnya ke depan dan memaksa wanita itu untuk memundurkan tubuhnya hingga punggung menabrak pintu mobil. “Bagaimana permainanku malam itu? Apa kau puas?” bisik Erland.
“Kau ….” Floe mendorong tubuh pria yang berhasil memantik amarahnya dan menatap murka pria itu.
Erland kembali duduk di kursinya dan tertawa puas. “Tidak perlu kau jawab. Aku yakin kau pasti puas. Kau bahkan berani membayarku untuk kepuasan itu, bukan?” Ia kembali tertawa.
Wajah Floe memerah, antara malu dan marah. Perasaan itu melebur menjadi satu.
“Apa kau sakit hati dan tidak terima dengan ucapanku? Hem?” Erland kembali menatap dengan tajam.
“Ucapanku belum sebanding dengan perbuatanmu, Nona. Kau sudah mempermalukan aku di depan semua karyawan butik milik ibuku dan kau sudah berani menampar adikku!”
Seperti dilempar meriam. Floe membulatkan mata mendengar ucapan pria itu.
“A-pa? Adikmu?”
“Ya. Wanita yang kau tampar itu adalah adikku dan butik tempatmu melakukan fitting gaun pengantin itu adalah butik milik ibuku. Kau salah karena sudah mempermalukan aku, Nona. Satu hal yang harus kau tahu, aku bukan pria bayaran, seperti yang ada dalam pikiranmu dan aku tidak butuh uangmu."
"Aku bahkan bisa membayarmu lebih dari yang kau berikan padaku.” Erland benar-benar meledakkan amarah yang membuncah di dalam dirinya.
Sementara Floe terdiam karena merasa sangat terkejut. Tentu saja ia malu telah melakukan kesalahan karena salah paham. Bukan karena menampar pria itu, tetapi Floe malu karena sudah salah sangka pada wanita tidak bersalah yang ia tampar.
Apalagi jika pemilik butik itu tahu tentang apa yang terjadi antara ia dan putranya. Floe harus mengatakan yang sebenarnya pada pria tersebut. Mengenai alasan kenapa ia sampai berani melakukan hal segila itu. Tidak ada pilihan lain.
“Aku melakukan itu karena mempunyai alasan yang kuat. Aku selama ini mencarimu. Aku ingin kau bertanggung jawab dengan bayi dalam kandunganku!" Floe membela diri dan akhirnya meloloskan kalimat yang sangat sulit dikatakan.
Ia tidak ingin disalahkan karena berpikir bahwa jika pria itulah yang bersalah karena telah menghamilinya.
"Apa? Hamil?” Erland mengernyit menatap tidak percaya.
“Ya. Aku hamil dan aku bisa pastikan jika anak yang ada dalam kandunganku ini adalah anakmu, berengsek!” tegas Floe dengan wajah memerah penuh kilatan amarah.
To be continued...
Sehat sehat ya thor, jangan dipending kelamaan, sayang, critanya bagus loh🙂
Rehat rehat aja dulu ya, yang penting nanti kembali lagi🤗