Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanding Basket
Keesokan harinya. Lapangan basket SMAN Cahaya.
"YAK! SELAMAT DATANG DI DUEL MAUT ABAD INI, SAUDARA-SAUDARA!"
Suara cempreng Fadhil menggema di pinggir lapangan basket yang sudah penuh dan sesak. Tangannya menggenggam botol air mineral kosong yang dijadikan mikrofon dadakan. Bukannya khawatir kakaknya bakal kalah atau cedera, dia malah sibuk jadi komentator yang lebih berisik dari wasitnya.
"Di sudut kiri, ada Satria Si Kuda Jingkrak yang penuh gaya! Dan di sudut kanan, ada Annas Si Kulkas Dua Pintu yang dingin tapi mematikan!"
Mendengar julukan bos mereka yang terdengar aneh, geng Satria langsung bereaksi. Bayu, Ziko, Bagas, dan Adit yang berdiri di pinggir lapangan langsung melotot kompak.
"Heh, Dhil!" Ziko maju sambil menyingsingkan lengan seragamnya. "Maksud lo apa ngatain Satria kuda? Lo mau dikeroyok satu kompi?"
"Wah, parah lo, Dhil," timpal Bayu sambil menunjuk Fadhil dengan tampang garang. "Masa temen kita disamain sama hewan ternak? Lo ngajak ribut?"
Fadhil yang sadar posisinya terancam langsung mengangkat kedua tangan, memasang wajah panik yang dibuat-buat.
"Eits, eits! Tahan, Bosku! Sabar dulu! Literasi kalian kurang nih!" elak Fadhil cepat, otaknya berputar mencari alasan biar nggak bonyok.
"Kurang apanya? Jelas-jelas lo ngledek Satria tadi!" semprot Bagas.
"Dengerin dulu!" Fadhil merangkul bahu Ziko dengan gaya sok akrab. "Kalian tahu mobil Ferrari, kan? Mobil paling mahal, paling cepet, paling sporty sedunia?"
Mereka saling pandang, lalu mengangguk ragu. "Tau. Terus?"
"Nah! Logo Ferrari itu gambarnya apa? Kuda Jingkrak, Bro!" seru Fadhil penuh semangat. "Itu simbol power, simbol kecepatan, simbol kemewahan! Jadi maksud gue, Satria itu levelnya udah kayak supercar! Mahal, cepet, dan berkelas! Masa gitu aja nggak paham?"
Keempat teman Satria itu terdiam sejenak, mencerna logika Fadhil.
"Oh..." Bayu manggut-manggut, wajah garangnya berubah jadi kagum. "Iya juga ya. Ferrari 'kan lambangnya kuda."
"Berarti Satria dianggap mobil mahal, nih?" tanya Adit dengan nada polos.
"Iyalah! Premium itu!" kompor Fadhil lagi, sambil mengelap keringat dingin di dahinya. "Udah, minggir dulu. Pertandingan mau mulai nih!"
Merasa julukan itu ternyata pujian, geng Satria akhirnya mundur dengan wajah puas. Mereka kembali fokus mendukung bosnya. Sedangkan Fadhil menghela napas lega. 'Hampir aja gue jadi perkedel,' batinnya.
Suasana lapangan siang itu benar-benar panas. Matahari tepat di atas kepala, tapi tidak ada satu pun siswa yang beranjak. Semua mata tertuju ke tengah lapangan.
Di sana, duel sengit sedang terjadi.
DUG! DUG!
Suara bola beradu dengan aspal terdengar berirama.
Satria mendribble bola dengan agresif. Napasnya memburu, keringat sudah membasahi seragamnya hingga mencetak punggung. Dia main ngotot, penuh gaya, dan jelas sekali sedang emosi. Dia ingin membuktikan diri di depan semua orang, termasuk Febby, meskipun gadis itu tak ada di sana.
Sedangkan di hadapannya, Annas berdiri dengan kuda-kuda bertahan yang tenang. Wajahnya datar, napasnya masih teratur. Tidak ada gerakan berlebihan. Dia seolah bukan sedang main basket, tapi sedang mengerjakan soal ujian. Fokus, tenang, dan penuh perhitungan.
Skor sementara 9-8. Satria memimpin satu poin.
"Cuma segini kemampuan Ketua OSIS?" provokasi Satria sambil melakukan gerakan tipuan cepat, mencoba mengecoh Annas. "Gue kira lo jago, ternyata cuma modal tampang doang."
Annas tidak terpancing. Matanya tidak melihat wajah Satria, tapi terkunci pada pergerakan bola. Emosi tidak akan membantunya menang.
"Lo terlalu banyak omong," gumam Annas pelan. "Simpen tenaga lo."
Satria mendengus. Dia melihat celah di sisi kiri. Dengan cepat, dia menerobos masuk.
"RASAIN NIH!"
Satria melompat tinggi untuk melakukan lay-up. Penonton menahan napas. Fadhil meremas botol minum di tangannya karena tegang.
Namun, Annas sudah membaca gerakan itu. Dia tidak melompat terburu-buru. Dia menunggu timing yang tepat.
PLAK!
Blok bersih!
Tangan panjang Annas menepis bola itu tepat saat lepas dari jari Satria. Bola memantul liar ke luar garis.
"ANNAS KEREN BANGET WOY! GILA! PANGERAN GUE!" jerit Fitri histeris dari tribun penonton, sambil mengibarkan spanduk karton bertuliskan:
ANNAS SI KETOS RASA IDOL
Satria mendarat dengan wajah merah padam. Dia menatap Annas dengan napas tersengal.
"Hoki doang lo!"
Annas tidak menjawab. Dia mengambil bola untuk serangan balik.
"Satu poin lagi," ucap Annas dingin. "Satu poin lagi, kita selesai."
Permainan dimulai kembali. Kali ini Annas yang menyerang. Dia tidak melakukan trik pamer seperti Satria. Dia hanya mendribble santai, memunggungi Satria, lalu tiba-tiba berputar cepat.
Satria terkecoh. Kakinya terserimpet sendiri saat mencoba mengejar karena terlalu bernafsu ingin merebut bola.
Sedangkan di sisi lain, Annas sudah melompat dengan tenang, melepaskan tembakan melengkung yang indah.
Semua mata mengikuti pergerakan bola itu di udara.
-BERSAMBUNG