"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Fio masuk ke dalam kamar menatap Fallen yang tertidur damai, wajahnya sangat tampan dan meneduhkan ketika ia tertidur, sekalipun terbangun juga, tapi, sikap menyebalkan Fallen yang membuat Fio selalu kesal.
Fio menghela nafasnya pelan, ia masih memikirkan perkataan Rene mengenai Fallen yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Rene. Sebenarnya Fio tidak mudah percaya dengan Rene, tapi ini bentuk kewaspadaannya saja, jika Rene benar mengandung anak Fallen, maka ia harus merelakan Fallen bersama Rene.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa jika itu benar-benar terjadi, Fallen. Sungguh lucu rasanya jika Aku mengambil-mu dari wanita lain, apakah Aku seorang pelakor?" Sejenak Fio menghembuskan nafasnya kasar, "Aku merebut-mu dari Rene? Menurutku itu benar, karena alasan-mu menikahiku untuk membatalkan pernikahan kalian, soal kehamilan Rene yang belum tentu benar akan selalu menghantui pikiranku," gumam Fio kemudian berbaring di samping Fallen.
Keesokan harinya~
"Lo udah ngerjain tugas belum?" tanya Nana.
"Udang dong, dibantuin sama Kak Fallen juga," jawab Fio bangga.
Nana mendengus malas kemudian merebut buku dari tangan Fio, "Eh, buku-ku, malah rebut aja," dengus Fio.
"Hehehe, sesama manusia wajib saling membantu, Fio," balas Nana dengan cengirannya.
Pintu kelas yang tertutup kini terbuka lebar bersamaan munculnya Fahrul. Mata mereka bertemu, detik kemudian Fio memutuskan pandangan mereka.
Fahrul mengabaikan hal tersebut dan menganggap kejadian kemarin tidak ada apa-apanya, lain hal dengan Fio, jantungnya berdegup kencang, ia mulai was-was dengan Fahrul, mengapa laki-laki itu masuk ke kelasnya?
"Tanpa basa basi, gue mau kasih tau ke kalian semua bahwa cewek yang berada di pojok kanan di barisan ke dua meja pertama adalah cewek gue!" tunjuk Fahrul ke Fio.
Fio yang merasa ditunjuk menatap Fahrul tajam, "Aku gak mau, selamanya gak akan mau!" tolak Fio.
Fahrul tidak peduli dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas tersebut.
Nana mengangkat sebelah bibirnya sambil menatap Fahrul sinis, "Cih, laki-laki gila! Urus aja tuh Anak Ayam lu," ucap Nana berhasil memancing emosi Fahrul.
"Jangan ikut campur lu!" bentak Fahrul.
Nana mengangkat alisnya sebelah, "Urusan Fio, urusan gue juga, napa? Masalah?"
Nana menatap Fahrul dengan menantang, tentu saja ia berani, apa yang harus ia takutkan dengan Pria tengil itu? Apa Fahrul tidak malu jika Fio menolaknya mentah-mentah di depan umum.
"Lo gak punya malu? Kasian banget, udah ditolak malah ngotot ngejar, Fio," lanjut Nana lagi.
Fahrul memejamkan matanya kemudian menggebrak meja, "Tunggu lo!" tunjuk Fahrul ke Nana dengan tatapan penuh dendam.
Fio memandang punggung laki-laki tersebut sampai menghilang, kemudian beralih menatap Nana dengan kesal, "Nana, gak usah cari masalah lagi dengan Fahrul, biarin aja dia seperti itu, anggap aja angin lalu, toh Aku dah jadi milik Kak Fallen," ucap Fio.
"Iya, iya deh, yang udah punya Suami mah bebas," balas Nana.
Fio mencibit perut Nana agak keras, mengapa Nana tidak bisa melihat situasi? Untung saja teman-temannya sibuk nge-gosip, jadi, kali ini ia aman.
"Hehehe, maaf," cengir Nana.
~~
Fallen tersenyum, ia sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisi dirinya, yaitu Gino. Gino adalah sahabatnya, sudah jelas sahabatnya itu pasti membantunya kali ini, karena dirinya sering kali membantu Gino.
"Gin, gantiin gue jadi pemimpin mafia," ucap Fallen.
Gino terkejut kemudian senyumnya mengembang, "Benera?" tanya Gino antusias.
Fallen mengangguk, kemudian menatap selidik Gino, "Kenapa gak dari dulu? Pemimpin Mafia, gue udah idam-idamin nih posisi," lanjut Gino lagi.
Fallen mendengus sebal, "Lo gak pernah bilang," balas Fallen
"Hehehe, maaf, mana mau sih gue bilang, kan gue kira pasti lo gak mau digantiin dalam posisi tersebut. Gak main-main jadi pemimpin Mafia yang memiliki banyak kekuasaan di berbagai penjuru," kata Gino dan Fallen tersenyum.
"Dunia Mafia itu berbeda, kejam, bengis, dan kelam. Lo yakin?" tanya Fallen
Gino diam sejenak kemudian mengangguk penuh arti.
~~
Terimakasih, silahkan klik like dan beri tanggapan.
kalau pribadi yimak .membawa like