Rio adalah siswa berbakat yang belajar di Akademi Guardian yang bertujuan melawan serangan Alien. Semenjak kotanya dihancurkan ia berusaha merebutnya kembali, bersama rekan-rekannya mereka menemukan fakta tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang lain. Soal seseorang dari luar angkasa termasuk planet yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 : Ketua OSIS
Dengan perasaan kesal Isabel membaringkan tubuhnya ke belakang sementara aku mendesah pelan, selama permainan ini dia tidak pernah sekalipun menang.
"Bukannya kau sangat kejam Rio, setidaknya biarkan aku menang sekali."
"Aku tidak ingin mengalah."
"Dasar."
Aku meneguk botol kaleng sodaku yang terakhir, ini sudah pukul 12 malam jadi sudah waktunya menyuruh Isabel pulang.
Saat aku membuka pintu barisan orang berjas telah menunggunya di lorong.
Ah, mereka mengerikan.
"Kalau begitu aku pulang, besok adalah hari libur sebaiknya kau pergi ke suatu tempat."
"Tidak, terima kasih.. aku akan seharian berada di istana kecilku ini."
"Kau tidak memiliki rencana besok, kebetulan.. aku akan mengundangmu besok jadi bersiaplah."
"Jangan seenaknya."
Isabel hanya tertawa kecil lalu pergi dikawal pengawalnya, seseorang yang berusaha menembakku dari kejauhan pun telah pergi, dengan begini akhirnya aku bisa beristirahat juga.
Pagi berikutnya tepat pukul 9 pagi aku keluar asrama dan menemukan Isabel dengan celana pendek hitam serta kemeja putih berenda berada di luar asrama.
"Dengar, aku tidak ingin pergi kemanapun saat libur sekolah," kataku mengeluh.
"Mungkin ini bisa merubah pikiranmu."
"Jangan menodongkan pistol ke arahku," teriakku demikian.
Paling Isabel hanya ingin pergi ke suatu tempat bersama seseorang, beberapa tempat memang sulit untuk di kunjungi sendirian.
Aku berteriak ke arah seorang laki-laki yang baru turun dari motornya, sejujurnya dia tinggal di kamar sebelahku.
"Yo kawan, boleh pinjam kunci motormu."
"Jangan lupa uang sewanya."
"Oke."
Aku menerima kunci motor yang di lemparkannya lalu menarik tangan Isabel.
"Kita pergi pakai motor saja."
"Kau bisa mengendalikan benda ini?"
"Malahan lebih aneh jika seseorang tidak bisa mengendarai motor di umur segini."
Aku memakai helmku lalu memberikan helm satu lagi pada Isabel sebelum kami berdua melaju di jalanan ramai. Aku bertanya pada Isabel.
"Kau mau pergi kemana?"
"Ke bioskop, ada film yang ingin ku tonton."
"Baiklah."
Kami mengunjungi salah satu mall terdekat, kebanyakan bioskop selalu berada di tempat seperti ini, kami menaiki lift ke lantai tiga dan menemukan area bioskop di sini.
"Uwah... Rio, inilah film yang ingin kutonton."
"Kau ini anak kecil kah?" kataku padanya.
"Tidak ada larangan orang dewasa yang menontonnya kau tahu."
"Memang benar sih.. kalau begitu aku akan membeli makanan dulu, jangan kemana-mana."
"Baik."
Aku membeli dua kotak berondong jagung serta minuman tanpa soda, saat aku kembai ke arah Isabel kulihat lima orang pria dewasa terbaring di lantai selagi mengerang kesakitan.
"Jangan salah paham, mereka lah yang menggodaku."
Aku bisa mengerti hal itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Ah iya."
"Syukurlah, ayo pergi... dan tolong ambil ini, aku sedikit kerepotan membawanya."
Isabel mengangguk dengan pipi memerah lalu memasuki ruangan setelah membeli dua tiket, kurasa tidak buruk menonton tentang peri di usia segini.
Kami duduk di kursi paling depan.
"Mereka sangat imut."
Aku hanya tersenyum kecil ke arahnya, dia terlalu terbawa suasana.
"Selanjutnya aku ingin menonton ini."
"Masih belum kah."
Kami menonton film anak kecil untuk kedua kalinya.
"Lagi."
"Lagi."
"Tolong sekali lagi."
Pada akhirnya aku terjebak di bioskop seharian penuh.
Keesokan paginya di akademi aku berpapasan dengan gadis yang cukup disegani di sini, dia memiliki rambut hitam panjang dengan seragam yang terkesan rapih, tidak ada yang tidak mengenalnya di sekolah ini.
Namanya Stella, dia ketua OSIS.
"Tunggu sebentar."
Kami awalnya saling membelakangi sampai Stella memangilku hingga kami saling berhadapan. di sekolah ini hanya dialah yang di perbolehkan membawa katana di pinggangnya.
"Namamu Rio bukan?"
"Benar."
"Kudengar kau juga ikut kompetisi pertarungan Guardian."
"Aah."
"Aku akan mengatakannya sekarang, aku tidak akan membiarkanmu memenangkannya.. akulah satu-satunya yang akan menjadi pemenang."
Angin berhembus di antara kami berdua, dia berbalik lalu pergi meninggalkanku.
like diri sendiri ✔️
😂😂
cepet banget perasaan baru baca sejam
catet²