Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang Mahespati
...Hei, udah. Jangan nangis. Tenang, gue ada di sini....
..._____________________...
Pulang sekolah Marsya memutuskan untuk bermain sebentar ke rumah Laras sahabatnya. Dan saat ini Marsya tengah berjalan kaki setelah menolak ajakan Laras untuk mengantarkannya pulang. Ia tak mengkhawatirkan kejadian beberapa waktu lalu saat ia menolak ajakan Laras untuk mengantarkannya pulang, karena sekarang langit masih tampak terang benderang dan hari pun belum terlalu sore. Ia sengaja tidak meminta sopir papanya untuk menjemputnya pulang, karena ia sedang malas untuk menaiki mobil, ia lebih memilih pulang dengan berjalan kaki. Disinilah Marsya berada sekarang, berjalan menyusuri jalan beraspal seorang diri.
Suasana jalanan saat itu nampak sepi. Mungkin karena ini sudah sore. Pukul lima lebih tepatnya. Langit pun sudah sedikit gelap. Entahlah rasanya nyaman saat ia sendiri seperti ini. Perasaannya pun menjadi sedikit lebih tenang dan damai.
Marsya memegang erat tali tas ransel yang digendongnya. Sembari sesekali menendang kerikil kecil tak bersalah yang ia temui.
"Widiih, ada cewek tuh. Mantap. Cantik banget tuh cewek!"
"Sendirian aja nih neng? Gak mau kita temenin gitu?"
Marsya mendongak mengangkat pandangannya menatap sekumpulan anak lelaki berseragam SMA yang ia yakini bukan anak SMA Respati. Tapi dilihat dari bagde pada seragam sekolah yang mereka kenakan, sepertinya mereka anak-anak dari SMA Trisakti. Mereka berjumlah lima orang. Mereka nampak bersiul-siul sembari menatap Marsya dari atas sampai bawah.
Bukan Marsya namanya jika ia merasakan takut saat berhadapan dengan mereka. Marsya nampak tenang, ia menganggap bahwa mereka hanya sekedar usil, barangkali. Marsya melangkahkan kakinya melewati mereka tanpa menanggapi siulan-siualan sialan yang mereka keluarkan.
"Mau kemana sih neng cantik?" seorang dari mereka menghadang jalan Marsya. Menatapnya sebentar lalu membuang puntung rokok yang ia pegang.
"Minggir lo. Gue mau lewat!" ujar Marsya dengan galak.
"Wih galak ternyata nih cewek. Kuy lah gue suka nih yang galak-galak gemesin kek gini."
"Apa yang lo bilang tadi? Gemesin? Emang gue boneka apa pake gemes-gemesin segala!" kata Marsya ketus.
"Lucu juga nih cewek. Jadi makin gemes!"
Cowok itu mencolek dagu Marsya, dan dengan kasarnya Marsya menepis tangannya itu. "Jangan macem-macem sama gue ya lo. Lo mau gue patahin tuh tangan lo yang seenak jidat nyolek-nyolek gue, huh?!"
Cowok itu memasang ekspresi takut yang dibuat-buat. "Oh gue takut. Jangan patahin tangan gue. Gue takut banget. Hahahaha," katanya diakhiri dengan tawa yang menggelegar.
Marsya memutar bola matanya malas menanggapi. Ia mencoba menerobos cowok itu namun tiba-tiba empat cowok lainnya ikut-ikutan mengganggunya. Memblokir jalannya. "Mau kemana sih cantik? Buru-buru amat sih. Mending main dulu sama kita-kita."
"Apa? Main sama cowok berandalan kek kalian?" Marsya tersenyum sinis. "Ogah banget. Buang-buang waktu aja tau gak!"
Cowok berjaket hitam dan beranting besi menggenggam pergelangan tangannya kuat membuat Marsya meringis kesakitan."Eh gila lo ya! Beraninya main kasar sama cewek!" kata Marsya sambil berusaha melepaskan diri, namun apa daya, ia sorang perempuan. Walaupun ia pandai dalam ilmu bela diri, tapi jika mainnya keroyokan gini mana mampu tenaganya mengalahkan kekuatan cowok-cowok berandalan yang jauh lebih kuat dan lebih unggul daripada dirinya.
"Eh lo pada belom pernah ngerasain tendangan sama pukulan muridnya Thanos ya?" tanya Marsya yang masih berusaha melepaskan cengkraman cowok yang memegang pergelangan tangannya itu.
"Gue mau coba dong!" seru cowok yang rambutnya disemir merah menyala.
"Seriusan lo mau coba? Gak nyesel ntar?" tanya Marsya dengan berani.
"Seriusan lah cantik. Palingan tendangan lo itu kaya pijitan orang yang lagi lulur," katanya sambil tersenyum remeh.
"Lo pada ngeremehin gue ternyata," kata Marsya sambil menatap datar cowok-cowok berandalan yang ada dihadapannya itu.
Marsya kemudian menginjak kaki cowok yang mencengkeram tangannya lalu menendang kakinya hingga cowok itu tersungkur jatuh ke jalanan aspal. Teman-teman cowok itu pun ikutan maju untuk membantu temannya. Satu cowok hendak menangkap Marsya, namun Marsya lebih dulu menyeleding kakinya hingga cowok itu terjatuh seperti temannya. Akhirnya pertarungan antara Marsya dan lima cowok berandal terjadi. 1 vs 5. Marsya kalah orang dan juga tenaga. Tenaganya terkuras habis untuk menangkis dan menyerang cowok berandalan itu. Hingga saat ia lengah, satu tangan menariknya dan mendorongnya hingga tersungkur ke jalanan aspal. Cowok itu pun menghampiri Marsya dan menariknya paksa sembari mencengkeram tangannya kuat-kuat.
"Lepasin gue oon! Gue mau pulang!"
"Pukulan lo tadi lumayan juga," kata cowok yang mencengkeram tangannya itu.
"Lo gila ya! Lepasin tangan gue pe'a!" teriak Marsya.
"Gue bakalan lepasin lo, tapi sebelum itu... Mending lo main-main sama kita disini."
"Iya nih, mumpung lagi sepi. Lagian ngapain sih pulang cepet-cepet."
"Lepasiiin!!"
Duggg
"Arrrggghhhh!!"
"Woyy kejar tuh cewek woy!"
Marsya berlari sekencang mungkin setelah menendang ************ cowok yang memegang tangannya. Namun sial mereka malah mengejarnya sekarang. Marsya terus berlari tak tentu arah, hingga ia tak tahu ia berada dimana sekarang. Tempatnya sangat sepi. Hanya ada pohon dan semak-semak belukar disana.
Brugghh
Marsya jatuh tersungkur saat kakinya tak sengaja tersandung pada batu yang lumayan besar. Marsya meringis kesakitan, saat lututnya terasa perih dan berdarah.
"Hahaha, kena kan lo."
"Udah gue bilang, jangan lari. Jatoh kan lo!"
"Lagian lo mau kemana sih? Pake lari-larian segala. Coba aja lo gak lari, terus main bentar sama kita-kita. Pasti lutut lo gak akan kenapa-kenapa, cantik."
Marsya mengepalkan kedua tangannya di tanah. Mencoba mendorong tubuhnya agar bangkit berdiri dan kembali melarikan diri. Namun tenaganya sudah terkuras habis dan kakinya terasa sakit untuk digerakkan. Ia kembali tersungkur ke tanah. Kristal bening pun akhirnya lolos dari pelupuk matanya dan berderaian membasahi pipi putih mulusnya.
Marsya tak bisa melakukan apa-apa saat satu cowok maju ke arahnya, mencondongkan tubuh tegapnya dan mencengkeram rahangnya kuat. Marsya hanya bisa menangis tanpa isakan. Dalam hati ia merapalkan do'a kepada Tuhan, berharap ada suatu keajaiban yang mampu membuatnya lolos.
Kini Marsya menyesal karena telah menolak ajakan Laras untuk mengantarkannya pulang dan membantah perintah papanya untuk dijemput sopir. Ia sangat-sangat menyesal.Tau begini, ia takkan keras kepala menolak ajakan Laras dan perintah papa.
"Lo kenapa? Sakit? Atau..."
"Takut, hemm?"
"Gue mohon lepasin gue. Lepasiiin!"
"Cantik," ucap cowok itu seraya semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Marsya. Sekuat tenaga Marsya mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun tak bisa. Cowok itu semakin mendekatkan wajahnya.
Apakah ini akhirnya? Gak, gue gak mau! Siapa pun tolongin gue.
Bugh
"Berani lo sentuh dia. Abis lo!"
Tubuh cowok beranting besi hitam itu tersungkur ke tanah saat satu bogeman keras mendarat pada wajahnya.
Elang Mahespati. Cowok itu menatap Marsya sekilas. Lalu kembali melawan kelima cowok tersebut. "Sialan lo semua!!" Elang kembali melayangkan bogem mentah kepada ke empat cowok kurang ajar tersebut. Membuat mereka tersungkur dan meringis kesakitan.
Elang memukuli cowok beranting tadi dengan membabi buta dengan posisi berada di atasnya sedangkan cowok itu terkapar lemas di tanah. Tak ada yang berani menolong cowok itu, karena ke empat temannya sudah pergi saat Elang menghadiahi bogeman pada wajah mereka.
"Berani-beraninya lo kurang ajar sama Marsya! Mati aja lo sekarang!" teriak Elang sembari mendaratkan bogeman terus-menerus kepada cowok beranting itu.
"Am_ampun bos! Am_ampun!" kata cowok beranting itu dengan terbata-bata.
"Pergi lo sekarang juga! Jangan munculin muka lo dihadapan gue lagi. Dan mulai sekarang elo dan empat temen pengecut lo itu bukan anggota Scorpio lagi. Kalo lo sama temen-temen lo itu muncul di hadapan gue lagi, gue jamin bakal abis kalian ditangan gue!"
Elang menghentikan aksinya. Ia bangkit dari posisinya tadi. Membiarkan cowok yang dipukulinya bangkit, dan pergi dengan kaki yang pincang.
Elang menoleh ke arah Marsya yang tengah meringis kesakitan. Melangkah ke arahnya dan membantunya berdiri. "Lo gak apa-apa kan, Sya? Lo gak diapa-apain kan sama mereka?" tanyanya khawatir saat melihat Marsya menangis dengan lutut yang mengeluarkan darah segar.
Greepphh
Marsya langsung menubruk tubuh tegap cowok itu, memeluknya dengan erat. Menyelusupkan kedua tangannya pada tubuh tegap itu. Menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Elang. Isak tangisnya pecah. Takut. Entah apa yang akan terjadi jika Elang telat sedikit saja.
"Bang Elang, gue takut. Hiks hiks hiks," kata Marsya sambil menangis terisak.
"Hei, udah. Jangan nangis. Tenang, gue ada di sini. Abang di sini," Elang membalas pelukan Marsya. Mendekapnya erat, mengusap punggung dan rambutnya serta meletakkan dagunya pada puncak kepala Marsya.
"Hiks, gue takut bang Elang..gue ta_kut hiks hiks.."
Elang mengurai pelukannya. Memegang kedua bahu Marsya yang nampak ketakutan itu. Tangannya terulur mengusap lembut air mata yang masih mengalir pada kedua pipi Marsya dengan ibu jarinya.
Namun bukannya berhenti, air mata itu kembali meluncur dari pelupuk matanya. Membentuk sungai-sungai kecil yang sialnya terus mengalir.
"Udah, jangan nangis lagi. Lo gak usah takut lagi ya. Gue disini, abang ada di sini."
"Lo tenang aja, mereka gak akan berani gangguin lo lagi. Percaya sama abang Elang ya," ucap Elang dengan lembutnya. Sebelah tangannya mengangkat dagu Marsya, membuatnya mendongak.
Huhhh...huhhhh
Dua tiupan kecil menerpa wajah Marsya, saat Elang meniup-niup kedua matanya. Hembusan napas hangat terasa menyapu permukaan Marsya.
Soo Sweet, Author jadi baper nih😩
"Udah jangan nangis. Katanya muridnya Thanos, tapi kok cengeng gini sih!" kata Elang membuat Marsya menggembungkan pipinya. Elang lalu mencubit pelan pipi Marsya gemas.
"Bang Elang. Makasih ya udah nolongin gue," kata Marsya.
"Iya, sama-sama. Lagian kenapa lo sampe kesini-sini mainnya. Ini kan udah keluar jalur arah rumah lo?" tanya Elang.
"Tadi jalurnya udah bener. Tapi gara-gara dikejar sama setan-setan neraka tadi, gue jadi salah jalur deh."
"Trus? Kenapa lo sendirian aja? Mana sopir lo?" tanya Ekang lagi.
"Gue nggak nyuruh sopir buat jemput gue tadi."
Elang menghela napasnya. "Lo pasti ngebantah perintah papi lo lagi kan?" Tanya Elang dibalas anggukan kepala Marsya.
Elang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Makanya, jangan suka ngebantah perintah orang tua lo!" katanya sambil menyentil dahi Marsya membuatnya meringis kesakitan. "Aissh sakit tau bang!"
"Lagian kek kelakuan abang udah bener aja. Abang kan ketua geng Scorpio SMA Trisakti kan? Trus cowok-cowok sialan yang gangguin gue tadi, itu anak buah lo kan bang? Bang Elang kira gue gak denger apa cowok yang abang pukulin tadi itu manggil abang itu bos?!" cerocos Marsya.
"Iya itu kan dulu. Sekarang mereka bukan anak buah abang lagi. Mereka udah abang keluarin dari Scorpio," kata Elang. "Udah sore, sekarang lo pulang. Abang anterin, kalo lo pulang kemaleman bisa dimarahin om Batra nanti."
Marsya mengangguk. "Iya, mana motor bang Elang?"
"Tuh!" Elang menunjuk motor ninja hijau yang terparkir di ujung jalan.
Marsya pun diantar pulang oleh Elang sampai rumahnya dengan selamat.
Menurut para readers, apa hubungan antara Marsya dan Elang? Penasaran kan? Tunggu aja kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya atau selanjutnya lagi!
...√...
Bersambung...
Wajib kasih vote, like, dan komen ya!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2