Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Demam 39,8
Jari Bara belum selesai mengoleskan minyak ketika tubuh Arum mendadak menggigil.
"Dingin?"
Arum mengangguk. Giginya beradu meski kemeja kering dan selimut sudah membungkus tubuhnya. Hujan di luar makin deras. Bu Inah mengirim pesan bahwa jalan gang tergenang dan ia akan datang bersama tetangga setelah reda.
Bara menyentuh punggung tangannya ke dahi Arum.
Panas.
"Sejak kapan kepalamu pusing?"
"Tidak pusing."
"Lihat aku."
Arum mengangkat wajah. Matanya sudah berair dan sulit fokus.
Bara mengambil termometer dari kotak obat. Angka di layar terus naik sampai berhenti pada 38,7.
"Kita ke poliklinik."
"Cuma masuk angin. Saya tidur sebentar nanti sembuh."
"Sekarang."
Arum mencoba berdiri untuk mengganti kemeja. Lututnya langsung lemas. Bara menangkap tubuhnya dan mengangkatnya kembali ke ranjang.
"Jangan bergerak."
"Baju saya belum kering."
"Pakai kemeja itu. Aku ambilkan kain panjang."
Ia membungkus bagian bawah tubuh Arum dengan sarung bersih, lalu mengirim pesan singkat kepada Bu Inah bahwa mereka menuju poliklinik. Pintu depan tetap terbuka sampai petugas jaga di blok datang menyaksikan keberangkatan.
Bara mengenakan jaket, mengambil tongkat, lalu membungkuk di depan ranjang.
"Naik."
"Kaki Mayor sakit."
"Kalau kamu masih membantah, aku angkat paksa."
Arum tak punya tenaga untuk berdebat. Kedua lengannya melingkari bahu Bara. Lelaki itu mengangkatnya ke punggung, menahan paha Arum dengan satu tangan dan tongkat dengan tangan lain.
Langkah pertama membuat luka punggungnya tertarik. Langkah kedua menekan kaki kanan sampai nyeri menyambar. Namun, panas tubuh Arum yang menempel di belakang lehernya membuat Bara tak berhenti.
"Pak Mayor," bisik Arum.
"Apa?"
"Turunkan saya kalau berat."
"Diam dan bernapas."
Poliklinik militer berada di ujung asrama, tak sampai lima menit dengan kendaraan. Malam itu kendaraan jaga sedang mengantar pasien lain. Bara memilih berjalan menembus koridor beratap daripada menunggu.
Ketika tiba, seragam bagian bahunya basah oleh hujan dan keringat.
Suster Nia keluar membawa kursi roda. "Ya Allah, cepat letakkan di sini."
Bara menurunkan Arum dengan hati-hati. "Demam naik cepat setelah kehujanan. Pergelangan kaki terkilir."
"Sudah ukur suhu?"
"Tiga puluh delapan koma tujuh, sekitar sepuluh menit lalu."
Nia memasang termometer ulang sambil mendorong kursi roda ke ruang periksa. Angkanya berhenti pada 39,8.
"Dokter!"
Letkol dr. Handoko datang dengan jas putih di atas pakaian dinas. Ia memeriksa kesadaran, tekanan darah, napas, dan tenggorokan Arum. Gadis itu masih menjawab, tetapi suaranya makin lemah.
"Demam tinggi. Kemungkinan infeksi saluran napas atau reaksi setelah tubuh kelelahan dan kehujanan. Kita turunkan panasnya dulu, lalu observasi," katanya.
"Dia bisa dirawat di sini?" tanya Bara.
Handoko meliriknya. "Bisa. Tapi yang perlu duduk bukan cuma pasien. Punggungmu berdarah lagi."
"Tangani Arum dulu."
"Saya dokter di ruangan ini. Bukan kamu."
Handoko menunjuk kursi di sudut. "Duduk dan buka jaketmu. Nia, periksa perbannya sambil saya menangani pasien."
"Aku tidak perlu..."
"Kalau kamu pingsan karena infeksi luka, siapa yang akan menjaga Arum?"
Pertanyaan itu akhirnya membuat Bara menurut. Nia membuka kasa di punggungnya. Luka benturan memang terbuka di tepi, tetapi tidak dalam. Ia membersihkan area tersebut, memasang balutan baru, lalu mengingatkan Bara agar tidak lagi mengangkat beban.
"Dia bukan beban," kata Bara.
Nia menahan senyum. "Maksud saya berat tubuh apa pun, Pak Mayor."
Bara mengenakan jaket kembali dan berdiri di sisi ranjang Arum sebelum Handoko selesai menulis catatan medis.
Bara tak menjawab. Ia hanya berdiri di sisi ranjang ketika Nia memberikan injeksi obat penurun panas sesuai instruksi dan memasang cairan. Handoko mencatat waktu pemberian serta meminta suhu diperiksa ulang tiap tiga puluh menit. Arum meringis saat jarum masuk. Tangannya mencari sesuatu di samping tubuh.
Bara langsung menyodorkan tangan.
Jari Arum menggenggamnya erat.
"Sakit," gumamnya.
"Sebentar saja. Lihat aku."
"Jangan pergi."
"Aku di sini."
Setelah obat diberikan, Handoko memeriksa ulang suhu. "Obat perlu waktu bekerja. Kompres hangat, seka tubuh di lipatan besar seperti leher, ketiak, dan pangkal paha dengan hati-hati. Jangan pakai air es. Pantau kesadarannya. Kalau suhu tidak turun atau muncul sesak, kita rujuk ke rumah sakit militer."
Nia menyiapkan baskom air hangat, kain bersih, pakaian pasien, serta sekat lipat. "Saya bantu mengganti bajunya, Pak Mayor."
Bara mengangguk dan berdiri di luar sekat. Ia memunggungi ruangan sampai Nia selesai mengganti kemeja basah Arum dengan pakaian pasien yang tertutup rapi.
Nia lalu mulai mengompres dahi dan leher. Bara duduk di kursi, tetapi matanya tidak pernah lepas dari wajah Arum.
Bu Inah tiba tak lama kemudian dengan payung rusak dan napas tersengal. Ia telah meminta tetangga mengantarnya sampai depan poliklinik. Melihat Arum terbaring merah dan pucat sekaligus, perempuan itu langsung memegang ujung ranjang.
"Tadi sore dia masih sehat," katanya.
"Dia kehujanan," jawab Bara. "Aku terlambat menghentikannya."
Bu Inah menatap luka baru di pelipis Bara dan balutan yang tampak di balik kerah. Ia tidak bertanya lagi siapa yang menyelamatkan siapa. "Saya tunggu di koridor. Kalau perlu bantuan mengganti pakaian atau menjaga kehormatannya, panggil saya."
Bara mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Bu Inah duduk tepat di luar pintu bersama petugas jaga, membuat ruang rawat tetap terbuka dan terpantau sepanjang malam.
Setengah jam berlalu. Suhu hanya turun menjadi 39,5.
Arum mulai mengigau. "Jangan kunci pintunya... saya belum selesai mencuci..."
Bara berdiri. "Apa yang harus dilakukan?"
"Seka ulang tiap beberapa menit. Pastikan dia tidak menggigil karena pakaian terlalu basah. Saya panggil dokter lagi." Nia hendak keluar.
"Tinggalkan kainnya."
Nia menoleh. "Saya bisa tetap di sini."
"Kamu sudah bekerja sejak sore. Ada pasien lain di depan. Aku yang lanjutkan."
"Pak Mayor, pasien perempuan perlu dijaga kehormatannya."
"Pakaiannya tertutup. Aku hanya mengompres dahi, leher, dan tangan. Kalau perlu bagian lain, kamu kembali. Pintu ruangan tetap terbuka."
Nia memandang pintu yang memang terbuka dan petugas jaga di koridor, lalu menyerahkan kain. "Baik. Jangan gunakan air terlalu dingin. Panggil saya kalau dia menggigil keras atau sulit dibangunkan."
"Laksanakan tugasmu."
"Siap, Mayor."
Nia pergi ke meja perawat, masih dalam jarak panggil. Bara menarik kursi lebih dekat ke ranjang. Ia mengganti kain kompres, memerasnya, lalu meletakkannya di dahi Arum.
Gadis itu merintih dan memalingkan wajah.
"Arum." Suara Bara turun, kehilangan seluruh kekerasannya. "Aku di sini."
Kelopak mata Arum bergerak tanpa terbuka. Genggamannya pada tangan Bara makin erat.
Bara mengambil kain lain dan membasahi ulang. Untuk pertama kalinya malam itu, tangan Sang Macan gemetar.
Ia memaksa jemarinya tenang sebelum kain hangat menyentuh kulit Arum lagi.
Ia membungkuk, bersiap melanjutkan penurunan panas sepanjang malam.