Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Rumah yang Ketat
Suasana di ruang kerja Farzhan sore itu terasa lebih dingin dan kaku dibandingkan ruang sidang pengadilan mana pun. Di atas meja kayu jati yang besar dan rapi, terhampar lembaran demi lembaran kertas tebal yang dicetak rapi. Judulnya dicetak tegas di bagian atas:
PERATURAN TATA TERTIB RUMAH TANGGA — VERSI 2.0
Farzhan duduk tegak di balik meja itu. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa kerutan kening, sama sekali tak terbaca. Matanya tajam namun kosong, memancarkan aura dingin dan berwibawa yang membuat siapa saja segan mendekat. Di hadapannya, berdiri Vira dengan tangan di pinggang, wajahnya masih memerah sisa emosi dari pertengkaran kemarin.
"Duduk," ucap Farzhan singkat, nada bicaranya datar, rendah, dan mutlak. Ia menunjuk kursi di depannya dengan gerakan tangan pelan namun tegas.
"Tidak perlu! Aku berdiri aja!" tantang Vira, meski suara nya sedikit bergetar. "Lagipula buat apa kita adakan rapat lagi? Kita kan sudah sepakat, mau segala sesuatu dibagi adil dan setara. Kamu sendiri yang bilang kemarin!"
Farzhan diam sejenak, menatap Vira lekat-lekat tanpa berkedip. Tatapan itu begitu dingin, seolah sedang menilai benda mati, bukan manusia.
"Aku bilang, duduk!" ulangnya pelan, namun ada tekanan berat di setiap suaranya. Cukup untuk membuat nyali Vira ciut seketika. Dengan kesal dan berat hati, Vira duduk.
Sial, kenapa dia selalu bikin aku takut cuma dengan diam saja, gerutunya dalam hati.
"Kemarin kamu protes," kata Farzhan, suaranya tenang namun menusuk. "Kamu bilang aku memperlakukanmu tidak adil, kamu bilang kamu punya harga diri, kamu bilang ingin setara dan mandiri. Aku dengar semuanya. Dan karena aku orang yang menepati setiap perkataanku, sekarang aku buktikan."
Ia melempar berkas itu perlahan ke depan Vira.
"Aku susun ulang semua aturan. Tidak ada lagi perlakuan sepihak. Tidak ada lagi pembagian tugas yang tidak seimbang. Mulai hari ini, aturan ini berlaku mutlak untuk kamu dan aku sama rata. Pelanggaran yang kamu lakukan, sanksinya sama persis jika aku yang melakukannya. Tidak ada keringanan, tidak ada belas kasihan. Kamu mau setara? Ini definisi setara yang sesungguhnya. Baca."
Vira mengambil berkas itu dengan hati-hati. Ia menatap wajah Farzhan yang masih beku, lalu mulai membaca isinya. Semakin ia turun membaca, semakin ia terkejut — kali ini bukan karena sanksi yang kejam, tapi karena isinya sangat logis, rinci, dan benar-benar membagi segalanya sama rata.
Pasal I: JADWAL HIDUP & DISIPLIN WAKTU
Tujuan: Menjaga ritme hidup teratur dan efisien bagi kedua belah pihak
1. Waktu Bangun:
Pukul 04.30 pagi. Wajib sudah bangun dan merapikan tempat tidur masing-masing. Jika terlihat masih berbaring atau belum rapi lewat pukul 05.00
— Pelanggaran Tingkat I.
- Sanksi: Yang terlambat wajib menyiapkan sarapan dan minuman untuk keduanya pagi itu.
2. Waktu Istirahat:
Kegiatan aktif berakhir pukul 22.00 malam. Pencahayaan dan suara harus dikurangi agar tidak mengganggu satu sama lain.
- Sanksi: Melanggar atau mengganggu ketenangan \= Bertugas menyapu dan mengepel seluruh ruang tengah dan lorong keesokan harinya.
3. Ketepatan Waktu Makan:
Jadwal makan pukul 07.00, 13.00, dan 19.00. Makanan atau kehadiran harus tepat waktu.
- Sanksi: Terlambat lebih dari 10 menit \= Makan sendiri tanpa ditunggu, dan wajib mencuci seluruh peralatan makan yang digunakan hari itu.
Pasal II: KEBERSIHAN & KETERTIBAN
Tujuan: Menciptakan lingkungan sehat, nyaman, dan bebas kekacauan untuk berdua
1. Prinsip: Setiap barang punya tempatnya, dan dikembalikan ke tempatnya setelah dipakai.
Tidak ada barang pribadi yang boleh berserakan di ruang tamu, ruang makan, atau lorong.
- Sanksi: Barang yang tertinggal akan disimpan di kotak denda. Untuk mengambilnya kembali, pemilik barang wajib membersihkan kaca jendela atau lemari kaca sesuai jadwal yang ditentukan. Berlaku untuk baju, tas, dokumen, hingga kunci atau alat tulis.
2. Pembagian Area Bersih: Rumah dibagi dua wilayah setara secara luas dan tingkat kesulitan. Vira bertanggung jawab area depan & kamar mandi depan; Farzhan bertanggung jawab area belakang & kamar mandi belakang. Ruang tengah, ruang makan, dan dapur dibersihkan bersama-sama secara bergantian hari demi hari.
- Sanksi: Jika area tanggung jawab terbukti berdebu, kotor, atau berantakan saat diperiksa \= Wajib membersihkan ulang + menjadi petugas kebersihan tambahan di area umum selama 3 hari berturut-turut.
3. Sampah & Limbah: Membuang sampah dan memilahnya adalah tugas bergilir. Dilarang menumpuk sampah di mana pun selain tempatnya.
- Sanksi: Lupa membuang atau memilah \= Bertugas mengangkut semua sampah rumah ke tempat pembuangan akhir selama 3 hari ke depan.
Pasal III: DAPUR, LOGISTIK & KONSUMSI
Tujuan: Menjamin ketersediaan kebutuhan dan kualitas pemenuhan kebutuhan hidup
1. Pengelolaan Dapur: Setelah memasak atau makan, meja masak, kompor, wastafel, dan lantai sekitar harus kembali bersih dan kosong dalam waktu maksimal 30 menit. Dapur tidak boleh tertinggal kotor semalaman.
- Sanksi: Melanggar \= Dilarang menggunakan fasilitas dapur untuk memasak keesokan harinya, dan harus membeli makanan luar dengan biaya sendiri.
2. Tugas Memasak: Jadwal bergilir selang-seling. Hari ini Vira yang masak, Farzhan yang bersihkan. Besoknya Farzhan yang masak, Vira yang bersihkan. Kualitas rasa harus layak dikonsumsi, tidak perlu mewah tapi aman dan enak. Komplain boleh disampaikan dengan sopan, tidak boleh menghina.
- Sanksi: Jika masakan tidak layak makan karena kelalaian (gosong, tidak matang, salah bumbu) \= Pembuat masakan wajib mengganti bahan yang terbuang + Menyiapkan makanan pengganti yang layak dengan biaya sendiri.
3. Stok & Belanja: Cek persediaan dilakukan bersama setiap akhir pekan. Belanja dilakukan bergantian. Dilarang membiarkan bahan pokok atau kebutuhan dasar habis saat dibutuhkan mendadak.
- Sanksi: Kelalaian menyebabkan kekosongan stok \= Yang bertanggung jawab wajib berbelanja segera, tidak boleh menunda, meski hujan badai di sertai petir menggelegar sekalipun.
Pasal IV: INTERAKSI, ETIKET & BATASAN
Tujuan: Menjaga harga diri, kenyamanan, dan menghindari konflik berlebihan
1. Cara Berkomunikasi: Dilarang nada tinggi, berteriak, mengumpat, atau kata-kata kasar. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan bicara baik-baik. Di depan orang lain atau tamu, sikap harus saling menghargai dan menyamarkan perbedaan.
- Sanksi: Setiap kata kasar atau nada tinggi \= Denda Rp 50.000. Uang denda dikumpulkan dalam kotak tabungan bersama, digunakan untuk kebutuhan rumah atau amal, bukan milik pribadi. Berlaku mutlak untuk siapa saja.
2. Batasan Fisik & Barang: Jarak aman saat berhadapan minimal 1 meter kecuali dalam keadaan darurat atau keperluan mendesak. Dilarang menyentuh barang pribadi, dokumen, atau benda milik pasangan tanpa izin yang jelas.
- Sanksi: Menyentuh atau memindahkan barang tanpa izin \= Wajib minta maaf secara sopan + Mengembalikan barang ke tempat asalnya dengan keadaan lebih rapi dari sebelumnya. Jika rusak, wajib ganti rugi penuh.
3. Emosi & Sikap: Dilarang melampiaskan amarah, kesedihan, atau kekesalan di ruang umum atau di hadapan pasangan secara berlebihan. Jika emosi memuncak, izin mundur ke kamar masing-masing untuk menenangkan diri. Dilarang diam berhari-hari atau mendiamkan pasangan tanpa alasan jelas.
- Sanksi: Melampiaskan emosi berlebihan di ruang umum \= Bertugas melayani kebutuhan ringan pasangan (seperti menyeduh minuman, menyiapkan makanan) selama 24 jam berikutnya sebagai bentuk permohonan maaf.
Vira perlahan menurunkan berkas itu. Matanya terbuka lebar, bukan karena marah, tapi karena tak percaya. Semuanya tertulis jelas, rinci, dan adil. Tidak ada sanksi yang menyiksa fisik atau merendahkan martabat, tidak ada aturan yang hanya membebaninya sendirian. Semua ketentuan dan hukumannya sama persis untuk dirinya dan Farzhan.
Ia menatap Farzhan yang masih diam, wajahnya tetap dingin dan tanpa ekspresi.
"Kamu... serius?" tanya Vira pelan. "Semua ini... berlaku buat kamu juga? Kalau kamu telat bangun, kamu juga yang masak? Kalau kamu kotor-kotoran, kamu juga yang bersihin?"
Farzhan mengangguk pelan, gerakannya kaku dan terukur.
"Aku buat aturan ini berdasarkan prinsip kesetaraan. Aku tidak meminta apa yang tidak sanggup aku kerjakan. Aku tidak memberlakukan hukum yang tidak mau aku terima. Kamu mau setara? Di sini tempatnya. Tidak ada lagi kamu sebagai 'istri pelayan' dan aku sebagai 'tuan rumah'. Kita sama-sama penghuni rumah ini, sama-sama punya kewajiban dan hak yang sama."
"Tapi..." Vira ragu sejenak. "Ini jauh lebih berat dibanding aturan dulu. Semuanya harus dikerjakan benar, teliti, dan disiplin. Tidak ada jalan pintas."
"Benar," potong Farzhan cepat, nadanya tetap datar. "Karena hidup mandiri dan punya harga diri itu butuh usaha, Vi. Tidak ada yang gratis. Kalau kamu masih mau dimanjakan atau mau diperlakukan tidak setara, kita bisa kembali ke sistem lama. Kamu pilih ini untuk ketertiban rumah, atau aku atur semua aturan sesuka hati. Pilih saja."
Vira terdiam. Ia menimbang-nimbang. Sistem baru ini memang ketat, menuntut disiplin tinggi, tapi setidaknya... ia punya posisi yang sama. Ia tidak dianggap rendah lagi.
Dengan napas panjang, Vira mengangguk mantap.
"Aku pilih yang ini. Aku setuju. Tapi ingat, Zhan... kalau kamu langgar satu pasal saja, aku juga berhak menuntut sanksi buat kamu. Jangan sampai kamu minta keringanan."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Farzhan bergerak sedikit naik — bukan senyum lebar, hanya lekukan tipis yang hampir tak terlihat, dingin dan penuh percaya diri.
"Aku yang buat aturan ini, aku yang paling paham isinya, dan aku yang paling disiplin menjalaninya. Kemungkinan aku salah mendekati nol. Tapi kamu... aku rasa, sanksi pertama kamu sudah menunggu."
Vira mengerutkan kening bingung. "Hah? Apa maksudmu?"
Farzhan menunjuk jam dinding dengan ujung jari.
"Jam sudah menunjukkan pukul 19.05. Pasal 1 Bab 3, sebenarnya Pertemuan evaluasi dan pembahasan aturan harus selesai sejak tadi dan beralih ke persiapan makan malam pukul 19.00 tepat. Kamu terlambat 5 menit karena terlalu banyak protes. Sesuai aturan, yang telat wajib mengerjakam sanksi yang sudah aku buat.
"HAH?! ITU KAN BARU KITA BAHAS! BELUM DIRESMIKAN!" seru Vira tak percaya.
"Sejak kamu masuk ruangan ini, aturan ini sudah berlaku," jawab Farzhan datar, lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan tenang, meninggalkan Vira yang melotot kesal.
"Oh iya, pasal 4 ayat 1. Dilarang berbicara dengan nada tinggi. Dua sanksi untuk hari ini." ucapnya di depan pintu dengan senyum licik.
Vira mengerang tertahan karena menahan amarah yang memuncak tapi harus di tahan demi tidak menambah sanksi baru.
Dan begitulah, kehidupan baru mereka dimulai. Di bawah aturan yang ketat, adil, logis, dan di bawah sikap Farzhan yang sedingin es, Vira harus belajar menyeimbangkan harga dirinya dengan disiplin tinggi setiap hari.