Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Katie Wilson mengernyitkan dahi. "Kalau begitu, bagaimana cara ibumu membayar semua tagihan rumah tangga?"
"Apa?"
"Aku cuma penasaran bagaimana beliau membiayai hidup. Apa Edwards memberikan tunjangan finansial untuk kalian berdua?"
"Tunjangan?!" sahut Mark Barrington sengit. "Pria itu sama sekali tidak pernah memberikan sepeser pun uang untuknya!"
"Tapi dia memberikanmu hidup," ucap Katie perlahan.
"Kamu tidak mengerti, Katie," keluh Mark. Nada suaranya mendadak terdengar polos dan rapuh seperti anak kecil.
Katie mengamati sikap pria itu. Seluruh respons emosional Mark ternyata berakar kuat dari trauma masa kecilnya yang seolah terkunci rapat di sana.
Menilai dari reaksinya yang begitu meledak-ledak terhadap David Edwards, tampaknya butuh waktu yang sangat lama sampai Mark bisa berpikir rasional tentang masalah ini. Dan untuk hari ini, Katie merasa sudah cukup mendesaknya.
"Mungkin aku memang nggak mengerti," ujar Katie akhirnya, mengalah. "Lagipula, tujuanku datang ke sini kan untuk melihat apakah kamu sudah menyiapkan berkas-berkas yang harus kutandatangani."
Mark menatap Katie, merasa frustrasi karena wanita itu tetap menganggap ibunya sebagai pihak yang salah. Namun, dia memutuskan untuk menurunkan ego dan mengabaikan topik itu demi ketenangan sementara. Mark yakin, setelah Katie punya waktu untuk merenungkannya nanti, wanita itu pasti akan menyadari bahwa opininya lah yang benar.
Pria itu mulai membongkar tumpukan kertas di atas meja kerjanya dan menarik sebuah map. "Saya memakai harga penawaran terakhir sebagai nilai penjualannya, oke?"
"Bagus, di sebelah mana aku harus tanda tangan?"
"Kamu seharusnya meminta pengacaramu untuk memeriksa dokumen ini terlebih dahulu," sahut Mark.
Katie langsung tersenyum menggoda. "Kenapa? Apa kamu punya rencana buat menipuku?"
Mark mengerutkan keningnya tidak suka dengan gurauan itu. "Kamu sebaiknya jangan mudah memercayai siapa pun, termasuk saya."
"Pola pikir yang benar-benar suram," komentar Katie jenaka. "Sini, biar langsung kutandatangani."
"Kalau kamu rasa ini sudah benar, silakan," kata Mark pelan. "Saya tahu saya tidak sedang menipumu."
"Berarti sekarang kita berdua sama-sama tahu," balas Katie riang sambil membubuhkan tanda tangan di tempat yang ditunjuk Mark.
"Ini kunci untuk pondok kecil di belakang rumah itu," kata Mark sambil menyerahkan seikat kunci ke tangan Katie. "Semuanya dalam kondisi baik dan berfungsi. Setidaknya, begitulah kondisinya saat terakhir kali saya menyetujui perbaikannya dua tahun lalu."
"Baru sekarang kamu memberi tahu saya," sahut Katie Wilson kecut sambil memasukkan seikat kunci itu ke dalam saku celana jinsnya.
"Saya akan mengantarmu ke sana sekarang dan menunjukkan tempatnya," ucap Mark Barrington sambil bangkit berdiri.
Keinginan Katie untuk menghabiskan waktu bersama Mark sempat bergejolak, bertarung dengan rasa keadilannya yang merasa tidak enak karena membiarkan David Edwards telantar begitu saja di luar. Akhirnya, rasa keadilannya menang. "Kamu masih harus menemui David."
"Biar saja dia menunggu."
"Jangan jadikan saya alasan," potong Katie.
Ia mendadak terdiam sebentar, menimbang-nimbang apakah ini saat yang tepat untuk mengutarakan niatnya bekerja di klinik pabrik milik Mark. Kegagalannya untuk bersimpati pada cerita tentang mendiang ibu Mark tadi dikhawatirkan akan membuat pria itu langsung menolak permintaannya. Namun, Katie akhirnya mengedikkan bahu dalam hati. Paling buruk, pria itu hanya akan menolaknya.
Mark menatap Katie dengan waspada, menerka-nerka apa lagi yang diinginkan wanita ini darinya. Katie sangat berbeda dari tipe wanita yang biasa berurusan dengannya di masa lalu. Wanita-wanita lain hanya menginginkan hal-hal materiil yang bisa diselesaikan Mark cukup dengan menulis selembar cek.
Sementara permintaan Katie selalu menuntut keterlibatan emosional dan usaha pribadi yang besar dari dirinya. Meski begitu, Mark menyadari bahwa dia tidak akan pernah sanggup mematahkan semangat atau memadamkan binar antusiasme yang terpancar dari sepasang mata Katie.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Mark langsung.
"Aku ingin kamu bilang iya," jawab Katie sambil menyeringai lebar. Mark mendadak merasakan ada kehangatan aneh yang menyusup ke hatinya, meredakan ketegangan dari pagi harinya yang super sibuk dan melelahkan.
"Apa saja yang kamu tahu tentang fasilitas medis di pabrikmu saat ini?" tanya Katie membuka umpan.
Mark berkedip, mencoba menebak ke mana arah pembicaraan ini. Karena tidak bisa menebaknya, ia menjawab apa adanya, "Kita punya seorang perawat untuk menangani masalah medis minor. Untuk hal-hal yang sifatnya serius, kita langsung memanggil ambulans."
"Nah, aku ingin kamu mengizinkanku untuk memasukkan program perawatan dan kesehatan anak-anak bagi keluarga karyawanmu," berondong Katie.
"Kamu ingin saya mempekerjakanmu?" Mark menatap Katie penuh selidik, mencoba menimbang-nimbang ide tentang wanita itu yang akan bekerja dengannya. Membayangkan Katie akan berada di sekitarnya setiap hari, menerima perintah-perintah darinya, dan melakukan tugas dari pabriknya, mendadak membuat fokus Mark teralih sepenuhnya.
Namun, realitas segera mematahkan bayangan Mark. Katie Wilson bukanlah tipe wanita yang mau begitu saja menerima dan menjalankan perintahnya, kecuali jika hal itu sejalan dengan keinginannya sendiri—tidak peduli berapa pun Mark bersedia membayarnya.
"Nggak," jawab Katie tegas. "Aku menganggap proses mencari suami sebagai pekerjaan penuh waktuku untuk saat ini. Apa yang ingin kulakukan di klinikmu adalah kerja sukarela, sekadar untuk menjaga agar kemampuan keperawatanku tetap terasah."
Mark Barrington mengerutkan alisnya, mencoba mencari celah logis. "Dan berhubung bidang keahlian perawatmu saat ini adalah keperawatan industri, saya ragu dia punya minat ataupun latar belakang yang mumpuni untuk menjalankan sebuah klinik bayi dan anak."
Mark menimbang kata-kata itu sejenak sebelum akhirnya menyimpulkan, "Kamu nggak menyukai perawat di klinik saya, ya?"
"Bukan hakku untuk menyukai atau tidak menyukainya," sahut Katie, menolak untuk mengkritik rekan sejawatnya. "Yang ingin kulakukan hanyalah menjalankan klinik khusus anak dan menjawab pertanyaan para orang tua tentang kesehatan anak-anak mereka. Itu adalah pekerjaan yang benar-benar kunikmati, dan tampaknya ada kebutuhan mendesak untuk itu di sini. Aku hanya butuh izin darimu untuk menggunakan fasilitas yang ada."
Mark mengangkat bahunya sedikit. "Saya sangat ragu urusan ini bisa lolos dengan mudah, karena baik pihak pemerintah maupun serikat pekerja pasti akan ikut terlibat. Begini saja, saya akan menanyakan hal ini kepada pengacara perusahaan terlebih dahulu. Jika dia tidak melihat adanya masalah hukum, kamu boleh melakukannya."
"Kamu akan meneleponnya hari ini? Segera setelah kamu selesai menemui David Edwards?" tanya Katie memastikan.
Mark menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti. "Saya akan meneleponnya sebelum saya menemui Edwards."
"Setelah itu juga tidak apa-apa," balas Katie sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan. "Tolong beri tahu saya bagaimana keputusannya saat kamu menjemputku nanti malam."
Katie merasakan letupan kegembiraan yang tiba-tiba di dadanya. Ia berhenti di ambang pintu dan menoleh ke belakang, membiarkan matanya terpaku pada binar jenaka yang tersembunyi di tatapan Mark.
"Kamu benar-benar akan menjemputku nanti malam?" tanya Katie, mencoba membuat nadanya terdengar biasa saja dan profesional.
"Kalau kita memang berencana pergi ke pesta keluarga Wheeling akhir pekan ini, sebaiknya kita melakukan semua latihan yang kita bisa sebelum hari itu tiba," jawab Mark diplomatis.
Bersambung ....