karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pukul tujuh malam, seorang pelayan mengetuk pintu paviliun dengan ragu. "Non Maudi, dipanggil Tuan Besar untuk makan malam bersama di meja utama."
Maudi menghentikan aktivitasnya di depan laptop. Ia mengganti pakaian dekilnya dengan gamis yang lebih bersih namun tetap sederhana dan longgar, ia menutupi lekuk tubuhnya yang sebenarnya proporsional. Tak lupa, ia mengenakan cadar hitam yang menutupi wajah hancur buatannya. Kali ini, ia tidak menyemprotkan parfum busuk nya, karena ia yakin mereka akan mengundang makan malam, itu yang ia lihat saat meretas cctv di ruang makan.
Di meja makan, suasana tampak sangat kontras. Eliza duduk dengan anggun mengenakan baju tidur sutra, Saka asyik dengan ponselnya, dan Seina terus memberikan senyum manis pada Doni. Saat Maudi masuk, denting sendok terhenti.
"Assalamualaikum semua?" ucap Maudi dengan takut-takut.
"Waalaikumsalam...Duduk, Maudi," perintah Doni lembut.
Maudi duduk di kursi paling ujung. Saat hidangan disajikan, Eliza menatap Maudi dengan sinis. "Maudi, kamu nggak mau buka cadar? Gimana cara makannya?"
"Maudi makan begini saja, Papa," jawab Maudi lirih. Ia menoleh ke arah Doni yang juga sedang menunggu jawaban atas pertanyaan Eliza...Ia mengangkat sedikit bagian bawah cadarnya, lalu mulai menyuap nasi menggunakan tangan kanannya dengan tenang... tangan yang terlihat seperti ada bekas luka bakar di punggung tangannya.
Eliza langsung meletakkan sendoknya dengan keras. "Ih! Jorok banget sih! Ma, liat tuh, masa di zaman sekarang masih ada yang makan pakai tangan langsung? Menjijikkan!, pasti banyak kumannya! Selera makanku hilang!"
Seina ikut memanaskan suasana. "Maudi, adab di rumah ini berbeda dengan di pesantren. Gunakan sendokmu."
"Maaf Bu, Maudi sudah terbiasa begini. Rasulullah juga mencontohkan makan dengan tangan," jawab Maudi sopan namun telak.
Doni berdehem, mencoba menengahi. "Sudah, biarkan saja. Yang penting Maudi makan.... Ayo El, habiskan makananmu"
Dengan bibir cemberut, Eliza menghabiskan makanannya sambil sesekali melirik sinis ke arah Maudi, sedangkan Saka, sesekali memperhatikan cara makan Maudi yang terlihat sangat nikmat, ia jadi penasaran makan dengan tangan, namun melihat lirikan tajam mamanya, membuat nyali Saka menciut.
___
Setelah makan malam yang penuh ketegangan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Doni tampak gelisah melihat Maudi yang terus menunduk dan tertutup rapat.
"Maudi, Papa ingin melihat wajahmu. Sebelas tahun Papa tidak melihatmu dengan jelas. Buka cadarmu sebentar, Nak. Kita semua keluarga di sini," ucap Doni dengan nada memohon.
Seina tegang. Ia takut jika ada keajaiban dan wajah Maudi ternyata cantik. Tapi melihat punggung tangan Maudi yang jelek ia sedikit tenang... Maudi mengangguk patuh, ia sudah siap untuk memperlihatkan wajah super cantik nya.... Dengan gerakan lambat yang dramatis, ia melepas ikatan cadarnya.
Eliza mematung, matanya melotot, bahkan seperti hampir keluar bola matanya....
Perutnya langsung bergejolak,
"Hoeeeek!!"
"hoeeeeek!"
"hoeeeeek!!!".
Eliza langsung menutup mulutnya dan berlari ke arah wastafel dekat ruang makan, ia benar-benar muntah karena tidak tahan melihat tekstur kulit Maudi yang tampak bersisik, merah meradang, dan kusam luar biasa akibat krim herbal itu.
Benar-benar menjijikan....
Saka memalingkan wajah dengan ekspresi mual, tadi ia melihat di bawah lampu neon remang, dan sekarang di bawah lampu yang begitu terang, ia bisa melihat dengan jelas wajah buruk adik kandung nya.
Seina, di sisi lain, menghela napas lega yang sangat dalam. Bagus, dia benar-benar monster sekarang, batinnya puas. Lalu ia berlari menghampiri Eliza.
Di dekat wastafel, Eliza berteriak " Maudi pakai lagi cadar mu, aku benar-benar tidak tahan melihat wajah burukmu".
Maudi patuh, ia menutup cadarnya kembali.
Eliza berjalan tertatih ke ruang keluarga dengan di bantu Seina karena lemas, semua makanan yang tadi masuk ke perutnya, kini terkuras habis gara-gara melihat wajah monster Maudi.
Doni terpaku. Matanya berkaca-kaca melihat penderitaan fisik yang tampak di wajah anak itu. "Ya Allah, Maudi... kenapa bisa separah ini?"
"Mungkin ini ujian untuk Maudi, Papa," jawab Maudi dengan suara yang bergetar seolah ingin menangis.
Doni segera merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas. "Ini untukmu. Besok, ajak Ibumu ke dokter spesialis kulit terbaik di Jakarta. Papa ingin kamu sembuh sebelum kakek kembali, dulu kakek mengira kamu adalah anak pembantu di rumah ini ,tapi setelah papa mengatakan yang sebenarnya, kakek jadi penasaran dengan mu.".
"Tidak perlu pah, Maudi sudah ikhlas dengan nasib Maudi yang seperti ini" jawab Maudi pura-pura ikhlas.
" memang kita sebagai manusia harus bersyukur apapun keadaan kita, tapi kalau keadaan itu bisa di rubah menjadi lebih baik, Kenapa tidak... ambillah kartu ini, kau juga anakku, kau berhak mendapatkan fasilitas yang sama seperti Eliza dan Saka" ucap Doni sambil menggeser kartu itu di meja yang lebih dekat dengan Maudi.
" baiklah,kalau begitu .. Maudi ambil, terimakasih Pa, Maudi akan memanfaatkan kartu ini dengan sebaik-baiknya untuk pengobatan kulit Maudi, serta alat penunjang sebagai seorang mahasiswi" balas Maudi membuat Doni tersenyum, rasanya sangat lega ,ia bisa membantu Maudi, anak yang ia sangka anak tiri.
___
Begitu acara kumpul keluarga selesai dan Doni masuk ke ruang kerjanya, Seina segera membuntuti Maudi menuju paviliun. Begitu pintu paviliun tertutup, wajah manis Seina berubah menjadi iblis.
"Sini! Berikan kartunya!" bentak Seina sambil menjambak pelan hijab Maudi.
"ahhhh..."Maudi meringis, pura-pura kesakitan.
Maudi juga berpura-pura ketakutan, tubuhnya gemetar. "Tapi Bu... Papa bilang ini untuk pengobatan wajah Maudi..."
"Pengobatan apa?! Wajah monster sepertimu tidak akan bisa sembuh! Uang ini lebih berguna untuk biaya kuliah Eliza dan perawatan kecantikanku. Kamu cukup pakai sisa-sisa krim yang ada di gudang saja!" Seina merampas kartu emas itu dari tangan Maudi.
"Ingat ya, besok kalau Doni tanya, bilang saja kamu sudah ke dokter dan dokter bilang ini penyakit langka yang tidak bisa sembuh cepat. Paham?!"
"I-iya Bu... Maudi paham," jawab Maudi sambil menunduk dalam.
"ow iya, itu Ibu sudah membelikan mu skincare sekaligus body care, kau pake saja secara rutin, pasti kulitmu akan sembuh sendiri, kalo ke dokter juga percuma, semuanya pakai bahan kimia, nanti kulitmu akan semakin hancur " ucap Seina dengan tegas.
"Baik Bu, terimakasih karena Ibu sudah perhatian ". jawab Maudi menunduk, padahal ia tahu, kalau barang-barang itu kadaluarsa.
Seina keluar dengan senyum kemenangan, menggoyangkan kartu emas itu di tangannya. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Maudi menegakkan punggungnya. Getaran di tubuhnya menghilang seketika.
ia melirik paperbag yang berada di meja depan paviliun" Ibu....apa sebenarnya yang membuat Ibu begitu membenci Maudi " bisik Maudi parau...lalu ia teringat laptopnya yang tadi menampilkan RS.medika 18 tahun yang lalu.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.