NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Rumah

​Kelopak mata Jalal yang terpejam terasa begitu berat, seolah sepasang batu gunung diletakkan di atasnya. Kesadarannya merayap kembali dengan sangat lambat, ditarik keluar dari kegelapan pekat pasca-pertarungan maut di Desa Kragan. Namun, hal pertama yang menyambut jiwanya bukanlah rasa sakit yang membakar lambung, melainkan sebaris aroma yang menyusup lembut ke dalam rongga hidungnya.

​Itu adalah aroma masakan. Bau tumisan bawang merah, gurihnya kemiri, dan semerbak daun salam yang beradu di atas wajan tanah liat. Sebuah kombinasi aroma masakan kecil yang sangat ia kenal, rasa yang telah terkunci di sudut terdalam memorinya selama lebih dari satu dekade.

​Jalal menggerakkan jari telunjuk kanannya yang terasa kaku.

​Tik.

​Ia mengetukkan ujung jarinya ke atas permukaan tempatnya berbaring. Suara ketukan halus itu memantul ke udara, merambat, dan membentur benda-benda di sekitarnya sebelum kembali ke indera pendengaran Jalal bagai sonar kelelawar. Melalui pantulan suara itu, benak Jalal langsung menggambarkan struktur ruangan tersebut dengan sangat presisi. Dipan kayu jati tua berkaki pendek, dinding anyaman bambu petung yang tebal, lemari pakaian berukir jepara di sudut kiri, dan sebuah jendela kecil yang menghadap ke arah pekarangan pohon mangga.

​Jalal tercekat di dalam hatinya. "Apakah aku kembali ke rumah? Bagaimana mungkin?"

​Mencoba mencari jawaban, Jalal menggerakkan otot lehernya. Namun seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa hebat mencuat, menusuk tajam tepat di bagian kening dan pelipisnya. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut bagai dihantam gada. Ingatannya berputar cepat pada detik-detik terakhir di Kragan—lambungnya yang robek oleh cakar maut Lisa, rasa darah yang mengental di tenggorokan, dan tubuhnya yang ambruk di atas daun jati kering. Ketika ia meraba perutnya, ia merasakan balutan kain kasa tebal yang berbau harum ramuan herbal parutan kencur dan daun sirih, obat ghaib penutup luka dalam yang biasa diracik di kampung halamannya.

​Srek... Srek...

​Suara langkah kaki yang sangat ringan dan sedikit terseret terdengar mendekat dari arah dapur. Jalal mengenali ritme melangkah itu. Itu adalah langkah kaki seseorang yang separuh umurnya dihabiskan untuk mengurus rumah tangga dengan kelembutan. Mendengar langkah itu semakin mendekati kamarnya, disusul suara derit pintu bambu yang berbunyi nyaring, Jalal secara refleks menurunkan tangannya dan kembali memejamkan mata. Ia berpura-pura tidur, menyembunyikan badai kebingungan yang berkecamuk di dalam dadanya.

​Aroma khas itu kini menguar kuat di dalam kamar. Bau bedak dingin parutan beras yang bercampur dengan minyak kelapa hijau buatan sendiri. Sosok wanita itu berjalan pelan, lalu duduk di tepi dipan kayu, tepat di samping tubuh tegap Jalal yang kaku. Sebuah tangan yang terasa kasar oleh kapalan kerja dapur namun terasa begitu hangat dan lembut, mendarat perlahan di atas kening Jalal, memeriksa suhu tubuhnya yang sempat demam tinggi akibat infeksi luka lambung.

​Wanita itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban kerinduan yang bertumpuk selama bertahun-tahun.

​"Kalau kamu nggak kangen sama ibu, terus aja pura-pura tidur," ucap wanita itu, Risma, dengan nada sarkas yang tajam namun bergetar menahan tangis.

​Kata-kata itu bagai petir yang menyambar langsung ke lubuk hati Jalal. Pertahanan batin sang pendekar yang sanggup menahan hantaman tenaga dalam si kembar blasteran, runtuh seketika hanya oleh satu kalimat dari ibunya. Kelopak mata Jalal terbuka, memperlihatkan sepasang mata tunanetranya yang kini telah berkaca-kaca. Air mata hangat bergolak di sudut matanya, mengalir deras membasahi pipinya yang penuh goresan luka sisa pertarungan.

​Suara isak tangis yang tertahan selama sebelas tahun akhirnya keluar dari mulut Jalal. Sontak, isak tangis yang sama pecah dari mulut Risma. Tanpa memedulikan luka robek di perut anaknya, wanita paruh baya itu langsung menghambur, memeluk erat tubuh tinggi tegap Jalal.

​"Maafin Jalal, Ibu... maafin Jalal..." bisik Jalal dengan suara parau yang tersendat di tenggorokan. Tangannya yang gemetar naik, memeluk balik punggung ibunya dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini hanya akan berubah menjadi mimpi di ambang kematiannya.

​Pelukan Risma semakin mengencang, ia menenggelamkan wajahnya di bahu jaket kulit Jalal yang telah robek-robek. "Ibu kangen, Nak... sebelas tahun ibu menunggu di rumah ini, setiap malam melihat ke arah jalan setapak, berharap kamu berjalan pulang dengan tongkatmu. Kamu tidak kunjung datang. Ibu ingin menyusulmu ke lereng Semeru, tapi selalu dilarang oleh Abahmu. Dia bilang takdirmu belum selesai di sana," ratap Risma di sela tangisnya.

​Jalal kembali tercekat. Dadanya terasa begitu sesak oleh rasa bersalah yang teramat besar. Sebelas tahun lalu, ia pergi meninggalkan Ibu dan abahnya, tanpa sebuah salam perpisahan. Ia tidak sabar untuk menjalani takdirnya sebagai titisan legenda, tanpa menyadari ada seorang ibu yang setiap detik menghitung hari kepulangannya dalam ketakutan. Jalal tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri; ia hanya bisa membalas erat pelukan hangat ibunya, membiarkan air mata mereka bersatu menghapus debu-debu dosa masa lalu.

​KRETEK.

​Suara langkah kaki yang berat, berwibawa, dan sarat akan hawa murni pertapaan terdengar berhenti di ambang pintu kamar yang terbuka. Risma perlahan melepaskan pelukannya, menyeka air matanya dengan ujung kebaya kusamnya, memberikan ruang bagi sang kepala keluarga yang baru saja tiba.

​Jalal memutar wajahnya ke arah pintu. Melalui indera pendengarannya, ia menangkap ada dua orang yang berdiri di sana. Satu orang memiliki detak jantung yang lambat, konstan, dan sangat dalam—itu adalah Abah, ayahnya sekaligus orang pertama yang mengajarinya dasar-dasar ilmu langkah kaki sebelum ia dikirim ke Semeru. Namun, perhatian Jalal justru tersedot pada detak jantung orang kedua yang berdiri di samping Abahnya.

​Sebuah frekuensi detak jantung yang sangat ia kenal. Irama langkah kaki yang tegap, konstruktif, namun selalu menyisakan sedikit berat di kaki kiri akibat cedera saat mereka masih remaja. Orang itu adalah lelaki yang membawa Jalal pulang ke rumah ini ketika ia berada di ambang maut gubuk Kragan, sekarat karena kehabisan darah setelah lambungnya robek oleh Lisa.

​"Rafael...?" ucap Jalal lirih, memastikan tebakan batinnya.

​Lelaki yang berdiri di samping Abah melangkah maju satu kali, sebuah senyuman terdengar dari helaan napasnya yang lega. "Dasar kuping titisan setan. Bahkan setelah sekarat pun, kamu masih bisa mengenali langkah kakiku, Jalal."

​Dia adalah Rafael. Teman sebangku dan sekelas Jalal sejak mereka masih berseragam merah-putih di Sekolah Dasar hingga lulus Sekolah Menengah Atas. Di masa lalu, Rafael adalah satu-satunya sahabatnya, walau pada kenyataannya mereka bersahabat, setelah Jalal mengusir preman yang mengancam Rafael.

​Namun, ada satu fakta besar yang baru Jalal sadari melalui getaran tenaga dalam yang memancar dari tubuh Rafael saat ini. Hawa murni yang mengalir di urat nadi Rafael memiliki aliran yang persis sama dengan milik Abah.

​Semenjak Jalal pergi meninggalkan desa sebelas tahun lalu untuk berguru di puncak Semeru bawah bimbingan Guru Besar, Rafael ternyata tidak tinggal diam. Didorong oleh rasa setiakawan dan keinginan untuk menjaga keluarga sahabatnya, Rafael memutuskan untuk mengabdikan dirinya, mengangkat diri menjadi murid Abah di tanah tua ini. Selama sebelas tahun Jalal menempa diri di gunung, Rafael telah tumbuh menjadi pendekar muda yang tangguh, mengisi kekosongan posisi anak laki-laki di rumah tersebut.

​"Dia yang menemukanmu di kebun jati Kragan, Jalal," Abah akhirnya membuka suara, suaranya berat dan berwibawa menembus ruangan. "Jika Rafael tidak datang tepat waktu setelah si kembar itu membawa jasad saudaranya kabur, jiwamu sudah melayang ke alam baka karena kehabisan darah."

​Rafael berjalan mendekati dipan, menepuk pelan bahu Jalal yang tidak terluka. "Simpan dulu pertanyaanmu tentang bagaimana aku bisa ada di Kragan, Jalal. Sekarang, istirahatlah. Luka di lambungmu itu butuh waktu tiga hari lagi untuk benar-benar menutup. Setelah itu kau ceritakan selengkapnya, kenapa kamu harus pergi jauh ke timur.

​Jalal menarik napas dalam-dalam, meraba kunci kuno titipan Darsih yang ternyata sudah aman diletakkan Rafael di atas meja kecil di samping dipannya. Di dalam kamar masa kecilnya, di antara kehangatan pelukan ibunya dan kehadiran sahabat lamanya, Jalal tahu bahwa badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia harus segera pulih demi menuntaskan janji terakhirnya kepada Darsih.

----

Sopir truk itu membuka penutup terpal, untuk menurunkan sayuran. Matanya terbelalak melihat seorang wanita dan anak perempuan sedang meringkuk—tertidur pulas di atas keranjang sayur.

Miranti membukakan matanya—terganggu oleh silau matahari yang menusuk celah kelopak mata. Matanya menatap ketakutan melihat pemilik truk sudah menunjukkan, "Siapa kalian?!"

1
Muqimuddin Al Hasani
makasih kak, baru nyoba nulis kak🙏
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!