Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11# Lapangnya hati papa Andi
Sekali lagi papa Andi kembali bertanya pada Aiden tentang keseriusannya pada Karin, karena dia tidak mau putrinya lebih menderita lagi dengan pernikahan yang hanya berdasarkan rasa bersalah dan tanggung jawab.
“Pernikahan adalah hal yang sakral, nak Aiden. Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu? Om lebih ikhlas membiayai Karin dan calon anaknya sekalipun tanpa ayah bayi yang ada dalam kandungan Karin, dari pada om harus melihat Karin kembali terluka. Om juga tidak akan menuntut apapun darimu,” ucap papa Andi penuh ketulusan.
“Papa...” tenggorokan Karin tercekat, dia langsung berdiri dari tempatnya duduk. Karin bersimpuh di kaki papa Andi. Dia tergugu. “Ma-maafin Karin, pa. Karin sudah menyakiti papa dan mama,” isak tangis Karin terdengar begitu memilukan, mama Nirma hanya bisa memalingkan wajahnya sambil mengusap air matanya yang sudah tumpah ruah.
“Karin, bangun nak!” pinta papa Andi.
Melihat itu Aiden reflek berdiri dan menghampiri Karin dan juga papa Andi, dia menumpukan ke dua lututnya di lantai. “Aiden yakin dan serius, om. Saya dan Karin memang belum saling mengenal, tapi bukankah cinta dan sayang bisa di pupuk? Aiden juga sangat paham kalau om lebih dari mampu untuk mengurus dan menghidupi Karin dan anak yang ada dalam kandungannya kelak, tapi maaf om. Ada satu hal yang tidak akan pernah bisa om gantikan, om Andi adalah kakek bukan ayah. Dia akan tetap butuh ayahnya karena Aiden tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang lengkap,” ucap Aiden dengan tatapan sorot kesedihan. “Karena itu ijinkan Aiden menikahi Karin, om. Ijinkan kami berdua menjadi orang tua yang lengkap untuk janin yang ada dalam perut Karin,” lanjut Aiden.
Papa Andi menghela napas, dia menatap putrinya. “Sesungguhnya keputusan ada padamu, Karin. Papa dan mama menghargai setiap keputusan yang akan kamu ambil,”
“Karin mau, pa. Karin tidak ingin melakukan kesalahan yang sama,” Karin mengusap peut datarnya. “Dia tidak bersalah, orang tuanya yang bersalah karena membuatnya hadir dengan cara yang tidak di benarkan. Jadi Karin harus bertanggung jawab atas semua yang sudah Karin sebabkan, Karin mau menikah dengan kak Aiden. Karin hanya butuh restu papa dan mama,” ucapnya.
“Kalian berdua bangunlah! Terlebih kamu Karin, saat ini dalam tubuhnya ada satu makhluk yang harus kamu jaga. Kamu tidak bisa lagi berbuat sesukamu,” papa Andi meminta Aiden dan Karin bangun.
Aiden bangkit lebih dulu, dia menuju Karin untuk membantu ibu dari calon anaknya bangun dan mereka kali ini duduk di sofa yang sama berhadapan dengan papa Andi dan mama Nirma. Sepanjang pembicaraan, mama Nirma memang hanya diam. Bukan tidak ingin bicara, namun dia tidak berani menyuarakan apa yang ingin dia katakan. Terlebih karena papa Andi masih marah dan mendiamkannya, dia tidak ingin suaminya tersebut bertambah marah jika dia membuka suara.
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu, Aiden?”
“Mereka sudah punya kehidupan masing-masing, om. Aiden tetap memberitahu mereka, tapi mungkin saja mereka tidak akan datang ataupun perduli. Selama ini hanya om Harun dan tante Indah yang selalu ada sebagai orang tuaku,” Aiden berkata jujur tentang kondisi keluarganya, dia tidak ingin menutup-nutupinya dari Karin maupun keluarga Darmawan kalau dia memang anak broken home.
“Om bisa memahami itu, tapi om tetap ingin kamu mengusahakan mereka hadir. Bagaimanapun mereka orang tua kandungmu, Aiden. Tetap hargai mereka meskipun sumber luka yang ada dalam dirimu adalah mereka,” nasehat papa Andi untuk Aiden.
Aiden mengangguk. “Siap om,”
Papa Andi merasa bebannya sedikit terangkat, satu masalah mulai ada titik terang. Malam ini papa Andi melapangkan hatinya dan anggap Aiden sudah melamar Karin, baik Karin maupun Aiden tidak masalah. Setelah perbincangan panjang, akhirnya mereka makan malam bersama.
"Kalian lama sekali sih ngobrolnya," kesal Alya yang ternyata sudah kelaparan dari tadi. "Tidak tahu apa baby cuntik ini kelapalan," ocehnya menirukan suara bocah.
Papa Andi menepuk kepala putri bungsunya tersebut. “Makan yang banyak kalau begitu, nak!”
“Ck...itu sih Alya paling suka, pa. Makan banyak plus gratisan,” jawabnya memantik tawa mereka yang ada di ruang makan, kecuali mama Nirma tentunya. Dia masih diam dan terlihat masam, papa Andi sebenarnya tahu. Hanya saja dia sengaja melakukan itu untuk membuat sang istri merenungi semua kesalahan yang sudah di perbuatnya.
“Mama anteng banget malam ini, tumben! Padahal biasanya sudah kicau kicau mania,” canda Alya sambil bersenandung, dari ke dua kakaknya memang hanya Alya yang berani mem bercandai mama Nirma karena dia punya pusat backingan yang tidak lain papanya sendiri.
“Alya!” tegur Karin, sementara itu Aiden hanya bisa menahan tawa. “Ampun ibu ratu. Baby cuntik ini hanya bercanda saja,” ucapnya yang sebenarnya lebih meledek mama Nirma.
Papa Andi tidak ambil pusing dengan si bungsu, padahal mama Nirma sudah berharap kalau suaminya tersebut menegur Alya. Ternyata papa Andi masih marah, mama Nirma hanya bisa menghela napas.
Selesai makan malam Aiden tidak langsung pulang, papa Andi mengajaknya ngopi dulu sambil mengobrol tentang bisnis. Karin dan Alya ikut bergabung, namun tidak dengan mama Nirma yang memilih kembali ke kamarnya dari pada harus jadi obat nyamuk.
“Bagaimana kondisi Rega, Aiden?” sebenarnya papa Andi memang sengaja menahan Aiden di sana, dia belum mendapatkan kabar kondisi putra sahabatnya tersebut.
“Masih di ICU, om. Rega koma,” jawab Aiden.
Karin dan Alya terkejut, begitu juga dengan papa Andi.
“Separah itu, kak?” tanya Alya diangguki Aiden. “Kalau tidak salah ada robekan di ventrikel atau apa aku tidak terlalu paham, operasinya berhasil. Hanya saja kondisi tubuhnya masih belum pulih,” jawab Aiden.
Mendengar itu Karin merasa bersalah pada Rega dan juga Rhea, padahal minggu depan adalah hari pernikahan mereka. Karin menyesal, namun tiada guna karena semua tidak bisa dia kembalikan seperti semula.
“Apa mbak Rhea tahu kondisi kak Rega, kak?” Karin memberanikan diri untuk bertanya pada Aiden.
Aiden menggeleng. “Sampai hari ini om dan tante juga sahabat-sahabat Rega belum bisa menghubungi Rhea, ponselnya tidak aktif. Apartemen sudah kosong dari beberapa waktu lalu, jadi aku rasa Rhea belum tahu. Atau mungkin om Andi tahu kemana biasanya Rhea pergi saat sedang sedih?”
“Biasanya dia ke panti asuhan milik mamanya,” papa Andi lantas mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, dia mencari kontak panti asuhan anak-anak milik Alana dan memberikannya pada Aiden. “Coba hubungi bu Latifa! Tanyakan padanya apa Rhea ada di sana,” lanjut papa Andi diangguki Aiden.
Aiden sudah menghabiskan satu cangkir kopi dan beberapa kudapan malam, sekilas dia melihat jam dinding yang ada diruangan tersebut. Ternyata mengobrol dengan papa Andi membuatnya nyaman, obrolan mereka berada dalam server yang sama. Karena itulah ke duanya nyambung saat bicara.
“Om. Apa Aiden boleh mengajak Karin ke rumah sakit besok? Aiden ingin minta restu lebih dulu pada om Harun dan tante Indah,”
“Tentu saja, Aiden. Selain itu Karin juga harus minta maaf pada mereka, entah mereka menerimanya dengan senyuman atau umpatan. Karin harus bisa menahan diri karena ada andil Karin yang menjadi penyebab Rega dan Rhea putus hubungan,”
“Karin akan minta maaf nanti, pa. Untuk mbak Rhea, sepertinya Alya tahu dia di mana. Karena dia lebih dekat dengan mbak Rhea,” Karin menoleh kearah sang adik.
“Sembarangan! Kak Rhea tidak memberitahuku, aku juga tidak tahu di mana dia. Aku hanya dengar kalau kemarin malam kak Rhea sedang menuju bandara,” jawab Alya. “Mana mungkin aku beritahu di mana mbak Rhea. Asisten kakaknya kak Rhea saja menyeramkan begitu, bisa jadi geprek ini diriku. Lebih baik cari aman,” batin Alya.