Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAMITAN SAMA MAMI PAPI DAN KAMAR***
Pagi-pagi sekali Pak Arya sudah bangun, setelah sholat subuh ia bergegas bergabung dengan papi dan mami Bailla. Sementara Bailla masih ngorok Dengan posisi tidur sesudah seperti jarum jam. Sengaja Pak Arya gak membangunkannya.
Papi pagi nonton ceramah ustaz Maulana dengan ditemani segelas kopi. Mami udah sibuk. Nanak nasi, goreng tempe, bikin sambel terasi. Wanginya nyebar sampai ke kamar Bailla.
Tapi Bailla nggak bangun. Mami cuma senyum.
“Biarin. Anak itu kalau capek, bangunnya siang.”
"Selamat pagi Pi mi". Sapa Arya.
"Oh nak Arya selamat pagi". "Cepat bangunnya ?". Tanya Papi sambil tersenyum.
"Iya Pi biasa dirumah bangun jam segini hehe.".
“Bailla belum bangun ya?” Papi nengok ke kamar.
“Wah, anak ini kelakuannya masih belum berubah. Dari kecil kalau disuruh bangun subuh, jawabnya ‘5 menit lagi, Pi’.5 menit itu bisa jadi 2 jam
"Gak apa pak nanti juga berubah hehe". Dia ngomong meyakinkan. Tapi dalam hati dia mikir,
_kalau nggak berubah juga nggak apa-apa. Yang penting dia sehat. Yang penting dia nggak kabur._
Jam 7.
Pukul 08.30, Bailla baru bangun.
Kaget. Mata melek lebar waktu liat jam di HP. “YA ALLAH! JAM TUJUH SETENGAH!”
Dia lari ke kamar mandi. Mandi 3 menit. Pake baju seadanya.
Kaos putih, celana kulot, rambut diiket asal. Nggak ada waktu dandan. Hari ini hari pindahan.
Setelah mandi Bailla berkemas-kemas karena hari ini akan pindah kerumah suaminya, Koper biru Bailla udah penuh. satu koper kecil yang isinya, 2 buku kuliah, 1 buku resep Mami, 1 guling bau Bima.
Selesai sarapan pagi Arya dan Bailla berpamitan untuk pindah kerumah Arya. Hari ini dia resmi pindah. Dari kamar ternyaman di rumah Papi, ke kamar belakang dirumah Pak Arya.
Mami udah nyiapin bekal. Nasi, ayam goreng, sambel,.kerupuk.“Buat makan siang di jalan,” katanya. Padahal jaraknya cuma 40 menit.
Mami nyender di kusen, tangan ngeremes ujung jilbab. Udah 15 menit gak ngomong. Papi duduk di kursi plastik, pura-pura benerin sandal, padahal sandalnya gak kenapa-kenapa.
Bailla jongkok, salim sama Papi dulu.
“Papi...” suaranya langsung habis.
Papi narik napas panjang. Tangannya ngusap kepala Bailla, kasar, kayak dulu pas Bailla jatuh dari sepeda. “Udah. Gak usah nangis. Anak Papi pindah, bukan hilang.”
Tapi mata Papi merah.
Sementara Arya masih sibuk mengemasi koper Bailla ke mobil dibantu dua bocil Ara dan Aya. Sementara Arbil sudah pulang duluan pakai motor Miliknya.
“Papi titip Aya ya, Nak,“Kalau dia nakal, jangan takut menegur. sering sering main kesinimnPintu gak Papi kunci. Papi dan mami berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai Rumah tangga kalian.
Bailla angguk. Gak sanggup jawab. Dia pindah ke Mami.
*Bailla berpelukan dengan Mami cukup Lama.*
Mami langsung meluk. Kenceng. Kayak Bailla mau KKN setahun, bukan pindah RT sebelah.
“Mi...”
“Ssst,” Mami nutup mulut Bailla pake tangan. “Jangan bilang apa-apa. Kalau kamu ngomong, Mami nangis. Kalau Mami nangis, Papi ikut nangis. Kalau Papi nangis, nanti kita semua gak ikhlas.”
Tapi Mami sendiri yang nangis duluan. Air matanya netes ke kerudung Bailla.
“Mami udah taruh sambel terasi di tas kamu,” bisik Mami, ketawa sambil sesenggukan. “Sama boncabe. Kalau masakan kamu gak enak, campur itu aja. Biar Pak Arya gak kabur.”
Bailla ketawa, hidungnya meler. “Mi, aku takut gak bisa jadi anak yang baik di sana, Mi.”
Mami lepas pelukan. Pegang pipi Bailla, dua-duanya. “Kamu udah jadi anak paling baik, Bailla. Kamu korbanin mimpi kamu buat Papi Mami. Sekarang... sekarang Mami ikhlas kamu korbanin waktu kamu buat anak-anak itu. Tapi inget...”
Mami nyolek dada Bailla. “...sisain dikit buat diri kamu sendiri. Jangan sampai habis. Kamu juga masih anak Mami.”
Papi sekarang berdiri. Nyamperin Pak Arya. Salaman. Lama.
“Arya,” kata Papi, gak pake “Pak” lagi, “Bapak... Bapak percaya kamu. Tapi Bapak lebih percaya Bailla. Dia kuat. Kalau dia nangis, berarti kamu salah. Paham?”
Pak Arya angguk. “Siap, Pak. Saya jaga. Kalau saya salah, Bapak ambil lagi aja.”
Papi ketawa. Pahit. “Jangan. Bapak udah gak sanggup balikin. Cicilan rumah udah lunas. Sekarang cicilan kamu.
Bailla sudah masuk kedalam mobil. Sebelum jalan, Mami berlari ake dalam. Balik lagi bawa plastik.
“Nih,” Mami nyodorin ke Bailla, “kerupuk. Kesukaan kamu. Kalau kangen rumah, makan ini. Rasanya sama kayak di sini.”
Bailla terima. Plastiknya anget. Kayak tangan Mami.
Arya memasukan koper kemobil bagian belakang. Dibantu dua bocil, Ara dan Aya. Ara ngitung koper, “Satu! Dua! Jangan lupa gulingnya Kak!” Aya bawa plastik kerupuk, “Ini juga dibawa ya, Kak! Biar nggak kangen!”
Sementara Arbil udah pulang duluan pakai motornya. Dia nggak mau ikut adegan perpisahan. Katanya, “Gue nggak bisa liat Papi nangis, Pak.”
Mobil mulai dinyalain Papi ngangkat tangan. “Hati-hati di jalan.” Mami dadah-dadah. “Telfon Mami kalau udah sampai!”
Bailla nengok ke belakang. Papi sama Mami masih di gerbang. Gak masuk. Mami lap air mata pake jilbab. Papi rangkul pundak Mami.
Pas belokan, rumahnya hilang. Baru di situ Bailla nangis. Gak suara. Cuma air mata jatuh ke membasai pipinya. Pak Arya berasa. Tapi dia diem. Cuma tangannya, yang nyetir, pelan-pelan narik tangan Bailla digengamnya tangan wanita yang akan menjadi partner hidupnya.
Arya bisa merasakan perasaan Bailla. Tapi dia diem. Cuma tangannya yang nyetir, pelan-pelan narik tangan Bailla. Digenggamnya tangan wanita yang akan jadi partner hidupnya.
“Kenapa nangis?” tanya Pak Arya pelan.
Bailla nggak jawab. Dia cuma ngangguk. Karena kalau ngomong, suaranya bakal pecah.
Pak Arya ngerti. Dia nggak maksa. Dia cuma genggam lebih erat. Kayak bilang, “Udah. Sekarang rumahmu di sini.”
Mobil masuk kehalaman rumah Arya, Aya berteriak “Horeensudah nyampe rumah Kak Bailla ayoo kita turunin koper !”
Ara bantu bawain plastik kerupuk. Arbil... Arbil cuma buka pintu, terus ngomong, “Kamarnya udah disapu, Kak. Gak ada kecoa.”
Bailla senyum. Air matanya belum kering.
Malam itu, dia buka HP. Chat dari Mami: _“Gimana? Udah makan? Kerupuknya jangan lupa.”
Bailla bales: “Udah, Mi. Dimakan Aya dan Ara. Katanya enak. Mi... kamarku di sini dingin. Tapi rame.”
Mami bales cepet: “Dingin gak apa-apa. Rame itu tanda rumah hidup. Tidur ya, Nak. Besok Mami ke sana, ngajarin kamu bikin sayur asem. Biar Pak Arya betah.”
Bailla matiin HP. Taruh kelereng biru sama plastik kerupuk di nakas.
Perpisahan pertama sama Mami Papi: gak ada upacara. Gak ada pidato.
Cuma koper biru, kerupuk anget, sama pesan: “Pintu gak dikunci.”
Dan itu cukup. Cukup buat Bailla berani nyebut rumah itu... Adalah rumah yang sebenarnya
****************