“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Cinta Setelah Rehat Siang
Di ruang makan, Bu Sarasvati yang baru saja kembali dari ruang tamu terpaku menatap pemandangan di atas meja: piring dan gelas kotor berserakan.
"Lho, ini bekas makan siapa?" tanya Bu Sarasvati, pandangannya menyapu ke seluruh penjuru dapur, namun tak seorang pun terlihat.
Wanita paruh baya itu mengedikkan bahunya, lantas bergegas membereskan piring-piring itu. "Ini pasti ulah Adi. Habis makan kenapa tidak langsung dibereskan, malah dibiarkan di meja begini," gerutunya pelan, meski tangannya cekatan membersihkan sisa-sisa makanan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa putra sulungnya, Aditya, tengah beristirahat dengan damai setelah dengan penuh gairah meminta 'jatah' dari sang istri di kamar.
─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ───
🧁Sisi Manja Sang Suami
Sore harinya, Kinanti keluar lebih dulu dari dalam kamar. Niatnya ingin segera mandi mumpung sang suami, Aditya, masih terlelap pulas setelah sesi yang menguras tenaga tadi.
"Nak," sapa Bu Sarasvati dari ambang pintu.
Gadis cantik itu menoleh, menatap ibu mertuanya yang masih berada di rumah mereka. "Ya, Bu?" jawab Kinanti dengan lembut.
Bu Sarasvati tersenyum kecil. Wanita paruh baya itu mendekat. "Sudah bangun? Suamimu di mana?"
Kinanti tampak tersipu malu-malu saat menjawab, "Masih tidur, Bu."
Meski jawabannya terdengar ambigu, Bu Sarasvati memilih untuk tidak menggoda. Beliau meminta Kinanti agar segera mandi karena hari sudah mulai petang dan tak baik menunda-nunda kebersihan diri. Menantu cantiknya itu pun menurut. Bu Sarasvati lantas kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan malam bersama beberapa kerabat Kinanti dan Aditya yang berkunjung.
Kinanti mandi dengan tenang, ia tidak menyadari bahwa sang suami telah terbangun dari tidurnya.
"Ehm..."
Tubuh kekar Aditya meregang dan menggeliat, baru bangun dari tidur siang. Sebelah tangannya meraba-raba sisi ranjang, mencari keberadaan sang istri yang tadinya berbaring di sampingnya.
*Eh, kenapa kosong?* batin Aditya keheranan.
Kepala Aditya sontak menoleh ke tempat Kinanti tadi berbaring, dan benar-benar kosong.
"Sayang..." Suara seraknya sehabis tidur terdengar begitu dalam dan menggoda.
"Sayang?"
Aditya mengucek matanya sejenak, lalu memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.
CEKLEK!
"Eh, Nak Adi? Baru bangun tidur, Nak?" sapa kerabat Kinanti yang kebetulan lewat di depan kamar.
Aditya mengangguk kecil sambil mengulum senyum sungkan. Hari sudah petang rupanya.
*Astaga! Malu sekali. Kenapa Kinanti tidak membangunkanku tadi?* batin Aditya mengutuk diri.
"Iya, Tante. Eh, istri saya di mana ya, Tante?" tanya Aditya, celingukan mencari Kinanti.
"Oh, Kinanti lagi mandi, Nak Adi. Sudah sempat makan siang belum tadi? Atau mau Tante siapkan makanan dulu?" tanya kerabat Kinanti.
Aditya, yang memang baru bangun tidur, merasa sedikit kurang nyaman ditanyai bertubi-tubi seperti ini, namun pria tampan itu tetap menjawab dengan sopan.
"Sudah, Tante. Kalau begitu Adi ke dapur dulu, ya," pamit Aditya.
"Baiklah kalau begitu. Silakan. Tante mau ke depan dulu," balas kerabat Kinanti.
Setelah wanita paruh baya itu berlalu, Aditya berjalan menuju dapur. Di sana, ia melihat tiga perempuan yang tampak sibuk membelakanginya. Yang satu memakai jilbab, satunya lagi bersanggul, dan yang terakhir memakai handuk di kepala sepertinya baru selesai mandi.
Aditya tersenyum tipis. Ia tahu, dua dari tiga perempuan itu adalah ibu dan istri kecilnya.
Wanita yang berjilbab tampak menjauh dari yang lain, mulai sibuk mencuci di wastafel. Sementara sang ibu memotong sesuatu di talenan. Lalu istrinya, Kinanti, tampak sedang sibuk mengaduk kuali berukuran sedang di atas kompor.
Kaki panjangnya mulai melangkah mendekat, menatap punggung Kinanti dengan penuh perhatian. Aditya berniat mengejutkan sang istri.
"Sayang," bisiknya tepat di belakang Kinanti.
Tiga orang perempuan di sana serentak menoleh ke arah sumber suara. Aditya tersenyum simpul, puas.
"Oh, pangeran tidur sudah bangun ternyata," goda sang ibu, Bu Sarasvati, yang disambut tawa kecil dari wanita paruh baya di sebelahnya, kerabat Kinanti.
Pria tampan itu mengembuskan napasnya kesal. Sang ibu selalu berhasil membuatnya malu di depan sang istri.
"Lagi apa, Sayang?" Pertanyaan Aditya kini tertuju pada Kinanti.
GREP!
"Eh?!"
Bukan hanya Kinanti yang kaget, Ibu dan kerabat Kinanti juga cukup terkejut dengan aksi tiba-tiba Aditya memeluk pinggang Kinanti dari belakang.
"Mas, lepas! Aduh, ada Ibu sama Tante, malu!" bisik Kinanti sambil berusaha melepaskan lilitan lengan kekar Aditya.
"Tidak mau," gumam Aditya di perpotongan leher Kinanti. Pria itu tampak begitu manja pada istrinya.
Bu Sarasvati memutar bola matanya malas. "Ada Ibu dan Tante di sini, lho. Tidak malu kamu bermesraan begitu?" sindir Bu Sarasvati tanpa tedeng aling-aling.
Aditya hanya terkekeh namun tak mengubah posisinya.
"Ya sudahlah, Mbak. Namanya juga pengantin baru," sahut wanita paruh baya di sebelah Bu Sarasvati, kerabat Kinanti. Ia terkekeh melihat suami Kinanti yang berbadan kekar namun sikapnya lembut bak jeli.
"Tuh 'kan, sudah sah juga, Bu. Bebas," balas Aditya santai.
"Dasar!" Bu Sarasvati mendelik tajam.
Aditya tak terusik, pria itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Kenapa meninggalkan Mas sih, Sayang? Mana kamu sudah mandi lagi. Kenapa tidak menunggu Mas dulu?" gerutu Aditya sambil menyembunyikan wajahnya di leher Kinanti.
"Kan Mas masih tidur pulas. Aku tidak enak membangunkannya," ucap Kinanti menahan malu.
"Emm, tapi Mas mencarimu, tahu," rengek Aditya, mendusel-duselkan wajahnya.
Kinanti hanya tertawa geli mendengarnya, apalagi tingkah Aditya kini begitu menggemaskan.
"Dasar manja!" ejek sang ibu sambil berjalan ke belakang untuk mengambil seikat daun kemangi.
Aditya menarik kepalanya, menoleh, dan menyahut, "Ibuu..." tegurnya dengan nada malas.
Kinanti menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
"Bu, ini kuah supnya sudah matang?" tanya Kinanti.
Bu Sarasvati kembali sambil memeriksa kuah tersebut.
"Matikan kompornya, Nak. Sekarang tinggal masak sambal," ujar Bu Sarasvati.
Kinanti menurut. Gadis cantik berdaster bunga-bunga selutut itu mulai menurunkan kuali kuah sup dari atas kompor.
"Lepaskan dulu, Mas. Aku mau ambil penggorengan," ucap Kinanti.
"Tidak boleh," ujar Aditya, menolak.
Kinanti membalikkan tubuhnya, menatap wajah tampan Aditya yang terlihat merajuk.
"Kenapa?" tanya Kinanti dengan lembut.
Bu Sarasvati ikut menoleh. Beliau juga merasa putranya seperti sedang merajuk.
*Cih! Sudah perjaka tua juga tidak sadar umur!* batin Bu Sarasvati.
"Suamimu sedang merajuk. Ya sudah, layani dia dulu, Kinan. Nanti dia menangis karena kamu acuhkan," ucap Bu Sarasvati yang lagi-lagi menyindir putranya.
Kerabat Kinanti menahan tawa di sela mengelap piring. Mendengar sindiran Bu Sarasvati barusan, ia jadi semakin gemas dengan sepasang pengantin baru itu.
"Ada apa, sih?" tanya Kinanti. Tangan terulur mengelus rambut Aditya yang sedikit berantakan.
"Mandi dulu ya. Setelah ini kita makan malam bersama. Ini sudah ada sayur sup, sambal terasi, sambal kecap, ayam goreng, tempe tahu goreng, perkedel kentang, bakwan jagung, dan juga ada telur dadar kesukaan Mas," bujuk Kinanti. Pipi suaminya ia usap pelan.
Aditya yang manja bersama sang istri, memajukan bibirnya sedikit sebagai tanda merajuk. "Temani ke kamar dulu," rengek Aditya.
Tanpa menunggu persetujuan sang istri, Aditya lekas menggandeng Kinanti untuk ikut bersamanya kembali ke kamar. Pria tinggi kekar yang dibalut kaus tipis itu tampak serasi dengan gadis molek berdaster yang hanya setinggi bahunya saja.
Bu Sarasvati dan kerabat Kinanti kompak tertawa geli melihatnya.
"Maklumi ya, Mbak. Putra sulungku itu menjomblo sudah lama. Sekalinya ketemu pawang yang cantik seperti Kinanti, sikap bucinnya sampai meluap-luap. Manjanya tak ketulungan, aduh, malu-maluin," ucap Bu Sarasvati blak-blakan.
Kerabat Kinanti tertawa renyah. "Itu bagus, kok, Mbak. Cocok! Saya gemas melihatnya. Nak Adi manja, Kinanti juga mengimbangi. Jadi serasi," balas Tante Kinanti.
Dan benar saja. Bu Sarasvati juga merasakan demikian. Beliau hanya bisa berharap, semoga pernikahan putranya akan selalu bahagia dan sakinah, mawaddah, warahmah.
Bersambung__
_____