Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Matahari pagi menyusup melalui celah-celah gorden sutra di ruang makan Mansion Valerio, memantul pada peralatan makan perak yang tersusun rapi di atas meja marmer panjang. Aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang mentega memenuhi udara, memberikan kesan pagi yang hangat dan damai. Namun, kedamaian itu pecah saat bel pintu depan berbunyi dengan nada yang percaya diri.
Vivian Valerio, yang sedang menata piring-piring porselen, mengerutkan keningnya. Belum ada tamu yang dijadwalkan sepagi ini. Namun, saat ia melihat siapa yang berdiri di balik pintu setelah pelayan membukanya, senyum lebar langsung terukir di wajah cantiknya.
"Ezzra? Kau sepagi ini sudah kemari?" tanya Vivian ramah.
Ezzra Velasquez berdiri di sana, mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit tatonya yang melingkar di pangkal leher, dibalut dengan jaket denim hitam yang memberikan kesan "pemberontak kelas atas". Ia memegang sebuah buket bunga lili putih dan sekotak kue kering premium.
"Selamat pagi, Tante. Maaf mengganggu waktu sarapannya. Saya hanya ingin memastikan Elowen bangun dengan suasana hati yang baik," ucap Ezzra dengan senyum sopan yang selalu berhasil meluluhkan hati para ibu.
"Oh, manis sekali. Masuklah, Nak. Kita sedang bersiap sarapan," Vivian segera menyuruh pelayan untuk memanggilkan putrinya, sementara ia menuntun Ezzra menuju ruang makan.
Di meja makan, seorang pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang kental sedang duduk sambil membaca tabletnya. Itu adalah Logan Valerio, kepala keluarga yang disegani. Ia mendongak dan menatap Ezzra dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Bukankah dia... pria dari hotel itu?" tanya Logan dengan suara rendah pada istrinya.
Vivian mengangguk pelan sambil merangkul lengan suaminya. "Dia Ezzra, putra Velasquez yang menolong putri kita minggu lalu. Dan sekarang, dia adalah kekasih baru Elowen," bisik Vivian.
Logan mengerutkan kening, alisnya bertaut. "Kekasih baru? Bukankah dia sudah dengan Jeff selama setahun ini? Apa mereka sudah putus?"
Vivian menggeleng samar, matanya tetap tertuju pada Ezzra yang kini sedang menyapa pelayan dengan santai. "Aku tidak tahu pasti, Logan. Sepertinya putrimu sedang menduakan mereka atau mungkin Jeff sudah ditinggalkan. Kau tahu sendiri bagaimana Elowen belakangan ini."
Logan menghela napas panjang, bersandar pada kursinya. Ia menatap Ezzra sekali lagi, menyadari ada kemiripan antara situasi ini dengan masa lalu putranya. "Kenapa tiba-tiba dia mengikuti jejak Alvaro? Dulu kakaknya juga membuat ku pusing dengan urusan wanita."
Vivian terkekeh kecil, tangannya mengusap bahu suaminya dengan penuh kasih. "Jangan salahkan putra dan putrimu, Logan. Kau waktu muda juga punya banyak kekasih di mana-mana sebelum akhirnya terjebak denganku. Jadi wajar jika mereka mewarisi darah Petualang milikmu."
Logan terdiam sejenak, lalu tawa singkat meledak dari bibirnya. "Kau benar. Gen Valerio memang sulit untuk jinak."
Tak lama kemudian, Elowen turun dengan langkah gontai. Ia mengenakan oversized hoodie untuk menutupi lehernya, namun langkahnya terhenti di anak tangga terakhir saat melihat sosok yang duduk di sebelah ayahnya.
Ezzra?! Benar-benar gila! batin Elowen menjerit.
Ia merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ezzra benar-benar nekat mendatangi kediamannya di hari libur. Untungnya, Jeff memang tipe kekasih yang sangat formal; ia jarang datang ke mansion kecuali diundang secara resmi. Selama setahun berpacaran, Jeff lebih sering menjemput Elowen di apartemen pribadinya daripada harus berhadapan dengan aura intimidasi Logan Valerio. Tapi Ezzra? Pria ini seolah tidak punya rasa takut.
"Pagi, Baby," sapa Ezzra dengan suara beratnya, melambaikan tangan dengan santai seolah ia sudah sering sarapan di sana.
Elowen hanya bisa mengangguk kaku dan duduk di hadapan Ezzra. "Kenapa kau di sini?" desisnya pelan.
"Bagaimana kabar keluargamu, Ezzra? Sebastian Velasquez masih sesibuk dulu?" tanya Logan, mengabaikan ketegangan putrinya dan memulai basa-basi khas pria dewasa.
"Baik, Paman. Daddy masih sibuk mengurus ekspansi hotelnya. Tapi Mommy sering menanyakan kabar Elowen," jawab Ezzra jujur. Memang benar, ibunya di rumah terus-menerus bertanya tentang "gadis malang yang cantik" itu, dan Ezzra hanya akan menjawab, "Dia sekarang calon menantumu, Mom. Tenang saja."
Tiba-tiba, suasana ruang makan menjadi lebih ramai saat Alvaro, putra kedua Valerio, masuk ke ruangan sambil menggendong Apolo. Alvaro yang baru saja selesai berolahraga pagi tampak terkejut melihat tamu asing di meja makan ayahnya.
Alvaro menurunkan Apolo dan menatap Ezzra dengan tatapan menilai. Ia memperhatikan penampilan Ezzra yang terlihat sempurna namun tetap memiliki sentuhan urakkan—lengan kemeja yang digulung asal, rambut yang sengaja dibuat berantakan, dan tato mawar berduri di punggung tangan yang terlihat jelas saat pria itu memegang sendok.
Anehnya, Alvaro tidak merasa terganggu. Justru, gaya Ezzra mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu sebelum ia "dijinakkan" oleh Florence.
"Jadi ini orangnya?" tanya Alvaro sambil menarik kursi di sebelah Elowen. "Pahlawan dari hotel itu?"
Ezzra tersenyum lebar, ia bisa merasakan aura yang sama dari Alvaro. "Hanya kebetulan lewat, Bro."
"Gayamu asik juga," gumam Alvaro. "Apa hobimu selain masuk ke mansion orang sepagi ini?"
Ezzra tertawa lepas, menyukai gaya bicara Alvaro yang blak-blakan. "Masih sering balapan liar di sirkuit, sesekali boxing di ring bawah tanah, dan sisanya... aku kolektor masalah."
Logan yang sedang memotong sosisnya hanya bisa menggelengkan kepala. "Kolektor masalah? Kau dan Alvaro benar-benar bisa menjadi duet penghancur kalau dibiarkan."
"Setidaknya dia tidak membosankan, Dad," sela Alvaro sambil menyuapi Apolo sepotong roti. Ia menoleh ke arah Elowen yang sejak tadi hanya diam membeku. "El, jujur saja. Si Ezzra ini jauh lebih asik daripada si Jeff yang kaku itu. Setiap kali Jeff ke sini, aku merasa seperti sedang berada di seminar asuransi. Terlalu sopan, terlalu rapi, terlalu... pucat."
"Alvaro! Jangan begitu," tegur Vivian, meski ia sendiri menahan tawa.
"Tapi itu kenyataan, Mom. Jeff itu seperti nasi putih tanpa lauk. Sehat, tapi hambar," tambah Alvaro santai. "Kalau Ezzra... dia seperti cabai rawit. Pedas, berbahaya, tapi bikin ketagihan, kan El?"
Wajah Elowen memerah sempurna hingga ke telinga. Ia ingin membantah, tapi tatapan tajam Ezzra yang sedang mengunyah pancake di depannya seolah mengunci suaranya.
Percakapan di meja makan pun mengalir lancar. Logan dan Alvaro ternyata sangat menikmati cerita Ezzra tentang kegilaannya saat balapan. Ternyata, Logan juga dulunya adalah penggemar otomotif kelas berat.
"Kapan-kapan mampirlah ke garasiku, Paman. Ada beberapa koleksi yang mungkin kau suka," tawar Ezzra.
"Akan kupikirkan. Asalkan kau tidak mengajak putriku balapan liar," jawab Logan dengan nada mengancam yang bercampur canda.
Apolo, si bocah kecil itu, tiba-tiba turun dari kursinya dan berjalan menuju Ezzra, menarik-narik jaket denim pria itu. Ezzra dengan sigap mengangkat Apolo dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Kau mau ini, Jagoan?" Ezzra memberikan potongan sosis kecil pada Apolo.
Melihat pemandangan itu, Vivian menyenggol lengan Logan. "Lihat? Dia bahkan pintar mengambil hati anak kecil. Jeff bahkan tidak pernah berani menggendong Apolo karena takut bajunya kusut."
Elowen hanya bisa menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia takut kebohongannya pada Jeff akan terbongkar. Namun di sisi lain, melihat bagaimana Ezzra bisa melebur dengan keluarganya dalam waktu singkat membuatnya menyadari satu hal: Ezzra tidak hanya masuk ke dalam hidupnya secara fisik, tapi pria itu sedang mencoba mengambil alih seluruh dunianya.
Sarapan pagi itu ditutup dengan gelak tawa saat Ezzra menceritakan bagaimana Mike temannya hampir menangis karena laptopnya terkena tumpahan soda semalam. Suasana weekend di Mansion Valerio yang biasanya tenang, mendadak berubah menjadi hangat dan sedikit konyol berkat kehadiran si berandal Velasquez.
Saat Ezzra berpamitan untuk pulang, Alvaro menepuk bahu Ezzra dengan akrab. "Sering-seringlah kemari, Bro. Bawa beberapa cerita masalahmu lagi, setidaknya rumah ini jadi tidak terasa seperti museum."
Ezzra melirik Elowen yang mengantarnya sampai ke pintu depan. "Aku akan sering kemari." ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata pada Elowen.
Setelah mobil Ezzra menderu pergi, Elowen masuk kembali ke rumah hanya untuk menemukan ayahnya, ibunya, dan kakaknya menatapnya dengan senyum penuh arti. Ia tahu, mulai hari ini, posisi Jeff di mansion ini sudah benar-benar tergeser oleh bayang-bayang Ezzra yang liar.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...