NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.

Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.

Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.

namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.

Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.

Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan

"Kamu masuk dulu saja, Wa."

Mereka sudah sampai di teras rumah Nara. Yiwa menghentikan gerakan tangannya membuka pintu. Ia menoleh pada Nara.

"Kenapa?"

"Saya ada urusan sebentar. Nanti tidak perlu masak dulu. Sekalian saya belikan nanti. Jangan lupa kunci pintunya, saya ada kunci cadangan."

Yiwa mengangguk saja. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Kemudian mengunci pintu.

Setelah memastikan rumahnya terkunci dengan benar, barulah Nara melangkah meninggalkan rumah.

Malam nanti adalah malam jumat kliwon. Dan Nara harus melakukan tugasnya seperti biasanya. Memeriksa setiap sudut desa dan tempat-tempat sakral, apakah sudah di beri sesajen dan dupa atau belum. Jika sudah, ia akan membacakan beberapa doa dalam bahasa jawa kuno yang kental.

Sementara itu di rumahnya, Yiwa sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Kamar yang terasa paling hangat di rumah ini. Sisa-sisa wangi Nara masih tertinggal di dalam kamar. Entah pada pakaian atau pada ranjang yang saat ini ia tiduri. Membuat tubuhnya terasa lebih nyaman saat menciumnya.

BRAKKK

Ia sudah hampir terlelap saat sebuah suara gebrakan dari luar kamar berhasil mengagetkannya.

"Apa belum kekunci rapat ya?"

Yiwa berdiri dari ranjang. Berjalan dengan tenang memeriksa pintu depan dan setiap jendela. Aman. Semuanya terkunci rapat.

"Terus pintu mana?"

Ia berjalan menuju dapur, karena disana juga ada pintu belakang yang mengarah langsung ke perkebunan.

"Pantesan." Pintu belakang itu terbuka lebar. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Dan ia bisa melihat kebun di belakang rumah. Beberapa pohon jati itu bergerak karena hembusan angin yang cukup kencang.

Saat tangannya memegang knop, udara tiba-tiba berubah senyap dan mencekam. Seperti udara benar-benar berhenti bergerak. Menciptakan kesunyian yang menakutkan. Bahkan matahari yang terik tadi sudah hilang di telan mendung. Menciptakan kegelapan padahal masih masih menunjukkan pukul dua siang.

"Itu siapa?" lirihnya.

Yiwa menyipitkan matanya. Di bawah pohon mangga tak jauh darinya, ia seperti melihat seorang perempuan. Ia ingin mengabaikannya, tapi lambaian tangan perempuan itu membuatnya sedikit penasaran.

Apa ia mengenalnya? "atau mungkin itu Dinar?"

Akhirnya Yiwa memilih untuk berjalan mendekati perempuan itu. Dengan jarak yang lumayan dekat, ia bisa melihat wajahnya.

Itu bukan Dinar. Yiwa hendak berbalik pergi, tapi tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia panik.

"Jangan ganggu gue!"

perempuan itu hanya tersenyum lalu berjalan mendekat. Saat hanya tinggal beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang begitu menggema. Dan perempuan itu langsung menutup telinganya dan berteriak kesakitan sebelum benar-benar hilang sepenuhnya menjadi asap hitam. Bersamaan dengan itu, suasana mencekam dan mendung tadi juga sudah kembali normal.

Tubuh Yiwa yang tadi tidak bisa bergerak, langsung jatuh terduduk saking lemasnya. "Gue hampir di culik setan lagi?"

Daripada itu, Yiwa menyadari sesuatu. Ia langsung berdiri dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. "Jangan-jangan disini juga ada harimaunya?"

Yiwa sampai menggigil ketakutan. Segera ia masuk kamar dan menguncinya dari dalam.

"Desa ini beneran nggak aman! udah banyak setannya, malah nambah ada harimaunya lagi!"

Yiwa langsung melotot kaget saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

"Aneh banget gila! perasaan tadi masih jam dua."

Yiwa menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran anehnya. "Mending gue mandi."

Setelah beberapa saat, Yiwa sudah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan keadaan jauh lebih segar. Bajunya sudah ganti dengan sepasang piyama satin pendek.

Ia berdiri di depan cermin besar yang terpasang di pintu lemari sembari menyisir rambutnya. Setelah ini, ia akan meminta Nara untuk membeli meja rias agar ia bisa berdandan dengan baik, tidak perlu berdiri seperti ini.

tok tok tok

Jantung Yiwa rasanya seperti mau copot saking kagetnya dengar ketukan pintu barusan. "Siapa?"

"Nara. Ayo makan." jawab Nara dari balik pintu.

Sebelum membuka pintu, Yiwa meraih vas bunga di atas meja. Ia akan menggunakannya sebagai senjata. Siapa tahu yang ada di luar bukan Nara.

Dibukanya pintu kamar itu pelan-pelan. Ia mengintip sedikit. Barulah ia bernapas lega saat yang mengetuk pintunya benar-benar Nara.

Yiwa menaruh kembali vas bunga tersebut ke tempat semula lalu membuka pintu lebar-lebar. "Kemana aja sih? Lama banget!"

"Maaf. kamu tadi di ganggu lagi?" tanya Nara.

"Menurut lo?"

Nara tersenyum. "Kamu tenang saja, mereka tidak akan bisa nyakitin kamu."

"Ya tetap aja."

"Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang kamu makan duluan. Nasinya saya taruh di ruang depan. Saya mau mandi sebentar."

Yiwa mengangguk dan melenggang pergi ke ruang depan. Disana sudah tersedia dua piring nasi ayam bakar dan dua gelas teh hangat.

Melihat itu Yiwa langsung lapar sekali. Tapi entah kenapa, sekarang ada perasaan mengganjal dihatinya jika ia memilih makan duluan. Seperti sebagian hatinya ingin menunggu Nara datang dan makan bersama.

"Sial! gue kenapa sih?"

Yiwa pun bersandar dan memejamkan matanya.

"Lo harus tahu diri, Wa. Lo nggak pantas buat Nara. Lo itu cuma kecacatan. Mungkin kalau Nara tahu lo gimana, dia pasti akan nyesel udah nikahin lo!"

Yiwa berkali-kali menghembuskan napas dengan berat. "sial sial sial!"

"kenapa belum dimakan?" Tanya Nara.

Yiwa langsung menegakkan punggungnya. Ia melihat Nara yang sudah berganti pakaian dengan kaos hitam lengan pendek dan celana kain dengan warna serupa.

"Nggak papa."

Setelah itu barulah Yiwa mengambil piringnya dan mulai makan. Begitupun Nara.

"Di desa ini nggak aman sama sekali. Gue tadi denger suara harimau. Nanti kalau ada yang di makan gimana? kita harus panggil damkar sih!"

Nara terdiam sejenak. "Kamu lihat wujudnya?"

"Ya enggak. Tapi tadi suaranya kencang banget. Pasti harimaunya gede banget. Gue nggak mau mati dimakan harimau."

"Dia tidak berbahaya Yiwa. Justru dialah yang menjaga kamu."

Mata Yiwa sontak melotot. "Jadi lo beneran pelihara harimau?!"

Nara cuma senyum. "Kamu segera habiskan makanannya. Lalu tidur."

Yiwa berdecak karena Nara mengabaikan pertanyaannya barusan. "Oh ya! berhubung sekarang gue tinggal disini. Gue mau minta meja rias buat di kamar. boleh kan?"

Nara mengangguk.

...----------------...

Setelah selesai makan, Yiwa sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Sedangkan Nara berada di kamar tamu yang masih kosong.

Ia duduk bersila di lantai dengan sebatang lilin yang menyala di depannya. Matanya terpejam ketika membacakan sebuah kalimat dalam bahasa jawa kuno.

Sekarang ia sudah tidak sendirian lagi, karena sosok Mregapati muncul di hadapannya dan ikut duduk bersila.

Nara membuka matanya, "Bagaimana?" tanya Nara.

"Sudah aman. Nanti malam warga desa tidak ada yang akan diganggu. Tapi untuk Yiwa, saya kurang yakin. "

Nara mengangguk, tubuhnya yang tadi tegang perlahan rileks. "Saya akan menjaganya."

"Tapi istrimu itu aneh sekali loh, den. Waktu dipanggil sama setan nggak takut dan malah mendekat. terus dengar suara saya malah kabur. Dia belum melihat wajah rupawan saya sih."

Nara tersenyum, "Kamu tahu kan kalau Yiwa itu pemikirannya skeptis. Yiwa belum sepenuhnya percaya sama hal-hal mistis. Tapi saya berterimakasih kamu sudah menolongnya tepat waktu."

"Itu sudah tugas saya, Den. Nanti malam Raden mau tidur dimana?"

"Di ruang depan dulu." jawab Nara.

"Saya tidak apa-apa kalau kembali ke gunung, den."

Nara tersenyum. "Ini sudah jadi kamar milikmu,"

Ya, Nara memang sengaja mengosongkan kamar tamu untuk Mregapati.

"Terimakasih, den. Saya jadi tidak enak. Semoga Yiwa segera menerima Raden." Mregapati terkekeh mengingat kalau Radennya yang tampan dan gagah ini ternyata masih ada yang menolak.

"Sudah, saya mau cek kamar Yiwa dulu, ada yang datang."

Mregapati mengangguk.

...♡Bersambung ♡...

1
Ana Dww
maaf yiwa, aku adalah Nara yang setiap pulang dari pergi agak jauh harus mandi
Ana Dww
Lanjuttt kakk
Ana Dww
Aku suka karena emang ada horor, romantis dan komedinyaaa
Ana Dww
🤣🤣🤣
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
heeeyy siapa lagi ini
Ana Dww
Woy, kram kamar mandi kosku sering bocir dikit malam hari 😭😭😭😭
seren_dpty: positif thinking aja, mungkin lagi di buat mainan🤭
total 1 replies
Ana Dww
Yiwa, kita sama tidur terlalu hening bikin pikiran berisik
Ana Dww: 🤣 biar nanti tidurnya sambil mimpi kicau mania
total 2 replies
Ana Dww
waittt
Ana Dww
Kak, ini cerita horor romantiskah?
seren_dpty: iyaps betull
total 1 replies
Ana Dww
Waaahhh , suka sama ceritanya
seren_dpty: makasih ya kakkk
total 1 replies
Ana Dww
Waaah keren kak 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!