NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mimpi 3 orang terbuang

​Selama berjam-jam, lapangan itu dipenuhi suara kayu yang memukul udara dan teriakan latihan.

Tebasan demi tebasan, tusukan demi tusukan dilakukan tanpa henti. Lu Ming adalah tipe pekerja keras, ia mengulangi satu gerakan yang sama hingga seribu kali.

Telapak tangannya mulai lecet dan berdarah, tetapi ia terus mengayun hingga gerakannya perlahan mulai kehilangan kekakuannya.

​Sementara itu, Liu Shen adalah sebuah keajaiban yang nyata. Ia hanya perlu melihat Paman Han melakukan gerakan sekali, dan tubuhnya akan mengingatnya dengan sempurna.

Seolah-olah pedang, meski hanya dari kayu adalah perpanjangan dari jiwanya sendiri.

​Saat senja mulai turun dan langit berubah menjadi jingga kemerahan, Paman Han akhirnya menyuruh mereka berhenti.

Keduanya langsung jatuh terduduk di atas rumput, kelelahan hingga tidak sanggup lagi mengangkat tangan mereka yang gemetar.

​Paman Han mendekati Liu Shen yang sedang mencoba menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan baju yang kotor.

Tanpa sepatah kata pun, Paman Han mengeluarkan sapu tangan tua miliknya yang sudah dicuci meski warnanya tetap kusam dan dengan gerakan kikuk, ia mengusap wajah bocah berambut putih itu.

​"Gerakanmu bagus, Liu Shen. Sangat bagus," ucap Paman Han lembut, sebuah nada yang jarang sekali ia gunakan. "Tapi ingat, bakat tanpa kekuatan fisik yang mendukung hanya akan membuatmu menjadi bunga indah yang mudah patah saat badai datang. Kau harus makan lebih banyak."

​Tangan kasar Paman Han yang penuh kapalan mampir sejenak untuk mengacak-acak rambut putih Liu Shen dengan kasih sayang yang kaku. Liu Shen tertegun.

Ia menatap tangan pria tua itu, lalu perlahan menatap wajah Paman Han yang penuh kerutan.

Perasaan hangat yang sangat asing menjalar di dadanya, mencairkan sedikit demi sedikit kebekuan di hatinya.

​Tanpa sadar, Liu Shen memegang ujung jubah Paman Han yang sobek, menggenggamnya erat seolah takut pria itu akan terbang terbawa angin.

​"Paman... besok ajari kami lagi, ya?" bisik Liu Shen dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar.

​Paman Han terbahak, suara tawanya memecah kesunyian senja, berusaha menyembunyikan rasa haru yang mendadak membuncah di tenggorokannya. "Tentu saja, Dasar Bocah Kecil! Selama kalian tidak malas mengangkut gandum dan membelikanku arak, aku akan menguras semua energiku untuk melatih kalian menjadi monster kecil yang bisa menggetarkan dunia!"

​Lu Ming merangkak mendekat, ikut bersandar pada kaki Paman Han yang kokoh. Di sana, di bawah langit yang berubah menjadi ungu keemasan, mereka bertiga duduk diam bersama.

Rasa sakit di otot dan luka di telapak tangan mereka seolah menguap, digantikan oleh kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

​"Suatu hari nanti," gumam Lu Ming sambil menatap bintang pertama yang muncul di langit. "Kita akan menjadi pendekar hebat. Aku akan menjemput Ibu, dan kita bertiga akan tinggal di rumah yang sangat besar, lengkap dengan daging panggang dan arak terbaik untuk Paman setiap harinya."

​Paman Han tersenyum pahit namun tulus. Ia tahu betapa kejamnya dunia kultivasi terhadap mereka yang tak punya nama, namun melihat dua pasang mata penuh harapan di sampingnya, ia bersumpah dalam hati. Selama napasnya masih ada, ia akan menjadi tameng bagi mereka.

​"Ya," sahut Liu Shen pelan, suaranya kini tidak lagi sedingin es yang membeku. "Kita akan selalu bersama."

​Malam pun jatuh di Kota Azure, namun di sudut lapangan itu, api kecil kekeluargaan mulai menyala dengan sangat terang, menentang kegelapan dunia yang dingin.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!