NovelToon NovelToon
NAFKAH YANG TERTUKAR

NAFKAH YANG TERTUKAR

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**bab 11 Palu hakim dan janji mandiri

🌸🌸🌸🌸

Pintu kayu tebal Ruang Sidang Utama Pengadilan Agama tertutup rapat dengan dentuman pelan yang menggema di dalam ruangan berpendingin udara itu. Suasana di dalam terasa sangat khidmat dan menekan.

Tiga orang Majelis Hakim yang mengenakan toga hitam dengan lis hijau duduk anggun di meja hijau yang ditinggikan di depan ruangan. Di tengah, Hakim Ketua menatap tajam ke arah dua kubu yang duduk berseberangan di meja penggugat dan tergugat.

Maya duduk di kursi kayu sebelah kiri, didampingi penuh oleh Pak Hendra. Wajahnya tenang, gesturnya anggun namun penuh ketegasan. Di sebelah kanan, Aris duduk seorang diri. Ia menolak didampingi kuasa hukum karena masalah biaya yang mulai mencekik gajinya pasca-efisiensi kantor. Wajah Aris tampak layu, matanya yang biasa menyiratkan kesombongan kini sayu dan menunduk dalam.

Di bangku penonton belakang, Ibu Ratna dan Siska duduk berdempetan dengan gelisah. Kipas tangan yang dipegang Ibu Ratna tak berhenti mengibas cepat, sementara Siska terus meremas ujung tas plastiknya, cemas membayangkan nasib cicilan motornya yang terancam melayang.

"Sidang perkara perceraian nomor 142/Pdt.G/2026/PA dengan agenda pembacaan putusan dan penetapan hak asuh anak dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Hakim Ketua sambil mengetukkan palu kecilnya satu kali. Tuk.

Suara palu itu bergetar di dada Aris. Pria itu menyatukan kedua telapak tangannya di bawah meja, berdoa dalam hati agar mukjizat terjadi dan Maya mau mengurungkan niatnya. Namun, doanya tak berdaya menghadapi gunungan fakta yang disajikan tim pengacara Maya selama proses mediasi hingga persidangan ini.

Hakim Ketua mulai membacakan berkas pertimbangan setebal puluhan halaman. Setiap kata yang keluar dari mulut hakim terasa bagai pukulan godam yang menghantam kesadaran Aris satu per satu.

"Berdasarkan bukti-bukti dokumen transaksi, keterangan saksi, serta riwayat penelantaran kewajiban finansial secara proporsional..." kata Hakim Ketua menguraikan dengan suara berat, "...Penggugat atas nama Maya telah terbukti secara sah dan meyakinkan mengalami penindasan ekonomi dan emosional yang berkelanjutan di bawah naungan Tergugat, Saudara Aris."

Aris memejamkan mata rapat-rapat. Di belakangnya, Ibu Ratna terdengar mendesis pelan, tidak terima dengan pernyataan hakim, namun Siska menahannya agar tidak memicu keributan di ruang sidang yang sakral itu.

"Menimbang pula bahwa Penggugat, Ibu Maya, telah membuktikan secara finansial memiliki penghasilan mandiri yang stabil dan sah melalui pekerjaan freelance sebagai penulis konten, serta memiliki lingkungan hidup yang kondusif bagi tumbuh kembang anak..."

lanjut Hakim Ketua, membaca bagian akhir dari putusan tersebut.

Maya menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan tangannya sedikit bergetar di atas meja. Ini adalah momen yang sudah ia impikan sejak malam-malam sepinya di rumah satu lantai Aris, saat ia mengetik artikel demi artikel di sepertiga malam agar tak ketahuan suaminya.

Hakim Ketua memperbaiki posisi kacamata bacanya, lalu menatap lurus ke arah Aris dan Maya secara bergantian.

"Maka, Majelis Hakim memutuskan: Pertama, Mengabulkan gugatan perceraian Penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat kepada Penggugat.

Kedua, Menetapkan hak asuh anak atas nama Dafa sepenuhnya jatuh ke tangan Penggugat, Ibu Maya."

Tuk! Tuk! Tuk!

Tiga kali ketukan palu hakim menggema nyaring membelah ruangan.

Bagi Aris, bunyi palu itu bagaikan vonis eksekusi mati bagi seluruh ego dan status sosialnya.

Ia tertunduk makin dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun pelan—sebuah tangisan tanpa suara dari seorang pria yang baru tersadar bahwa ia telah menghancurkan hartanya yang paling berharga demi pujian palsu dari keluarga besarnya.

Sementara bagi Maya, tiga ketukan palu itu adalah suara kebebasan. Beban berat berupa ketakutan, rasa tertekan, dan harga diri yang diinjak-injak selama empat tahun seketika terangkat dari pundaknya.

Air mata keharuan menetes pelan menelusuri pipinya, namun di bibirnya terukir senyum paling lega yang pernah ia miliki.

"Selanjutnya," sambung Hakim Anggota membacakan bagian kewajiban finansial, "Tergugat, Saudara Aris, diwajibkan memberikan nafkah anak minimal sebesar Rp3.500.000 per bulan yang disetorkan langsung ke rekening Penggugat sebelum tanggal 5 setiap bulannya, di luar biaya pendidikan dan kesehatan, hingga anak dewasa."

Aris tersentak. Angka itu jauh lebih besar dari uang belanja Rp2.000.000 yang dulu sering ia potong dan berikan pada Maya dengan penuh kesombongan. Dengan gajinya yang baru saja terpotong akibat efisiensi kantor, kewajiban Rp3,5 juta ini akan memakan hampir seluruh sisa pendapatannya.

Tidak akan ada lagi uang sisa untuk membayarkan cicilan motor Siska, dan sama sekali tidak ada anggaran untuk memanjakan Ibu Ratna seperti dulu.

Siska yang mendengar nominal itu langsung menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah pias. "Mas Aris... habis sudah kita," bisiknya panik pada ibunya. Ibu Ratna sendiri hanya bisa melotot tak berdaya, wajahnya merah padam menahan malu dan penyesalan.

Persidangan selesai. Majelis Hakim meninggalkan ruangan.

Maya berdiri, bersalaman dengan Pak Hendra dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Terima kasih sudah memperjuangkan saya dan Dafa."

"Ini semua hasil keberanian Ibu Maya sendiri," balas Pak Hendra dengan ramah. "Ibu yang memulainya dengan bekerja keras secara mandiri di masa-masa sulit."

Saat Maya berbalik untuk berjalan keluar, Aris berdiri menghalangi jalurnya. Langkah Maya terhenti. Aris menatap mantan istrinya itu dengan mata yang basah dan memerah.

"May..." suara Aris parau, nyaris berbisik. "Apakah... apakah tidak ada kesempatan sedikit pun untuk kita? Demi Dafa? Aku janji, aku akan berubah total. Aku akan memberikan seluruh gajiku untukmu, aku tidak akan menuruti Ibu dan Siska lagi..."

Maya menatap Aris. Di dalam hatinya, sudah tidak ada lagi rasa benci, dendam, ataupun cinta. Yang tersisa hanyalah rasa kasihan pada pria yang terlambat menyadari kesalahannya sendiri.

"Kesempatan itu sudah habis di hari kamu memotong uang susu Dafa demi cicilan motor adiknya, Mas," jawab Maya pelan namun lugas. "Kamu tidak mencintaiku, Mas. Kamu hanya mencintai gengsimu dan rasa berkuasamu sebagai suami. Dan sekarang, ketika rasa berkuasa itu hilang, kamu baru merasa kehilangan."

Aris terdiam terpaku. Kata-kata Maya sangat jujur dan menghantam tepat di dadanya.

"Soal Dafa, kamu tetap ayahnya. Kamu boleh menjenguknya di akhir pekan, asal tidak mengganggu jam belajarnya," tambah Maya. "Tapi untuk hubungan kita... semuanya sudah berakhir di meja hakim tadi."

Tanpa menunggu balasan Aris, Maya melangkah maju. Ia berjalan melintasi lorong persidangan dengan langkah yang mantap dan kepala terangkat tinggi. Di luar gedung pengadilan, angin hangat menyambutnya. Maya menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan yang seutuhnya.

Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Dafa yang sedang tersenyum lebar di kontrakan mereka. Maya mengulas senyum tulus. Mulai hari ini, ia bukan lagi korban dari nafkah yang tertukar. Ia adalah seorang ibu, seorang pekerja freelance yang mandiri, dan penguasa penuh atas takdir hidupnya sendiri.

🌸🌸🌸🌸

1
Thewie
keren thor. kanjut karya baru ya
Thewie
gak akan kembali ke mantan ya Thor. mantan itu di buang ke t4 yg seharusnya wkwkkw
Thewie: haha iya banget Thor. patah tumbuh hilang berganti🤣🤣.. cari yg baru
total 2 replies
Thewie
semangat maya
Thewie
keren thor💪
Thewie
keren Maya.. lelaki sperti itu hempaskan ... mati kau arisss.. matiii lah kau
AwandaMw: ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍
JasmineA
menjahit? bukan nya dia jadi head content writer ya thor? Raka yg ngasih kerja ke dia?
AwandaMw: tq kaaaa....aku baru konek😭😭
total 1 replies
JasmineA
Bintang siapa? anak nya Dafa bukan?
JasmineA
Rika apa siska?
Marifatul Marifatul
lnjttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!