Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Proses yang mulai terasa nyata
Hari-hari setelah percakapan itu kemudian berjalan seperti biasa, tapi ada satu hal kecil yang mulai berbeda.
Bukan pada isi obrolan mereka yang semakin romantis, seperti generasi muda sekarang yang berpacaran, tetapi melainkan malah pada kebiasaan yang tanpa sadar mulai terbentuk. Dimana Alya mulai menunggu pesan dari Zidan di sela-sela kesibukannya. Sedangkan Zidan, meski tetap dengan gaya singkatnya, mulai terbiasa membuka percakapan lebih dulu.
Mungkin tidak sering.
Tidak panjang.
Tapi cukup untuk membuat keduanya sadar bahwa ta’aruf ini benar-benar sedang berjalan.
...****************...
Pagi itu, Alya baru saja selesai membantu Umi di dapur, setelah itu seketika ponselnya bergetar.
Zidan: “ Kamu sibuk ? ”
Alya menatap layar itu sejenak sebelum membalas.
Alya: “ Sedikit, baru selesai bantu Umi didapur. Ada apa ? Ada hal yang penting ? ”
Beberapa detik kemudian pesan masuk lagi.
Zidan: “ Nggak ada. Cuma nanya. ”
Alya tersenyum kecil tanpa sadar.
Sederhana.
Tetap seperti Zidan.
Sedangkan di sisi lain, Zidan sedang duduk di kamarnya. Ponsel di tangannya ia putar-putar pelahan lahan, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Temannya sempat bertanya tadi malam.
“ Lo serius Zid lanjut ta’aruf itu ! Lo mau lanjutin perjodohan dari orang tua Lo ? ”
Zidan hanya menjawab singkat,
“ Ya, Jalanin aja dulu. ”
Hari-hari setelah percakapan itu kemudian berjalan seperti biasa, tapi ada satu hal kecil yang mulai berbeda.
Bukan pada isi obrolan mereka yang semakin romantis, seperti generasi muda sekarang yang berpacaran, tetapi melainkan malah pada kebiasaan yang tanpa sadar mulai terbentuk. Dimana Alya mulai menunggu pesan dari Zidan di sela-sela kesibukannya. Sedangkan Zidan, meski tetap dengan gaya singkatnya, mulai terbiasa membuka percakapan lebih dulu.
Mungkin tidak sering.
Tidak panjang.
Tapi cukup untuk membuat keduanya sadar bahwa ta’aruf ini benar-benar sedang berjalan.
****************
Pagi itu, Alya baru saja selesai membantu Umi di dapur, setelah itu seketika ponselnya bergetar.
Zidan: “ Kamu sibuk ? ”
Alya menatap layar itu sejenak sebelum membalas.
Alya: “ Sedikit, baru selesai bantu Umi didapur. Ada apa ? Ada hal yang penting ? ”
Beberapa detik kemudian pesan masuk lagi.
Zidan: “ Nggak ada. Cuma nanya. ”
Alya tersenyum kecil tanpa sadar.
Sederhana.
Tetap seperti Zidan.
Sedangkan di sisi lain, Zidan sedang duduk di kamarnya. Ponsel di tangannya ia putar-putar pelahan lahan, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Temannya sempat bertanya tadi malam.
“ Lo serius Zid lanjut ta’aruf itu ! Lo mau lanjutin perjodohan dari orang tua Lo ? ”
Zidan hanya menjawab singkat,
“ Ya, Jalanin aja dulu. ”
Tapi bahkan Zidan sendiri tidak tahu kenapa ia masih “ menjalani ”, bukan “ mengakhiri ” saja , karena sebenarnya tipe dia bukan wanita sholehah kayak Alya , tetapi masalahnya dia merasa penasaran sama cewek itu.
Sore harinya, ketika Alya sedang duduk di perpustakaan kampus, ponselnya kembali bergetar.
Zidan: “ Gue lagi kepikiran. ”
Alya sedikit mengernyit kepalanya.
Alya: “ Kepikiran apa? ”
Lama tidak ada balasan.
Alya menunggu dengan tenang, seperti biasa. Tidak terburu-buru.
Hingga akhirnya pesan itu masuk.
Zidan: “ Ini ta’aruf… ternyata nggak sesimpel yang gue pikir. ”
Alya membaca pesan itu perlahan.
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia mengetik pelan.
Alya: “ Iya… memang ta'aruf itu tidak selalu mudah. Tapi itu bukan berarti tidak bisa dijalani. ”
Kali ini, balasan Zidan datang lebih cepat.
Zidan: “ Lo selalu jawabnya gitu ya. Tenang mulu ”
Alya tersenyum kecil.
Alya: “ Karena panik tidak membuat sesuatu menjadi lebih jelas. ”
Zidan menghela napas pelan.
Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti menyinggung dirinya tanpa menghakimi.
Dan itu…...baru pertama kali ia merasa begitu.
Percakapan mereka memang tidak panjang.
Tidak ada topik besar.
Tidak ada pembahasan mendalam.
Hanya hal-hal kecil.
Namun justru dari hal kecil itu, sesuatu mulai terbentuk perlahan.
Bukan cinta.
Bukan juga sekadar perjodohan.
Tapi… pemahaman yang mulai tumbuh di antara dua orang yang masih belajar mengenal satu sama lain.
Dan di antara jarak yang belum benar-benar dekat itu. Ia mulai belajar memahami Zidan.
Sementara Zidan…
Mulai belajar bahwa tidak semua hal bisa ia jawab dengan “oke” saja.