Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Artefak Kuno di Bawah Tanah Vatikan
Keheningan malam di Roma selalu terasa berbeda jika kau berada di dekat tembok-tembok Vatikan. Ada rasa berat yang menggantung di udara, sebuah beban sejarah yang tersimpan di balik pilar-pilar marmer dan rahasia yang terkubur ratusan kaki di bawah tanah. Bagi Bianca, tempat ini biasanya hanya objek wisata tempat ia berfoto selfie dengan latar belakang Basilika Santo Petrus. Namun malam ini, ia berada di sini untuk urusan yang jauh lebih gelap.
Lorenzo—dalam tubuh Bianca—berjalan dengan langkah yang sangat tenang, meski ia harus berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berjalan terlalu maskulin. Di sampingnya, Bianca—dalam tubuh Lorenzo—mengenakan setelan jas hitam custom-made yang membuatnya terlihat sangat berwibawa, jika saja ia tidak terus-menerus membetulkan posisi kerah bajunya karena merasa gatal.
"Mas Lorenzo, yakin kita harus masuk lewat sini? Ini kan lubang pembuangan air," bisik Bianca sambil menatap sebuah jeruji besi tua di sudut tersembunyi dekat Tembok Vatikan.
"Ini bukan saluran air biasa, Bianca," sahut Lorenzo dingin. "Ini adalah jalur tikus kuno yang digunakan oleh keluarga De Luca dan faksi rahasia gereja sejak abad ke-16. Di bawah sana tersimpan sebuah artefak yang disebut L'Anima di Vetro—Jiwa dari Kaca. Menurut catatan rahasia klan, artefak itulah yang menjadi penyebab fenomena pertukaran jiwa jika terjadi anomali elektromagnetik di katedral."
Bianca menelan ludah. "Jadi, kalau kita nemu kaca itu, kita bisa balik lagi?"
"Secara teori, ya. Tapi kita tidak sendiri. Klan Rosanera sudah mengincar tempat ini sejak lama."
Dante dan Valerio menunggu di dalam mobil van yang tersembunyi beberapa blok dari sana, memantau frekuensi radio penjaga Vatikan. Lorenzo mengeluarkan sebuah kunci perak kuno dari saku jaketnya—kunci yang telah diwariskan turun-temurun. Dengan satu putaran yang mantap, jeruji besi itu terbuka tanpa suara.
Mereka turun melewati tangga spiral yang sempit dan berlumut. Bau tanah basah dan kertas tua menyeruak. Semakin dalam mereka melangkah, suhu udara semakin turun secara drastis.
"Mas, kok suasananya kayak di film horor ya? Habis ini nggak bakal ada mumi keluar kan?" tanya Bianca sambil memegang erat lengan Lorenzo.
"Jangan konyol. Fokus pada langkahmu. Jika kau menginjak ubin yang salah, mekanisme pertahanan kuno akan meluncurkan panah ke lehermu."
Bianca langsung membeku. "Panah?! Mas, saya belum mau mati di bawah tanah Vatikan! Saya belum sempat makan pizza rasa rendang yang saya janjikan buat diri saya sendiri!"
"Diamlah, Bianca! Kita sudah sampai."
Mereka tiba di sebuah pintu perunggu raksasa yang dihiasi relief malaikat yang sedang menangis. Di tengahnya terdapat lubang kecil yang pas dengan cincin yang dipakai di jari manis Lorenzo. Bianca (tubuh Lorenzo) memasukkan jarinya ke lubang itu. Terdengar suara mekanisme gigi roda yang berputar berat, dan pintu itu terbuka perlahan, menyingkapkan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ribuan naskah kuno dan benda-benda antik.
Di tengah ruangan, di atas sebuah altar marmer, terdapat sebuah kotak kaca yang memancarkan cahaya biru redup. Di dalamnya ada sebuah bola kristal bening yang tampak seperti berisi cairan yang terus berputar. Itulah L'Anima di Vetro.
"Itu dia," bisik Lorenzo dengan nada takjub yang jarang ia tunjukkan. "Legenda itu nyata."
Namun, tepat saat Bianca hendak melangkah maju, suara tepuk tangan bergema dari sudut ruangan yang gelap.
"Indah sekali, bukan? Sebuah warisan yang seharusnya tidak dimiliki oleh klan mafia seperti De Luca."
Seorang wanita keluar dari kegelapan. Ia mengenakan gaun sutra hitam yang ketat dengan cadar tipis menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Bianca (tubuh Lorenzo).
"Isabella Moretti," desis Lorenzo (tubuh Bianca) dengan kebencian murni.
Isabella tersenyum tipis, sebuah senyuman yang cantik namun mematikan. Di belakangnya, muncul empat orang pria bersenjata lengkap dari klan Rosanera. "Lorenzo, sayangku... atau haruskah aku memanggilmu dengan nama lain? Kau terlihat sangat... berbeda sejak kejadian di katedral. Cara kau berdiri, cara kau menatapku... tidak seperti pria yang pernah kutunangankan."
Bianca (tubuh Lorenzo) mencoba tetap tenang, meski lututnya terasa seperti jeli. "Isabella! Kamu... kamu cantik banget ya aslinya. Tapi kok jahat sih pakai kirim penembak jitu segala? Itu nggak sopan tahu!"
Isabella mengernyitkan dahi. "Apa? Sopan? Sejak kapan seorang Lorenzo De Luca bicara soal kesopanan? Dan siapa wanita mungil di sampingmu itu? Kenapa dia menatapku seolah ingin mengulitiku hidup-hidup?"
Lorenzo (tubuh Bianca) melangkah maju, tangannya sudah siap di balik saku jaket, memegang pisau lipat. "Isabella, hentikan kegilaan ini. Artefak ini bukan milikmu. Jika kau menyentuhnya tanpa ritual yang benar, kau hanya akan memicu bencana."
"Bencana adalah nama tengahku, Manis," balas Isabella. "Serahkan kristal itu sekarang, atau aku akan memastikan ruangan ini menjadi makam kalian berdua."
Suasana menjadi sangat tegang. Empat pengawal Isabella mengarahkan senjata mereka ke arah Bianca. Bianca, dengan insting semprulnya, tiba-tiba mendapatkan ide gila. Ia teringat bahwa ruangan ini dipenuhi dengan naskah-naskah tua yang sangat kering.
"Eh, Isabella! Lihat tuh di belakang kamu! Ada tikus raksasa pakai topi uskup!" teriak Bianca sambil menunjuk ke arah berlawanan.
Taktik kuno itu tentu tidak berhasil pada Isabella, tapi itu memberikan waktu sedetik bagi Lorenzo (tubuh Bianca) untuk melemparkan sebuah bom asap kecil ke lantai.
PUFF!
Asap abu-abu pekat memenuhi ruangan dalam sekejap.
"Tembak mereka!" teriak Isabella.
Suara tembakan membabi buta terdengar, namun peluru-peluru itu hanya menghantam rak-rak buku tua. Lorenzo menarik tangan Bianca menuju altar. "Ambil kristalnya, Bianca! Sekarang!"
Bianca meraba-raba di tengah asap, tangannya menyentuh kotak kaca yang dingin. Tanpa berpikir panjang, ia memukul kotak itu dengan siku lengan Lorenzo yang kuat hingga pecah. Begitu tangannya menyentuh bola kristal tersebut, sebuah sengatan listrik yang hebat menjalar ke seluruh tubuhnya.
"WAAAA! Mas! Rasanya kayak kesetrum raket nyamuk!" teriak Bianca.
Cahaya biru dari kristal itu meledak, menerangi seluruh ruangan dengan intensitas yang membutakan. Isabella dan anak buahnya terlempar ke dinding karena gelombang kejut yang dihasilkan.
Di tengah cahaya itu, Bianca merasa jiwanya seperti ditarik keluar melalui sebuah sedotan raksasa. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, bayangan Lorenzo, dan ribuan memori yang berputar-putar seperti angin puyuh. Ia melihat masa kecil Lorenzo di Italia, dan masa kecilnya sendiri di sebuah desa kecil di Indonesia.
"Mas Lorenzo! Pegang tangan saya!" teriak Bianca di tengah kekacauan dimensi itu.
Lorenzo mencoba menggapai tangan Bianca. Namun, tepat sebelum jari mereka bersentuhan, sebuah suara ledakan keras terdengar dari arah pintu masuk. Dante dan Valerio merangsek masuk dengan granat gas air mata.
"LORENZO! KELUAR DARI SANA!" teriak Valerio.
Cahaya biru itu perlahan meredup. Asap mulai menipis. Bianca (tubuh Lorenzo) jatuh terduduk di depan altar, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat ke arah tangannya. Masih besar. Masih berbulu.
"Yah... kok belum balik?" gumam Bianca kecewa.
Ia menoleh ke arah Lorenzo (tubuh Bianca). Lorenzo tampak sangat lemas, wajahnya pucat pasi. Kristal di tangan Bianca kini telah berubah menjadi hitam pekat dan tidak lagi bercahaya.
"Isabella kabur!" teriak Dante sambil memeriksa sudut ruangan yang kosong. "Dia membawa beberapa naskah penting, tapi dia gagal mengambil kristalnya."
Valerio menghampiri kakaknya. "Kau tidak apa-apa? Kau terlihat seperti baru saja bertarung dengan hantu."
Bianca berdiri, membersihkan debu dari jasnya. "Saya nggak apa-apa, Val. Cuma tadi... tadi kristalnya agak genit, nyetrum-nyetrum gitu."
Dante mengambil kristal hitam itu dari tangan Bianca menggunakan kain khusus. "Benda ini sudah mati. Energinya habis. Lorenzo, apa yang kau lakukan tadi?"
Lorenzo (tubuh Bianca) bangkit dengan susah payah. "Dia menyentuhnya. Sepertinya kristal ini membutuhkan frekuensi tertentu untuk bekerja, dan Bianca baru saja mengonsumsinya secara tidak sengaja."
"Mengonsumsi? Maksud kamu saya makan kristal ini?!" tanya Bianca panik. "Duh, nanti saya bab-nya keluar berlian dong?"
Dante menatap kakaknya dengan pandangan yang sangat aneh. "Lupakan soal itu. Kita harus segera pergi. Penjaga Vatikan akan sampai di sini dalam lima menit."
Perjalanan pulang di dalam van terasa sangat sunyi. Bianca terus-menerus memperhatikan tangannya, berharap tiba-tiba mengecil. Lorenzo hanya duduk diam, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Mas Lorenzo," bisik Bianca saat Dante dan Valerio sibuk di depan. "Maaf ya. Gara-gara saya, alatnya jadi rusak. Kita jadi nggak bisa balik."
Lorenzo menoleh perlahan. Ia melihat kesedihan yang tulus di mata Bianca—mata yang sebenarnya adalah miliknya sendiri. Untuk pertama kalinya, Lorenzo tidak merasa marah. Ia merasa... lelah, namun ada sesuatu yang lain.
"Kristal itu tidak rusak, Bianca," ucap Lorenzo pelan. "Ia hanya sedang beradaptasi. Aku merasakannya tadi. Saat cahaya itu meledak, ada bagian dari dirimu yang tertinggal di dalamku, dan ada bagian dari diriku yang kini menetap di dalammu. Kita bukan lagi sekadar dua jiwa yang tertukar posisi."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kita sekarang terhubung secara permanen. Jika kau terluka, aku mungkin akan merasakannya. Dan jika kau merasa takut... aku akan tahu."
Bianca terdiam. Ia membayangkan betapa rumitnya hidup ke depan jika ia harus berbagi perasaan dengan seorang bos mafia berdarah dingin. "Berarti kalau saya kangen sambal terasi lagi, Mas juga bakal ngerasa?"
Lorenzo sedikit tersenyum—sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat cantik di wajah Bianca. "Sayangnya, sepertinya begitu."
Malam itu, di bawah tanah Vatikan, mereka mungkin gagal mendapatkan tubuh mereka kembali. Namun, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah rahasia kuno yang mengikat nasib mereka lebih erat dari sekadar janji atau kontrak.
Sementara itu, di sebuah tempat persembunyian rahasia, Isabella Moretti menatap naskah yang berhasil ia curi. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Jadi, kristal itu hanya bisa diaktifkan kembali dengan darah dari kedua pemilik jiwa yang tertukar? Menarik. Sangat menarik."
Isabella mengambil sebuah belati perak dan menggoreskan ujungnya ke peta Palazzo De Luca. "Bersiaplah, Lorenzo. Jika aku tidak bisa memilikimu, aku akan memiliki jiwamu... secara harfiah."
Di dalam van yang melaju menembus malam Roma, Bianca tiba-tiba menggigil. Ia merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya. Ia tidak tahu bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar kekuasaan, melainkan esensi dari keberadaan mereka sendiri.
"Mas Lorenzo," panggil Bianca lagi.
"Apa lagi?"
"Kalau nanti kita beneran terhubung, tolong ya... jangan sering-sering mikirin hal-hal serem pas saya lagi tidur. Saya nggak mau mimpi buruk soal penembak jitu terus."
Lorenzo menghela napas, menutup matanya. "Akan kucoba, Bianca. Akan kucoba."
......................
Glosarium Bahasa Italia di Bab Ini:
L'Anima di Vetro: Jiwa dari Kaca (Artefak fiktif).
Il Mercato d'Ombra: Pasar Bayangan.
Maledizione: Terkutuk.
Vaticano: Vatikan.
San Pietro: Santo Petrus.
Basilica: Basilika (Gereja besar).