Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 011
Dunia di balik tirai putih UKS itu akhirnya terganggu oleh suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang malas. Ziva mengerjap, merasakan sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut berat di kelopak matanya. Ia meregangkan tubuhnya, otot-ototnya terasa kaku namun pikirannya jauh lebih rileks daripada pagi tadi.
Ia menoleh ke samping. Brankar di sebelahnya sudah kosong. Selimut tipis milik Aksa terlipat rapi, menyisakan keharuman maskulin yang samar bercampur dengan bau obat-obatan khas ruangan itu.
"Udah bangun?"
Suara berat itu muncul dari arah meja petugas UKS. Ziva sedikit tersentak, mendapati Aksa sedang duduk di kursi kayu sambil membolak-balik sebuah majalah kesehatan lama. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan, memberinya kesan yang jauh lebih manusiawi.
Ziva mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. "Jam berapa sekarang?" Tanya-nya.
"Setengah empat. Bel pulang udah bunyi sepuluh menit yang lalu," jawab Aksa tanpa mengalihkan pandangan dari majalah.
"Gila..." Ziva melongo. "Gue tidur lama banget? Lo nggak masuk kelas jam terakhir?"
Aksa menutup majalahnya, lalu berdiri. "Nggak. Tanggung."
Ziva hanya bisa menggelengkan kepala. Cowok ini benar-benar definisi sultan sekolah sesungguhnya. Membolos satu jam pelajaran demi menemani orang asing—oke, bukan menemani, tapi demi tidur siang bersama—adalah hal yang sangat tidak masuk akal jika ini adalah dunia nyata. Tapi ya sudahlah, di dunia novel ini, logika memang sering nomor dua setelah estetika.
Ziva turun dari brankar, merapikan hoodie-nya yang sedikit kusut. Mereka berdua berjalan keluar dari UKS. Koridor sekolah sudah mulai sepi, hanya ada beberapa siswa yang berteduh atau sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Aroma tanah basah karena hujan sore meresap masuk melalui ventilasi, menciptakan suasana yang melankolis.
"Mobil lo di mana?" tanya Aksa saat mereka sampai di lobi sekolah.
"Di parkiran biasa. Harusnya Pak Jajang udah nunggu," sahut Ziva sambil merogoh ponselnya.
Namun, saat ia membuka aplikasi pesan, sebuah notifikasi dari Pak Jajang muncul sepuluh menit yang lalu.
[Pak Jajang]: Non Ziva, maaf sekali, ban mobil kita kena paku pas Bapak mau jemput. Sekarang lagi di bengkel dekat gerbang belakang. Mungkin satu jam lagi baru selesai. Non mau Bapak pesankan taksi atau tunggu di sekolah?
Ziva menghela napas panjang, bahunya merosot. "Nasib... bener-bener lagi nggak bersahabat."
"Kenapa?" Aksa berhenti melangkah, menatap Ziva yang wajahnya mendadak lesu.
"Mobil gue bannya bocor. Pak Jajang lagi di bengkel," keluh Ziva. Ia menatap rintik hujan di luar dengan tatapan kosong. "Gue rasa gue emang ditakdirkan buat tinggal di sekolah ini selamanya."
Aksa diam sejenak, matanya mengikuti arah pandang Ziva ke luar. Hujan makin menderas, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan mereka ke parkiran.
"Ikut gue," ucap Aksa singkat.
"Hah? Ke mana?"
"Gue anter. Daripada lo nunggu sejam di sini, entar pingsan beneran gara-gara laper."
Ziva menimbang-nimbang. Di satu sisi, ia ingin menolak karena tidak ingin menambah keributan gosip di sekolah. Di sisi lain, bayangan kasur empuk dan martabak sisa semalam di rumah jauh lebih menggoda daripada duduk di bangku lobi yang keras.
"Naik motor?" tanya Ziva ragu.
"Hm." Aksa sudah mulai melangkah menuju area parkir motor sport yang tertutup kanopi.
Ziva mengikuti di belakang dengan langkah diseret. "Aksa, lo sadar nggak sih kalau kita boncengan, besok satu sekolah bakal ngira kita mau tunangan?"
Aksa berhenti sebentar, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan sepenuhnya. "Biarin aja. Mereka emang kurang kerjaan."
Saat mereka sampai di area parkir, sebuah kejutan lain sudah menunggu. Di bawah kanopi, Reygan sedang berdiri menyandar di pilar, seolah memang sedang menunggu seseorang. Di sampingnya, Liana tampak memegangi payung dengan wajah cemas.
Reygan langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Ziva dan Aksa berjalan beriringan. Matanya berkilat marah melihat Ziva yang tampak begitu santai berada di dekat Aksa.
"Ziva! Dari mana aja lo? Gue cari ke UKS tadi udah dikunci!" Reygan menghadang jalan mereka.
Ziva memutar bola matanya. "Alamat drama seri kedua..." gumamnya pelan. "Udah dibilang gue lagi istirahat, Rey. Lo nggak paham bahasa manusia?"
"Gue mau bahas tugas kelompok kita! Liana udah buat drafnya, lo tinggal bagian—"
"Besok, Reygan," potong Aksa dengan nada yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Ziva. "Dia mau pulang."
"Gue sepupunya Daren, Aksa! Gue tahu lo pemimpin Black Eagle, tapi lo nggak berhak ngatur siapa yang boleh bicara sama Ziva!" suara Reygan meninggi, membuat beberapa murid yang masih ada di sekitar sana menoleh penasaran.
Ziva menghela napas, ia maju selangkah dan menatap Reygan dengan tatapan paling bosan yang ia miliki. "Rey, denger ya. Lo mau bahas tugas? Oke. Kirim drafnya ke grup. Gue baca nanti malam. Sekarang, gue capek, gue mau pulang, dan mobil gue rusak. Jadi tolong, jangan bikin kepala gue makin pusing."
"Gue bisa anter lo pulang, Ziv! Gue bawa mobil," tawar Reygan cepat, seolah ingin menunjukkan bahwa dia lebih bisa diandalkan daripada Aksa.
Ziva melirik motor sport hitam Aksa yang terparkir gagah, lalu melirik Reygan.
"Nggak perlu," sahut Ziva tenang. "Gue udah janji bareng Tiang Listrik ini. Lebih cepet nyampe kalau lewat jalan tikus pas hujan."
Reygan mematung. Kata-kata Ziva seperti tamparan keras yang membungkam egonya. Ziva, gadis yang dulu bahkan rela kehujanan hanya demi memberinya cokelat, sekarang lebih memilih naik motor menembus hujan bersama cowok lain daripada naik mobil mewah bersamanya.
Aksa tidak membuang waktu. Ia menaiki motornya, memakai helm, lalu memberikan satu helm cadangan berwarna hitam polos kepada Ziva.
"Naik," perintah Aksa.
Ziva memakai helm itu, lalu naik ke boncengan motor sport Aksa dengan gerakan yang agak kikuk. Ia memegang pundak Aksa sebentar untuk menjaga keseimbangan.
"Pegangan yang bener kalau nggak mau jatuh," gumam Aksa dari balik helm.
Ziva terpaksa memegang pinggang jaket kulit Aksa. Ia sempat melirik Reygan dan Liana yang masih berdiri mematung di sana. Liana menatap mereka dengan tatapan sedih, sementara Reygan tampak seperti ingin meledak.
...VROOOM!...
Aksa memacu motornya keluar dari area parkir, menembus rintik hujan yang mulai mereda. Ziva menyandarkan kepalanya sedikit di punggung Aksa, merasakan kehangatan dari jaket kulit cowok itu. Di bawah langit sore yang abu-abu, Ziva merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, transmigrasi ini tidak seburuk yang ia bayangkan jika ia punya "asuransi" sekuat Aksa di sampingnya.
lanjut ya thor... 🤧