Hana Wanita yang di Hamili mantanya, namun dia menikah dengan anak SMA yang patah hati di tinggal nikah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Hana, ibu, dan ayahnya kini sudah selesai bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Aldo bersama keluarganya. Meskipun sebelumnya Hana sempat berbicara kepada orang tuanya, mereka hanya menurut pada apa yang Hana inginkan. Beberapa saat kemudian, Aldo dan keluarganya pun mengetuk pintu rumah Hana.
Tok... tok...
Ibu Hana langsung berdiri dan melangkah menuju pintu depan untuk membukanya. Setelah pintu terbuka, ibu Hana mempersilakan Aldo dan keluarganya masuk. Mereka lalu menuju kursi ruang tamu.
Mereka duduk bersama-sama. Orang tua Aldo dengan sopan membicarakan tentang Aldo dan Hana yang sudah lama saling suka. Ayah Aldo yang membicarakan hal itu, meskipun kenyataannya Aldo dan Hana baru beberapa minggu dekat. Kedua orang tua Hana terkejut dengan apa yang dibicarakan ayah Aldo karena mereka tidak pernah mengetahui kedekatan Hana dengan Aldo.
Rencana pertunangan berjalan begitu cepat. Aldo dan Hana hanya saling menatap dan menjawab ketika ditanya oleh orang tua mereka. Pertunangan mereka terus berlanjut. Kedua orang tua Hana tidak bisa berkata-kata atau menolak apa yang diinginkan anaknya, karena Hana yang menentukan pilihannya dan orang tuanya hanya mengikutinya.
Sambil mengobrol dan membicarakan hari pernikahan, Hana sempat berbicara kembali kepada orang tuanya dengan terus terang, karena Hana tidak ingin berlama-lama untuk menikah dengan Aldo.
"Pa, Mamah, Hana tidak mau menikah dengan mewah, tapi Hana ingin menikah dengan Aldo secara sah," ucap Hana.
"Ibu nurut saja sama apa yang kamu inginkan, Hana. Ibu ingin yang terbaik bagimu," ucap ibu Hana.
"Tapi, Mah, Pah, Hana ingin mempercepat pernikahan dengan Aldo, kalau bisa minggu depan atau besok," ucap Hana.
"Tidak bisa begitu, Hana. Bapak tahu menikah itu cepat, tapi yang harus dipersiapkan itu sangat sulit dan banyak," ucap ayah Hana.
"Tidak apa-apa, Pa, Mah. Hana dan Aldo langsung menikah di KUA saja. Yang penting Hana dan Aldo bisa sah menjadi suami dan istri," ucap Hana.
"Kenapa, Hana, kamu ingin cepat-cepat menikah dengan Aldo?" tanya ibu Hana.
"Iya, nih. Hana sama Aldo pengen banget cepat-cepat nikah," sahut ibu Aldo.
"Bukan begitu, Mah, Pak, Om, Tante. Aldo juga paham apa yang dirasakan Hana. Mungkin Hana karena tidak ingin berlama-lama, karena Aldo dan Hana sudah tidak tahan untuk hidup bersama-sama," ucap Aldo dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu, Aldo. Nanti Bapak minta tolong teman Bapak untuk membantu pengurusan persyaratannya," ucap ayah Hana.
"Terima kasih, Papa," ucap Hana.
Kini mereka mulai berpamitan untuk pulang ke rumah. Sementara itu, Hana langsung menuju kamarnya. Hingga di depan kamar, Hana membukanya lalu masuk. Dia langsung menuju ranjang dan berbaring sambil tersenyum atas apa yang dia rasakan karena akan bisa menutupi semua masalahnya.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa Aldo sudah sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya. Aldo pun duduk di ranjang. Dia tersenyum saat melihat Hana saat bertemu dengan keluarganya. Hana terlihat begitu cantik di matanya.
Hari-hari terus berlalu sampai sebuah pertemuan keluarga Aldo dan Hana kembali datang. Kini keluarga Hana membicarakan sebuah hari pernikahan di kantor KUA. Kedua orang tua mereka langsung membicarakannya bersama-sama hingga tanggal pernikahan pun ditentukan. Mereka tidak lama lagi akan menikah langsung tanpa sebuah acara meriah yang akan diadakan di kantor KUA, hanya dengan keponakan dan saudara-saudara dari keluarga mereka.
Aldo dan Hana juga mulai merasa lega karena pernikahan akan berjalan dalam beberapa hari lagi. Meskipun di kantor, Hana tetap bahagia. Hari-hari terus berlalu, hingga kini Aldo dan Hana bersama keluarga mereka masing-masing mulai berangkat untuk menuju kantor KUA.
Perjalanan ke kantor tidak terlalu jauh dari keberadaan rumah mereka. Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di kantor KUA. Aldo, Hana, serta keluarganya mulai beriringan melangkahkan kaki untuk menuju ke dalam kantor. Mereka masuk ke dalam, dan acara serta janji suci mereka pun langsung dimulai tanpa berpanjang lebar.
Beberapa lama mereka melakukan pernikahan secara sah, meskipun sederhana. Kini mereka pun mulai kembali menuju kendaraan untuk langsung pulang menuju rumah Hana. Di rumah Hana, mereka mulai mengobrol bersama-sama. Aldo ditarik oleh Hana untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Bukan karena hal lain, Hana menarik Aldo karena dia ingin berbicara berdua.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar milik Hana. Saat berada di dalam kamar, Hana meneteskan air matanya sambil melihat ke arah Aldo. Hana merasa begitu bahagia.
"Terima kasih... aku bisa menutupi kesalahanku ini karenamu. Aku jangan pernah bicara tentang kehamilanku ini. Aku janji akan memberikan kasih sayangku kepadamu dengan tulus, dan akan memberikan semua yang kamu inginkan," ucap Hana sambil menatap ke arah Aldo.
"Jangan menangis. Karena sudah begini adanya, kamu harus terima kenyataan. Aku janji tidak akan membicarakan ini kepada siapa pun. Cukup kita berdua saja," ucap Aldo.
Hana pun mendekat dan memeluk Aldo sambil berbicara dan menangis. Di pelukan Aldo, Hana merasa begitu bahagia.
"Terima kasih, Aldo," ucap Hana.
"Sama-sama, Hana. Aku takut akan menyakitkan jika menjadi dirimu. Aku akan menerima kenyataannya," ucap Aldo.
"Apa yang kamu mau dariku, sayang?" ucap Hana sambil tersenyum menggoda Aldo.
"Aku tidak ingin apa pun. Aku ingin merasakan malam nanti untuk pertama kalinya tidur bersamamu," ucap Aldo.
"Aku akan memberikan keinginan yang kamu mau," ucap Hana.
Waktu terus berlalu. Hana dan Aldo mulai berganti pakaian. Mereka pun dengan pakaian sederhana mulai ikut bergabung di meja makan yang berada di ruang dapur. Sedangkan keluarga Aldo sudah pulang lebih awal. Kini mereka mulai menikmati masakan yang dimasak oleh ibu Hana. Hana dan Aldo saling bertatapan begitu tajam, karena baru pertama kali melihat Aldo bersama keluarganya. Aldo pun sama. Namun, Aldo sedikit malu saat menikmati makanan yang dimasak oleh ibu Hana. Ibu dan ayah Hana saling bertatap melihat sikap Aldo dan Hana yang saling berpandangan.