"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.
Suasana di luar mobil berubah menjadi mencekam. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, aku melihat sosok Darrel yang berbeda. Tidak ada lagi sisa-sisa pria yang semalam merancau kesakitan; yang ada hanyalah seorang predator yang dingin. Dia berdiri tegak, memegang senjatanya dengan kemantapan yang menakutkan.
Tiga pria turun dari mobil SUV hitam itu, semuanya membawa senjata tajam dan api. Namun, Darrel justru melangkah maju dengan santai.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan Darrel tanpa ragu, mengenai bahu lawan hingga mereka terjerembap. Saat pria ketiga mencoba menerjangnya, Darrel menghindar dengan gerakan atletis, lalu menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis lawan. Dia bertarung sendirian dengan efisiensi yang mematikan, seolah-olah pertumpahan darah adalah rutinitas paginya.
Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil lain terdengar mendekat. Puluhan pria berseragam hitam turun dengan senjata laras panjang. Musuh yang tersisa, menyadari bahwa mereka kalah jumlah dan kekuatan, segera mundur kembali ke mobil mereka dan memacu kendaraan itu melarikan diri ke dalam kegelapan.
Pintu mobil terbuka. Darrel masuk ke kursi kemudi dengan napas yang sedikit memburu. Bau mesiu menyengat masuk ke dalam kabin. Aku melihat lengannya; kain jas mahalnya robek dan darah segar merembes cepat, membasahi kemeja putihnya.
"Darrel! Lenganmu!" teriakku histeris, tanganku gemetar hendak menyentuhnya.
"Diamlah, Lily. Ini hanya goresan," sahutnya tajam, meski wajahnya mulai sedikit pucat.
Seorang pria dengan wajah tegas—Leo, asisten pribadinya—menghampiri kaca mobil. Ia tampak sangat cemas. "Tuan Muda, Anda terluka. Biarkan saya yang mengambil alih kemudi. Anda harus segera ke kursi belakang."
Darrel sempat terdiam sejenak, lalu ia mendesis menahan perih. Akhirnya, ia keluar dan berpindah ke kursi belakang, tepat di sampingku. Leo segera masuk ke kursi pengemudi dan memacu mobil menuju mansion.
"Kita ke Rumah Sakit Pusat sekarang, Leo," perintah Leo pada dirinya sendiri.
"Tidak," potong Darrel cepat. Suaranya rendah namun penuh otoritas. "Bawa aku ke mansion."
"Tapi Tuan, peluru itu mungkin masih di dalam—"
"Aku bilang mansion, Leo! Lakukan!" bentak Darrel.
Leo hanya bisa menelan ludah dan menjawab, "Baik, Tuan."
Di kursi belakang, suasana begitu tegang. Darrel melepaskan jasnya dengan kasar, memperlihatkan luka tembak di lengan atasnya. Lubang kecil itu terus mengeluarkan darah. Tanpa suara, ia hanya menekan luka itu kuat-kuat dengan telapak tangannya sendiri, mencoba menghentikan pendarahan.
Aku tidak tahan melihatnya. Rasa takutku pada pria ini sesaat kalah oleh rasa kemanusiaan. Aku merogoh tas kecilku, mengambil sapu tangan sutra, dan mencoba mendekat.
"Darrel, biarkan aku membantumu menahannya. Darahnya terlalu banyak," bisikku, tanganku terulur ragu.
Baru saja ujung jariku menyentuh lengan bawahnya, Darrel menyentak tangannya menjauh. Ia menatapku dengan mata yang dingin dan menusuk, seolah aku adalah kuman yang menjijikkan.
"Jangan sentuh aku," desisnya.
"Tapi kau terluka karena melindungiku..."
"Aku melakukannya untuk kepentinganku sendiri, bukan untukmu. Jangan merasa spesial, Lily," sahutnya ketus. Ia kembali memalingkan wajah, menatap ke luar jendela dengan rahang yang mengeras.
Setiap kali mobil melewati lubang atau berbelok tajam, aku bisa melihat otot lehernya menegang menahan sakit, namun tidak ada satu pun rintihan yang keluar dari mulutnya. Ia bersikap seolah luka itu tidak ada, seolah ia terbuat dari batu.
**
Mobil berhenti dengan decit rem yang tajam di pelataran mansion. Leo dengan sigap membukakan pintu dan membopong Darrel yang wajahnya kini mulai sepucat kertas. Mereka langsung menuju ruang kerja pribadi Darrel di lantai dua, sementara aku mengekor di belakang dengan perasaan tidak menentu.
"Leo, kotak medis di lemari bawah. Cepat!" perintah Darrel sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran yang terbuat dari kulit hitam.
Leo segera membawakan kotak perak besar berlogo medis. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kehilangan darah, Darrel membuka kotak itu. Ia mencari-cari sesuatu di antara botol-botol kecil, namun gerakannya tiba-tiba terhenti. Ia berdesis kasar, sebuah umpatan keluar dari mulutnya.
"Sialan. Stok anestesi lokalnya habis. Obat biusnya kosong, Leo."
Leo terbelalak. "Kosong? Tuan, saya akan segera ke apotek terdekat atau memanggil dokter klan—"
"Tidak ada waktu!" potong Darrel. Napasnya mulai pendek-pendek. "Aku harus mengeluarkan peluru ini sekarang sebelum terjadi infeksi atau pendarahan dalam."
Tanpa pikir panjang, Darrel mengambil sebuah skapel bedah yang berkilat tajam di bawah lampu meja. Aku menutup mulutku dengan tangan, mataku membelalak ngeri saat melihat Darrel mengarahkan pisau itu ke lengannya sendiri yang sudah berlubang.
Srett!
Ia menyayat jaringan di sekitar luka tembak itu tanpa ragu. Darrel mengerang tertahan, suaranya terdengar seperti hewan yang terluka. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahinya. Ia mencoba menjepit peluru yang bersarang di dalam dagingnya menggunakan pinset bedah, namun tangannya mulai gemetar hebat karena syok traumatik pada tubuhnya.
"Tuan, biarkan saya yang melakukannya," ucap Leo panik.
"Kau... kau tidak tahu anatomi, Leo. Kau bisa memotong arteriku," bisik Darrel parau. Pinset di tangannya berdenting jatuh ke lantai. Ia kesulitan. Ia tidak bisa melakukannya sendiri dengan satu tangan yang berfungsi.
Aku melangkah maju. Rasa takut yang sedari tadi melumpuhkanku mendadak berubah menjadi dorongan untuk bertindak. Aku tidak bisa membiarkannya mati di depanku.
"Biar aku yang melakukannya," suaraku terdengar lebih mantap dari yang kubayangkan.
Darrel mendongak, menatapku dengan mata yang mulai kabur namun tetap penuh keraguan. "Kau? Jangan konyol, Lily."
aku mendekat dan mengambil pinset yang baru dari dalam kotak. "Kau yang arahkan aku. Beritahu aku apa yang harus kulakukan."
"Lily, ini bukan permainan. Jika kau salah sedikit saja—"
"Jika aku tidak melakukannya, kau akan kehabisan darah di kursi ini!" bentakku, membuat Leo dan Darrel terdiam. "Percaya padaku, Darrel. Aku bisa."
Aku benar-benar gemetar. Melihat daging yang terbuka dan darah yang terus merembes membuat perutku mual, namun aku memaksakan diriku untuk fokus. Aku berlutut di samping kursinya, memegang lengannya yang panas.
"Beri aku petunjuknya," bisikku padanya.
Darrel menatapku dalam-dalam selama beberapa detik, mencari sisa-sisa keraguan di matanya. Akhirnya, ia mengangguk lemah. "Ambil klem itu... bersihkan darahnya dulu agar kau bisa melihat posisinya. Pelurunya ada di dekat otot trisep... jangan ditarik paksa, goyangkan sedikit sampai terlepas dari jaringan..."
Aku menarik napas panjang, menstabilkan tanganku, dan mulai memasukkan ujung alat medis itu ke dalam lukanya. Setiap kali aku bergerak, Darrel mencengkeram pinggiran meja hingga kayu mahoni itu seolah hendak retak, namun ia tidak mengeluarkan suara lagi. Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara napas kami yang memburu dan denting alat medis yang saling bersentuhan.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya