Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHIANAT DIAMANKAN
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Dante berhenti sejenak, matanya menyapu wajah-wajah para pengkhianat di depannya satu per satu dengan tatapan amarah namun juga menyiratkan rasa kecewa yang mendalam.
"Selama ini aku pikir Uncle adalah orang yang bisa diandalkan, orang yang memegang teguh prinsip keluarga. Tapi ternyata, semua itu hanya topeng belaka. Kalian semua lebih mementingkan keuntungan pribadi dan ambisi kalian sendiri dibandingkan kebaikan organisasi dan keselamatan orang-orang di dalamnya." Dante menunjuk ke arah para pasukannya. "Tangkap mereka. Semuanya. Berikan perlakukan khusus pada Tuan Marco di sana, pastikan dia tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Dan amankan semua dokumen dan barang bukti yang ada di sini. Aku ingin semuanya rapi dan tidak ada yang hilang."
Para pasukan Dante segera bergerak cepat. Andreas, Rudolf, Thomson, serta rombongan Tuan Marco tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah saat kedua tangan mereka diborgol dan diikat. Wajah mereka kini pucat pasi penuh ketakutan dan penyesalan. Andreas menunduk dalam, tidak sanggup menatap mata keponakannya sendiri yang kini penuh kekecewaan.
"Maafkan aku, Dante!" gumam Andreas lirih, namun Dante pura-pura tidak mendengarnya. Baginya, kata maaf tidak akan cukup untuk menghapus dosa pengkhianatan yang telah mereka perbuat.
Setelah semua pengkhianat diamankan dan dibawa keluar dari gudang itu, Dante berdiri sendirian di tengah ruangan yang kini menjadi sepi dan kosong. Ia menghela napas panjang, merasakan beban berat yang sedikit terangkat dari pundaknya namun digantikan oleh rasa sedih yang mendalam. Masalah ini mungkin sudah selesai, tapi bekas luka yang ditinggalkannya tidak akan mudah hilang begitu saja.
Pak Herman menghampiri Dante dari belakang, wajahnya terlihat lega namun juga masih menyisakan kekhawatiran.
"Bagaimana sekarang, Tuan? Apa yang harus kita lakukan dengan mereka?" tanya Pak Herman pelan.
Dante menoleh, menatap langit-langit gudang yang sudah reyot itu. "Bawa mereka ke tempat penahanan sementara yang aman. Jangan perlakukan mereka secara kasar, tapi pastikan mereka tidak bisa kabur atau berkomunikasi dengan dunia luar. Besok pagi, aku akan memutuskan nasib mereka. Dan pastikan semua bukti yang kita dapatkan di sini disimpan dengan aman."
"Baik, Tuan. Saya akan urus semuanya," jawab Pak Herman, lalu undur diri untuk melaksanakan perintah tuannya.
Perjalanan pulang ke kediaman utama terasa sunyi senyap. Di dalam mobil mewahnya, Dante duduk diam menatap keluar jendela, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Pikirannya kembali melayang ke masa lalu, mengenang saat-saat indah bersama ayahnya dan Uncle Andreas saat mereka masih muda dan bersatu. Namun semua itu kini tinggal kenangan pahit yang takkan bisa kembali lagi.
Sesampainya di kediaman, suasana di dalam rumah itu terlihat tenang. Elara rupanya sudah menunggu di ruang tengah dengan wajah cemas yang masih belum hilang. Begitu melihat Dante masuk, wajah Elara langsung berubah menjadi lega. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri suaminya itu.
"Kau sudah pulang, Dante! Bagaimana keadaannya? Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Elara cepat sambil memegang lengan Dante, memeriksa apakah suaminya terluka atau tidak.
Dante tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat lelah dan dipaksakan. Ia mengangguk pelan. "Ya, semuanya sudah selesai. Pengkhianat itu sudah tertangkap. Dan... ternyata dugaanku benar, orang yang selama ini aku percayai ternyata menusukku dari belakang."
Wajah Elara mendadak cemas. "Siapa, Dante? Siapa orangnya?"
Dante menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara berat. "Uncle Andreas, uncle-ku sendiri. Bersama beberapa petinggi lama lainnya. Mereka bekerja sama dengan musuhku untuk menjatuhkanku dan mengambil alih kekuasaan."
Mata Elara terbelalak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dalang di balik semua masalah ini adalah keluarga dekat Dante sendiri. "Astaga... itu pasti sangat menyakitkan bagimu, Dante. Aku turut sedih mendengarnya."
Dante mengangguk, lalu memeluk tubuh Elara erat-erat seolah mencari kekuatan dari pelukan istrinya itu. "Ya, ini pukulan berat buatku. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Sekarang aku sadar, dalam dunia ini, kita tidak bisa sembarangan percaya pada orang lain, bahkan pada keluarga sendiri sekalipun."
Elara membalas pelukan Dante dengan lembut, mengusap punggung suaminya untuk menenangkannya. "Tapi sekarang semuanya sudah berakhir kan? Mereka sudah tertangkap dan tidak akan bisa mengganggu kita lagi. Itu sudah hal yang baik, bukan?"
Dante mengangguk lagi, melepaskan pelukannya perlahan lalu menatap mata Elara. "Kau benar. Ini sudah selesai. Dan sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkah kita untuk memulai kehidupan baru yang lebih tenang dan aman. Aku berjanji, mulai sekarang, aku akan memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti kita lagi."
Malam itu, di kamar tidur utama yang hangat dan nyaman, Dante berbaring di samping Elara yang sudah terlelap pulas. Namun matanya masih terjaga, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih berkecamuk. Ia sadar bahwa meskipun pengkhianat dari dalam sudah tertangkap, ancaman dari luar mungkin masih ada. Lucas yang berhasil melarikan diri dan musuh-musuh lainnya yang belum tersentuh masih menjadi bahaya yang mengintai. Namun, melihat wajah damai Elara di sampingnya, semangat dan tekad Dante kembali bangkit. Ia akan melakukan apa saja demi menjaga kedamaian dan kebahagiaan istrinya, meskipun ia harus menghadapi bahaya yang jauh lebih besar di masa depan.
Malam itu menjadi penutup babak baru yang kelam namun sekaligus menjadi awal dari perjalanan panjang mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Dan meskipun luka di hati Dante mungkin belum sembuh sepenuhnya, ia tahu bahwa selama Elara berada di sisinya, ia memiliki alasan yang kuat untuk terus bertahan dan berjuang demi masa depan yang lebih cerah.
▪️▪️▪️▪️▪️
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela ruang kerja utama, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara. Namun, cahaya keemasan itu seolah tidak mampu menghangatkan suasana dingin yang menyelimuti ruangan itu. Sudah tiga hari berlalu sejak operasi penangkapan di gudang tua itu berlangsung. Ketegangan fisik mungkin sudah mereda, tetapi ketegangan psikologis justru mencapai puncaknya.
Dante duduk di balik meja kerjanya yang besar, di depannya menumpuk berkas-berkas tebal yang berisi laporan penyelidikan, bukti transaksi, serta dokumen perjanjian kerja sama antara para pengkhianat dengan pihak kompetitor. Wajahnya tampak jauh lebih tua dan lelah dari biasanya, lingkar hitam di bawah matanya semakin terlihat jelas sebagai bukti bahwa ia hampir tidak memejamkan mata selama tiga hari terakhir ini.
Masalah yang dihadapinya kini bukan lagi sekadar perang fisik atau pengejaran musuh, melainkan masalah internal yang rumit dan menyakitkan. Terutama menyangkut sosok Andreas, Uncle-nya sendiri. Fakta bahwa darah daging keluarganya sendiri yang menusuknya dari belakang meninggalkan luka mendalam yang sulit disembuhkan.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan, dan Pak Herman masuk dengan langkah gontai. Wajah orang tua itu juga tidak kalah kusutnya. Di tangannya, ia membawa secarik kertas laporan yang terlihat resmi. Ia meletakkan kertas itu di atas meja Dante dengan gerakan hati-hati.
"Ada kabar terbaru dari tim hukum dan bagian administrasi, Tuan," ucap Pak Herman membuka percakapan, suaranya terdengar serak.
Dante mengangkat wajahnya perlahan, menatap kertas itu sekilas sebelum menatap Pak Herman. "Bagaimana perkembangannya? Apakah ada hambatan berarti?"
Pak Herman menghela napas panjang. "Lebih rumit dari yang kita duga, Tuan. Berdasarkan bukti-bukti yang kita temukan, ternyata jangkauan kerusakan yang mereka buat cukup luas. Bukan hanya soal kerugian materi atau sabotase operasional, tapi mereka juga menyusupkan dokumen-dokumen palsu dan laporan keuangan fiktif ke dalam sistem kita. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah besar, terutama saat kita berusaha melakukan transisi ke jalur yang lebih legal dan transparan."
Pak Herman menunjuk salah satu berkas di atas meja. "Selain itu, ada kabar yang kurang menyenangkan dari pihak kepolisian dan otoritas hukum. Karena kasus ini melibatkan dugaan tindak pidana yang cukup berat dan melibatkan banyak pihak, mereka berniat melakukan penyelidikan resmi dan mendalam terhadap seluruh struktur organisasi kita. Meskipun niat awal mereka untuk menangkap para pelaku kejahatan, namun efek domino yang ditimbulkan bisa sangat berbahaya bagi proses transisi kita. Nama baik organisasi bisa tercemar, dan proses legalitas bisnis kita bisa tertunda atau bahkan terhenti."
Wajah Dante semakin mengerdil mendengar penjelasan itu. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa otaknya sedang bekerja keras memikirkan solusi.
"Jadi, maksudnya upaya kita untuk membersihkan nama baik dan mengubah haluan ini justru bisa menjadi senjata makan tuan bagi kita sendiri? Karena kotoran masa lalu yang mereka tabur kini muncul ke permukaan dan menyeret kita semua?" tanya Dante dengan nada suara yang dingin namun penuh kekesalan.
"Betul, Tuan. Dan masalah yang paling krusial adalah posisi Andreas dan kawan-kawan. Karena mereka adalah petinggi lama dan kerabat dekat keluarga, pihak berwenang pasti akan menelusuri jejak keterlibatan pihak keluarga atau pemimpin saat ini. Meskipun bukti menunjukkan bahwa Tuan tidak terlibat dan justru menjadi korban, tapi dalam dunia hukum dan persepsi publik, hal ini tetap menimbulkan tanda tanya besar," jelas Pak Herman dengan wajah prihatin.
Dante terdiam sejenak, pikirannya melayang jauh. Ia menyadari bahwa ini adalah konsekuensi logis dari apa yang terjadi. Ia tidak bisa menutup mata atau menghindar dari kenyataan ini. Namun, membiarkan kasus ini terbuka dan menyeret nama organisasi ke ranah hukum yang bertele-tele juga bukan solusi yang baik, apalagi di saat ia sedang berusaha membangun citra baru yang bersih.
"Lalu bagaimana dengan kondisi mereka di dalam tahanan sementara? Apakah ada yang berusaha melakukan kontak atau membuat kesepakatan di belakang?" tanya Dante mengalihkan topik pembicaraan.
Pak Herman menggelengkan kepalanya. "Semuanya dikunci rapat dan dijaga ketat, Tuan. Tidak ada yang bisa keluar atau masuk sembarangan. Tapi... mengenai Andreas, beliau meminta bertemu dengan Tuan. Sudah beberapa kali beliau meminta izin kepada penjaga untuk bicara dengan Tuan. Beliau sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting, katanya."
Mendengar nama uncle-nya disebut, wajah Dante kembali berubah murung. "Bertemu dengannya? Untuk apa? Meminta maaf? Atau mencoba mencari alasan lagi?"
"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Tapi melihat kondisinya yang tampak putus asa dan sedih, mungkin beliau benar-benar ingin membicarakan sesuatu yang krusial sebelum semuanya terlambat. Mungkin ada informasi penting yang belum terungkap," saran Pak Herman dengan nada bijak.
Dante terdiam sejenak, bergumul dengan perasaannya. Di satu sisi, rasa sakit dan kecewanya belum hilang. Ia merasa tidak ingin melihat wajah orang yang telah mengkhianati kepercayaannya dan mencelakakan nyawa orang-orang yang ia sayangi. Namun di sisi lain, sebagai pemimpin dan sebagai anggota keluarga, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya. Mungkin benar kata Pak Herman, masih ada hal penting yang belum ia ketahui.
"Baiklah," jawab Dante akhirnya memecah keheningan. "Siapkan tempat yang aman dan netral. Pastikan ada pengawalan ketat dan alat perekam berjalan. Aku akan menemuinya. Tapi aku tidak janji akan mendengarkan permohonan maaf atau alasan yang tidak masuk akal."
"Baik, Tuan. Segera saya atur," jawab Pak Herman, lalu undur diri untuk melaksanakan perintah itu.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^