NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Istri Yang Tak Dianggap

Pagi setelah pesta itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meskipun matahari tetap naik seperti hari-hari sebelumnya. Cahaya yang masuk melalui jendela besar rumah keluarga Wijaya tidak membawa kehangatan, justru terasa seperti sorotan yang memperjelas sesuatu yang semalam masih samar. Dari luar, bangunan itu tetap tampak megah dan sempurna, seolah tidak tersentuh oleh apa pun yang terjadi di dalamnya.

Namun suasana di dalam rumah jelas berbeda, lebih kaku dan penuh jarak yang tidak terlihat. Tidak ada percakapan yang benar-benar hangat, tidak ada sapaan yang terasa tulus, seolah semua orang sudah memiliki kesimpulan masing-masing tanpa perlu lagi membicarakannya secara langsung. Perubahan itu tidak diucapkan, tetapi bisa dirasakan oleh siapa pun yang cukup peka.

Alyssa turun dari tangga dengan langkah pelan, tangannya menyentuh pegangan kayu yang terasa dingin di telapak tangannya. Ia tidak tidur nyenyak semalaman, pikirannya terus berputar tanpa henti, memutar ulang setiap momen yang terjadi di pesta itu dengan detail yang terlalu jelas. Tatapan orang-orang, bisikan yang terdengar samar namun menyakitkan, dan suara Cassandra yang mengungkap semuanya di depan banyak orang masih terngiang tanpa jeda.

Namun pagi tetap datang, dan di rumah ini tidak ada ruang untuk berdiam diri terlalu lama dalam perasaan. Alyssa menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sebelum melangkah lebih jauh, meski ia tahu perasaan itu tidak akan benar-benar hilang begitu saja.

Begitu sampai di ruang makan, beberapa pelayan sudah sibuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Gerakan mereka rapi dan teratur, seolah tidak ada yang berubah, tetapi sikap mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya. Biasanya akan ada sapaan singkat atau sekadar anggukan kecil, namun pagi ini mereka hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Alyssa berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi paling ujung, memilih posisi yang paling jauh tanpa perlu diminta. Meja itu panjang dan mewah, cukup untuk banyak orang, tetapi saat ini hanya ada ia dan ibu Daren yang duduk di dua sisi berseberangan. Jarak di antara mereka terasa lebih dari sekadar ukuran meja, seolah ada batas yang tidak bisa dilewati.

Ibu Daren menyesap tehnya dengan tenang, gerakannya anggun seperti biasa, tanpa sedikit pun melirik ke arah Alyssa. Keheningan di antara mereka terasa panjang, bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, tetapi karena tidak ada yang benar-benar ingin membuka percakapan.

Alyssa menatap piring di depannya sejenak, lalu mengangkat pandangannya perlahan. Ia tahu hasilnya mungkin tidak akan berubah, tetapi ia tetap mencoba.

“Bu, saya ingin membantu di bagian administrasi rumah,” katanya pelan. “Kalau ada yang bisa saya kerjakan, saya ingin belajar.”

Ibu Daren meletakkan cangkirnya dengan gerakan yang tidak tergesa, lalu menatap Alyssa dengan ekspresi yang tidak menunjukkan minat.

“Kamu?” tanyanya singkat.

Alyssa mengangguk, berusaha mempertahankan sikapnya tetap sopan. “Saya ingin belajar, Bu.”

“Tidak perlu,” jawab wanita itu tanpa ragu. “Urusan rumah ini bukan untuk kamu.”

Jawaban itu langsung menutup kemungkinan apa pun, tanpa memberi ruang untuk penjelasan lebih lanjut. Alyssa menunduk sedikit, mencoba menahan reaksi yang hampir muncul di wajahnya.

“Kalau begitu saya bisa membantu hal lain,” katanya lagi, berusaha tetap tenang meski suaranya mulai lebih pelan.

“Kamu sudah cukup merepotkan,” balas ibu Daren dengan nada datar.

Suasana kembali hening, lebih berat dari sebelumnya. Alyssa tidak melanjutkan, bukan karena tidak punya hal lain untuk dikatakan, tetapi karena ia tahu semua kata hanya akan berakhir di tempat yang sama.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga, memecah keheningan yang menggantung di ruang makan. Daren muncul dengan pakaian kerja yang rapi, wajahnya terlihat seperti biasa, tenang dan sulit ditebak.

Alyssa menoleh ke arahnya, dan meski ia tidak ingin berharap terlalu banyak, tetap ada sedikit harapan yang muncul tanpa ia sadari. Namun pria itu hanya berjalan menuju kursinya, mengambil kopi yang sudah disiapkan, tanpa menatapnya sedikit pun.

Seolah ia tidak ada di sana.

Alyssa menggenggam sendoknya pelan, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.

“Daren,” panggilnya.

Pria itu mengangkat sedikit pandangannya, tidak sepenuhnya menoleh.

“Aku ingin bicara,” lanjut Alyssa.

“Sekarang?” tanya Daren singkat.

“Iya.”

Daren menyesap kopinya terlebih dahulu, seolah mempertimbangkan sesuatu, lalu berkata, “Singkat saja.”

Alyssa menarik napas dalam, berusaha menyusun kata-katanya dengan hati-hati. “Semalam, tentang yang terjadi di pesta…”

“Apa lagi?” potong Daren, nadanya tidak tinggi tetapi cukup untuk menghentikan alurnya.

Alyssa terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Aku ingin tahu kenapa kamu tidak mengatakan apa pun.”

Daren menatapnya beberapa detik, ekspresinya tetap sulit dibaca.

“Tidak ada yang perlu dikatakan,” jawabnya.

Jawaban itu terasa kosong, seolah tidak ada ruang untuk penjelasan lain.

“Tapi semua orang—”

“Itu fakta,” potong Daren lagi. “Kamu memang pengganti.”

Alyssa terdiam, kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang sudah ia ketahui tetapi tetap menyakitkan saat diucapkan tanpa penahan.

“Aku tidak menyangkal itu,” katanya pelan. “Tapi cara mereka memperlakukanku—”

“Itu bukan urusanku,” balas Daren.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa emosi, tanpa beban, seolah tidak ada kaitannya dengan dirinya sama sekali. Alyssa menatapnya, mencoba menemukan sesuatu di wajah pria itu, tetapi yang ia temukan hanya jarak yang semakin jelas.

“Kalau tidak ada hal penting, aku berangkat,” kata Daren sambil berdiri.

Ia tidak menunggu jawaban, langsung berjalan pergi dengan langkah yang mantap. Alyssa hanya bisa diam, menatap punggungnya yang menjauh tanpa berusaha menghentikan.

Dan sekali lagi, ia memahami posisinya di rumah ini, bukan sebagai seseorang yang memiliki tempat, tetapi hanya seseorang yang kebetulan berada di sana.

Hari itu berjalan dengan lambat, setiap jam terasa lebih panjang dari biasanya. Alyssa mencoba mendekat ke beberapa bagian rumah untuk membantu, berharap setidaknya ada satu tempat di mana ia bisa merasa dibutuhkan.

Namun setiap kali ia mendekat, selalu ada alasan yang sama.

“Nona, biar kami saja.”

“Itu bukan tugas Anda.”

“Sudah ada yang mengurus.”

Semua kalimat itu terdengar sopan, diucapkan dengan nada yang tidak kasar, tetapi maknanya jelas dan tidak bisa disalahartikan. Ia tidak dibutuhkan, dan kehadirannya justru dianggap sebagai gangguan.

Siang hari, ia mencoba masuk ke ruang kerja kecil yang biasa digunakan untuk mengatur urusan rumah tangga. Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menyimpan berbagai dokumen penting yang berkaitan dengan pengeluaran dan kebutuhan rumah.

Namun sebelum ia sempat membuka laci, salah satu pelayan senior datang dan berdiri di ambang pintu.

“Maaf, Nona. Ruangan ini tidak boleh diakses tanpa izin,” katanya dengan nada sopan.

Alyssa menoleh, tangannya masih berada di atas laci. “Saya hanya ingin melihat catatan pengeluaran,” jawabnya.

Pelayan itu menggeleng pelan. “Perintah dari Ibu. Semua akses dibatasi.”

Alyssa terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara yang lebih pelan, “Termasuk saya?”

Pelayan itu tidak langsung menjawab, tetapi ekspresi di wajahnya sudah cukup menjelaskan.

Alyssa menarik tangannya perlahan, menjauh dari laci itu.

“Baik,” katanya singkat.

Ia keluar dari ruangan tanpa menambah kata, langkahnya tetap tenang meski ada sesuatu yang terasa semakin jelas di dalam dirinya.

Sore harinya, ia mencoba mendatangi bagian administrasi keuangan, berharap masih ada kemungkinan lain. Ruangan itu lebih formal, dengan beberapa staf yang sibuk di depan komputer masing-masing.

Namun bahkan sebelum ia benar-benar masuk, ia sudah dihentikan.

“Maaf, Nona. Kartu akses hanya untuk anggota keluarga inti,” kata salah satu staf.

Alyssa tersenyum tipis, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang. “Saya bagian dari keluarga ini,” katanya.

Staf itu ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan, “Kami hanya mengikuti aturan.”

Alyssa mengangguk, tidak memaksa lebih jauh. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah keputusan yang sudah dibuat.

Malam mulai turun perlahan, dan lampu-lampu rumah kembali menyala seperti biasa. Namun cahaya itu tidak membawa kehangatan yang ia harapkan, hanya menerangi ruang yang terasa semakin asing baginya.

Alyssa berjalan pelan di koridor menuju kamarnya, langkahnya ringan tetapi pikirannya penuh. Semua yang terjadi hari ini seolah memperjelas satu hal yang sebelumnya masih ia coba abaikan.

Ia tidak punya akses, tidak punya posisi, dan tidak punya suara di rumah ini.

Saat melewati area dapur, ia mendengar suara beberapa pelayan yang sedang berbicara. Ia tidak berniat untuk mendengarkan, tetapi langkahnya terhenti ketika salah satu kalimat terdengar jelas.

“Kasihan juga sih.”

Alyssa berdiri diam, tidak bergerak dari tempatnya.

“Kasihan apanya?” jawab suara lain.

“Jadi bahan omongan semua orang. Di pesta kemarin benar-benar dipermalukan.”

“Aku sih tidak kaget.”

“Aku juga. Dari awal sudah kelihatan.”

Alyssa menunduk sedikit, tangannya menggenggam ujung bajunya tanpa sadar.

“Lagipula dia cuma numpang hidup di sini,” lanjut suara itu.

Kalimat itu sederhana, pendek, tetapi terasa lebih tajam dari yang lain. Alyssa tidak bergerak, tidak juga masuk ke dalam dapur, hanya berdiri di luar sambil mendengarkan.

“Bukan istri yang sebenarnya, cuma pengganti,” tambah yang lain.

“Dan sekarang semua orang sudah tahu.”

Tawa kecil terdengar, tidak keras tetapi cukup untuk menutup percakapan itu dengan cara yang menyakitkan.

Alyssa menarik napas perlahan, lalu melangkah pergi tanpa menoleh kembali. Langkahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, meski di dalam dirinya ada sesuatu yang kembali berubah.

Bukan lagi sekadar luka yang terasa perih, tetapi sesuatu yang mulai mengeras dan menetap.

Ia berjalan menuju kamarnya, membuka pintu dan menutupnya dengan pelan di belakangnya. Tubuhnya bersandar pada pintu beberapa detik, matanya terpejam seolah mencoba menahan sesuatu yang terus berusaha keluar.

Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.

Dia cuma numpang hidup di sini.

Alyssa membuka matanya perlahan, menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tatapannya lebih tenang, lebih dalam, seolah sesuatu dalam dirinya telah berhenti berharap.

Dan di saat yang sama, ia mulai memahami kenyataan yang sebenarnya, bukan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, tetapi sebagai sesuatu yang suatu hari nanti harus ia hadapi dengan caranya sendiri.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!