NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Minggu-minggu berlalu tanpa terasa, dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, hari-hari di Hutan Aethelgard dipenuhi ketenangan yang hangat, bukan lagi sekadar rasa aman yang rapuh, melainkan kebahagiaan yang tumbuh perlahan namun pasti, menyusup ke dalam rutinitas sederhana mereka hingga tanpa sadar menjadi sesuatu yang sulit dipisahkan dari napas sehari-hari.

Luka di bahu Leonard telah sembuh sepenuhnya, hanya menyisakan garis tipis yang hampir tak terlihat, namun bagi Alexandria itu bukan sekadar bekas luka, melainkan pengingat akan malam di mana ia hampir kehilangan segalanya sekaligus mendapatkan Leonard dalam wujud yang paling nyata.

Sejak saat itu, Leonard tidak lagi hanya “bertahan” sebagai manusia, ia mulai benar-benar menjadi dirinya sendiri, gerakannya lebih stabil, langkahnya lebih mantap, dan tatapannya tidak lagi tertahan seperti sebelumnya, seolah bagian dirinya yang selama ini terkunci akhirnya menemukan celah untuk kembali hidup.

Namun perubahan itu membawa sesuatu yang lain, sesuatu yang awalnya hanya samar, tapi semakin hari semakin terasa jelas, semakin sulit diabaikan.

Setiap kali Alexandria bergerak di dalam rumah, setiap kali ia tertawa tanpa beban, setiap kali tangannya tanpa sadar menyentuh lengan Leonard saat berbicara, ada getaran halus yang muncul di dalam diri pria itu, perlahan tapi pasti berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih panas, dan lebih sulit untuk ditahan.

Leonard menyadarinya, dan justru karena itu ia memilih menahan diri, bukan karena ia tidak menginginkannya, melainkan karena ia terlalu menginginkannya sampai ia takut kehilangan kendali, takut bagian liar dalam dirinya yang dulu pernah ada akan muncul kembali dan menyakiti wanita yang ia lindungi dengan seluruh jiwanya.

Malam itu, perapian menyala tenang, cahayanya memantul lembut di dinding kayu, menciptakan suasana yang terlalu hangat untuk diabaikan, Alexandria duduk di dekat api sambil menyisir rambut panjangnya dengan perlahan, sementara Leonard berada di sampingnya, diam, tapi jelas tidak benar-benar tenang.

Tatapannya tidak berpindah sejak tadi, dan Alexandria yang sejak awal sudah menyadarinya akhirnya menghentikan gerakannya, menoleh dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya polos.

“Kamu menatapku dari tadi,” ucapnya santai, tapi matanya menangkap sesuatu yang berbeda. “Ada yang salah?”

Leonard tidak langsung menjawab, napasnya terdengar sedikit lebih berat, rahangnya menegang sejenak sebelum akhirnya ia menghela napas pelan, seolah memutuskan sesuatu dalam dirinya.

“Tidak ada yang salah,” jawabnya rendah, suaranya lebih dalam dari biasanya, “aku hanya… tidak tahu harus berhenti dari mana.”

Alexandria sedikit mengernyit, tapi tidak menjauh, justru tubuhnya bergeser sedikit mendekat tanpa sadar, seolah tertarik oleh sesuatu yang tak terlihat.

“Maksudmu?”

Leonard menatapnya, kali ini tanpa mencoba menghindar, dan dalam tatapan itu Alexandria bisa melihat sesuatu yang berbeda, bukan hanya kelembutan yang biasa ia kenal, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, lebih intens.

“Aku mencoba menahan diri,” lanjutnya pelan, “tapi setiap kali aku melihatmu… rasanya semakin sulit.”

Jantung Alexandria berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena cara Leonard mengatakannya, jujur tanpa lapisan.

“Kenapa harus ditahan?” tanyanya, suaranya lebih lembut sekarang.

Leonard terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis yang tidak sepenuhnya ringan.

“Karena aku takut menyakitimu,” jawabnya akhirnya, langsung, tanpa berputar. “Aku tahu seberapa kuat diriku, dan aku tahu aku menginginkanmu lebih dari yang seharusnya, tapi justru itu yang membuatku takut… aku tidak pernah ingin kamu terluka karena aku.”

Keheningan kecil jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan yang canggung, melainkan yang berat dengan makna.

Alexandria tidak menjauh, ia justru mengangkat tangannya dan meletakkannya di dada Leonard, merasakan detak jantung pria itu yang cepat dan kuat di bawah telapak tangannya.

“Kamu tidak akan menyakitiku,” bisiknya pelan, tapi tegas.

Leonard menatapnya, seolah mencari keraguan, tapi tidak menemukannya.

“Aku tahu siapa kamu,” lanjut Alexandria, semakin dekat tanpa sadar, “aku tahu bagaimana kamu menahanku saat aku lemah, bagaimana kamu selalu berhenti sebelum aku merasa tidak nyaman, bagaimana kamu selalu memilih melindungi daripada menyakiti… jadi kalau kamu takut kehilangan kendali, aku akan ada di sini untuk menahannya bersamamu.”

Kalimat itu tidak panjang, tapi cukup untuk meruntuhkan sisa pertahanan Leonard.

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh wajah Alexandria dengan hati-hati, seolah memastikan ini bukan keputusan sepihak.

“Kamu yakin?” tanyanya sekali lagi, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan.

Alexandria tidak menjawab dengan kata, ia hanya mendekatkan wajahnya, cukup untuk menghapus jarak di antara mereka.

Dan itu sudah cukup.

Leonard tidak lagi menahan diri.

Ciuman pertama itu dimulai perlahan, hangat, seolah mereka berdua masih memberi ruang untuk mundur, tapi saat Alexandria membalas tanpa ragu, sesuatu di dalam diri Leonard benar-benar lepas, bukan menjadi liar, tapi menjadi utuh.

Tangannya menarik tubuh Alexandria lebih dekat, bukan dengan terburu-buru, melainkan dengan kebutuhan yang sudah terlalu lama ditahan, sementara Alexandria membalas dengan sama kuatnya, seolah ia juga telah menunggu momen itu tanpa pernah benar-benar mengakuinya.

Waktu terasa melambat, dunia di luar menghilang tanpa perlu dipikirkan, hanya menyisakan kehangatan di antara mereka yang semakin dalam, semakin dekat, hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa.

Malam itu tidak dipenuhi kata-kata, tapi dipenuhi pemahaman, bagaimana mereka saling menyesuaikan, saling menjaga, dan saling memberi tanpa harus diucapkan, membiarkan perasaan yang selama ini tertahan akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Saat fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, cahaya lembut menyentuh ruangan yang kini kembali tenang, Alexandria terbaring dalam pelukan Leonard, napasnya sudah teratur, sementara Leonard masih terjaga, menatap wajah wanita itu seolah takut kehilangan satu detik pun dari momen itu.

Tangannya bergerak perlahan di rambut Alexandria, bukan karena perlu, tapi karena ia bisa, dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa lebih nyata dari sebelumnya.

“Aku tidak takut lagi,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Alexandria sedikit bergerak, mendekat tanpa membuka mata, seolah mendengar meski setengah tertidur.

“Bagus,” balasnya lirih.

Tidak ada janji besar malam itu, tidak ada sumpah yang dramatis, tapi cara mereka tetap saling mendekap tanpa ingin melepaskan sudah menjelaskan segalanya, bahwa apa pun yang akan datang setelah ini, mereka tidak akan menghadapinya sendirian lagi.

Pagi itu tidak benar-benar terasa seperti pagi biasa, karena meski cahaya matahari sudah mulai memenuhi ruangan, tidak satu pun dari mereka terburu-buru untuk bergerak, seolah dunia luar boleh menunggu sedikit lebih lama sementara mereka masih tenggelam dalam kehangatan yang baru saja mereka temukan.

Alexandria menggerakkan jarinya pelan di dada Leonard, mengikuti garis ototnya tanpa sadar, sentuhan kecil itu sederhana namun cukup untuk membuat napas Leonard berubah, lebih dalam, lebih berat, dan tanpa membuka mata pun ia sudah tahu bahwa wanita itu masih berada di sana, masih di sisinya, masih nyata.

“Aku masih di sini,” bisik Alexandria pelan, hampir seperti menjawab sesuatu yang tidak diucapkan.

Leonard membuka matanya perlahan, menatapnya tanpa jarak, dan untuk sesaat ia tidak mengatakan apa pun, hanya memastikan bahwa ini bukan ilusi, bahwa ia tidak akan kembali membuka mata sebagai macan yang sendirian di lantai dingin seperti sebelumnya.

Tangannya bergerak naik, menahan pinggang Alexandria agar tetap dekat, bukan menahan dengan paksa, tapi lebih seperti memastikan bahwa ia tidak akan kehilangan lagi sesuatu yang baru saja ia dapatkan dengan susah payah.

“Jangan pergi,” gumamnya rendah.

Alexandria tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya sedikit, cukup untuk membuat napas mereka kembali bercampur.

“Aku tidak ke mana-mana,” jawabnya tenang, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata, sesuatu yang terasa seperti janji yang tidak perlu diulang dua kali.

Keheningan yang muncul setelahnya bukanlah keheningan canggung, melainkan keheningan yang penuh, hangat, dan hidup, sampai akhirnya Leonard menarik napas panjang dan menutup matanya sejenak, seolah sedang mengumpulkan sesuatu dalam pikirannya.

“Ada satu hal lagi…” ucapnya pelan, kali ini suaranya sedikit berubah, lebih serius tanpa kehilangan kelembutannya.

Alexandria mengangkat alis tipis, menatapnya penuh perhatian.

“Kutukan ini… ikatan jiwa kita memang melemahkannya, tapi aku bisa merasakannya, Alexandria, setiap kali emosiku memuncak, setiap kali aku kehilangan kendali, ada bagian dari diriku yang masih… liar, masih belum sepenuhnya manusia.”

Nada itu tidak menakutkan, tapi cukup untuk membuat Alexandria diam sejenak, bukan karena ragu, melainkan karena ia benar-benar memahami apa yang sedang dikatakan Leonard.

“Aku tidak takut,” jawabnya akhirnya, pelan tapi pasti, tangannya kembali naik menyentuh wajah Leonard, menahan pandangannya agar tidak lari ke tempat lain.

“Karena bagian itu juga kamu, dan aku tidak memilih hanya sebagian dari dirimu.”

Leonard terdiam, kalimat itu masuk lebih dalam dari apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya, lebih dalam dari janji, lebih kuat dari sumpah.

Ia menarik Alexandria kembali ke pelukannya, kali ini lebih erat, lebih sadar, bukan karena takut kehilangan, tapi karena ia tahu sekarang bahwa apa pun yang akan datang—kutukan, perang, atau bahkan dirinya sendiri—ia tidak akan menghadapinya sendirian lagi.

Di luar pondok, angin pagi berhembus pelan melewati pepohonan Aethelgard, membawa ketenangan yang menipu, karena jauh di balik hutan yang sama, sesuatu sedang bergerak, sesuatu yang tidak akan berhenti hanya karena satu malam telah berlalu.

Tapi di dalam, untuk beberapa saat yang berharga itu, dunia masih terasa aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!