NovelToon NovelToon
Tergila-gila Duda

Tergila-gila Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vlav

Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.

Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.

Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.

Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

011

Setelah berjalan kaki hampir satu jam lamanya dengan menyusuri jalan gelap, terjal dan mendaki bukit dengan bermodalkan penerangan dari cahaya lampu gawai cerdasnya, akhirnya Mary tiba di depan pintu rumah Roseo.

Mary merasa ia seakan sedang melakukan uji nyali dengan datang ke rumah pria itu.

Mary segera menggedor pintu gerbang kokoh berwarna hitam sambil berseru memanggil nama Roseo.

“Ros! Roseo! Buka pintunya!”

Tidak ada jawaban dari dalam rumah membuat Mary menjadi cemas.

Rumah Roseo berada di atas bukit dan jauh dari pemukiman penduduk memiliki pencahayaan yang temaram. Hanya ada sebuah lampu yang menyala di atas langit-langit pintu gerbang tersebut.

Udara malam pun semakin terasa dingin saat angin kencang mulai berhembus.

Mary sengaja datang malam-malam seperti ini agar tidak ada warga yang melihatnya pergi ke rumah Roseo.

Jangan sampai ada mata-mata Jono yang mengikutinya.

“Apa dia tidak ada di rumah? Apa dia sedang di luar kota?”

Mary bertanya-tanya sambil terus menggedor pintu gerbang rumah tersebut.

“Tuti! Kalau kau ada di rumah! Cepat keluar! Tuti!”

Mary berteriak dengan rasa kesal karena kesabarannya yang mulai tergerus dinginnya udara malam.

Tiba-tiba saja pintu gerbang terbuka dan Roseo muncul di ambang pintu. Pria itu mengenakan kaus berwarna putih yang membuat otot-otot atletis pria itu terlihat jelas.

Mary langsung menyeringai melihat pria itu memasang ekspresi skeptis.

“Roseo,” Mary menyapa dengan seringaian.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Roseo.

Lagi-lagi nada ketus terlontar dari bibir pria itu.

“Bukankah lebih baik kau mempersilahkan aku masuk dulu daripada kita bicara di depan pintu seperti ini?” Tanya Mary.

Lagi-lagi Roseo melemparkan tatapan skeptisnya.

“Kau tidak mengizinkanku untuk masuk ke rumahmu?” Tanya Mary.

Roseo masih melemparkan tatapan sinis, tubuhnya yang setinggi 190 cm itu jelas menghalangi pintu masuk.

“Oh, apa saat ini, ada teman kencanmu yang sedang telanjang dan berbaring di tempat tidurmu?” Tanya Mary lagi.

Alis Roseo terangkat sebelah dengan giginya yang selalu tampil paling eksis.

“Kau ini bicara apa?” Roseo balik bertanya.

“Aku hanya bicara kemungkinan mengapa kau tidak mengizinkanku untuk masuk ke rumahmu,” jawab Mary.

“Ehem, sebaiknya kau datang besok saja. Ini sudah malam. Kurang pantas rasanya seorang wanita datang berkunjung malam-malam terlebih seorang diri ke rumah seorang pria,” kata Roseo.

“Haha,” Mary tertawa mendengar ucapan Roseo.

“Roseo, aku hendak bicara denganmu di ruang tamu, bukan di dalam kamarmu,” kata Mary.

Roseo menatap lurus ke arah Mary dengan tangan terlipat di depan dada.

“Roseo, aku harus berjalan kaki selama satu jam menembus kegelapan yang mencekam seperti ini hanya untuk bicara denganmu. Lalu kau menyuruhku untuk menemuimu besok. Aku ingin bicara denganmu sekarang dan bukannya besok,” keluh Mary.

Mary menatap pria yang sepertinya benar-benar bersikeras tidak mengizinkan Mary untuk memasuki rumah pria itu.

Mary jadi makin penasaran, apa yang pria itu coba sembunyikan?

Apa sungguh ada wanita telanjang yang sedang menunggu di kamar pria itu?

Ataukah pria itu sedang membuat pesta privat yang berisi kumpulan manusia-manusia yang tidak memedulikan penampilan alias berbugil ria?

“Baiklah, kalau kau memang tidak memberiku izin untuk bicara denganmu malam ini. Tapi, bisakah kau mengizinkanku untuk menumpang toilet?” Tanya Mary.

Mary masih melihat sikap defensif pria itu. Seakan pria itu tidak ingin wilayahnya dimasuki oleh Mary.

“Oh, apa aku perlu membayar saat menumpang toilet di rumahmu? Baiklah, aku akan bayar!”

“Ataukah kau lebih senang aku menjadikan halaman depan rumahmu ini sebagai toilet?” Tanya Mary lagi.

Roseo menghela nafas berat, pria itu akhirnya menggeser tubuhnya, memberi jalan Mary untuk masuk ke dalam rumahnya.

Mary memindai rumah Roseo yang berbentuk paviliun bernuansa tradisional. Di tengah bangunan yang saling terpisah itu terdapat sebuah bale bale berbahan kayu.

Suasana rumah itu begitu sepi, tidak ada kumpulan manusia bugil yang sedang berpesta dan tak ada tanda-tanda ada manusia lain selain mereka berdua.

“Toilet ada di ujung koridor itu,” tunjuk Roseo.

Mary memindai hanya ada satu bangunan yang lampunya menyala.

Mary harus berjalan menyusuri koridor yang gelap hingga di ujung koridor terdapat bangunan bertuliskan toilet.

Setelah menggunakan toilet, Mary kembali menyusuri koridor yang gelap menuju ke arah Roseo yang sudah menunggunya di depan teras paviliun yang lampunya menyala.

“Kenapa di sini sepi sekali?” Tanya Mary.

“Kalau kau mau ramai, itu di pasar, bukan di sini,” jawab Roseo.

“Oh, haha,” Mary tertawa.

Mary berhenti tertawa karena Roseo kembali menatapnya tajam.

“Hmm, Ros, bagaimana jika kita bicara di ruang tamu saja? Di luar sini rasanya dingin,” kata Mary

“Di rumahku ini tidak ada ruang tamu,” ucap Roseo.

“Hah??” Mary terperangah.

“Makanya tadi aku bilang lebih baik kau datang besok saja. Kalau besok, udara jauh lebih hangat daripada sekarang,” Roseo menjelaskan.

“Ehem, baiklah, itu lebih bagus, jadi aku tidak perlu berlama-lama,” kata Mary sambil memeluk lengannya yang mulai kedinginan.

“Berapa yang harus kubayar padamu atas barang-barang yang dipesan ayahku?” Tanya Mary.

“Sepertinya nota-notanya ada di mobilku, tapi aku belum sempat mengumpulkannya,” jawab Roseo.

Roseo kembali menatap Mary yang mulai gemetaran karena hanya memakai kebaya tipis berwarna hitam.

“Lalu kenapa kau repot-repot membungkusnya seperti itu sampai disangka seserahan?” Tanya Mary.

Ekspresi pria itu nampak datar karena Mary mulai bertanya hal-hal yang aneh.

“Oh, aku hanya bilang ke penjual untuk dibungkus rapi agar tidak tercecer karena aku akan kembali mengambilnya nanti, begitu aku kembali, sudah dibungkus seperti itu,” jawab Roseo.

“Oh,” sahut Mary. ““Apa kau tahu, gara-gara bingkisan cantikmu itu, semua orang di kampung ini jadi salah mengartikan bingkisan itu,” kata Mary.

“Semua orang jadi berpikir bahwa kau melamarku,” lanjut Mary.

“Yah, terserah apa kata orang, aku tidak peduli,” sahut Roseo.

“Ya, kau memang tidak melamarku. Tapi, aku yang akan melamarmu,” kata Mary.

Roseo tertegun mendengar ucapan Mary.

“Roseo, aku mau kau menikah denganku,” ucap Mary dengan tegas.

Roseo menghela nafas berat. Apa-apaan wanita ini? Semakin dibiarkan bicara, semakin aneh bicaranya. Roseo jadi merasa menghadapi Jono versi wanita.

“Lebih baik kau pulang daripada bicara omong kosong,” kata Roseo.

“Aku tidak bicara omong kosong, Roseo!” Ucap Mary.

“Aku mau kau menikah denganku. Kita buat kesepakatan yang saling menguntungkan bagi kita,” kata Mary.

Roseo melemparkan tatapan skeptis ke arah Mary.

“Huh, memangnya apa untungnya kau menikah denganku?” Tanya Roseo. “Lagipula, bukankah kau harusnya menikah dengan Jono karena Jono adalah calon suamimu?”

“Justru menikah denganmu membuatku tidak akan menikah dengan Jono! Itulah keuntungan bagiku,” jawab Mary diplomatis.

“Lantas, apa untungnya aku menikah denganmu?” Tanya Roseo.

“Tentu saja kau begitu beruntung karena bisa menikahi wanita secantik dan berpola pikir modern sepertiku,” jawab Mary dengan penuh percaya diri.

“Aku jelas tidak bisa dibandingkan dengan para wanita di kampung ini. Kau bisa lihat sendiri, di usiaku yang sekarang, aku bahkan lebih cantik dan masih tetap cantik dibanding dengan teman-teman sebaya kita yang bahkan sudah punya cucu”.

“Bahkan aku rasa, aku pasti lebih cantik daripada para mantan istrimu, meski katanya para mantan istrimu itu cantik-cantik. Yah, meski mereka cantik, tapi aku jelas lebih berpikiran modern daripada mereka,” lanjut Mary.

Roseo langsung menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena merasa konyol dengan ucapan Mary.

“Jadi bagaimana? Apa kau bersedia menikah denganku?” Tanya Mary.

“Tidak,” jawab Roseo dengan cepat.

***

 

1
Mely L
jono asal klaim aja
VLav: namanya juga jono ka 😄
total 1 replies
La La
babi 🤣 haram
Milan Oh
tinggalin jejak 👍
oppa super
ciee dijemput
Syahdar Gazali
awalnya menarik 👍
Syahrin Arizki
ditolongin itu ya ucapkan terima kasih, kok malah shamming
Nancy Avika
estetika keindahan 👍
Lucynta Guo
plis yg paling butuh validasi minggir
Nancy Avika
kapoo poll 🤣
nay
wahh jadi ibu dewan ya
Sha Sha
kucing lapar🤭
Sha Sha
Jono, tunggu janda yaa
Lavia
hihh jono
Nancy Avika
hayoloohh gentong air kumuh
Dedew
Minta tolong kek ngajak gelut
Tinsley Carmichael
Lanjut thor
Tinsley Carmichael
Mmpz
Tinsley Carmichael
Salah bgt km gendis strateginya
Tinsley Carmichael
Awalnya simpati ma gendis klo jd ibu tunggal ternyata ad lakinya 🤣
Tinsley Carmichael
Berasa dracin wkwkkw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!