Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi Kisah Mistis (Bag 4)
Suara Ninda memang telah mereda, namun bayangan mengerikan tentang sosok berambut ular itu seakan masih melayang-layang di udara dingin rumah pohon. Heni yang sejak tadi memeluk tubuhnya sendiri, kini menunduk jauh menatap lantai, seakan ia sedang membaca sesuatu yang tertulis di sana.
Setelah hening beberapa saat, Heni perlahan kembali mengangkat wajahnya. Dia menarik napas, udara malam yang dingin terkumpul dalam dadanya.
“Pengalaman saya terjadi ketika saya masih berusia delapan tahun,” ujar Heni dengan suara yang aneh, datar, tanpa emosi, seakan dia sedang menceritakan kisah orang lain dan bukan dirinya sendiri. “Saat itu saya tinggal bersama Nenek di rumah tua yang terletak tepat di pinggir sungai besar. Air sungainya selalu keruh dan berarus deras, bahkan saat musim kemarau. Di bagian dalam rumah, ada sebuah kamar kecil yang aneh. Pintunya selalu terkunci rapat, bahkan kuncinya pun tidak pernah ada. Nenek bilang, kamar itu tidak pernah dipakai untuk apa-apa. Seolah kamar itu sengaja dibuat hanya untuk dibiarkan kosong dan mati.”
Heni berhenti sejenak, matanya menatap kosong, kembali ke masa lalu yang kelam.
“Suatu malam, sekitar jam satu pagi. Saya terbangun karena ingin ke kamar mandi. Lokasinya harus melewati depan pintu kamar terkunci itu. Saat saya berjalan pelan menyusuri dinding... tiba-tiba saya mendengar suara."
"Heni... Heni..."
"Suara itu sedikit samar, sangat halus, namun terdengar jelas sekali di telinga saya. Bukan suara Nenek, bukan suara siapa pun yang saya kenal. Itu suara anak kecil. Suara yang memanggil nama saya dengan nada yang manja dan memohon. "Ayo masuk... main sama aku... Heni..."
"Rasa takut seharusnya membuat saya lari. Tapi anehnya, ada daya tarik aneh yang memaksa kaki saya melangkah maju. Saya meraih gagang pintu kamar itu."
"Dan... pintunya terbuka."
"Terkreeeak pelan. Padahal selama bertahun-tahun pintu itu selalu terkunci mati!"
"Dari celah pintu yang terbuka, memancarkan cahaya yang bukan dari lampu listrik. Itu cahaya putih keemasan yang sangat terang namun tidak menyilaukan mata. Cahaya itu terasa hangat, namun ada hawa dingin yang menyertainya."
"Dengan langkah yang berat dan terpaku, saya mendorong pintu itu lebih lebar. Dan saya melihat..."
"Di tengah ruangan yang kosong melompong itu, berdiri seorang anak perempuan."
"Badannya sama tinggi dengan saya saat itu. Rambutnya hitam panjang, pakaiannya sama persis dengan baju tidur yang saya pakai malam itu. Wajahnya... wajahnya persis sama dengan wajah saya! Sama persis! Seolah-olah saya sedang berdiri di depan sebuah dinding cermin."
"Dia tidak bergerak, padahal saya mengangkat dua tangan, matanya tidak berkedip, padahal saya bahkan menggelengkan kepala saya, tapi dia hanya menatap kaku dengan tatapan yang kosong dan jahat."
"Sadar sepenuhnya bahwa apa yang ada di depanku bukan cermin, saya berteriak! Saya menutup pintu itu sekuat tenaga hingga bunyinya menggelegar, dan lari terbirit-birit masuk ke kamar Nenek. Saya naik ke atas kasur dan memeluk badan Nenek erat-erat."
"Keesokan paginya, Nenek mendengar cerita saya dengan wajah yang berubah menjadi abu-abu. Dia terdiam sangat lama, lalu akhirnya berbisik."
"Nenek juga pernah melihatnya... saat Nenek masih kecil seumur kamu."
"Ternyata, kamar kecil itu dulunya adalah tempat lokasi keberadaan sumur tua yang digunakan penduduk desa. Sumur itu ditutup karena airnya kering. Lalu ditimbun untuk perluasan rumah nenek saya. Dan konon, sumur itu memang angker, ada banyak kisah masa lalu yang pernah dialami orang lain sebelumnya.”
Heni mengakhiri ceritanya tepat saat suasana di rumah pohon itu kini terasa begitu sempit dan pengap, padahal hawa dari hembusan angin seharusnya dapat memberikan dingin dan sejuk.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?