Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XoLyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebelas
Ketika hari sudah gelap, barulah El kembali menemui William yang sudah menunggunya.
"Aku harap ada berita yang bagus, El," William berkata sambil memutar gelas wine yang dia pegang.
"Maaf, Tuan. Saya masih belum membujuk Valerie. Tapi, saya mendapatkan petunjuk siapa yang mengambil buku itu."
Pergerakan William sontak terhenti, Dia mendongak menatap El dengan senyum lebar. Rasa kesalnya karna, Dante tadi siang, mendadak hilang. "Jadi?"
"Salah satu kamera CCTV kita, mendapatkan sesuatu yang mencurigakan saat acara ulang tahun Tuan. Walaupun, cuma beberapa detik, tapi rekaman CCTV memperlihatkan salah satu tamu, menyelinap saat acara sedang berlangsung."
William terdiam. Seketika dia menyesal karna, mengadakan acara ulang tahunnya di mansion. Jadinya, barang sangat penting baginya, menghilang. Pria itu mengusap rambut.
"Siapa?"
El terdiam sejenak, sambil menundukkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Karna, kamera hanya menangkap bagian belakang orang itu sehingga--"
Prang!
El sontak mengatup bibirnya, ketika gelas berisikan wine dilempar ke arahnya. Untungnya, gelas itu jatuh di depannya, sehingga tidak melukainya.
"El, kenapa kinerja kerja kamu jadi lambat begini?! Kalo, sampai buku itu jatuh ke tangan orang lain, bisa-bisa kehidupan aku hancur! Arghh!" William bangkit berdiri, menghampiri El. "Aku tidak mau tau, cari orangnya cepat!"
"Baik, Tuan."
William mendengus, lalu melangkah pergi meninggalkan El, yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
...
Julian melangkah dengan langkah yang tergesa-gesa, namun waspada keluar dari gedung hotel di mana dia menginap. Sebelum matahari terbenam, dia harus pindah ke hotel lain lagi. Hal ini, dia lakukan supaya dia tidak mudah dilacak.
Pria menghentikan sebuah taksi dan, sebelum masuk ke dalam taksi itu, dia menatap sekitarnya. Julian menyuruh supir taksi itu untuk ke salah satu restoran yang cukup jauh dari hotel.
Sampai di sebuah gedung restoran yang tampak biasa saja, dengan pengunjung yang sepi. Julian segera turun.
"Silakan, Tuan." Seorang pelayan, menghampirinya. Dan, menyapanya dalam bahasa inggris.
"Aku ingin bertemu dengan bos kalian," balas Julian yang juga dalam bahasa inggris.
Pelayan itu terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum ramah. "Maaf. Boss kami sedang tidak berada di tempat."
Alis Julian mengerut. Dia terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pelayan itu. "Kalo begitu, aku ingin pesan kopi yang dicampur dengan madu hutan."
Pelayan itu kembali terdiam. Dia menatap ke arah temannya yang berada di belakang mesin kasir, lalu kembali menatap Julian.
"Silakan ikut saya." Pelayan itu berbalik menuju ke arah belakang, mereka berhenti di depan pintu. Pelayan itu membukanya, dan terlihat tangga yang menurun. Dia melihat Julian dan, menyuruhnya untuk tetap mengikutinya dalam diam.
Julian menganggukkan kepalanya. Mereka melangkah menuruni tangga dengan pencahayaan yang minim. Sampai di lantai bawah, mereka disambut dengan beberapa pengawal yang memeriksa mereka. Pelayan itu berbicara sebentar ke pengawal. Dan, mereka dibiarkan untuk lewat.
Sampailah mereka di depan pintu yang berwarna merah. Pelayan itu mengetuk tiga kali, lalu membuka pintu.
Seorang pria yang sedang duduk sambil membaca buku di sofa yang berada di tengah ruangan itu, menjadi pemandangan pertama ketika pintu terbuka. Saat melangkah masuk, Julian dibuat kagum dengan deretan rak buku yang memenuhi ruangan itu.
Dia tidak menyangka, restoran yang sepi itu ternyata memiliki ruangan bawah tanah yang luas.
"Aku tidak menyangka kamu akan menemuiku, Julian." Pria yang tadinya membaca buku, kini berdiri di depan Julian sambil tersenyum ke arah.
"Aku terdesak."
Pria itu terkekeh. "Silakan duduk."
Julian duduk masih dengan memeluk erat tas ranselnya, membuat pria itu menatap dengan tatapan heran. "Kamu tidak membawa bom ke sini, kan?"
"Ini lebih dari sebuah bom, Daniel."
Pria yang dipanggil Julian, Daniel itu, memajukan dirinya. Dia melepaskan kacamata hitamnya, sehingga menampilkan kelopak matanya yang tertutup sebelah dengan luka yang memajang di kelopak matanya. Sedangkan, mata kanannya terlihat baik-baik saja.
"Bahaya apalagi yang pak tua ini bawa ke sini? Tidak cukup dengan memalsukan kematian istri kamu, sekarang kamu memintaku untuk apa lagi?"
Julian menghela napas. Perlahan dia membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah buku yang memiliki sampul berwarna hitam. Lalu, dia sodorkan ke depan Daniel.
"Aku hanya ingin kamu menyimpan ini. Sampai situasi aman."
Daniel menatap buku itu dan Julian secara bergantian. "Ini buku apa?"
Julian terdiam. Dia menggelengkan kepalanya, memberikan kode jika dia tidak ingin memberitahu Daniel.
"Kalo begitu, aku juga tidak ingin menyimpannya." Daniel melipat tangannya, dan menyandarkan punggungnya. "Aku tidak ingin membahayakan tempat, karna buku tidak jelas itu."
"Aku ke sini, karna perintah dari kakak sepupumu."
Daniel mendengus. "Tidak mungkin. Kak Dante pasti akan memberitahuku jika, ada orang yang dia kirim ke sini. Jangan coba-coba membodohiku dengan menggunakan nama kakakku, pak tua."
"Buku ini, ada sangkut paut dengan kakak sepupu itu. Kalo buku ini jatuh ke tangan orang yang salah, kakakmu mungkin dalam bahaya."
Melihat Julian yang terlihat serius, membuat Daniel tiba-tiba menjadi ragu. Dia memakai kacamatanya kembali, lalu menatap buku itu. "Setidaknya, beritahu aku inti dari buku itu."
"Eksploitasi manusia."
Daniel menegakka tubuhnya. "Pak tua, kamu sudah gila, yah? Walaupun, kak Dante bukan orang baik, dia tidak mungkin melakukan itu."
"Memang bukan dia, tapi orang yang dekat dia. Pokoknya, kamu simpan ini. Jangan sampai ada yang tau tentang buku ini." Julian maju ke depan. " Atau, kamu akan kehilangan kakak tersayangmu akan dalam bahaya juga."
Daniel kembali terdiam, menatap buku yang masih disodorkan. Lalu, dia menghela napas panjang. "Baiklah." Dia mengambil buku itu, lalu menatap Julian. "Anak buah akan mengawasimu. Jika, kamu berbohong, aku pastikan, kamu juga tidak akan pernah bertemu lagi dengan istri dan putri tersayangmu itu.
...
"Kenapa? Kenapa aku harus kembali ke sana?" Dante yang baru pulang dari kantor, tiba-tiba menyuruh Rena yang sedang membaca buku, turun ke ruangan yang di mana Rena tidur tadi malam.
Rena terlihat kebingungan. Karna, sepertinya situasi sudah aman. Jadi, untuk apa dia ke ruangan itu?
Dante meliriknya sekilas. "Tidak ada alasan khusus. Dan, kamu harus mengikuti perintahku."
Rena menggeram kesal. Dia menaruh buku ke atas meja dengan sedikit keras. "Kalo aku tidak mau?"
"Yasudah, kamu tinggal mati saja."
Via yang berada di depan lemari yang memiliki jalur ke bawah, hanya menundukkan kepalanya. Menulikan telingannya. Karna, dia tau, Dante melakukan itu demi keselamatan Rena.
Rena bangkit berdiri. "Dasar tidak punya perasaan! Walaupun, aku ini istri untuk melunasi hutang papa, aku ini tetap istri kamu! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?"
Seolah tidak terpengaruh dengan perkataan Rena, Dante melangkah keluar dari kamar itu. Meninggalkan Rena yang masih kesal.
...bersambung