Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Auna
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden rumah sakit, membangunkan Auna dari tidurnya yang kurang nyenyak. Semalam, kabar baik tentang Uti Yaya yang sukses menjalani operasi seolah menjadi oase di tengah gurun pasir masalahnya. Auna menghela napas, menatap langit-langit kamar uti Yaya. Hari ini, ia harus menghadapi Fauzan.
Di kamar uti Yaya (Rumah Sakit)
"Sudah siap, Na?" tanya Rafka yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Auna mengangguk pelan. "Siap nggak siap, harus dihadapi, Raf."
Rafka mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Auna erat. "Aku di sini buat kamu."
(Singkat cerita, di rumah pak RT Joko, rumah mertua Fauzan atau rumah Rina)
Rumah Pak RT Joko terlihat ramai pagi itu. Beberapa ibu-ibu tetangga sedang bergosip di teras, sementara anak-anak kecil berlarian bermain layangan di halaman. Auna menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, diikuti Rafka di belakangnya.
"Assalamualaikum," sapa Auna lirih.
Pak RT Joko yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh. "Waalaikumsalam, Auna!" Seketika pak RT Joko kaget dengan kedatangan Auna. "Loh sama Rafka?" Rafka adalah warga desa sebelah, Rafka ini keponakan pak RT Joko, tapi kerabat jauh ya jauh karena keluarga Rafka miskin kata keluarga pak RT Joko jadi tidak diakui sebagai sanak famili oleh keluarga pak RT Joko.
Fauzan duduk di kursi dengan wajah lesu. Matanya sembab, seperti habis menangis semalaman. Rina, istri keduanya, tidak terlihat di mana pun.
"Jadi, ada apa ini, Na?" tanya Pak RT Joko memulai pembicaraan.
Auna menatap Fauzan dengan tatapan sendu. "Saya ke sini mau menyampaikan sesuatu, Pak. Sesuatu yang berat bagi saya, tapi harus saya lakukan."
Fauzan menunduk semakin dalam. Ia tahu apa yang akan dikatakan Auna.
"Saya... saya ingin berpisah dari mas Fauzan, Pak," ucap Auna akhirnya, suaranya bergetar.
Fauzan langsung mengangkat wajahnya, menatap Auna dengan mata memelas. "Auna, jangan begini, Na. Aku masih sayang sama kamu. Aku nggak mau pisah." Padahal di depan mertuanya bisa-bisanya si Fauzan bilang seperti itu, tidak memandang perasaan ayah Rina.
"Tapi, Zan..." Ucap pak RT Joko, seakan-akan dia menyetujui permintaan Auna.
"Aku janji akan berubah, Na. Aku akan jadi suami yang lebih baik. Kasih aku kesempatan sekali lagi," potong Fauzan dengan nada memohon.
Auna menggelengkan kepalanya. "Maaf, mas. Keputusan aku sudah bulat."
Pak RT Joko menghela napas panjang. Ia tahu betul bagaimana perasaan Fauzan, tapi ia juga mengerti penderitaan Auna selama ini dan dia juga harus menyatukan kembali Fauzan dengan Rina, putrinya sendiri.
"Fauzan, Bapak rasa kamu harus menerima keputusan Auna," kata Pak RT Joko dengan suara tegas.
Fauzan terkejut. Ia tidak menyangka ayah mertuanya akan berkata seperti itu. "Tapi, Pak..."
"Kamu sudah cukup menyakiti Auna, Zan. Bapak nggak mau lihat dia terus menderita karena kamu," lanjut Pak RT Joko. "Kalau kamu benar-benar sayang sama Auna, kamu harus merelakannya bahagia, meskipun bukan dengan kamu."
Fauzan terdiam, air matanya mulai menetes lagi. Ia tahu, ia tidak punya hak untuk membantah perkataan ayah mertuanya. Apalagi, selama ini ia masih menumpang hidup di rumah Pak RT Joko, apalagi dia masih suami Rina.
"Baik, Pak," jawab Fauzan akhirnya, suaranya tercekat. "Kalau itu yang terbaik buat Auna, saya terima."
Auna menatap Fauzan dengan rasa iba. Ia tahu, Fauzan sebenarnya adalah orang baik. Hanya saja, ia terlalu lemah dan mudah terpengaruh oleh orang lain.
"Terima kasih, mas," ucap Auna lirih.
Setelah itu, suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang berbicara. Auna merasa lega, tapi juga sedih. Ia lega karena akhirnya bisa melepaskan diri dari Fauzan, tapi juga sedih karena harus mengakhiri pernikahannya itu.
Rafka menggenggam tangan Auna semakin erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan padanya. Ia tahu, Auna pasti sedang merasa sangat berat saat ini.
Pak RT Joko kemudian berdiri. "Baiklah, kalau begitu Bapak akan segera mengurus surat-surat perceraian kalian. Semoga kalian berdua bisa mendapatkan kebahagiaan masing-masing di kemudian hari."
Fauzan mengangguk pelan, tapi Auna bilang tidak usah karena tidak mau berutang budi kepada pak RT Joko.
"Tidak usah, Pak RT. Biar saya urus sendiri," kata Auna dengan sopan. "Saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab pak RT Joko.
Auna dan Rafka keluar dari rumah Pak RT Joko. Ibu-ibu yang tadi bergosip di teras langsung terdiam, menatap mereka dengan tatapan penuh tanya. Auna hanya tersenyum tipis dan berjalan melewati mereka dengan tegar.
Di luar, Auna menarik napas dalam-dalam. Beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Ia menoleh ke arah Rafka, tersenyum tulus.
"Terima kasih, Raf," ucap Auna. "Kamu sudah banyak membantu aku."
Rafka membalas senyum Auna. "Aku akan selalu ada buat kamu, Na. Apa pun yang terjadi."
Mereka berdua berjalan menjauh dari rumah Pak RT Joko, meninggalkan segala masalah dan kenangan pahit di belakang. Auna menatap langit biru di atasnya, merasakan harapan baru mulai tumbuh di dalam hatinya. Mungkin, setelah ini, ia bisa memulai hidup yang lebih baik dan lebih bahagia, tapi teringat dengan selesainya proses perceraian pasti ada masa Iddah setelah itu menikah dengan Zhafran, dengan laki-laki yang sudah pernah meninggalkan Auna dan Zifa.
"Kamu kenapa, Na? Kok melamun?" tanya Rafka, menyadari perubahan ekspresi Auna.
Auna tersentak, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Raf. Cuma... kepikiran aja, setelah ini gimana."
Rafka menghentikan langkahnya, memegang kedua bahu Auna dengan lembut. "Kamu nggak perlu khawatir, Na. Aku akan bantu kamu melewati semua ini. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama."
Auna menatap mata Rafka, mencari ketulusan di sana. Ia melihatnya, terpancar jelas. "Terima kasih, Raf. Aku beruntung punya teman seperti kamu."
"Sudah kubilang, aku lebih dari sekadar teman, Na," ucap Rafka sambil tersenyum. "Tapi, untuk sekarang, yang penting kamu fokus sama diri kamu sendiri dulu. Jangan pikirkan yang lain-lain."
Auna mengangguk, mencoba menenangkan diri. Ia tahu Rafka benar. Ia harus fokus pada dirinya sendiri dan masa depannya. Tapi, pikiran tentang Zhafran tetap saja mengganggu.
"Raf, menurut kamu, apa aku harus kasih kesempatan lagi buat Zhafran?" tanya Auna tiba-tiba.
Rafka terdiam sejenak, berpikir. "Itu keputusan yang sulit, Na. Kamu yang paling tahu apa yang terbaik buat kamu. Tapi, menurutku, kamu harus benar-benar mempertimbangkannya matang-matang. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
"Aku takut, Raf. Aku takut dia akan ninggalin aku lagi," lirih Auna.
"Aku ngerti, Na. Tapi, setiap orang berhak dapat kesempatan kedua. Mungkin saja Zhafran sudah berubah dan benar-benar menyesal atas perbuatannya dulu. Tapi, ingat, jangan terlalu berharap. Kamu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi."
Auna menghela napas panjang. Ia tahu Rafka benar. Ia harus siap dengan segala kemungkinan. Tapi, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia masih memiliki perasaan pada Zhafran dan dia juga sudah menerima persyaratan Bu Onik demi ibunya dan juga Zifa.
"Aku akan pikirkan baik-baik, Raf. Terima kasih sudah mau mendengarkan aku," ucap Auna.
"Sama-sama, Na. Aku akan selalu ada buat kamu."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Auna masih memikirkan kata-kata Rafka dan mencoba menimbang-nimbang keputusannya. Apakah ia harus memberi Zhafran kesempatan kedua, ataukah ia harus melupakan masa lalunya dan memulai hidup baru dengan Zhafran tanpa perasaan apapun.
Tiba-tiba, ponsel Auna berdering. Ia melihat nama Zhafran tertera di layar. Jantungnya berdegup kencang. Dengan ragu, ia mengangkat telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum," sapa Auna.
"Waalaikumsalam, Auna. Apa kabar?" suara Zhafran terdengar lembut di seberang sana.
"Alhamdulillah, baik. Kamu?"
"Aku juga baik. Auna, aku mau ketemu sama kamu. Ada yang mau aku bicarakan," ucap Zhafran.
Auna terdiam sejenak. "Kapan?" tanyanya akhirnya.
"Besok bisa?"
"Baiklah. Di mana?"
"Di kafe dekat rumah sakit saja, Na."
Auna mengangguk pelan, meskipun Zhafran tidak bisa melihatnya. "Baik. Sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa, Auna. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Auna mematikan teleponnya dan menatap Rafka dengan tatapan kosong. "Zhafran ngajak ketemu besok," ucapnya lirih.
Rafka mengangguk. "Temui saja dia, Na. Dengarkan apa yang ingin dia katakan. Tapi, ingat, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik, apa yang terbaik buat kamu dan Zifa."
Auna mengangguk. Ia tahu, besok adalah hari yang penting. Hari di mana ia akan menentukan arah hidupnya. Apakah ia akan kembali ke masa lalu, ataukah ia akan melangkah maju menuju masa depan yang baru?
Dari aku (authornya);
Auna, apapun keputusanmu, semoga itu yang terbaik untukmu dan Zifa. Jangan lupa untuk selalu mendengarkan kata hatimu.