NovelToon NovelToon
Love In Training

Love In Training

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Kisah cinta yang terjadi antara Pilot muda dan seorang mahasiswi magang yang menjadi dekat dengan cara pendekatan si Pilot yang agak lain!



Mampir dong👉👈

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertamu lagi

Sudah beberapa hari sejak Jesika kembali ke hanggar bersama Adrian. Waktu terasa berjalan sedikit lebih tenang, meskipun masih ada tatapan penasaran dari rekan-rekan magang lain. Jesika berusaha fokus pada pekerjaannya, dan yang mengejutkan, Adrian pun seakan benar-benar menepati ucapannya. Ia tidak lagi melemparkan komentar dingin yang melukai hati.

Jesika masih gugup setiap kali berhadapan langsung dengannya, terutama saat ia dengan sabar mengoreksi pekerjaannya.

“Periksa baut ini sekali lagi. Jangan terlalu kencang, nanti malah bisa aus,” ujar Adrian suatu siang sambil menunjukkan cara yang benar. Suaranya terdengar datar, tapi tidak lagi menekan.

Jesika mengangguk, mencoba mengikuti arahan. Saat berhasil, ia menoleh sedikit dan mendapati Adrian memperhatikannya. Untuk sepersekian detik, tatapan pria itu terlihat berbeda. lebih lembut. Jesika buru-buru menunduk, jantungnya berdebar aneh.

Andina, tentu saja, tidak melewatkan momen kecil itu. Sambil membawa buku catatan, ia berbisik pelan pada Jovan, “Liat kan? kapten kayaknya mulai bucin mampus sama besti kita”

Jovan mendengus kecil. “Masih agak kaku, tapi lumayan lah supaya Jesika nggak kabur lagi”

Aja hanya mengacungkan jempolnya kearah Jovan sambil terkikik geli.

Jesika melangkah kearah mereka membuat suasana seketika hening.

"Ngapain? Kalian ngomongin aku ya" tuduh Jesika bercanda.

"Eh- ah enggak yaa, jangan asal tuduh" balas Andina cepat.

"Dih apaan" Jesika terkekeh melihat wajah Andina.

"Semangat kerjanya semua, jangan kebanyakan bercanda yaaaaa" seorang mekanik senior berteriak dari ujung kanan pesawat yang sedang mereka kerjakan.

.

.

.

.

Hari-hari berikutnya, rutinitas magang kembali normal. Jesika mulai terbiasa lagi dengan suasana hanggar, meski ia sadar banyak yang masih mengawasinya. Sesekali, ada yang berbisik-bisik di belakang, tetapi tidak lagi terang-terangan mengejek. Entah karena mereka segan pada Adrian, atau karena dia sudah tidak seperti dulu.

Di sela kesibukan itu, Andina tetap rajin menggoda Jesika. “Besok aku mau pulang agak malam. Kamu ikut abang aja biar sekalian kerumah. Mama nunggu kamu itu,” katanya suatu sore.

Jesika mendesah. “Din, kamu jangan bikin ribet deh. Aku bisa pulang sendiri. Kapan-kapan aja aku kerumah kamu.”

“Tapi abang sering nanyain kenapa kamu nggak kerumah, Jes,” Andina menatapnya penuh arti. “Aku rasa dia seneng kalau kamu ikut pulang kerumah.”

"Heh nggak mungkin lah dia nanya gitu ke kamu. Jangan ngaco deh Dindinnnnnn. Udah yaa, nanti aja aku main kalo weekend" Jesika mengusap pipi Andina yang terdapat noda hitam kecil.

"Beneran sayangku, dia selalu maksa bahkan aku buat bawah kamu kerumah. Abang tau kalo dia yang nanya kamu nggak bakal mau" Andina menahan tangan Jesika di pipi nya.

Jesika menoleh cepat, menatap wajah sahabatnya. wajahnya memanas. “Jangan ngomong aneh-aneh. Lagian dia mana mungkin—”

Kalimatnya terhenti ketika Adrian muncul dari arah pesawat, suaranya tegas, “Jesika, nanti selesai jam kerja, tunggu sebentar. Ada yang mau saya bicarakan.”

Andina hampir bersorak, tapi cepat-cepat menutup mulutnya. Jesika sendiri terdiam, menunduk, lalu hanya bisa menjawab singkat, “Baik, Kapten.”

"Nah kan, hati-hati loh di gigit abang. Dia suka banget sama yang imut-imut kayak kamu gini" Andina menguyel pipi kemerahan Jesika karena gemas.

"Andinnnnnn" Jesika berteriak kesal karena Andina mencium pipinya kemudian langsung berlari menjauh sambil tertawa.

Tidak sadar bahwa ada seseorang yang melihat kejadian itu.

"Cih, kalah start. Ngapain itu anak cium-cium pipi punya aku"

Ketika semua orang sudah pulang, Jesika masih duduk di bangku panjang dekat hanggar. Adrian datang menghampiri dengan langkah mantap. Suasananya hening, hanya keheningan yang menemani.

Jesika sedikit tersentak. Adrian muncul saat tadi dia sedikit melamun. Dia kan kaget.

"Maaf mengejutkan kamu, Brielle. Saya tidak sengaja" Adrian membuka pembicaraan.

Jesika menggeleng cepat. "Tidak apa-apa kak. Tadi saya yang melamun"

"Mikirin apa?" Tanya Adrian.

"Hah?" Jesika kebingungan.

"Lupakan. Saya mau bicara sama kamu. Saya tahu kamu masih canggung setelah kembali,” ucap Adrian tanpa basa-basi.

“Tapi kalau ada masalah, jangan simpan sendiri. Kalo ada yang ngomongin kamu, Langsung bicara ke saya.”

Jesika menggenggam erat ujung tasnya. “Iya...kapten.”

Adrian menatapnya sejenak, lalu melunak. “Mama tanya tentang kamu. Dia bilang sudah lama kamu nggak datang ke rumah. Saya nggak ngerti kenapa mama sesuka itu sama kamu”

Jesika mendongak pelan. Ada rasa hangat sekaligus sesak di dadanya. Ia memang merindukan suasana rumah Adrian—kehangatan mamanya, keramahan papanya. “Saya… juga nggak tau. Saya juga takut ngerepotin” gumamnya lirih.

Adrian menggeleng. "Mungkin pembawaan kamu yang bikin orang nggak bisa kalo nggak suka sama kamu" Jesika menatapnya.

“Kamu nggak pernah merepotkan, Jesika. Mama justru suka kalo kamu datang. Kalau kamu mau, saya tunggu kamu dan kita pulang sama-sama. Mama pasti senang.”

Jesika terdiam, hatinya bergejolak. Satu sisi ia ingin sekali, sisi lain ia masih diliputi ragu. “Saya… lihat nanti,” katanya akhirnya.

Adrian tidak memaksa.

Hening lagi. Jesika menatap lurus kedepan. Runway yang luas dan hijau menjadi pemandangan yang sangat bagus menurut gadis itu.

Sedangkan Adrian juga sedang menatap pemandangan yang sangat indah, Jesika yang sedang menatap kedepan itu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya yang polos tanpa polesan apapun membuat gadis itu terlihat sangat mempesona.

Lelaki itu memegang dadanya yang berdebar. Sangat kencang tapi dia senang dengan debaran itu.

Tanpa sadar tangannya terangkat untuk merapikan rambut Jesika yang menutupi alis gadis itu.

"Kenapa tidak dibuka saja?" Tanya Adrian saat Jesika menatapnya kebingungan.

"Ah ini? Saya tidak suka kak. Menganggu kalo lagi kerja. Biasa dibuka kalo dirumah ato nggak buat apa-apa gitu" jelas Jesika singkat.

"Cuci rambut berapa kali?" Tanya Adrian lagi. Jesika menatap Adrian yang juga sedang menatapnya dengan lembut.

"3 kali seminggu sih biasanya kak. Itupun lama banget dikamar mandi kalo hari cuci rambut" Adrian tersenyum kecil melihat itu.

"Nanti kapan-kapan saya kepang rambut kamu, mau kan? Saya biasa kepang rambut Andina juga. Mau coba ke orang lain kalo bisa atau tidak" Bohong sekali. Dia hanya pernah mengepang rambut Andina waktu adiknya kecil itupun hanya sekali.

Jesika hanya mengangguk kecil mengiyakan. Dia sedikit penasaran tentang Adrian yang mengepang rambut Andina.

"Saya pulang dulu ya, kak. Salam aja buat mama sama papa, kapan-kapan saya main kerumah" Jesika berdiri dan sedikit membungkuk kearah Adrian.

Beberapa hari terlewati. Mereka sibuk sekali karena ada pesawat baru yang harus dirakit. Tapi sekarang sudah tidak terlalu sibuk, makanya sekarang Andina kembali menggoda Jesika di ruang istirahat

“Jes, Mama udah masak makanan kesukaan kamu, lho. Dia nyuruh aku pastiin kamu dateng. Gimana dong.”

Jesika menelan ludah, menunduk dalam-dalam. Ia tahu pada akhirnya ia tidak akan bisa menolak. Ada rasa tidak enak karena beberapa kali undangan dia tidak datang. tapi tidak mungkin dia tidak datang juga malam ini.

Andina menepuk pundaknya. “Tenang aja. Aku bakal nemenin kamu, mama nggak gigit kok.”

Andina tersenyum penuh arti. Ia tahu, bukan hanya mamanya yang menunggu Jesika di rumah itu. tapi juga abangnya. Adrian selalu berharap Jesika datang kerumah mereka lagi.

.

.

.

.

“Jesika!” suara lembut menyapa begitu pintu terbuka. Mama Adrian melangkah keluar dari ruang tamu, wajahnya berbinar penuh suka cita. “Akhirnya kamu datang juga. Mama belum puas ngobrol sana kamu.”

Jesika buru-buru menunduk hormat. “Maaf, Tante. Saya…”

“Bukan Tante,” potong wanita itu cepat, sambil meraih tangan Jesika. “Panggil Mama. Dari dulu Mama udah bilang, kan? Ini karna Adrian nggak berani bawah kamu kesini lagi makanya kamu bisa lupa sama mama”

Jesika tertegun. Perlahan, bibirnya melengkung. “Iya… Mama.”

"Kamu cantik sekali, Jesss. Mama suka banget liat gaya kamu begini" Jesika sedikit malu dipuji Mama Adrian. Pipinya memerah. Astaga.

Adrian yang berdiri di belakang pintu menahan napasnya. Ada sesuatu di dadanya yang bergejolak saat mendengar Jesika akhirnya menyebut ibunya dengan sebutan itu.

Dirinya juga sangat terpesona dengan penampilan gadis itu yang mengurai rambutnya yang bergelombang sepinggang itu dengan gaun hitam pas body di bawah lutut.

"Maaf lama nggak datang ma, aku sibuk banget.”

“Ah, nggak usah minta maaf sayang. Kamu ini udah kayak anak Mama sendiri.” Mama Adrian menepuk tangannya lembut, lalu menggandengnya masuk. “Ayo, ayo. Papa juga udah di meja makan.”

Begitu melewati ruang tamu, Jesika melihat Adrian yang sudah duduk di meja makan bersama papanya. Pria itu mengenakan kaos hitam sederhana, tapi tetap terlihat tampan. Tatapannya langsung jatuh pada Jesika, dan meski tidak ada kata yang terucap, Jesika bisa merasakan sesuatu dalam sorot mata itu.

“Selamat malam, Uncle” sapa Jesika dengan sopan.

Papa Adrian pura-pura marah. “Selamat malam, Jesika. Papa sedih tau kalo kamu cuma panggil mama tapi papa kamu panggil uncle"

Andina tertawa melihat wajah Jesika yang sangat merah.

"Aduh papa, lupa ya kalo anak papa ini gampang sekali salting. Liat itu mukanya merah sekali" Mama mendekat dan mencubit gemas pipi Jesika. Memang benar. Gadis itu sangat gampang sekali memerah.

“Duduk aja” Adrian menarik kursi makan untuk Jesika.

"Ehemm" Andina berdehem dengan senyum menggoda.

Mama langsung mengkode Andina untuk diam “Makanannya udah siap semua. Untung Andina bawa kamu, kalau enggak Mama pasti nyusul kerumah.”

Andina tergelak kecil, lalu menarik Adrian duduk di kursi tepat disamping Jesika. Posisi itu membuat Jesika sedikit gugup.

Ada berbagai hidangan di meja. Ada ayam panggang, sup hangat, sayur tumis, dan sambal khas buatan Mama Adrian. Aroma masakannya membuat Jesika menelan ludah. Ia sudah lama tidak merasakan suasana makan keluarga yang hangat seperti ini. Ia jadi merindukan orang tuanya.

“Makanlah yang banyak, Sayang” kata Mama Adrian sambil menyendokkan sup ke mangkok Jesika. “Kamu pasti capek di hanggar.”

“Terima kasih, Ma.”

Adrian mendekat dan berbisik. "Jangan tegang,” katanya tiba-tiba.

Jesika menoleh dengan hati-hati. Wajah mereka dekat. “Apa?”

“Jangan tegang,” ulang Adrian lebih pelan, kali ini matanya menatap Jesika.

Jesika menggigit bibir. " Saya nggak...”

Adrian membalas. "Kamu iya"

Jesika lebih mendekat lagi. "Saya gugup karna kamu, kapten, apalagi posisi kita sekarang di depan orang tua kamu" Adrian tersadar dan melirik kearah orang tua dan adiknya yang berpura-pura fokus pada makanan mereka.

"Tambah sup-nya sayang" Mama Adrian tersenyum tertahan.

Percakapan pun mengalir ringan. Papa mulai menanyakan kabar magang Jesika, sementara Andina sibuk berceloteh tentang hanggar. Sesekali, Mama menimpali dengan gurauan yang membuat meja dipenuhi tawa.

Jesika bisa merasakan tatapan Adrian dari sampingnya. ia selalu mendapati Adrian yang diam-diam memperhatikannya. Pria itu tidak banyak bicara, hanya sesekali menambahkan komentar singkat atau menyendokkan lauk. Tapi sorot matanya… sulit diabaikan.

“Jes, akhir-akhir ini Andina bilang kamu sering pusing ya, masih sering sekarang?” tanya Mama tiba-tiba.

Jesika tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng. “Nggak, Ma. Sekarang sudah jauh lebih baik. Mungkin karna kemarin tidurnya nggak teratur. Terima kasih mama sudah khawatir”

“Syukurlah.” Mama tersenyum lega. “Kalau ada apa-apa, jangan disimpan sendiri. Kamu ini keras kepala, mirip sekali dengan Adrian.”

Andina langsung menyambar, matanya berbinar nakal. “Wajar aja, Ma. Jesika kan cocok sama Abang.”

Jesika tersedak, buru-buru menunduk dengan pipi panas. Sementara Papa tertawa kecil, dan Mama hanya menggeleng sambil tersenyum penuh arti.

Adrian tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menoleh sebentar ke arah adiknya dengan tatapan tajam, tapi kemudian kembali menatap Jesika dengan ekspresi tenang. Memberikan segelas air minum kearah gadis itu. “ ini minum dulu, Jes. Hati-hati makannya. Jangan pedulikan anak itu.”

Jesika minum dengan cepat. Tapi dia sadar sesuatu, itu gelas air Adrian! Astaga wajahnya makin memerah.

"Cie, ciuman nggak langsung. Ciuman langsung nya kapan" nah kan. Andina langsung menggoda dengan wajah yang sangat menyebalkan menurut Jesika.

Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang keluarga. Mama menyuguhkan susu hangat dan kue kering. Andina dan Papanya sibuk membicarakan wisusa, sementara Jesika duduk di sofa dengan tenang.

Adrian memilih duduk agak dekat, membuat Jesika gelisah.

“Saya seneng kamu mau datang” ucapnya pelan, nyaris berbisik agar tak terdengar yang lain.

Jesika menoleh cepat, matanya membulat. Ekspresi wajahnya sangat menggemaskan“Saya… nggak enak kalo nolak lagi”

Adrian tersenyum tipis, tapi sorot matanya serius. “Saya nunggu kamu kesini.”

Jesika menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Andina memperhatikan mereka hanya bisa menahan senyum lebar. Ia tahu malam ini hanyalah permulaan. Dia harus lebih mendekatkan Kakak dan sahabatnya itu.

1
laaaa
suka banget sama ceritanya
𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lanjt
彡 Misaki ZawaZhu-!
Terus berinovasi ya author, semoga sukses dengan ceritanya!
Tajima Reiko
Saya merasa seperti telah menjalani petualangan sendiri.
bea ofialda
Ngangenin banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!