Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?
Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Bersulang: Lupaku pura-pura
Kini satu bulan telah berhasil aku lalui tanpa kehadiran dirimu. Terasa sangat janggal, tiada notifikasi tiap pagi, atau sekedar sapaan untuk mengisi hari.
Dalam celah keheningan malam, ragaku kembali terbawa arus rindu, berhasrat kita bisa kembali bertemu. Memang benar kata mereka, jika benang merah tidak lagi menyatu, mau sedekat apapun kamu dan aku mustahil kita bisa bertemu.
Padahal, dalam satu gerbang dan tembok yang sama, sangat jarang bagiku bisa menemukanmu. Jangankan bertemu, hanya melihat senyummu-pun adalah anganku nan-semu.
"pagi"
"pagi juga"
Tanpa membantah, aku menjalani hari seperti biasa. Mungkin sedikit hampa dari hari-hari sebelumnya.
"pengumuman juaramu kapan Pia?"
"hari ini"
"jam?"
"jam satu...kayaknya"
"jam satu?" Ana melihat kearah jam dinding.
"loh! ini udah jam dua"
"iya, aku tau" Ana memandangku lekat.
"udah dilihat?" aku menggeleng.
"astaga cok! sini aku lihatkan"
Aku tidak percaya diri melihat pengumuman itu. Mana mungkin puisi satu hari jadi bisa memikat hati para juri.
"hmmm, pengumuman diinstagram belum ada" dengan lincah Ana mengotak-atik handphone milikku, "mereka mengumumkan juaranya melalui apa Pia?"
"live, tapi nanti pasti dipost kok, tunggu saja"
"lama cuy. Bentar, kita cari live mereka" tanpa ragu Ana langsung mendengarkan live penutupan Bulan bahasa Universitas Gajah Mada, padahal live tersebut berdurasi dua jam tiga puluh menit, aku saja muak sampai ke-trigger.
"hufh"
Kalian dengar helaan nafas Ana? the real titik tertinggi dari kesabaran Ana.
"hahahaha" aku terkekeh sedikit.
"apaan?"
"gak papa, lucu aja melihat kamu"
"maksud?"
"kalau aku tidak salah, seorang Ana memiliki kesabaran setipis tisu, tapi sekarang mau kali nonton live orang"
"itulah namanya effort"
Mungkin aku harus berterimakasih sama tuhan, karena telah menghadirkan teman seperti Ana, sedikit gila dan kasar, namun baik kadang lumayan sabar.
"Pia! Pia!" pada menit 90 gelora teriakan Ana memanggilku.
'kenapa?"
"kamu menang"
"hah?" aku tercengang.
"dengar"
Ana memutar kembali durasi ke 88 menit, 70 detik. Namaku benar-benar mereka umumkan sebagai pemenang.
Aku tertawa, bukan tawa puas melaikan tawa kehampaan. Dalam sajak kemegahan aku meyisipkan nama dia sebagai objek kajian. Benar, aksaraku mengisahkan raga yang kini sudah menjadi fana.
"aku ingin kamu lihat, aku masih ingin mencuri perhatianmu, aku ingin kamu menyadari aku lebih dari wanita pilihanmu, aku ingin bersinar"
Kira-kira demikian isi hatiku, mutlak selagi menyusun bait puisi.
Matamu yang menilik diriku, menjadi pemandangan indah. Aku berani bersumpah, aku bahkan bisa menyadari tatapanmu diantara 600 pemerhati.
Entah kau memandang dengan rasa atau haya sekedar etika, barangkali untukmu dia tetap nomor satu.
"selamat Pia"
"selamat kak"
"selamat"
"cieee juara"
Sekian banyak ucapan selamat, sangat disayangkan suara mu sepenuhnya tidak teresap oleh telingaku.
"Pia adekmu punya pacar loh"
"hah? Adek mana"
"ini"
Bukan selamat darimu aku dengarkan, malah informasi kau memiliki pacar aku dapatkan.
"terus?"
"ya, gak papa aku ngasih tau aja"
"aku juga gak peduli"
Bohong, aku masih perduli padamu, tubuhku ikut bergetar menandakan aku tidak mampu. Secepat itukah kau menemukan orang baru, apa hanya aku berselimut dengan sendu?
"Ana"
"anjir apasih, gencar kali cari cewek"
"kenapa aku menderita sendirian Ana?"
"udah gak usah diperdulikan, dia gampang nyaman memang murahan"
"tapi kenapa? Salah aku dimana, kenapa aku masih sakit Ana padahal sudah sebulan, aku pikir sudah tidak ada lagi rasa suka"
"tandanya kamu masih sayang, nikmati sakit saat ini jangan dihindari, sampai kamu muak lalu bosan, toh lama-lama kamu gak akan perduli"
"kok bisa dia secepat itu mendapatkan orang baru?"
"entah iya orang baru, atau kamu baru tahu?"
"..." dialokku tercekat.
"gini ya Pia, dia gak jadian sama cewek pilihan sebelumnya, pacar dia cewek berbeda, apalagi kalau ga bermain ganda?"
"mungkin salahku juga"
"mulai" terpancar wajah kesal dari Ana.
"aku selalu menolak ajakan dia jalan bareng, waktu dia mau post fotoku juga aku tolak. Kepastian hatiku sangat samar hingga jadi kelabu, aku terlalu ragu buat mengaku"
"Pia" Ana menyentil kepalaku "diam gak! kamu itu gak salah, dia aja kegatalan, dia gampang nyaman Pia. Sebelum kenal kamu, aku pernah call berempat dengan Hana, disitu nampak dia juga nyaman. Lagian kalau memang kamu tujuannya maka dia akan effort!"
"tapi, aku terus berpikir, bagaimana kalau aku lebih transparan, mungkin bisa sedikit merubah cerita"
"penyesalan selalu belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran"
"hahahahaha" tawaku terlalu garing untuk dinyatakan sebagai tawa.
"aku kangen, pengen chat dia"
"aku tahu kamu mencintai dia, tapi ini sudah berakhir, tidak masalah coba buang ponselmu, aku tahu menghilang merupakan keputusan paling sulit, tapi biarkan dia pergi karena kamu bukan sang permaisuri"
...----------------...
Orang-orang bertanya kepadaku, "masih dia tokoh utamanya?"
Akupun diam sejenak dan pelan-pelan menjawab "masih, jujur sampai sekarang masih dia tokoh utamanya, aku baru sadar dia belum bisa tergantikan atau bahkan terlupakan"
Kamu masih menjadi seseorang yang aku cintai habis-habisan sampai saat ini, bahkan aku selalu ingin menghubungi kamu lagi. Tapi kamu tampak baik-baik saja tanpa kehadiran diriku, bagaimana mungkin kuganggu ketenangan itu?
"Kenapa ya, begitu menguras air mata untuk mengusahakan ikhlas yang ada kamu menyertainya."
Asal kamu tahu, hadirmu adalah sebuah pasal yang sesering mungkin pura-pura aku lupakan, namun mataku tidak berhenti menoleh kearah kolom chat yang kian menerus berdatangan, berharap diantara chat tersebut adalah kamu meski hadirmu terasa tidak menyenangkan.
Diam-diam raut wajahnya aku selalu simpan, ingatanku jelas membingkai sebuah ruangan kecil dimana ada dia tanpa ada aku. Aku mengamati sosok dia dalam ruang rindu, lalu dia hadir dalam mimpiku, dan ternyata dia malah hilang dalam nyataku.
Pada suaramu yang kini hanya gema dilangit malam, aku masih mampu mendengar lirihnya, meski waktu telah meredamnya menjadi bisik, aku tetap menjadi penikmat yang selalu ingin mengulik. Aku masih sibuk mencari semua bayangan, di album berdebu, lirik-lirik lagu, bahkan disisa-sisa kewarasanku.
Dia bisa buat aku tahan untuk terus menunggu, meskipun kecil kemungkinan dia bakalan datang. Dia bisa membuat aku rela menutup hati karena aku berharap dia mengisi kekosongan rumah ini. Dia bisa buat aku senang dan kebingungan dalam satu waktu, antara mau terus cinta tapi ikhlas mana lagi harus aku coba?
Rasanya aku terjebak dititik terendah, kemudian terjatuh hingga kehilangan arah, disaat aku berkalut hampa, dalam lamunan mahogra, intuisi roman mengajakku berkitar dalam riwayat duka cita.
Sambil berkata, mengapa? Kau mengajarkanku cara mencinta, namun kau lupa mengajarkanku apa itu melupa. Bisakah kau jajarkan kiat amnesia? Sungguh aku hanya ingin lupa.