Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di depan layar ponselnya, Alya menatap foto yang baru saja dikirim oleh Nadia. Ia sengaja melakukan hal itu untuk buktikan kepada Alya jika kini ia bukan lagi gundik lagi seperti yang selalu Alya katakan kepadanya. Reza, berdiri berdampingan dengan Nadia dengan senyum tipis tersungging di wajahnya. Mereka baru saja resmi menikah di depan penghulu. Senyum Nadia terlihat lebar, tapi di mata Alya, senyum itu palsu. Seperti topeng yang menutupi dosa.
Alya menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, menahan napas panjang. Hatinya seharusnya bahagia. Ini bagian dari rencananya pernikahan itu akan menjadi bukti kuat saat gugatan cerai dilayangkan ke pengadilan. Jika Reza terbukti berselingkuh otomatis Alya akan mendapatkan semua harta Reza, bisnis yang dulu dia bantu bangun, akan kembali ke tangannya secara sah.
"Selamat, Nadia," gumam Alya pelan, senyumnya tipis dan pahit. "Kamu resmi masuk ke dalam perangkapku aku ingin lihat jika kamu tahu Reza tidak punya apa-apa apakah kamu masih ingin bersamanya? Aku sungguh penasaran akan hal itu.”
Pasca Reza menikahi Nadia secara resmi. Sudah hampir satu bulan ia tidak pulang ke rumah Alya. Bahkan ibu Alya pun sering menanyakan keberadaan Reza. Alya hanya bisa mengatakan jika Reza kini tengah sibuk rasa sedih sudah pasti dirasakan oleh Alya, tapi ia enggan larut dalam kesedihan yang tidak berguna ia berusaha untuk menyibukkan diri dalam bekerja yang nyaris tak kenal lelah kini kesembuhan ibunya adalah hal yang utama bagi Alya.
Sepulang bekerja Alya membawa dirinya tanpa tujuan jelas mobilnya melaju ke sembarang arah. Tidak jelas akan kemana malam itu karena hujan ia hanya ingin mengalihkan pikirannya dari masalah rumah tangganya foto pernikahan suaminya dan gu*dik itu terus menghantui benaknya, dari senyum Nadia yang lebar serta Reza yang tampak bahagia foto itu tak kunjung bisa ia hapus dari ingatannya.
Ia masuk ke sebuah kafe kecil di daerah Senopati, tempat yang biasa ia datangi saat butuh ketenangan. Tempat itu seharusnya aman dan sepi karena tersembunyi dan asing.
Namun takdir rupanya punya rencana lain.
Langkahnya terhenti di ambang pintu ketika ia melihat sosok familiar duduk di sudut ruangan. Nadia. Duduk gelisah dan menunduk. Di hadapannya sesosok seorang pria dengan rahangnya tegas, tatapannya menusuk. Butuh beberapa detik sebelum Alya menyadari jika pria di hadapan Nadia bukanlah Reza.
“Apa yang mereka lakukan di sini berdua?kemana Reza?” Gumam Alya pelan.
Tanpa menimbulkan suara, Alya memilih meja di balik rak buku tinggi yang membatasi area duduk. Ia menunduk, pura-pura membaca menu, tapi telinganya menangkap tiap kata dari percakapan mereka.
“Kamu pikir bisa lepas dariku selamanya? mau bagaimanapun Aku ayah dari anak itu, Nad. Bukan Reza,” ucap Ryan dengan suara pelan dan tajam.
“Tolong, jangan mulai lagi, Ryan. Kita sudah bahas ini. Aku mohon, jangan ganggu kehidupanku sekarang!” balas Nadia dengan suara gemetar.
“Kehidupan barumu, maksudmu? Jadi istri sah dari pria kaya dan pura-pura anak itu miliknya? Hebat juga kamu, Nad.”
“Aku nggak punya pilihan, aku gak mau hidup miskin sepertimu!”
“Kamu memang licik. Bagus tapi sekarang, aku mau kamu bayar aku Setiap bulan. Atau… Reza akan tahu semuanya,” Ancam Ryan.
“Dasar Brengsek kamu! Bukankah kamu berjanji kita uang sepuluh juta kemarin itu yang terakhir kenapa sekarang kamu minta lagi hah!”
“Karena uang itu sudah habis Nadia! Kamu tahu gaya hidupku bagaimana. Sudahlah aku tidak ingin membahasnya yang aku ingin cuma uang!”
“Kurang ajar kamu Ryan!”
“Terserah apa katanya yang jelas jika kamu tidak mau memberiku uang aku akan memberitahu Reza yang sebenarnya!”
Dunia Alya terasa berputar. Ia menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya pada apa yang baru ia dengar. “Anak yang dikandung Nadia bukan anak Reza?” Batin Alya. “Jadi selama ini dia bohong. Bukan hanya pada Reza tapi juga padaku.”
Perasaan marah, puas, sekaligus muak bercampur jadi satu di dada Alya. Tapi ia tahu satu hal ini bukan akhir. Ini justru awal dari sesuatu yang lebih besar dan lebih gelap.
Ia bangkit perlahan, meninggalkan kafe tanpa suara, senyum dingin mulai muncul di wajahnya.
Sekarang Alya tak hanya punya rencana. Ia punya bukti. Dan Nadia baru saja membuka pintu menuju kehancurannya sendiri.
Setelah hampir satu bulan menghilang Reza tiba-tiba saja datang ke rumah Alya. Ia berlagak seperti pemilik rumah itu dengan sikap santai seperti tidak terjadi apa-apa.
“Halo sayang,” ucap Reza santai.
Alya berdiri membelakangi Reza, bahunya menegang. Ia tak percaya kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pria itu.
“Ada apa, Mas? Tumben kamu panggil aku sayang? Apa kamu mau sesuatu dariku?” ucap Alya seolah tahu apa yang dipikirkan Reza.
“Ehm..begini Alya villa kita itu nggak sering kamu gunakan bukan bagaimana jika villa itu kita berikan kepada Nadia dia akan lebih nyaman di sana. Toh kamu masih punya apartemen, dan properti lain kan? Villa itu tidak kamu butuhkan bukan,”
“Apa kamu bilang Mas! Kamu mau kasih villa itu ke Nadia? Villa itu bagian dari hakku, Reza! Itu yang dulu kamu janjikan itu milikku!” kata Alya berbalik cepat dengan mata merah menyala.
“Alya, jangan dramatis. Ini hanya properti.” ucap Reza sedikit menghindar tapi tetap tenang.
“Cuma properti katamu Mas! Itu simbol pernikahan kita Mas, kamu memberikan aku villa itu sebagai bukti cinta kamu kepadaku. Sekarang dengan mudahnya kamu meminta aku untuk memberikan villa ke perempuan itu? Yang bahkan belum lama jadi Istrimu?”
Reza diam. Tak menjawab. Dan itu yang paling menyakitkan bagi Alya bukan kata-kata, tapi diamnya. Diam yang menyatakan bahwa hatinya tidak lagi menjadi prioritas.
“Apa kamu pikir dia akan berhenti setelah meminta villa itu? Apa kamu pikir Nadia akan cukup puas? Aku yakin setelah villa itu dia akan meminta lebih dan lebih lagi Mas!” Bentak Alya dengan suara bergetar.
Alya mundur satu langkah. Ia mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Tapi bukan karena sedih tapi karena muak. Dengan Reza dan Nadia. Dan dengan dirinya sendiri, yang pernah mempercayai Reza.
“Tetapi Alya apa kamu tidak merasa kasihan kepada Nadia dan calon anakku mereka tinggal di apartemen yang kecil aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku,”
“Anakmu? Hah! Aku kasihan padamu Mas!” ucap Alya sinis. Kamu benar-benar bodoh!”
“Apa maksudmu Al?”
“Sudahlah, Mas! Aku enggan berdebat lagi denganmu! Yang jelas aku tidak akan pernah memberikan apa-apa yang sudah jadi hak ku! Jika kamu ingin memberikan Nadia rumah beli saja pakai uangmu sendiri!”
Reza menatap punggung Alya yang begitu saja meninggalkannya ia terlihat goyah. Tapi Alya tak peduli. Dalam diam, ia sudah bersumpah ini bukan lagi tentang cinta. Ini tentang keadilan. Dan tentang membuat mereka berdua membayar semuanya.
Bersambung....
Jangan lupa follow Author...🥰