Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 10
Mita.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali menyesuaikan dengan cahaya yang masuk lewat jendela. Aku melihat kesamping arun sudah tidak ada sepertinya arun sudah bangun dari tadi. Aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk buang air kecil, cuci muka dan gosok gigi. "Pagi ini aku buatkan sarapan apa ya untuk arun?" tanyaku pada diriku sendiri. aku juga belum sempat menanyakan makanan yang tidak di sukai arun. aku takut kalau aku memasak makanan yang tidak di sukai arun.
Aku melihat ke sekeliling ruangan tapi aku tidak melihat arun, kemana arun sepagi ini. Aku melihat jam di dinding, aku kaget melihat jam yang sudah menunjukan pukul 8 pagi, aku kira masih jam setengah 7. Kenapa aku bisa kesiangan begini pasti arun sudah berangkat kerja tanpa sarapan terlebih dahulu.
Dengan lemas aku duduk di kursi meja makan, aku merasa bersalah seharusnya aku tidak kesiangan begini aku seperti melantarkan suamiku. Aku memang tidak mencintainya tapi aku tetap istrinya yang harus mengurus keperluannya.
Entah mengapa tadi malam aku sangat nyenyak sekali tidur bahkan aku tidak terbangun di pertengahan tidurku, tidak seperti malam-malam sebelumnya aku pasti akan terbangun di tengah malam dan mendadak merasa gelisah. Tapi untuk tadi malam aku sama sekali tidak terbangun, saking nyenyaknya tidurku. aku sampai malas untuk bangun. Dan jadinya sekarang aku bangun kesiangan. Yasudahlah bair nanti aku minta maaf pada arun karena tidak sempat mengurusi keperluannya.
Baikalah sekarang aku harus mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Aku harus mulai terbiasa dengan mengerjakan pekerjaan rumah ini. walaupun saat aku di rumah kedua orang tuaku aku tidak pernah membersihkan rumah. Mumpung masa liburku masih lumayan lama aku akan membiasakan diriku dengan hal kerumah tanggaan.
Setelah aku membereskan kamar, menyapu dan mengepel seluruh ruangan, aku merebahkan tubuhku di atas sofa ruang tamu, uuhh cape sekali. keringat membanjiri tubuhku bahkan kaos yang aku pakai ikut basah sebagian karena keringat. Aku merasa lapar tapi aku malas untuk masak, tenagaku seperti terkuras habis.
“kamu sedang apa?” aku tersentak kaget mendengar suara arun, kenapa arun suka sekali tiba-tiba muncul di hadapanku dan anehnya aku tidak mendengar ada suara deru langkah orang masuk rumah.
“kenapa kamu suka sekali tiba-tiba muncul di hadapanku? Bisakah kamu tidak membuat aku kaget?” tanyaku sambil bangun dari rebahanku, arun mengerutkan alisnya sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.
“aku hanya bertanya, emang itu membuatmu kaget?” ucap arun santai sambil berjalan menuju dapur, aku memutarkan bola mataku tidak menjawab pertanyaannya, yang ada nanti pembahasannya makin panjang. aku mengekorinya dari belakang dan duduk di kursi meja makan. Aku kira arun sudah berangkat kerja tapi melihat penampilannya memakai celana trening dan baju kaos warna abu lengan pendek sepertinya arun habis olahraga pagi.
Arun meminum air sekali tegukan, aku memandangi wajahnya. Arun memiliki Alis yang tebal, tulang pipi tinggi, garis rahang tegas dan dagu yang lancip, jangan lupakan juga bibir ranumya. Tuhan begitu baik memberikan wajah yang begitu sempurna kepada arun. aku yakin setiap wanita pasti akan langsung terpesona saat pandangan pertama melihat arun. Dan apakah aku juga terpesona dengan kesempurnaan wajahnya?. Mungkin aku bisa bilang aku terpesona kepada arun tapi tidak untuk hatiku. Setampan apapun lelaki yang aku temui tetap saja hatiku di penuhi dengan nama abian. lelaki yang telah meninggalkanku.
“udah puas mandangin wajah aku?" tanya arun memulai, aku mengerjapkan mataku dan menegakkan posisi duduk-ku, tuhkan jadi malu ketahuan kalau aku mandangin wajahnya.
“kenapa emang kalau aku mandangin wajah kamu, kamukan suami aku jadi wajar kalau aku mandangin wajah kamu“
“dasar aneh, di tanya apa di jawab apa“ ucap arun santai sambil menggelengkan kepalanya. Emang tadi arun nanya apa si, ko aku jadi bingung mau jawab apa. jadi asal aku jawab saja perkataannya. Jadi malu sendiri
“aku kira kamu berangkat kerja, pagi-pagi udah nggak ada di rumah“ ucapku memulai
Arun duduk di kursi sebrang. Otomatis aku duduk berhadapan dengannya.
“aku libur kerja tiga hari“
“eh ko libur?”
“Ck. Papah yang miminta aku untuk libur, katanya aku di suruh menikmati masa pengantin baru.“ jawab arun malas. Aku mengangguk-anggukan kepala.
"ya wajar papah kamu menyuruh kamu untuk cuti, mana ada pengantin baru langsung masuk kerja, apalagi pergi pas malam pertama karena kerjaan“ aku menekankan suaraku ketika mengucapkan kalimat terakhir sambil aku membuang muka ke arah lain.
Arun mendengus sambil tersenyum miring, dan beranjak dari duduknya. aku tidak peduli kalau arun tersinggung dengan perkataanku.
“oiya, kamu mau di masakin apa buat makan siang?” tanyaku sebelum arun masuk kedalam kamar, sebenarnya agak sedikit gengsi untuk menanyakan hal tersebut tapi lebih baik aku menanyakan apa yang mau dia makan, dari pada nanti masakanku mubazir
Arun tidak langsung menjawab pertanyaan ku, seolah-olah dia sedang bingung mau makan apa.
“kamu nggak usah masak aja?”
“kenapa? kamu nggak suka sama masakanku?” aku sedikit khawatir kalau masakanku tak sesuai dengan selera lidah arun, pasti arun sudah biasa makan di tempat yang mewah yang masakannya pasti sangat enak. jika dibandingkan dengan masakanku, ya sudah pasti masakanku jauh berbeda dengan resteron-restoran itu.
“bukan karena itu, aku ingin mengajakmu makan siang di luar saja, lagi pula kita belum pernah jalan-jalan keluar setelah kita menikah“ jawab arun, aku bernapas lega mendengar jawaban arun setidaknya arun tidak mengatakan masakanku tidak enak.
“oh gitu,, ok baikalah aku kira masakanku tidak enak karena Kamu menyuruhku tidak usah masak“
“tenang aja, masakanmu enak ko. Aku suka“ ucap arun sambil tersenyum manis. Aku menganggukan kepala membalas senyumannya, kemudian arun masuk kedalam kamar.
******************
“udah siap“ tanya arun
Aku mengangguk sebagai jawaban, selama perjalanan menuju parkiran mobil tidak ada obrolan antara kami. Walaupun arun hanya memakai pakaian santai tapi tetap saja kelihatan keren, arun memakai jelana jeans, baju kaos warna putih dan luarannya pakai kemeja kotak warna biru dongker yang kancingnya di biarkan terbuka.
“terimakasih“ ucapku ketika arun membukakan pintu mobil untuk-ku
Kemudian arun menyalakan mesin mobilnya, dan meninggalkan parkiran apartemen. Aku sedikit merasa canggung, semenjak keluar dari apartemen tidak ada sama sekali obrolan antara kami. Saat masa-masa aku bersama abian jarang sekali kami diam tanpa obrolan. Abian seperti punya seribu pembahasan untuk dijadikan bahan obrolan. Ah, kenapa aku harus mengingat abian lagi, hatiku kembali sakit dan mataku terasa perih. aku mengarahkan wajah ke jendela, untuk melihat suasana jalanan setidaknya ini membuat pikiranku sedikit teralihkan dari abian.
“mita“ panggil arun sambil menyentuh bahu ku
“eh kenapa?” ucapku kaget
“aku dari tadi manggil kamu, tapi kamu nggak nyaut-nyaut”
“oh maaf aku nggak sadar”
“aku liat-liat kamu sering melamun mit“ ucap arun, menoleh kepadaku sebentar dan kembali pokus padangannya ke depan
“banyak pikiran ya?” tanya arun, sebenarnya sikap arun padaku lumayan hangat padahal kami baru beberapa hari bersama. Aku kira sikap arun bakal sedingin es mengingat dia menikahiku karena terpaksa.
Aku tidak menjawab pertanyaan arun, aku hanya tersenyum kecil kepadanya sebagai jawaban. Aku tidak bisa cerita kalau aku memikirkan abian, bagaimana dengan hati arun jika mengetahui istrinya sering memikirkan lelaki lain. Walaupun kami tidak saling mencintai tapi setidaknya aku menjaga hati arun agar tidak terluka.
“oiya, nanti besok bu irna akan mulai kerja lagi“ kata arun, syukurlah arun mengerti. tidak lanjut menanyakan kenapa aku sering melamun. Dan mengganti topik obrolan kami
“bu irna, siapa bu irna?” tanyaku penasarn
“bu irna yang kerja di apartemenku, beliau yang sering membersihkan apartemenku, dan mencuci pakaianku. Jadi mulai besok kamu nggak usah cuci baju dan bersih-bersih apartemen kita lagi“ kata arun menjelaskan
“aku kira selama ini kamu nggak punya asisten rumah tangga“
“aku mana sempat bersih-bersih rumah. Pekerjaan kantor aja nggak kelar-kelar. Jadi selama satu bulan kemaren tu, bu irna izin pulang kampung soalnya mau ngurusin pernikahan anak laki-lakinya.”
“yah berarti selama ini aku salah tebak dong“ ucapku
“hah salah tebak? salah tebak apa?” arun mengerutkan halisnya penasaran. Mobil kami sampai di salah satu tempat makan. Aku kira arun akan membawaku makan di restoran tapi ternyata arun membawaku ke warung makan ayam penyet.
“kita makan disini?” tanyaku
“iya, kamu nggak biasa makan di tempat ginian?” tanya arun balik
“eh bukan gitu, aku nggak nyangka aja seorang ceo perusahaan besar, bisa juga makan di tempat begini“
Arun terkekeh mendengar ucapanku “kamu pasti terlalu banyak baca novel romansa yang peran laki-lakinya dingin dan suka makan di tempat-tempat mewah“
“hehehe ko kamu bisa tau, kamu pembaca novel bergenre romansa juga?“ tanyaku.
Arun tidak menjawab pertanyaanku, dia malah turun dari mobil dan membukakan pintu untuku.
“arun jawab pertanyaanku” ucapku ketika arun membukakan pintu mobil untuku
“kalau aku menjawab pertanyaanmu, itu tidak akan selasi-selasai. Aku sudah sangat lapar sekarang“ aku memanyunkan bibirku, kesal tidak mendapat jawaban arun. Aku akan sangat senang sekali kalau arun suka baca buku bergendre romansa juga. Aku jadi punya teman untuk membicarakan keseruan tentang buku romansa.
“wah sudah lama sekali saya tidak melihat pak arun makan disini“ sapa seorang bapak-bapak ketika kami datang di tempat ayam penyet ini
“iya pak minggu-minggu kemarin pekerjaan saya banyak sekali jadi tidak sempat mampir kesini” ucap arun ramah, sambil tersenyum manis
“ini pacar pak arun?” tanya bapak-bapak itu sambil menujuk sopan padaku
“dia bukan pacar saya“ jawab arun, aku menoleh kepada arun, apa arun malu mengakuiku sebagai istrinya di hadapan orang lain.
“maksudnya dia bukan pacar saya tapi istri saya pak husen” lanjut arun cepat
Pak husen yang di sebut arun barusan terlihat kaget mendengar ucapan arun. Aku kira arun tidak akan mengakui aku sebagi istrinya. Memang benar yang di ucapkan arun kalau aku ini memang bukan pacarnya melainkan istrinya. Aku saja tadi yang sudah perpikiran aneh-aneh.
“wah berita yang sangat luar biasa, selamat pak atas pernikahannya“ wajah pak husen berbinar, memancarkan kebahagiaan dari raut wajahnya
“oiya, mita ini pak husen yang punya warung makan ayam penyet ini“ kata arun memperkenalkan
“salam kenal pak, senang bisa bertemu dengan pak husen“ kataku ramah sambil berjambat tangan
“iya mbak mita saya juga sangat senang bertemu mba mita, mbak mita beruntung sekali bisa punya suami seperti pak arun ini“ aku hanya tersenyum mendengar ucapan pak husen.
Setelah itu pak husen mempersilahakan kami duduk, aku duduk berhadapan dengan arun. Aku makin penasaran dengan arun, sebenarnya arun lelaki seperti apa sepertinya banyak hal menakjubkan yang ada pada dirinya.