"Maaf, aku tidak bisa mengkhianati mendiang istriku. Apakah kau ridho jika menjadi istri yang tidak tersentuh? Kalau setuju, ayo kita menikah!" Dave Matthews ( Ex Mafia Black Hawk )
Sekar adalah korban pelecehan ketika gadis itu mencari kerja di kota. Ia menjadi korban penipuan sehingga tak tau kalau ternyata di jual pada seorang Casanova.
Sekar berhasil kabur dan kembali pulang ke desanya. Sayang, gadis belia itu membawa serta benih yang sama sekali tak ia harapkan hadir di dalam rahimnya.
Kenyataan hamil di luar nikah, membuat Sekar putus asa dan berakhir depresi. Sampai seorang pria mualaf yang merupakan mantan mafia bersedia menikahinya.
Sekar menjadi istri yang haram untuk di sentuh sampai ia melahirkan bayi perempuannya.
Dapatkan Sekar, menimbulkan percikan cinta di hati seorang Dave, yang mati bersama jasad mendiang Anne?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Hanya Dianggap Adik
Malam itu juga, Velicia berkomunikasi lewat telepon seluler dengan Zayn, suaminya. Pria itu baru selesai solat tahajud di depan Ka'bah. Bukan main gembiranya Zayn saat itu. Ia langsung sujud sukur dengan tangis haru. Tak menyangka, Allah akan secepat itu melimpahkan amanah pada mereka berdua.
Zayn kemudian bicara pada sang Ummi. Meminta tolong pada Arumi agar mengantar istrinya periksa ke bidan desa. Namun, Arumi menyarankan agar ke rumah sakit di kota saja. Velicia juga bilang, dia berencana mengajak ibu sambungnya untuk periksa ke rumah sakit bersamanya.
Zayn menyerahkan semua keputusan pada istrinya. Asalkan itu demi kebaikan Velicia dan calon bayi mereka berdua. Zayn tersenyum setelah panggilan itu terputus. Tak henti-hentinya pria itu mengucap rasa syukur.
"Sebentar lagi, suasana akan di ramaikan oleh kehadiran dua bayi sekaligus. Masyaallah. Begitu indah rencana-Mu." Zayn kembali bersujud demi mengungkapkan kebahagiaannya. Doa terus mengalir dari bibirnya agar kehamilan dua perempuan hebat itu berjalan dengan semestinya.
Kepulangannya masih beberapa hari lagi. Rencana Zayn akan berada di tanah suci sekitar dua pekan. Karena dirinya juga sekalian akan menemui seorang syech yang menjadi donatur utama pembangunan pesantren hingga pembebasan lahan tersebut.
*
*
Tiba kepulangan Dave. Betapa terkejutnya dia ketika mendengar kabar yang di sampaikan oleh putri semata wayangnya.
"Baiklah. Kita ke kota sama-sama. Kamu sudah mengabarkan Zayn?" tanya Dave pada Velicia yang sejak semalam menginap di kediamannya. Terlihat, Sekar datang dengan nampan di tangannya.
"Masyaallah, Ibuk Sekar. Kenapa gak minta tolong sama Zahra," kata velicia. Dia telah terbiasa menggunakan nama gantinya yang lebih islami. Nama pemberian Zayn, suaminya.
"Gapapa, cuma bawa camilan," sahut Zahra seraya melempar senyumnya. Dave yang tak sengaja memperhatikan, buru-buru mengalihkan pandangannya. Semua itu demi menjaga hati dan perasaannya.
"Matursuwun nggih Buk," kata Velicia yang mulai lancar berbahasa asli desa tersebut. Sekar kembali tersenyum mendapatkan panggilan yang sangat sopan serta lembut dari anak sambung yang seusia dengannya itu. Rasanya geli dan lucu.
Terbukti, Velicia akan selalu menyembunyikan senyumnya acapkali memanggilnya seperti itu. Karena bagaimanapun juga Dave dengan tegas melarang sang putri untuk melewati batasannya. Berapapun usia Sekar, sang putri harus menghormatinya. Toh mereka berdua tetap bisa menjadi sahabat tanpa melupakan posisi masing-masing.
"Bagaimana, Vel?"
"Zahra, Dad," ralat Velicia dengan ekspresi gemas. Sang Daddy nyatanya belum juga terbiasa dengan nama barunya.
Dave hanya bisa tersenyum kikuk. Pria itu harus menjaga wibawanya di depan Sekar.
"Jadi, apakah Zayn sudah tau tentang kehamilanmu?" tanya Dave lagi.
Velicia tersenyum dan mengangguk. Kedua matanya berkaca-kaca. Membayangkan reaksi suaminya kala itu.
"Kapan suamimu pulang?" tanya Dave lagi, mengalihkan perasaan Velicia.
"Insyaallah tiga hari lagi, Dad. Mas Zayn, sudah ijinkan Zahra untuk pergi ke kota untuk periksa kehamilan dengan Ummi, Abi dan Daddy juga Ibuk Sekar. Sekalian kita jalan-jalan." Velicia berkata dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Matanya menatap ke arah Sekar yang sejak tadi Istiqomah menundukkan pandangannya.
Dave pun setuju. Pergi bersama-sama lebih baik ketimbang hanya ia dan Sekar saja. Lebih aman untuk menjaga kondisi hati dan imannya. Dave mengakui, kenapa Darren begitu gila sampai merudapaksa Sekar saat itu. Wanita muda itu memiliki daya tarik yang tidak di miliki gadis kota pada umumnya. Wajahnya yang ayu, mampu menggetarkan hati laki-laki manapun, termasuk dirinya. Apalagi jika terus di pandang. Maka Dave semakin sadar akan ketertarikannya.
"Baiklah, Daddy dan Ibuk Sekar akan bersiap." Dave pun berdiri dan berlalu ke kamarnya. Sekar pun ikut bangun karena ia melihat kode mata dari suaminya itu. Sekar berjalan mengikuti langkah suaminya, namun seketika berhenti ketika pria itu juga menghentikan langkahnya.
Dave berbalik, keningnya berkerut tanda heran. "Kamu, ngapain ikutin saya?"
"Hah? Tapi tadi, Mas yang--"
"Ya bukan ngikutin saya juga. Tapi ke kamar kamu sendiri!" posting Dave dengan nada tegas. Sekar seketika sadar bahwa dirinya telah salah tangkap kode dari suaminya itu. Sekar pun langsung mengangguk dalam dan berbalik. Namun seketika itu juga langkahnya kembali terhenti.
"Pakai gamis yang saya berikan sebagai seserahan!" titah Dave. Sekar hanya mengangguk pelan.
Wanita itu masuk kamar dan bersandar di pintu. Menormalkan detak jantung dan deru napasnya dulu. Setiap dekat dengan Dave paru-paru bahkan tidak mampu memompa oksigen dengan baik. Maka itu Sekar akan tiba-tiba merasa sesak.
"Ya Allah. Kenapa sih selalu seperti ini. Tolong, jangan biarkan aku berharap banyak darinya maupun pernikahan ini ya Robb." Sekar menelan dadanya dengan mata terpejam. Seharusnya ia bisa bersikap biasa saja.
Setelah tenang, Sekar beralih menuju lemari pakaiannya. Membuka sebuah kotak seserahan yang bahkan belum ia buka. Ada banyak kotak cantik di sana. Barang-barang itu Dave berikan sebagai hadiah di hari pernikahan mereka.
Terlihat seperti pernikahan sungguhan, walaupun sebenarnya ada perjanjian di dalam sana.
Sekar membuka kotak itu dan melihat isinya. Betapa terkejutnya dia melihat gamis seperti apa yang di berikan oleh Dave.
"Pakaian inikah yang dia ingin agar aku mengenakannya? Tapi, karena apa?"
Sekar tak mengerti. Kenapa Dave mengagungkannya seperti ini jika pria itu tidak menganggapnya sebagai istri?
"Aku tidak akan memakainya!"
Sekar meletakkan gamis yang satu set dengan Khimar dan cadarnya di atas tempat tidur. Kemudian Sekar mengganti bajunya dengan pakaian yang biasa. Walaupun menutup aurat tapi itu sesuai dengan gayanya.
Sekar pun keluar kamar. Ia kembali di kejutkan dengan keberadaan Dave yang ternyata menunggunya di salah satu sofa single yang memang ada di sana. Tepatnya di depan cermin besar di samping tangga menuju lantai bawah.
Dave langsung menyorotnya dengan tatapan tajam menelisik. "Kenapa, kamu gak pakai gamis pemberian saya?" tanya Dave dengan tegas dan ekspresi menuntut.
Sikapnya itu, membuat Sekar terkesiap dan hanya bisa menelan ludahnya. Kemudian ia menyisir penampilannya. Mencari apa kesalahannya. Toh dia tetap menutup auratnya dengan sempurna walaupun dengan tunik dan kulot serta pasmina yang menutup kepalanya.
"Jawab saya Sekar. Kenapa kamu tidak menurut apa yang saya perintahkan? Apakah perkataan saya itu sulit kamu pahami atau--"
"Maaf, Mas. Tapi saya belum siap," jawab Sekar dengan kepala tertunduk. Ia tak sanggup menatap mata biru Dave yang mengarah padanya.
"Belum siap gimana? Memangnya pakai gamis syar'i butuh kesiapan seperti apa?" cecar Dave. Bahkan pria itu telah bangkit dari duduknya dan perlahan berjalan menghampiri Sekar yang berdiri kaku.
"Si–siap hatinya, Mas."
"Memangnya hati kamu kenapa? Itu kan perintah langsung dari Allah. Masa kamu yang Islam dari lahir gak tau!" Ucapan tegas Dave benar-benar menusuk dalam ke hati Sekar. Wanita muda itu tak bisa berkutik lagi untuk sekedar mengelak.
Dave tidak memberi perintah karena posisinya sebagai suami akan tetapi pria itu membawa maklumat lansung dari firman Allah.
Manusia mana yang sanggup menolak langsung perintah Tuhannya?
Sekar berbalik. Beberapa menit kemudian dia telah keluar dengan penampilan barunya.
Dave kembali mendekat padanya. "Saya memang tidak bisa menjadi suami yang akan memperlakukanmu sebagai istri pada umunya. Tapi, bukan berarti saya tidak menjaga kehormatanmu." Dave mengusap kepala Sekar tiga kali dengan lembut. Sontak hal tersebut membuat Sekar semakin menunduk.
"Ingat, kau hanya di anggap adiknya," bisik Sekar pada nuraninya.
sama sini hujan trs,,,,,ni kopi buat teman nls biar cpt u🤣💞💞
males update jadinya 🥲
masih setia menunggu