NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kana Sakit ?

Keringat Kana menetes segede jagung dan membasahi baju seragam sekolahnya. Inka yang dari tadi sudah menahan diri untuk tidak berkomentar langsung mengeluarkan unek-uneknya.

" Kamu kepanasan?", tanya Inka.

Kana mengangguk pelan. Lalu melihat ke arahku seperti ingin meminta pertolongan tapi aku diam saja. Melihatku yang tidak memberikan reaksi Kana langsung menyenggol pelan sikuku.

" Apa?", tanyaku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena melihat Kana sepertinya tersiksa duduk di dalam angkot dengan berdesak-desakan begini.

" Emang, kalau naik angkot harus berdesak-desakan ya?", Kana berbisik.

Belum sempat aku menyahut, ibu-ibu yang duduk berhadapan dengan Kana langsung menjawab sewot.

" Ya kalau gak mau berdesak-desakan bawa mobil sendiri atuh dek", katanya.

Aku tersenyum geli mendengar Kana di damprat ibu-ibu garang. " Tuh, katanya bawa mobil sendiri", aku memanasi Kana.

Kana hanya tersenyum mendengar sindiran ibu-ibu di depannya.Ketika kami turun dari angkot Kana merenggangkan badannya ke kiri dan ke kanan seperti sudah menghabiskan waktu selama berjam-jam di dalam angkot.

" Wah ternyata udara di luar angkot lebih segar", kata Kana lega.

" Emangnya kamu baru pertama kali naik angkot?", tanya Inka penasaran.

" Iya", jawab Kana pendek.

Kami berjalan kaki menuju kompleks rumahku. Tapi baru beberapa langkah aku berhenti.

" Kamu ngapain ikut sampai ke sini?", tanyaku tersadar.

" Mau anterin kamulah", jawab Kana cuek.

" Gak usah... Kan ini kompleks rumah aku. Yang jelas pasti aman", aku protes.

Kana menatapku tajam. " Ayo aku antar. Kamu akhir-akhir ini bawel banget", Kana berkata tidak suka.

" Duileeeee.... Pasangan berdua ini. Anggap saja aku nyamuk yang lagi lewat ya... Rumah aku udah mau kelihatan juga masih saja pada berdebat. Jodoh kayaknya kalian", Inka mengomel tidak jelas.

Kana hanya menatap Inka dengan pandangan ' siapa lo'. Membuat Inka ingin mencolok matanya.

" Awas ya kamu liatin aku kayak gitu. Aku colok matamu nanti", ancam Inka bar-bar.

Kana mendengus mendengar ancaman itu " Dasar cewek bar-bar".

Inka misuh-misuh tidak jelas. Aku hanya tertawa melihat mereka. Sepertinya mereka sudah mulai akrab satu sama lain. Walupun dengan cara yang tidak dapat di jelaskan.

" Eh besok nonton yuk", ajak Inka pada aku.

" Males ", Jawab Kana.

" Yang ngajak kamu siapa kulkas 3 pintu", Inka mencela.

" Emangnya besok kita mau nonton film apa?", tanyaku.

" Avenger, kan baru keluar tuh. Nanti habis itu kita makan sushi go yak", ajak Inka.

" Emmm . . . Gimana ya...", aku menimbang-nimbang.

" Isss... ayolah.. Kana ayo ikut", ajak Inka pada Kana.

" Gak ah. Di rumah ada Netflix ngapain ke bioskop", jawab Kana santai.

Inka mencibir penolakan Kana. " Dasar emang introvet", ejek Inka yang tidak di tanggapi oleh Kana.

" Ayolah Awan... Mau ya ... Mau ya ", Inka merengek sambil menarik-narik lengan Awan.

" Ya udah deh. Ayo... Tapi pulangnya jangan kemalaman ya", jawabku tersenyum ke arah sohib baikku ini. Tidak tega untuk menolak.

" Iyaa .. Iyaa... sip", jawab Inka senang.

" Ya udah aku ikut deh", tiba-tiba Kana bersuara.

" Ikut? Katanya mau nonton netflix di rumah", Inka mencibir penuh kemenangan.

" Wifi nya rusak", jawaban singkat Kana membuat Inka tertawa terbahak-bahak.

Kana diam saja tidak merespon. " Sudah-sudah... sana gih masuk ", aku mendorong pelan Inka ke dalam rumahnya.

Kana terus mengantarku, kami berjalan pelan-pelan sambil sedikit mengobrol.

" Kamu gak apa-apa besok ikut aku sama Inka pergi?", tanyaku pada Kana.

" Iya gak apa-apa", jawab Kana singkat.

Kami terdiam lagi. Lalu karena tidak tahan dengan suasana yang hening aku berusaha memecah kesunyian di antara kami sekali lagi.

" Kamu kemarin kenapa nanya soal gunung dan pantai?", tanyaku tidak jelas.

terdiam sebentar Kana lalu menjawab " Aku hanya mau tau kamu adalah orang yang seperti apa", jawab Kana.

" Memangnya kalau suka salah satunya bisa menggambarkan seseorang itu seperti apa?", tanyaku lagi.

" Iya... Tergantung kamu percaya atau tidak sama filosofi yang seperti itu. itu sama saja dengan kamu percaya atau tidak dengan ramalan zodiak kamu", terang Kana.

Aku manggut-manggut. " Emang kamu percaya yang begituan?", tanyaku lagi.

" Tidak", jawab Kana.

" Lalu kenapa bertanya?", tanyaku heran.

" Rahasia", jawab Kana dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

Kana memang misterius. Aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Kami berjalan pelan sampai tiba di depan sebuah rumah seorang ibu kompleks yang kebetulan baru pulang dari belanja sayur menegurku.

" Awan baru pulang sekolah nak?", tanya ibu itu basa-basi.

Aku dan Kana spontan berbalik. Tapi aku tidak menyadari ada perubahan pada raut wajah Kana.

" Eh iya ibu Sofi. Baru pulang sekolah ni. Di antar teman", jawabku sopan.

Ibu itu tersenyum padaku dan saat melihat Kana senyumnya hilang seketika. Dia terpaku dan aku melihat Kana juga terpaku. Aku bingung dengan situasi itu sampai seorang anak kecil meneriaki ibu Sofi.

" Mama.... Beli apa sih lama banget ma. Aku mau main", anak itu meraih tangan ibu Sofi.

" Ah iya nak sebentar ya.. Hati-hati di jalan nak Awan", kata ibu sofi tergagap dan bergegas masuk ke rumah seolah habis melihat hantu.

" Ah iya bu", jawabku sopan. Setelah pintu pagar rumah ibu Sofi tertutup aku menyenggol lengan Kana.

" Kamu kenapa melamun sih?", tanyaku pada Kana yang menghela nafas.

" Tidak apa-apa. Ayo aku antar kamu pulang", katanya cepat.

Kana menggenggam tanganku dan kami berjalan sedikit cepat menuju ke rumah.

" Kana kamu kenapa? Kamu sakit?", tanyaku penasaran sambil mengimbangi jalannya.

" Iya rasanya aku akan demam", jawab Kana cepat.

Sampai di depan rumah, Kana menyuruhku masuk dan langsung bergegas pergi seperti sedang mengejar sesuatu.

Aku duduk di kamar memikirkan apakah aku melakukan kesalahan atau mengatakan sesuatu yang membuat Kana marah.

" Apa aku salah bicara ya? tapi kayaknya tidak sih. Apa Kana sakit ya?", aku duduk sambil memikirkan semua kemungkinan.

Setelah itu aku memutuskan untuk menghubungi Kana saja. Aku meraih hp ku dan menyadari bahwa aku tidak pernah menyimpan nomor Kana sama sekali.

" Wah Awan. Luar biasa.. sudah di ajak liburan, di antar pulang tapi tidak punya nomor telponnya. Dasar bodoh", aku memaki diriku sendiri.

Aku membuka grup kelas dan mengambil nomor Kana dari sana. Kana memang tidak pernah nimbrung dalam percakapan grup kelas. Dia menjadi satu-satunya yang pendiam dan tenang.

Aku menimbang-nimbang untuk menghubungi Kana. Dia balas gak ya nanti pikirku.

" Kana, kamu baik-baik saja kan? Kamu sakit ya? wajahmu tadi pucat sekali". Aku mengetik di ponsel dan siap untuk menekan tombol send.

" Aduh di balas gak ya nanti", aku bergumam. " Ah udah ah kirim aja. Yang penting aku sudah tanya", aku bertekad lalu menekan tombol send.

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!