Adelia adalah gadis yang pekerja keras, ia merantau di kota besar agar bisa memenuhi kebutuhan ayah dan kakanya yang berada di rumah. Semua ia berikan agar bisa membahagiakan kedua orang yang sangat ia sayangi namun penghianatan kakak Adelia dan Riki membuat dirinya dibunuh dan meninggal.
Tuhan masih berbaik hati memberikannya kesempatan kedua untuk hidup, namun masalahnya ia berada di tubuh orang lain. ia bertekad untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya bahagia
Vanessa terlihat celingukan melihat rumahnya yang baru karena rumah itu sangat besar jadi ia menghafalkan setiap ruangan, terlihat bibi sedang memasak di dapur segera menghampiri pembantunya itu.
"Bibi lagi masak ya ? Mau aku bantuin nggak ?". Tanya Vanessa dan bibi terlihat mengerutkan dahinya karena bingung dengan majikannya itu.
"Memangnya non Vanessa bisa masak ? Non kan nggak bisa masak, lagi pula non harus banyak istirahat biar cepat sembuh". Ucap bibi dan diangguki Vanessa, ia tak menyangka jika Vanessa yang asli tidak bisa memasak.
" Bibi udah lama kerja disini ?". Tanya Vanessa dan bibi sejenak menghentikan aktifitas kerjanya.
"Udah non udah 10 tahunan masa nin lupa, eh maaf non bibi lupa kalau kata dokter non lupa ingatan". Jawab bibi dan Vanessa tiba-tiba terfikirkan sebuah rencana.
"Kan kata dokter sekarang aku hilang ingatan jadi bibi kasih tahu aku ya, apa aja yang aku lupain". Ucap Vanessa dan diangguki oleh bibi.
" Mama sama papa kerjanya apa ya bi ? Aku sendiri masih sekolah apa udah kerja ?". Tanya Vanessa dan bibi terlihat tersenyum.
" Nyonya pengusaha non punya perusahaan sendiri papanya non juga sama, kalau non pilih kuliah jadi desainer dan non baru aja wisuda". Vanessa mengangguk faham namun jika menjadi Vanessa yang asli.mungkin akan sulit karena ia tak faham mengenai desain apapun.
" Sebenernya aku bisa di rumah sakit kenapa bi ?". Bibi seketika menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Vanessa.
"Waktu itu non ada masalah dan dan nyuruh nyonya sama tuan pulang tapi mereka masih sibuk kerja, jadi non coba bunuh diri minum pil tidur banyak". Mata bibi terlihat hampir menangis dan ia menggenggan tangan Vanessa.
" Non jangan bunuh diri lagi ya". Imbuhnya dan Vanessa nampak terkejut padahal semua keluarga Vanessa yang asli nampak menyayanginya namun ia mencoba bunuh diri, saat ia masih menjadi Adelia saja segala kehidupan pahit ia jalani dengan tabah dan menghargai kehidupan.
*******
Mamanya Vanessa nampak gelisah dan cemas sambil meegang hp. Terdengar ia sedang menelfon seseorang dan menyuruh orang tersebut agar menangani pekerjaan karena ia mengurus Semua sendiri karena ia harus menemani Vanessa yang masih sakit, setelah sang mama selesai menelfon ia menghampiri mamanya tersebut.
" Mama lagi ada masalah ya sama pekerjaan ?". Tanya Vanessa dan terlihat mamanya sedang gugup.
"Tenang sayang pegawai mama pasti bisa ngatasin, mama akan selalu nemenin kamu". Sang mama mengusap lembut pipi Vanessa.
" Ma aku udah sehat, jadi mama kalau mau kerja ngak apa-apa beneran deh". Ucap Vanessa dan terlihat sang mama tersenyum.
"Kamu beneran sayang mama boleh kerja tapii nggak deh mama takut kamu bunuh diri lagi". Ucap mamanya yang kembali terlihat sedih.
" Beneran ma aku udah sehat, aku janji nggak bakal bunuh diri lagi tapi mama juga janji jangan terlalu sibuk kerja sampai lupain aku". Sang mama nampak terharu dan memeluk putrinya tersebut, lalu melepas pelukan dan mengeluarkan dompet mengeluarkan dua kartu dan memberikan kepada Vanessa.
"Apapun yang Vanessa butuhkan beli aja pakai kartu ini, kalau kurang nanti bilang mama aja mama tinggal kerja dulu ya sayang". Sang mama mencium pipi Vanessa terus verlalu pergi meninggalkan Vanessa yang masih berdiri di sana.
" sekarang aku tau kenapa Vanessa bunuh diri, karena orang tuanya hanya memberikan materi dan tanpa kasih sayang". Gumamnya dalam hati seraya melihat kartu yang ia pegang tersebut.
Vanessa kembali ke kamarnya dan melihat seluruh kamar tersebut juga membuka isi dalam lemari yang berisikan baju tak sepatu mahal semua, bahkan ketiga jenos barang tersebut mempunyai lemari tersendiri, ia kembali melihat kartu yang mamanya tadi berikan.
Dulu hanya untuk membeli satu potong baju saja ia harus menyisikan uang gajinya sisa dari kebutuhan setelah mengirim uang tersebut ke kakanya dan kebutuhan makanan juga transportasinya, dengan kata lain ia hampir tak pernah shoping atu bersenang-senang.
"Rasanya shoping kayak gimana ya, Adelia mulailah kehidupan bahagiamu sekarang". Ia tersenyum sambil memegang kartu tersebut.
Lalu memilih pakaian, sepatu juga tas yang ia sukai dari dalam lemari dan berdandan cantik hendak shoping. Vanessa melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar namun panggilan dari belakang membuatnya berhenti.
" Vanessa kamu mau kemana ?". Tanya sang papa yang membuatnya seketika gugup.
"Aku mau pe pergi pa, agak jenuh dirumah". Ia sangat takut ketahuan memakai barang milik Vanessa dan hendak membelanjakan kartu yang mamanya Vanessa berikan.
" Oh ya sudah tapi kamu perginya diantar supir ya, jangan terlalu lama juga langsung pulang". Vanessa segera mengangguk kala papanya mengizinkan.
"Mama kemana ya, apa kau tadi lihat mama ?". Sang papa nampak kebingungan sementara Vanessa mengernyit aneh karena mamanya sudah pergi dari tadi tapi tidak pamit kepada papa.
" Mama kan sudah pergi kerja pa ". ut muka sang papa langsung berubah tak suka kala mendengar penuturan Vanessa.
" Apa padahal mama dan papa sepakat harus jagain kami salah satu". Ucap sang papa yang terlihat sebal.
"Udah nggak apa-apa pa aku udah sehat kok lagi pula aku yang nyuruh mama kerja karena tadi kayaknya kerjaan mama ada masalah, papa kalau mau kerja juga nggak apa-apa aku bisa jaga diri kok". Sang papa terlihat mengangguk dan pamitan sebelum pergi kerja dan selepas kepergian papanya Vanessa menghembuskan nafas lega.
" Pagi non mau diantar kemana ?". Tanya pak supir seraya membukakan pintu mobil dan Vanessa masuk ke dalam mobil tersebut.
"Ke mall ya pak". Pak supir tersebut lalu melajukan mobil menuju mall, Vanessa melihat keluar jendela mobil dan menikmati keindahan jalanan, dulu saat ia masih jadi Adelia ia tak pernah naik mobil bagus dan merasakan santai seperti ini, yang ada hanya kepenatan bagaimana membiayai biaya pengobatan ayahnya dan kebutuhan ayah juga kakanya tapi sekarang ia merasa tak perlu ada yang di khawatirkan lagi.
Mereka telah sampai di depan mall terbesar di kota itu dan seketika Vanessa takjup dengan bangunan tinggi besar yang menyediakan banyak sekali barang yang tentunya mahal, ia langsung saja memilih pakaian, sepatu, tas bahkan jam tangan juga aksesoris lain yang ia sukai. Lama belanja ia sudah menghabiskan banyak uang untuk membayar belanjanya bahkan saat di lihat struk belanjanya membuatnya mengelus dada karena banyaknya nominal yang sudah ia keluarkan.
" Maaf ya Vanessa aku menghabiskan uangmu, tapi sudah terlanjur besok-besok aku tak akan belanja sebanyak ini lagi". Gumamanya dalam hati seraya menentengbtas belanja dan melihat struknya belanjanya tadi.
Terlihat dari dekat ada seorang lelaki yang terasa tak asing sedang bersama wanita sedang berbelanja baju, ia mengingat lagi dimana pernah melihat lelaki tersebut dan saat ingat sontak saja ia sangat terkejut hingga melebarkan matanya.
"RIKI......".
aldikn gak tau
transmigrasi ke tubuh anak orang kaya men punya orang tua baik walaupun sibuk sama kerjaan jadi nggak perlu susah cari duit lagi