Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : (Ungkapan hati Didi)
Retta sengaja nggak angkat. Dia kembali menatap keluar lewat jendela taksi. Dia masih saja dengan keteguhan hatinya untuk mencoba menjauh dari Didi.
Tak terasa akhirnya dia sampai juga dirumahnya. Retta disambut Bi Sila untuk membantu membawakan barang-barangnya. Bi Sila melihati ada kegelisahan diwajah Retta.
"Non, Retta. Mau mandi dulu apa langsung makan. Ini tadi Bibi masak makanan kesukaan Non Retta. Balado tongkol pedas sama sayur asem." tukas Bi Sila.
"Hmmm.. enak itu, Bi. Tapi, Retta masih capek. Biar nanti setelah Retta istirahat aja makannya, ya Bi?" jawab Retta.
"Baiklah, Non. Sekarang Non istirahat dulu nggak apa-apa." jawab Bi Sila.
.
.
.
Diwaktu yang sama tempat berbeda, Didi masih bingung kenapa Retta sampai nggak mau angkat telponnya. Akhirnya Didi memutuskan untuk pergi kerumah Retta saja. Ditanggalkannya jas kebesarannya warna putih itu diruangannya. Kini dia menuju parkiran mobilnya.
Dalam perjalanan menuju rumah Retta, Didi masih nggak habis pikir kenapa sikap Retta berubah seperti itu. Didi harus meluruskan apa yang terjadi tempo hari di tempat CFD itu.
Didi membelokan mobilnya kerumah Retta. Dia memarkirkan mobilnya seperti biasa. Kemudian dia keluar dari mobil dan menuju teras lalu memencet bel. Tak lama kemudian pintupun terbuka dan dia mendapati Bi Sila berdiri dihadapannya.
"Eh Den, Didi. Masuk Den. Non Rettanya ada dikamar." ucap Bi Sila.
"Iya, Bi. Saya duduk disini saja." jawab Didi sambil duduk dikursi teras.
"Bentar, saya panggilkan dulu. Non Retta nya.!" ucap Bi Sila sambil masuk kedalam.
Tak lama kemudian keluarlah Bi Sila. " Maaf, Den. Non Rettanya masih mandi. Den Didi disuruh langsung masuk saja ke ruang tengah." ucap Bi Sila.
"Baiklah, Bi." jawab Didi sambil beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengikuti Bi Sila masuk ke dalam.
"Silahkan duduk disini, Den. Bibi buatin minum dulu, ya?" ucap Bi Sila.
"Makasih Bi..," jawab Didi.
Didi masih duduk sendirian diruang tengah, sedangkan Bi Sila menuju dapur untuk membuatkan minum. Didi mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan dirumah itu. Dilihatinya ada foto Retta sekeluarga, ada juga foto Retta lagi dilingkungan kerjanya. Kemudian dia menangkap sebuah foto yang masih dipajang disudut meja display sebelah TV.
Didi berdiri kemudian mendekati foto tersebut. Dia ingin melihatnya lebih dekat, foto saat Retta akad nikah sama suaminya dulu. Dalam hati Didi bergumam, apakah Retta masih belum bisa move on, makanya dia susah dideketin.
Tak lama kemudian Retta keluar dari kamarnya. Dia mendapati Didi yang masih memandangi foto Retta saat akad nikah dulu. Lalu Retta menghampirinya.
"Kenapa kamu melihati fotoku sampai segitunya!" seru Retta dari belakang.
"Eh, Mbak Retta. Enggak kok. Nggak apa-apa." jawab Didi kaget.
"Pasti kamu berfikiran kalau aku belum bisa move on dari mantan suamiku?" tanya Retta sambil duduk dikursi ruang tengah.
Didi kemudian mengikutinya untuk duduk dikursi. Kemudian Bi Sila mengantarkan minuman buat Didi dan Retta. "Silahkan diminum, Den!" sahut Bi Sila.
"Iya, Bi. Makasih.," jawab Didi.
"Kamu dari rumah sakit ini?" tanya Retta.
"Iya, Mbak." jawab Didi singkat.
"Kamu, pasti belum makan, ya. Ayo makan dulu.!" ajak Retta.
Didi hendak menjawab tapi, Retta keburu berdiri menuju meja makan. Akhirnya Didi mengikuti Retta dibelakangnya. Retta menyiapkan piring lalu mengambilkan nasi buat Didi. Sementara Didi hanya memandangi wanita dihadapannya ini dengan tatapan rindu.
"Mbak, kamu begitu cantik serta keibuan kalau lagi melayaniku makan saat ini. Aku tambah sayang sama, kamu Mbak!" ucap Didi dalam hati.
"Sudah cukup, Mbak. Segitu aja." ucap Didi.
Kemudian Retta menyerahkan piring yang ada nasinya kearah Didi. Kini mereka menikmati makan bersama. Sesekali Didi melirik kearah Retta. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya Retta memulai pembicaraan.
"Oh iya, tadi kamu belum jawab pertanyaanku." ucap Retta.
"Pertanyaan yang mana, Mbak?" tanya Didi sambil menghentikan mulutnya yang lagi mengunyah makanan.
"Tadi, saat kmu melihati foto akad nikahku dulu. Aku bertanya sama kamu, pasti kamu ngira aku masih belum bisa move on, ya. Karena masih simpen foto itu." ucap Retta sambil menatap Didi.
"Oh yang itu. Emang Mbak Retta belum bisa move on? aku rasa nggak!" jawab Didi.
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu.?" tanya Retta.
"Ya, aku lihat Mbak Retta itu orangnya supel, mudah bergaul pasti Mbak Retta cepat move on. Mungkin Mbak Retta punya alasan tersendiri, kenapa masih menyimpan foto itu." jawab Didi.
"Memang benar, aku pasang foto itu bukan lantaran aku nggak bisa move on. Itu semata karena aku menghargai sebuah pernikahan. Meskipun mantan suamiku nggak melakukannya." jawab Retta.
"Mbak, kenapa akhir-akhir ini Mbak Reta menghindar dariku?" tanya Didi sambil menatap Retta tanpa kedip.
"Maaf, Di. Aku menghindar dari kamu karena aku punya alasan. Kamu pasti tahu alasannya apa. Kita ini berbeda, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Kamu masih muda, ganteng Dokter lagi, jadi kamu bisa mendapatkan gadis dan bukan janda seperti aku." jelas Retta dengan mata berkaca-kaca.
"Mbak, tatap mataku. Bilang sama aku kalau Mbak Retta nggak suka sama aku?" ucap Didi sambil memegang tangan Retta.
Kini airmata yang jatuh di pipi mulus Maretta. Dia tertunduk tanpa berani menatap wajah Didi. Dia nangis tersedu-sedu sambil menundukan wajahnya. Tak lama kemudian Didi bangkit dari tempat duduknya lalu mendekati Retta yang masih menangis.
Dengan satu gerakan, tangan Didi meraih kepala Retta lalu dipeluknya dalam dadanya. Dengan posisi membungkuk Didi masih memeluk dan membelai rambut Retta. Kini kedua anak manusia beda usia itu saling berpelukan satu sama lain untuk menguatkan.
"Maafkan aku, Mbak. Jika memang aku membuatmu sedih. Tapi, aku tulus sama kamu. Aku sayang dan cinta sama kamu, Mbak." ucap Didi sambil mengelus rambut Retta.
Retta masih menangis, kini dia merenggangkan pelukannya. "Aku tahu, Di. Aku juga menghargai hal itu. Tapi, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku sadar diri kalau memang aku ini hanya seorang janda."
"Jangan bicara seperti itu lagi, Mbak. Janda atau bukan, itu nggak menjadi penghalang sebuah hubungan. Aku tulus sama kamu" ucap Didi.
Kini mereka duduk bersebelahan. Retta masih terdiam dan belum berani menjawab apa-apa tentang perasaan Didi. Mereka pun tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Retta masih bingung, seandainya dia menerimanya, bagaimana dengan Mamanya. Dia harus benar-benar memikirkannya.
"Di, kamu kan mau dijodohkan dengan gadis lain. Apa kata orang tuamu kalau kamu masih kekeh sama aku?" tanya Retta.
"Aku dan Ranti sepakat kalau kita pura-pura dekat. Sambil mencari jalan keluarnya. Dia juga nggak keberatan jika perjodohan itu dibatalkan." jelas Didi.
"Kenapa begitu. Apakah dia juga sudah punya cowok lain?" tanya Retta.
"Aku juga nggak tahu. Ranti hanya bilang kalau dia pasrah akan perjodohan ini. Jika lanjut nggak apa-apa. Meskipun nggak jadi juga nggak apa-apa." jawab Didi.
"Tetap saja kita akan menghadapi Orang tua kamu, Di. Aku nggak mau kalau hubungan kamu dan keluargamu kacau gara-gara aku." ucap Retta.
"Mbak, aku nggak peduli akan hal itu. Sekarang aja aku sudah nggak pulang ke rumah Mama.!" jawab Didi.
"Apa,!" ucap Retta serius.
"Iya, Mbak. Aku pulang ke Apartemenku sendiri sejak aku dijodohkan dengan Ranti. Itu jauh sebelum aku kenal dengan Mbak Retta." jawab Didi.
"Terus, sekarang gimana?" tanya Retta lagi.
"Sekarang aku juga masih pulang ke Apartemenku. Kalau mau melihat Mama aja aku pulang ke rumah." jawab Didi.
"Terus, Mama kamu sama siapa dirumah?" tanya Retta.
"Ada Kakak perempuan aku. Dia seorang Dokter juga. Tapi, dia bertugas disalah satu rumah sakit milik pemerintah." jelas Didi.
"Apa Kakakmu sudah menikah?" tanya Retta.
"Belum, masih tahap tunangan saja. Mungkin kalau nggak ada halangan dua bulan lagi dia menikah." jawab Didi.
Retta hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Didi. "Tapi, kamu harus pulang, Di. Kasihan Mama kamu!"
"Soal itu gampang, Mbak. Lagian aku juga pingin hidup mandiri." jawab Didi.
"Di, aku belum bisa menjawab soal perasaan kamu ke aku. Tapi, aku akan belajar untuk itu. Lalu masing-masing dari kita harus bisa menjaga hati satu sama lain." ucap Retta.
"Baiklah Mbak, aku akan menuruti apa yang kamu inginkan. Jadi, untuk saat ini kita jalani aja hubungan kita seperti ini dan belajar menjaga hati masing-masing." jawab Didi.
"Iya, betul itu. Kita jalani dulu seperti ini." ucap Retta.
Mereka akhirnya sepakat seperti itu sambil melihat perkembangan hubungan mereka selanjutnya. Didi senang sekali meskipun mereka belum resmi pacaran, tapi setidaknya dia bisa dekat dengan wanita pujaannya.
Ddrrrtt....drrrt....
Tiba-tiba ponsel Didi bergetar. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari salam sakunya. Dilihat ada pesan masuk melalui Whatsaap.
Seketika Didi membelalakan matanya dan berucap.
"Apa,!"
----------Bersambung----------
.retta
.