Bening, gadis berusia 18thn, harus rela mengandung benih pria yang tak dikenalnya melalui inseminasi buatan. Karena keadaan yang membuatnya menerima perjanjian kontrak sebagai ibu pengganti. Ayahnya yang sedang di penjara juga ibunya yang sakit keras, membutuhkan biaya besar untuk operasi. Ketidakberdayaannya, membuat Bening merelakan rahimnya disewa untuk melahirkan keturunan pria tersebut sebagai ibu pengganti. Apakah penderitaan Bening akan berakhir sampai anak itu lahir, atau justru itu awal dari penderitaan dia yang sesungguhnya. Inilah kisah gadis cantik yang berjuang hidup untuk ibu juga putranya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liliana *px*, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Bening terus melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan yang selama 6bulan terakhir ini sudah menampungnya bekerja. Langkah kakinya gontai memikirkan nasib hidupnya ke depan, bagaimana mencukupi kebutuhan ibu juga putranya. Andai dulu ia tidak egois dan memberikan putranya pada ayahnya, pasti anak itu tidak akan hidup menderita bersamanya. Tapi nasi sudah jadi bubur, tidak ada jalan untuk kembali lagi, juga tidak perlu adanya penyesalan di hati. Keringatnya mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Karena udara yang begitu panas siang ini di kota J. Ia pun menyeka keringatnya menggunakan punggung tangannya.
"Panas sekali hari ini." gumamnya lirih sambil mengipas ngipaskan tangan ke wajahnya.
Disekitar orang berlalu lalang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing. Tak menghiraukan cuaca yang begitu panas seakan membakar kulit mereka.
"Haus sekali." Lirihnya menelan salivanya yang terasa kering di tenggorokan.
Saat melihat ada toko toserba tak jauh dari tempatnya berdiri, ia pun melangkah kesana membeli sebotol air mineral lalu meminumnya setelah membayar minuman tersebut.
Diujung jalan tak jauh dari tempatnya berdiri nampak seorang anak kecil sedang menjajakan korannya. Tubuhnya dekil begitu juga dengan pakaiannya yang lusuh juga banyak sekali tambalan. Hatinya teriris melihat anak itu, ia tidak bisa membayangkan jika anaknya bernasib sama seperti bocah di depannya. Mereka bertemu saat langkah Bening mendekati anak itu.
"Koran,,, koran,,, koran nya Pak? Bu? Om? Tante? Koran hari ini beritanya masih panas. Koran,,, koran,,,," anak itu menjajakan korannya saat lampu merah menyala. Berjalan mengelilingi kendaraan yang terhenti sementara sambil menunggu lampu hijau menyala kembali.
Namun tak ada satu pembeli yang mau membeli koran anak itu.
Ia pun ke tepi setelah lampu kuning menyala.
"Dek, beli korannya satu!"
"Boleh Kak,,, mau yang mana? Ini kakak pilih saja!" Dengan wajah ceria juga senyum ceria menatap kearah Bening.
"Oh Tuhan,,, betapa besar kuasamu, lindungi berilah kebahagiaan untuknya jadikan ia orang sukses nantinya." Doa Bening dalam hatinya hampir saja menitikkan air mata di depan anak itu jika ia tidak segera mendongakkan kepalanya.
"Yang ini saja, berapa harganya?" Tuturnya lembut memilah koran tersebut.
"Itu 30rb kak."
Bening mengeluarkan uang seratus ribuan 2 lembar, lalu memberikannya pada anak itu.
"Kak,,, ini kebanyakan."
"Tidak apa apa, tadi kakak dapet rejeki lebih, ambil saja ya, ini rejeki yang Tuhan kasih untukmu lewat perantara kakak, ambil ya!"
"Terima kasih kak, semoga kakak selalu bahagia diberi rejeki lebih melimpah nantinya."
Anak itu berjingkat gembira lalu memasukkan uang nya ke dalam saku celananya.
"Alhamdulillah, bisa berobat untuk ibu." Tuturnya dengan berkaca kaca.
Bening trenyuh mendengar perkataan anak itu. Ia jadi teringat 7 tahun lalu demi kesembuhan ibunya, ia mau menjadi ibu pengganti dari seorang pria yang tidak di kenalnya. Hingga ia dianugerahi 2 orang anak kembar identik. Meskipun ia bisa merawat salah satunya, namun tidak bisa di pungkiri jika ia juga merindukan putra yang satunya.
"Ibumu sakit?" Anak itu menganggukkan kepalanya.
"Sudah 2hari ini ibu demam kak, aku belum bisa mengajaknya berobat, belum punya uang. Hasil dari jualan koran cuma bisa buat makan kami sehari hari."
Anak itu menundukkan kepalanya sedih.
Bening tersenyum lalu membelai rambut anak itu." Namamu siapa? Berapa usiamu? Masih sekolah tidak? Kamu punya saudara berapa?"
Entah kenapa, Bening merasa ingin dekat dan mengenal anak ini lebih dalam lagi. Mungkin karena apa yang dilakukan anak ini begitu membekas di hati Bening. Baktinya pada orang tua membuat Bening jatuh sayang pada anak ini.
"Kakak cantik ini bukan orang jahat kan? Tapi tidak mungkin kalau jahat ia memberiku uang yang banyak?" gumamnya dalam hati.
Tak bisa di pungkiri ia juga merasa takut dengan orang asing yang berusaha mendekati nya. Bukankah kehidupan di jalanan begitu keras. Dan ia sudah merasakannya. Penculikan anak untuk di jual juga di suruh mengamen di daerah lain kerap terjadi. Hingga ia juga waspada.
"Namaku Ammar kak, usiaku 10 tahun, aku punya adik berusia 5tahun dan kami yatim suda 2 tahun ini. Sebenernya aku masih sekolah, tapi satu Minggu ini bolos, menjual koran mencari uang buat kebutuhan kami karena ibu sakit. Jadi aku harus mencari uang lebih banyak lagi dari biasanya." Akhirnya Ammar menjawab pertanyaan Bening setelah berpikir untuk sesaat. Antara menjawab atau tidak.
"Kasihan sekali kamu Ammar. Meski hidup kita tidak jauh beda, tapi aku bangga padamu."
Bening yang terpaku menata Ammar di kejutkan denga ponselnya yang bergetar. Ia pun segera mengangkat sambungan telepon yang berasal dari ibunya.
Melihat Bening yang akan mengangkat tlp. Ammar pun pamit pulang dan diangguki oleh Bening.
"Hati hati Ammar, salam buat ibu dan adikmu ya, moga ibumu cepat sembuh." Ucap Bening sedikit keras karena jalanan ramai dengan mobil yang berlalu lalang.
"Iya kak, terimakasih." Jawab Ammar dengan berteriak juga karena jarak mereka lumayan jauh.
"Hallo Bu, ada apa?"
"Bening,,, Bening,,, ayahmu,,, ayahmu,,, hikkss,,,hikss,,,," terdengar jelas jika ibunya disana sangat cemas saat ini dari nada bicaranya.
Bening hanya menghela nafas pelan." Bu,,, tenang dulu! Katakan ayah kenapa?" Tuturnya lembut menenangkan ibunya. Meskipun ia yakin semua itu akan sia sia saja sebelum ibunya bertemu secara langsung dengan ayahnya.
"Aku mau menjenguk ayahmu di penjara, tadi ada yang mengabari ibu jika ayahmu terjatuh dan kakinya patah. Katanya ini semua karenamu Bening, hikkss,,,hikkss,,"
Bening pun terkejut mendengar penuturan ibunya. Kecelakaan ayahnya karena dirinya? Ia semakin tak mengerti. Apa salahnya? Setelah menenangkan pikirannya. Ia pun teringat akan ancaman dari Hendra tadi. Apa ini berhubungan dengan rencana busuk Hendra yang gagal hingga berakibat ia di pecat dan kini mengganggu ayahnya yang di penjara. Bening pun menutup matanya sesaat, menenangkan emosinya.
"Bening? Kamu masih mendengar ucapan ibu kan?" Suara ibunya mengembalikan kesadaran Bening.
"Iya Bu, Bening masih mendengar, Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan ke penjara melihat ayah. Ibu istirahat saja, jangan sampai kondisi ibu melemah lagi karena berita ini. Aku akan memastikan ayah baik baik saja. Ibu jangan khawatir, ya! Aku kesana sekarang!"
Dengan senyum kecut Bening mencari taxi yang akan membawanya ke penjara di mana ayahnya menerima hukuman selama ini karena terlilit hutang perusahaan yang teramat besar. Hingga perusahaan itu bangkrut. Ia bisa memastikan sikap buruk ayahnya tidak akan pernah hilang saat bertemu dengan nya. Kini ia hanya bisa memejamkan matanya di dalam taxi yang kini membawanya ke penjara.
"Semoga semua tidak seperti yang ku pikirkan."Gumamnya lirih.
bersambung 🌸 🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
hati hati dengan Pak Hendra Bening dia sungguh licik
semangat bening 💪💪
tp km masih punya satu anak laki2 lagi
apa pria kaya itu gk tahu ya klo Bening puya anak kembar 🤔