Sebuah kisah yang menceritakan tentang Freya, gadis remaja yang tidak sengaja terdampar di sebuah pondok pesantren di daerah Pekalongan. Kehidupannya pun berubah dalam sejekap mata. Tidak ada lagi gemerlap kota dan teman-teman gaul seperti saat ia tinggal di Jakarta. Freya nyaris gila rasanya.
Hingga pada akhirnya Freya si buta agama malah jatuh hati pada Irsyad. Pemuda yang gemar sekali mempelajari agama dan merupakan putra dari Kyai pondok pesantren tempatnya terdampar. Padahal, Irsyad sendiri sudah dijodohkan dengan gadis yang berasal dari keluarga pemuka agama.
Lantas bagaimana kelanjutannya?
"Maaf, sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa sukamu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sedang berusaha menjaga hati. Ada seorang wanita yang sudah orangtuaku persiapkan untuk kelak berjodoh denganku." - Muhammad Irsyad Abiansyah.
"Bodo amat. Terserah, gue nggak perduli. Karena gue udah membuat keputusan, kan kutikung kau dengan bismillah." - Freya Hayu Apsari -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaaNav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Freya masih melongo, terkejut dengan kehadiran Gio bersama ketiga sahabatnya dari Jakarta, Teresa, Mega serta Galih.
"My gosh! Ini beneran Freya?" Teresa meraih kedua bahu Freya, memutar-mutar tubuh gadis mungil itu. "Bilang, ini nggak mungkin Freya. Oh my no! Nggak mungkin sabahat gue tampilannya jadi aneh begini!" Terese histeris sendiri.
Mega menyingkirkan tubuh Teresa dari Freya, giliran dia yang sekarang mengguncang-guncang badan Freya. "My lord! Selera fashion lo kenapa jadi huek banget gini, Say? Oh my oh, ini bukan Freya sahabat gue yang fashionable. Ini pasti salah, nih! Bukan Freya, nih!" Mega tiba-tiba mendorong tubuh Freya menjauh dan bergidik geli. "Lo bukan Freya!" Tunjuknya menggebu-gebu, sangat drama.
"Ini gue, girl's..," masih bingung, Freya menunjuk dirinya sendiri. "Ini gue, Freya. Sahabat kalian.."
"Nggak, nggak!" Mega menggeleng keras-keras. "Freya sahabat gue itu fashionista, modis, kekinian. Nggak kaya begini!" Mega meneliti tampilan Freya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Gio berdecak, menoyor kepala Mega dan Teresa. "Udahan dramanya. Kasian adik gue, bingung noh!" Ujarnya, lelah sendiri melihat tingkah kedua temannya yang juga sahabat baik Freya.
"Gue kan ceritanya lagi terkejut, gimana sih lo!?" Sungut Mega, diangguki setuju oleh Teresa.
Freya menggaruk kepalanya yang dilapisi hijab. Masih lumayan terkejut dengan kehadiran sepupu dan para sahabatnya yang tiba-tiba. "Kalian semua ngapain di sini?" Tanyanya, bingung.
Mega dan Teresa menoleh kompak ke arah Freya. "Ya nengokin elo, lah. Kita semua kangen sama lo, Freyaaah!!" Seru keduanya berbarengan.
Tubuh Freya sedikit terhuyung saat Teresa dan Mega menubruk tubuhnya tanpa aba-aba, memeluknya dengan erat.
"Kangen banget sama lo, Frey.." ungkap Teresa.
"Gue juga kangen banget, banget, bangeettt!!" Mega menimpali.
"Sama. Gue juga nggak kangen sama lo berdua." balas Freya dengan tampang tak berdosa.
"SIALAN!"
Freya meringis mendengar pekikan kesal dari kedua sahabatnya. Ia segera membalas pelukan Tere dan Mega tak kalah erat. "GUE JUGA KANGEN BANGET SAMA LO BERDUA, DUO SABUN BATANGAN!!" Jeritnya bahagia.
"SIALAN!!"
Freya, Tere dan Mega tertawa bersama, berpelukan erat melepas rindu setelah beberapa waktu tak bertemu. Biasanya, mereka ini sama sekali tidak pernah terpisah. Di sekolah, di tempat tongkrongan, kemana-mana selalu bersama. Mereka ini sahabat yang memang benar-benar sahabat. Bukan sahabat ala-ala seperti di sinetron atau novel-novel yang ternyata bermuka dua, mendadak meninggalkan jika salah satunya tak sejalan.
"Udahan pelukannya. Gantian, gue juga mau peluk." Gio menarik mundur Tere dan Mega, tidak perduli meski dihadiahi decakan kesal dua gadis cantik itu. "Miss you so much, Frey.." desisnya, segera menghambur memeluk Freya. "Lo baik-baik aja kan di sini?"
Freya baru akan menjawab pertanyaan Gio, tapi tubuh sepupunya itu lebih dulu di geser paksa oleh Galih.
"Anjrit!" Gio mengumpat.
Galih tidak memedulikan umpatan Gio, ia meraih tubuh mungil Freya dan langsung dibawa dalam dekapan hangatnya. "Gue kangen sama lo, Frey. Maaf, gue nggak bisa nolong lo waktu kejadian razia itu sampai lo berakhir di tempat ini. Maaf.." bisiknya di atas kepala Freya.
Freya tersenyum. Diusapnya punggung tegap Galih. "Gak apa-apa. Lo nggak salah sama sekali, Lih. Emang udah takdir gue aja harus terdampar di tempat ini."
Galih melepas pelukannya pada Freya, memandangi penampilan baru gadis itu. "Btw, lo cantik pakai gamis dan hijab begini. Kelihatan manis, sumpah." Pujinya, tulus dari dalam hati.
Freya terkekeh dan melayangkan sebuah cubitan kecil di lengan Galih. "Lo muji atau ngehina?"
"Gue bicara apa adanya, sesuai fakta."
"Udah katarak kali si Galih. Penampilan kampung begitu masa lo dikata cantik, Frey?" Teresa geleng kepala.
"Namanya juga ada rasa. Mau si do'i pakai karung goni juga, tetap aja syantek, syantek, syanteekk.. duuu dudu duduuu.." Mega bersiul-siul sambil melirik Galih yang mulai salah tingkah.
"Rasa? Rasa apa? Rasa yang tak terbalas, rasa sakit ditusuk dari belakang, rasakan ditikung teman, rasa lelah tak kunjung diberi kepastian, rasanya pengen nampol, atau rasain deh lo?" Seloroh Freya, tidak paham dengan kode yang baru saja dilempar Mega.
"Rasa pengen ngubur lo hidup-hidup!" Mega mendengus, sebal karena Freya benar-benar tidak peka.
"Kalau gue, rasa ingin dihangatkan dalam satu selimut yang sama bersama akang Song Jong Ki di malam-malam gelap tak berbintang.." Gumam Teresa dengan pandangan menerawang.
"JIJIK!"
****
"Astagfirullah hal adzim!" Ustadzah Raina refleks memekik terkejut saat melihat seorang perempuan asing, sedang berdiri di samping sebuah mobil yang terparkir di sebelah pos satpam. Perempuan berambut panjang, dengan pakaian yang sangat jauh dari kata sopan.
Perempuan tadi adalah Hila, salah satu sahabat Freya juga. Selama di perjalanan tadi, Hila tertidur pulas di dalam mobil. Berkali-kali dibangunkan oleh Tere dan yang lainnya, diberi tahu sudah sampai di tempat tujuan, tapi Hila tetap saja asik dalam tidurnya. Alhasil, ia ditinggal saja di dalam mobil saat yang lainnya turun menemui Freya.
"Astagfirullah..," giliran dua santriwati di sisi kanan dan kiri ustadzah Raina yang beristigfar.
Hila menaikkan sebelah alisnya, heran melihat tiga orang berbaju gamis dan berkerudung panjang sebatas dada, menatapnya seperti menatap sesuatu yang 'waw' sekali. "Ekhem, sorry, ini beneran pondok pesantren Nurul Kuda, kan?" Tanyanya sok ramah.
"Bukan Nurul Kuda, Nurul Huda yang benar!" Ustadzah Raina mengoreksi.
"Oh, salah ya?" Hila pura-pura terkejut, tapi langsung cengengesan sesudahnya. "Gue juga tau, kok. Sengaja aja gue plesetin, biar nggak tegang. Ya, nggak?" Hila menaik turunkan alisnya, sok akrab dengan tiga orang di depannya.
Ustadzah Raina maupun kedua santriwati yang bersamanya, tidak sama sekali tertarik menanggapi guyonan receh Hila. Mereka masih melayangkan tatapan tak suka pada gadis dengan stelan rok mini di atas lutut dan atasan kemeja pendek yang diikat di bagian pusarnya. Pinggiran rambut gadis itu juga sedikit diwarnai merah terang, benar-benar tampilan khas remaja kota kekinian.
"Apa sih lihatin gue gitu amat? Amat aja ngelihatin gue nggak segitunya, kok." Hila lama-lama risih juga di tatap sedemikian rupa.
"Sampean niki sinten to? Enten urusan nopo teng mriki?"
Hila melonggo. Tidak mengerti dengan bahasa asing yang baru saja ia dengar barusan. "eh mon maap nih, bisa nggak ngomongnya jangan pakai bahasa alien? Nggak ngerti gue,"
"Itu bukan bahasa alien. Itu bahasa manusia, bahasa daerah kami. Bahasa Jawa. Nggak sopan ya, kamu!"
"Yeee ya mana gue tau? Gue bukan orang Jawa. Bapak gue turunan Amsterdam, emak gue setengah China. Gue dari orok udah di Jakarta. Jadi ya mon maap kalau gue nggak ngerti bahasa daerah lo!"
"Mending kamu pergi aja sana! Perempuan kaya kamu nggak boleh masuk ke pesantren. Sana, pergi sana!"
"Lah?" Hila melongo. "Gue diusir?"
"Ya. Cepat, sana pergi!"
"Ih, nggak sopan! Main usir orang gitu aja tanpa sebab, nggak boleh tau. Nggak pernah diajarin sopan santun, eh?" Hila mendengus.
"Benahi dulu cara bicara dan cara berpakaianmu, baru bisa kamu bicara tentang kesopanan." Giliran ustadzah Raina yang kembali angkat bicara.
Hila berdecak dan melipat kedua tangannya di bawah dada. "Mbak-mbak sekalian, gue nggak mau cari ribut ya sama kalian. Niat gue di sini baik, gue ada di sini karena mau nengokin sahabat gue. Gue datang jauh dari Jakarta, loh. Masa main diusir gitu aja. Nggak kasihan sama bapak gue yang udah ngeluarin duit buat beli tiket pesawatnya? Udah, ya.. gue permisi, mau masuk ke dalam, mau nyari sahabat gue." Kata Hila panjang lebar. Ia kemudian melenggang pergi begitu saja tanpa permisi. Tidak peduli lagi dengan tiga orang yang melarangnya masuk dan menyuruhnya pergi tadi.
Hila baru berjalan beberapa langkah, saat ia berpapasan dengan ustadzah Laila yang baru kembali dari rumah kiai Umar. Ia kembali ditegur habis-habisan karena sudah berani masuk ke wilayah pondok pesantren dengan pakaian yang memperlihatkan aurat, mengundang dosa. Hila malah jadi ditahan sebentar dan diberi ceramah singkat oleh ustadzah Laila.
****
"Omong-omong, si Hila udah bangun belum ya?"
"Loh, Hila ikut kesini juga?" Freya langsung menoleh pada Gio yang baru saja menyebut nama sabahat terdekatnya.
"Ikut. Tapi tadi kami tinggalin di mobil, masih molor dia. Dibangunin susah banget kaya orang mati," beritahu Gio.
"Dia emang gitu, kebiasaan susah dibangunin kalau udah berselancar di alam mimpi."
Ditengah obrolan seru Freya dan para sahabatnya, meski masih dalam keadaan berdiri di koridor asrama putri, sebuah suara pekikan wanita terdengar keras mengintrupsi kegiatan mereka. Terlihat Hila yang tengah berlari-lari kecil sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
"HILA..!" Freya menjerit kesenangan, merentangkan tangan untuk menyambut Hila dengan sebuah pelukan hangat.
"FRREYAAAH..!" Hila menyambut dengan baik undangan kedua lengan Freya, memeluknya erat-erat. "Ya ampun, gue kangen banget sama lo, Frey!"
"Iya, gue juga!!"
Freya dan Hila berpelukan sambil sesekali berjingkrak-jingkrak heboh, mirip tokoh kartun si kuning dan si merah, Lala dan Po.
"Eh, udahan lo berdua pelukannya. Gue capek nih berdiri terus dari tadi. Pegel kaki dedek.." Tere merengek dengan menggoyang-goyangkan kakinya yang dilapisi sepatu wedges warna merah menyala.
"Iya, gue juga sama. Ruang tamu dimana, sih?"
Freya menggaruk kepalanya bingung. Setahu Freya, jika ada tamu pasti langsung di tujukan ke ruangan ustad Arifin, seperti yang ia dan kedua orangtuanya alami. Tapi, mana mungkin Freya sekarang membawa sepupu dan para sahabatnya ke ruang ustad Arifin.
"Di sini nggak ada ruang tamu. Tapi tenang, ada tempat yang asik buat kita nongki-nongki. Tempatnya adem lagi. Yuk?" Freya lantas menggiring Gio dan yang lainnya menuju tempat terfavorit Freya selama tinggal di ponpes Nurul Huda.
Sepanjang Freya berjalan bersama lima orang tamunya dari Jakarta, semua mata memandang mereka dengan beragam ekspresi. Kebanyakan para santri menunjukkan ekspresi terpesona, melihat gadis-gadis cantik berkulit mulus yang mirip artis-artis di tv. Beberapa santriwati juga sama saja sebenarnya, senang juga disuguhi pemandangan laki-laki tampan di depan mata. Naluri manusia kan memang suka melihat yang indah-indah.
"Tadaaaa!! Ini dia, tempat nongki favorit gue selama di sini." Seru Freya riang sambil tersenyum lebar, menunjukkan tempat kebanggaannya pada ke lima sahabatnya, sebuah kursi kayu panjang di bawah pohon jambu air dekat masjid.
Gio, Galih, Tere, Mega dan Hila saling berpandangan. Mereka meringis, menunjukkan ekspresi yang seperti 'nggak salah, nih,?'. Tapi mereka buru-buru tersenyum lebar, berusaha memaklumi keadaan tempat Freya tinggal sekarang.
"Yuk, duduk, duduk! Kaki gue udah pegal-pegal. Di sini asik, kok. Bener kata Freya, adem!" Hila yang lebih dulu bersuara dan menghempaskan bokongnya di kursi kayu itu.
"He'em, adem. Di bawah pohon gini oksigennya banyak," Gio mengikuti Hila. "Sini Frey, duduk sebelah gue. Gue bawain makanan kesukaan lo." Gio menepuk sisi kosong di sebelahnya duduk.
"Wah, kebeneran! Gue emang lagi laper banget. Lo emang sepupu paling the best!!" Freya segera duduk di sebelah Gio, meraih plastik berwarna putih yang baru ia sadari sejak tadi dibawa Gio. Mengeluarkan isinya dari dalam plastik, Freya langsung menyantap makanan yang ternyata adalah nasi jeruk dan iga bakar madu.
"Lo lahap banget deh makannya, kaya yang orang lagi kelaparan." Komentar Hila melihat Freya yang makan dengan sangat lahap.
"Gue emang lagi kelaperan, Nyet!" Jawab Freya.
"Lo di sini nggak dikasih makan atau gimana? Kok sampai kelaperan gitu?"
"Ya dikasih. Cuma gue emang belum makan dari semalam, males,"
"Pasti males makan karena di sini makanannya nggak enak!" Tebak Hila. "Lo tenang aja, kami semua udah bawain lo stock makanan yang banyak banget di mobil. Kami bawain lo roti, coklat, sama snak. Tapi nggak bawain lo wine sama tequila, sih.."
Freya langsung mendorong kepala Hila dengan telunjuknya. "Lo bawa miras dimari, bisa abis gue dikuliti seluruh penghuni tempat ini." Dengusnya.
"Hila memang tolol." Kata Mega.
"Hila memang tolol." Tere menimpali.
"Hila memang tolol." Gio ikut-ikutan.
"Hila memang tolol." Galih juga ikut andil.
Hila mendengus memandang jengkel teman-temannya. "Lo semua memang minta diaduin ke ibu Susi Maharani, biar ditenggelamkan saja di tengah lautan!" Ketusnya, mengundang tawa terbahak dari yang lainnya.
"Bawa gue kabur dari tempat ini."
Tawa semuanya langsung lenyap begitu mendengar ucapan Freya yang tiba-tiba.
"Apa? Lo ngomong apa tadi?" Tere berusaha memastikan pendengarannya barusan.
Freya menarik nafas panjang, memasang wajah serius menatap para sahabatnya. "Bawa gue kabur dari sini, tolong!"
"Seriusan?"
"Manorius, malah!"
"Sialan, jangan bercanda Freya!" Tere mendengus gemas.
"Ya iya lah jelas serius. Kapan gue pernah nggak serius?"
"Setiap waktu!" Jawab ke limanya kompak.
Freya berdecak pelan. "Oke, kali ini gue serius. Tolong, bawa gue pergi dari sini. Fyi aja, guys.. semalam gue udah nyaris berhasil kabur dari sini. Tinggal dikiiit lagi gue bisa lompatin pagar dan bebas dari penjara ini. Tapi apes, gue ketahuan sama anaknya pemilik pesantren!" Ungkap Freya, kemudian mengalirlah cerita kehidupannya selama di pesantren, dan alasan mendasar yang membuatnya langsung nekat ingin kabur.
"Dasar! Ternyata perempuan bergamis dan berkerudung nggak menjamin mulut mereka itu suci. Nyatanya, mereka sama aja kaya kita, demen ngegosip! Kerudung cuma buat pajangan doang biar keliatan alim, jijik banget nggak sih? Fix lah, gue dukung lo buat kabur!" Kata Hila dengan menggebu-gebu.
"Mendingan kaya kita, apa adanya dan nggak munafik. Ketimbang kepala udah dijilbabin tapi mulut masih lamis, apa gunanya? Percuma.. malu-maluin jilbabnya aja, najis!" Giliran Teresa yang merasa berang.
"Kebanyakan emang begitu! Jilbab cuma dijadiin kedok aja, biar dikata cewe baik-baik. Fyi aja, yang dandanannya agamis begitu, biasanya kalau pacaran juga masih demen *****-grepean. Jilbabnya di pake buat alat penutup bekas cupangan di sekitaran lehernya. Kalau nggak pakai jilbab sih masih mending. Intinya, wanita berjilbab sama kaya wanita munafik lah." Mega pun turut mengimbuhi.
"Jadi artinya, kalian membenarkan perbuatan tercela asal pelakunya tidak memakai jilbab, begitu?"
Semua menoleh ketika mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba ikut menyahut obrolan mereka.
"Irsyad?" Cicit Freya, ketika mendapati ternyata Irsyad yang menyahut. Laki-laki itu berdiri di belakang mereka.
Irsyad melirik Freya. "Ya, aku. Aku baru dari ruang ustadzah Arifin dan mau pulang ke kerumah, makanya lewat sini," ujarnya, menjelaskan keberadaannya. "Aku nggak sengaja dengar ucapan kedua temanmu, dan maaf karena lancang menyahuti."
"Lo siapa?" Tanya Teresa.
"Dia anaknya pemilik ponpes ini, Re." Freya yang menjawab.
"Oh? Anaknya kiai berarti? Tapi kok nggak tau sopan santun gitu, ya? Tiba-tiba nimbrung obrolan orang, emang sopan?" Cibir Tere dengan gayanya yang songong.
Irsyad tersenyum kecil. "Saya sudah minta maaf, bukan?"
"Tetep aja nggak sopan!" Ketus Tere menyebalkan.
"Udah, lah, Re!" Bisik Freya, menyenggol lengan Teresa.
"Nggak papa, Frey. Aku emang salah, udah nggak sopan tadi," kata Irsyad, yang kemudian melirik Tere, Mega dan Hila. "Tapi yang tadi itu sebenarnya reaksi refleks karena mendengar lontaran kalimat yang kalian bertiga ucapkan."
"Kenapa emang? Ada yang salah sama ucapan kami bertiga?" Hila langsung nyolot.
"Jelas ada. Perlu saya benahi tentang pandangan kalian terhadap wanita berjilbab. Tidak semua wanita berjilbab berkelakuan tercela seperti yang kalian sebutkan tadi," kata Irsyad.
"Tapi banyak yang begitu!"
"Banyak, bukan berarti semua kan? Jangan pukul rata, jangan samakan semuanya,"
"Halah! Intinya, yang berjilbab belum tentu lebih baik dari kita-kita yang nggak berjilbab. Itu fakta!" Hila menegaskan.
Irsyad lagi-lagi tersenyum. "Itu bukan fakta. Yang fakta adalah, wanita muslim yang berjilbab memang belum tentu berakhlaq baik. Tapi wanita muslim yang baik akhlaqnya, sudah tentu pasti memakai jilbab. Karena berjilbab adalah murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaqnya baik atau buruk. Jadi, kalian yang tidak mengenakan jilbab, tidak juga pantas menyebut diri kalian lebih baik dari mereka yang berjilbab tapi akhlaqnya kurang baik. Karena dengan kalian memperlihatkan rambut kalian yang merupakan aurat dari wanita pada yang bukan mahramnya, itu sudah termasuk dosa besar," Tutur Irsyad menjelaskan.
Teresa terkekeh meremehkan. "Jadi maksud lo, biar kelakuan seburuk pelacur, asal dia berjilbab, itu nggak dosa?"
"Yang bilang begitu siapa?" Irsyad balas terkekeh kecil. "Akhlaq dan jilbab adalah dua hal yang berbeda. Kalaupun ada wanita berjilbab yang melakukan tindakan tercela, jelas saja tetap berdosa. Tapi, mari kita pahami.. yang membuat dosa itu adalah kelakuannya, bukan jilbabnya.." Irsyad kembali mencoba memberi pengertian.
"Misalkan gini," Hila mengambil jeda sebentar. "Ada perempuan berjilbab tapi kelakuan buruk, sama perempuan nggak berjilbab tapi kelakuannya baik. Mana yang bakalan masuk surga?"
"Wah, kalau untuk yang satu itu, jelas saya tidak punya kuasa untuk menjawabnya. Karena seperti yang saya jelaskan tadi, jilbab dan akhlaq adalah dua hal yang berbeda, masing-masing ada hukumnya. Tapi kembali lagi, wanita berakhlaq baik sudah pasti akan berjilbab karena dia menjalankan perintah Allah,"
"Gue punya teman. Dia baik, lembut, sopan, rajin salat, cara berpakaiannya juga tertutup. Tapi dia belum mau pakai jilbab, belum siap katanya. Dia bilang, nanti aja berjilbabnya kalau udah bersuami, takut nggak laku kalau belum nikah udah pakai gamis sama jilbab. Jadi, satu fakta itu mematahkan perkataan lo tentang wanita baik pasti berjilbab. Nggak semuanya begitu, coy.." Teresa tersenyum miring menatap Irsyad.
"Begitu, ya?" Irsyad tersenyum dengan santainya. "Berarti temanmu itu belum memahami sesungguhnya aturan wajib berjilbab. Dia mungkin berperilaku baik, tapi pengetahuan agamanya sepertinya lebih perlu diperbaiki lagi. Karena yang pengetahuan agamanya sudah baik, tidak akan mungkin mempunyai pikiran seperti itu. Takut tidak laku karena memakai gamis dan jilbab? Subhanallah, lucu sekali.."
"Ukhti.. tidak ada yang seperti itu. Tidak ada yang namanya jilbab menghambat jodoh, yang ada, jilbab justru bisa mendekatkanmu pada jodoh. Masalah jodoh, itu sudah diatur oleh Allah, kita tidak perlu khawatir. Yang harus dikhawatirkan, justru sudah seberapa banyak dosa selama kalian masih mempertontonkan aurat kalian pada kaum adam yang bukan halalnya. Dan mengenai niat memakai jilbab setelah bersuami, sepertinya perlu dikaji lagi. Apa yakin, kalau hidup kalian akan panjang umur? Yakin masih bisa bernafas dan melihat dunia, sampai kita mendapat jodoh dan bersuami? Sama seperti jodoh, maut juga sudah ditentukan oleh Allah dan tidak ada satupun yang mengetahui ketetapannya. Bisa jadi, kita lebih dulu berjodoh dengan maut sebelum berjodoh dengan pasangan. Jadi jangan takabur!"
"Dan anggapan jika kita akan panjang umur, sebenarnya adalah hal yang berbahaya. Karena Rasulullah Shallallahu 'alahi wassalam membenci orang-orang yang merasa panjang umur, dengan sabdanya ; "Sesungguhnya yang paling aku takuti atas umatku ialah hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya. Adapun hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari kebenaran dan hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya (panjang angan-angan) semua itu akan lupa pada hari akhir.". Dan sesungguhnya, Allah tidak akan menerima tobat seseorang yang sudah tiba pada ajalnya." Tutup Irsyad, mengakhiri penuturan panjangnya. Berharap memberi sedikit pencerahan pada teman-teman Freya.
Baik Hila, Mega, dan Teresa, tidak ada yang bersuara memberi bantahan lagi. Pun begitu dengan Freya, sama sekali tidak membantu para sahabatnya untuk menentang ucapan Irsyad. Gio dan Galih apalagi, mereka memilih diam dan menjadi penonton serta pendengar yang baik saja.
Irsyad menoleh pada Freya, menatap gadis itu sebentar. "Freya, ada yang perlu kita bicarakan. Mari, ikut saya ke rumah.."
****
yang ingin memberi saran dan kritik, boleh loh..
Aku lupa waktu itu tahun berapa, intinya aku nemu cerita ini tuh ga sampe ending lagi karna udah di unpub kalau ga salah inget. Dan sumpah, aku jatuh cinta sama cerita ini bangetzz pake z kalau kata si Freya mah😂
Jujurly aku juga pengen baca ulang tapi waktu itu gatau harus nyari dimana lagi cerita ini. Akhirnya alhamdulilah di tahun 2024 ini aku nemu notif kalau cerita ini di publish disini, dan ya I'm hereeee
Akhirnya kangenku terobati, bonusnya bisa baca cerita ini sampe ekstra bab juga. Makasih ya kak, udah pernah bikin cerita sebagus ini, kalau boleh sih pengen juga dijadiin film, semoga ada pH yg lirik ya. Aaamiin..
Sukses terus kak, ditunggu karya karya terbaik lainnya, semangat yaaaa🤍✨
hehehe
tak piker kisah Freya bakal berlalu gitu aja
ternyata eh ternyata ,,,jodoh takkan kemana Iki to ,,,puas banget makasih ,,,,sekali lagi hehhehe
Kata"ny jga sungguh wow💞💞